
CARNIVAL OF BINARY TAMAT :( Terimakasih atas waktunya selamat ini.
Kini saya berikan beberapa spesial cerita pendek tentang side couple di Carnival Of Binary
.
.
DANCING FLOWER
Aria Abraham x Invidia,the sin of jealousy
.
.
.
Gugup. Tentu saja, itulah yang dirasakan Aria Abraham saat ini. Gaun putih yang dikenakannya itu begitu pas pada tubuh langsingnya, Aria ini masih bersiap-siap diruang rias.
“Kau cantik.”Puji gadis bermata merah lembayung itu kepadanya, Aria mengangumi kecantikannya. Tak tampak seperti ibu dengan dua anak “A-ah itu, terimakasih.”Aria mengangguk gugup. Dia bukan seseorang yang pandai menguasai situasi berbeda dengan si mata merah lembayung itu, gugup, penakut dan panikan adalah sifatnya.
Tangannya terasa digenggam “Tenang saja, Ivie benar-benar mencintaimu juga. Terus... dia itu pencemburu akut loh~”Gadis itu mengedipkan matanya, dia tersenyum dengan ringan.
“N-nona Rigel.”
“Hm?”Gadis itu mengangguk, dia baru selesai memasangkan aksesoris pada puncak kepala Aria “Apa yang ingin kau katakan Aria?”
“Apakah...”Ucapannya itu tertahan, entah bagaimana perkataan itu terucap dari mulutnya yang kaku. Sebenarnya dia hanya ingin bertanya, mengenai menjadi pasangan hidup seorang pria. Aria hanya merasa tak sanggup jika harus sekuat, sesabar dan secekatan Rigel Wijayakusuma Carlin. Bahkan pasangannya itu seorang Lascelles yang berpengaruh dimanapun.
Tahu jika perasaan gundah itu, Rigel memengang pundak Aria “Hari ini kau akan menjadi bagian Carlin juga. Kita akan bersaudara, sama seperti kau berjalan bersama saudaraku. Bisakah, kau melihat dirimu ini? Kau baik dan cantik, jika melihatku. Tentu saja berbeda, kau mendapatkan Ivan yang cerewet tapi dia amat perhatian. Kalau kau melihatku, mana sanggup dengan tingkah bodohnya kak Jev...”Rigel tertawa terbahak-bahak.
“Engh... bisa begitu? Bu-bukannya tuan Lascelles sangat dingin dan serius?”
Rigel menggeleng dengan raut wajah menahan tawanya “Kau ini Aria, kau saja belum tahu dia. Jangan banyak keraguan lagi, Ivie sangat mencintaimu.”
Aria menghirup oksigen dan mengeluarkannya dengan perlahan, kegugupannya lumayan mereda ketika kedua anak kembar Rigel menyelinap masuk ke ruangan rias ini. Mereka berdua sama-sama menangis akibat mencari sang ibu.
“Huwaa~ mommy”Tangisan paling kencang ada pada bocah pirang beriris aquamarine, sementara yang beriris merah lembayung masih menahan tangisannya dengan kedua mata bulat yang berkaca-kaca itu.
Aria melihat Rigel yang menghela nafas, dia mengusap puncak kepala si kembar yang mengenakan setelan jas rapih itu. Sangat lucu dan menggemaskan “Papa kalian dimana?Tch. dasar suami tak becus.”Rigel menatap datar berkata dengan dingin.
Aria tertawa hambar, sifat itu masih ada pada Rigel. Mantan kapten tim elit Avid, dari organisasi BlackAsh “Kalian boleh menunggu disini saja.”Ujar Aria menenangkan duo pirang yang menangis itu.
“Benal? Boleh tante Alia?”Bocah beriris merah lembayung itu berkata dengan menatap Aria, dibandingkan saudara kembarnya si merah lembayung ini memang tak pemalu.
“Boleh. Caleb dan Calleriu bisa bersama Mommy kalian.”Bujuk Aria sambil mengusap-usap puncak kepala mereka berdua, Aria menyukai kedua anak kembar ini sejak mereka lahir. Mereka menggemaskan dan lucu.
“Haa~ ya sudah, sebentar lagi Aria akan menikah. Jika sudah waktunya Caleb dan Calleriu ikut mommy keluar. Paham anak-anak?”Keduanya mengangguki ucapan sang ibu dengan patuh.
Jantung Aria berdegup kencang ketika melihat pria bersurai perak panjang itu tersenyum tampan kearahnya. Pria yang ia temui tahun-tahun tempo lalu, tak sengaja karena sang mantan kapten juga. Dia bertugas menjalankan misi, malah tak sengaja menemukan tambatan hati. Pria tampan bersurai perak, bermata merah secerah permata ruby. Bernama Ivan Tristan Carlin, anak adopsi keluarga Carlin. Kakak dari Rigel Wijayakusuma Carlin dan saudara kembar lainnya yang Aria tahu bernama Arcadia Dio Carlin.
Aria yang sebatang kara, dibesarkan dipanti asuhan. Hidup dengan keras, belajar dengan giat dan menjadi gadis manis yang penurut. Begitulah pesan ibu panti asuhan yang mengasuhnya. Kecerdasannya, membuat dirinya bergabung dengan organisasi rahasia pembunuh elit. Awalnya hanya ingin mendapatkan uang untuk memperbaiki panti asuhan yang terkena kebakaran, dia memiliki niatan mulia dengan menukarkan ke dunia gelap itu. Hingga ia bertemu dengan seorang gadis manis yang begitu tangguh, begitu indah bahkan ketika bertarung pun seperti setangkai bunga mawar putih yang mekar diatas genangan darah yang merah. Begitu kontras, namun Aria ingin mengikuti ketangguhannya atas kehidupan sulit ini.
Kedua matanya menubruk pandangan dengan si iris merah berbinar Ruby itu “Ivan Tristan Carlin, aku mengambil engkau menjadi seorang suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya.”Ucapannya setelah mendengar kalimat yang sama dari suaminya ini.
Kebahagiaan menghampiri perasaannya dengan hangat, masih ramai tamu undangan yang datang atas suka citanya. Aria sejak tadi berdiri bersampingan dengan Ivan sedikit kikuk “Apa Aria lelah?”Tanya cemas pria tampan yang sudah menjadi suaminya ini. Aria menggeleng, dia tersenyum dengan lebar.
“Aria! Selamat.”Valentino, pria yang baik hati itu sudah dianggap seperti pamannya sendiri oleh Aria. Dia menghampiri Valentino dan memeluknya “Terimakasih...”Valentino mengangguki ucapannya, dia tiba dengan sebuah kotak kecil untuk Aria. Isinya sebuah jepit cantik dengan bandul berukiran bunga lily. Aria sempat memandang heran.
“Itu adalah dirimu, bunga lily yang cantik.”Ujar Valentino sambil mengusap-usap puncak kepala Aria.
Seorang pria muda juga baru menghampirinya “Aria, selamat atas pernikahannya.”Itu Jin. Masih dengan sifat datarnya, Jin tetap mendatangi pernikahan Aria. Ditambah dengan kedatangan Rigel yang menggendong bocah berusia lima tahun yang tertidur itu “Hai! Kita reunian!”Seru Rigel dengan riang.
“Woah, Aria! Kau bahkan bisa membedakan anak-anak Rigel”Valentino berucap, jelas Aria bisa. Dia sering mengunjungi Rigel untuk bermain dengan anak-anak kembarnya, Aria menyukainya seolah dia masih berada dipanti asuhan dengan anak-anak yang dekat dengannya.
“Calleriu, dimana?”Tanya Aria.
“Oh kalau itu...”
“Sayang! Dimana Calleriu?!”Oh suara Jevandres yang cemas itu menghampiri Rigel. Awalnya Rigel ingin mengatakan jika salah satu anaknya bersama papanya, justru ia harus mendengar sang papa yang malah mencari sang anak.
Rigel menatap sang suami dengan tatapan tajamnya “Kau bersama Calleriu tadi?!”
Ivan yang masih mengenakan jas putih itu menghampiri mereka “Ada apa?”
“Calleriu hilang.”Ujar Aria tak kalah cemasnya.
“Kenapa bisa? Bukankah tadi Calleriu bersama tuan Lascelles.”
Arcadia Dio tiba, langsung menatap sang adik “Rig, Calleriu dibawa seorang wanita dengan bekas luka melintang diwajahnya.”Dia dengan segera mengambil alih tubuh Caleb yang sempat digendong oleh Rigel.
“Jangan panik.”Ujar Rigel.
“Ini pernikahan Aria dan Ivan, biar aku saja bersama suami bodoh ini mencari anak kami.”Lanjut Rigel lagi.
“Kami bantu!”Valentino menatap Rigel, biar bagaimana pun sosoknya sudah menjadi figur ayah untuk tim Avid. Namun, Rigel menggeleng.
Tidak setelah Aria yang menatap pintu keluar, dia melihat bocah itu digendong memasuki mobil dengan plat nomor yang dilihatnya dengan mudah “Plat CD 7566, ban yang terdapat pasir, itu baru menuju pantai.”
“Aku akan bergegas.”
Aria menatap kedua tangan Rigel yang bergetar samar itu, biar bagaimana pun Rigel. Dia tetap seorang ibu, dan merasakan hal syok semacam ini adalah lumrah. Sekuat apapun Rigel, dia pasti merasakan panik apalagi ini anak-anak kesayangannya.
Aria yang mengerti langsung melepaskan sepatu hak tingginya, dia mengeluarkan kacama tebalnya dari balik gaun putih itu kemudian memakainya “Berikan aku waktu sepuluh menit. Tidak, lima menit untuk menemukannya dan menjebak kendaraan itu.”Ujar Aria dengan yakin.
Tiger adalah code name yang diberikan oleh BlackAsh kepadanya. Aria Abraham adalah sosok luar biasa dibalik ‘Tiger’ ini. Dia begitu ahli melancar kedalam teknologi dengan kepintarannya. Jika Tiger adalah code name diBlackAsh, sementara didunia teknologi sendiri seorang hacker terhandal dengan nama Dancing Flower merupakan dirinya juga. Dia menggunakan keahliannya untuk mengheck lampu lalu lintas untuk membantu membekukan kendaraan yang membawa Caleb itu.
“Nona Rigel, arah jam sepuluh belok. Tetap setelah lampu lalu lintas dipertigaan.”Ujar Aria memandu Rigel dengan alat kecil didaun telinganya.
“Aria... Terimakasih.”
Mendengar ucapan Rigel dari seberang koneksi suara ini, Aria tersenyum dengan lebar “Apapun nona Rigel, Caleb dan Calleriu juga sudah sangat kusayangi.”Ujar Aria dengan manis.
“...Seorang pengantin meninggalkan acaranya lebih cepat, bukan begitu Aria Carlin?”Seorang pria bersurai perak bersandar diambang pintu, menatap gadisnya yang masih mengenakan gaun putih itu berkutat dengan beberapa layar monitor rakitannya.
Aria tersenyum menoleh suaminya itu “Ivan, bukankah katamu kau suka melihat kedua tanganku sibuk diatas keyboar?”
“Lagipula aku bilang dalam waktu lima menit bukan?”
Ivan menyunggingkan senyumannya. Dia mendekati Aria “Benar, kedua tanganmu yang menari dengan cepat diatas keyboar, wajahmu yang serius dan sepasang matamu yang memantulkan cahaya monitor. Semua itu benar-benar cantik, jiwa indahmu seperti bunga yang menari diatas kehidupan gelap ini. Aria...”Ujar Ivan sambil mengecup puncak kepala Aria dengan lembut.
Ivan tersentak, saat ponsel disaku celana hitamnya bergetar “...Caleb sudah ditemukan, terimakasih Aria. Keponakan kita sudah berhasil selamat berkat dirimu.”Ivan meraih tubuh itu untuk dipeluknya.
Aria Abraham, kini menjadi Aria Carlin. Gadis sederhana dengan jiwa indah yang begitu beruntung untuk dapat merasakan perasaan meruah akan cinta dari Invidia, sang pendosa kedengkian.
Selesai
.
.
.
.