Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 7: Lose



Happy Reading~


.


.


.


 


 


Rigel melanjutkan aktivitasnya didalam apartemen itu, ia hanya diam seorang diri sembari menatap langit kelam yang ditaburi perlip kerlipnya bintang dimalam hari dari jendela yang dibiarkan terbuka. Sepasang iris mata berlainannya itu menatap dengan sendu, ia sendiri hanya diam dalam keheningan apartemennya seorang diri.


Sepasang iris berlainan warna itu turun melihat hiruk pikuk orang yang berjalan, dalam pandangannya. Ia melihat semua warna aura energi pendosa dari setiap manusia yang turut berjalan disana, dalam tatapan Rigel. Seluruh warna energi itu tampak seperti aurora yang meluas pada langit kelamnya “Aku pun berdusta padamu, Ivie...”Ucapnya seorang diri.


Bohong, jika gadis bersurai kelam ini tak tahu sosok Jevandres selama ini. Sejak pertemuan awalnya pun ia sudah tahu jika Jevandres adalah orang yang ‘dipengaruhi’ oleh Ares. Sang peperangan yang haus akan kematian itu.


Mungkin ini bisa dikatakan pertemuan kedua kalinya bersama seorang Ares. Rigel merasa seperti dikalahkan dengan perasaan lama dirinya terdahulu. Apakah Adonis yang jatuh cinta pada Aphrodite, atau Ira yang turut jatuh hati pada Ares. Maka dari itu, ia begitu rela memberikan dirinya ini “Bodoh, gadis naif yang mempermainkan nasibnya sendiri. Ira... aku hanya menerka-nerka alasanmu selama ini.”Ucap Rigel seorang diri.


Rigel beranjak dari posisi duduknya, setelah mendengar gedoran pintu yang berulang itu. Mungkin sang tamu sungguh tak sabaran dengannya.


“Uhm~”Rigel mengeryitkan sebelah dahinya, saat menatap pria bersweater casual itu tampak berdiri didepan pintu dengan raut amarahnya.


Rigel menghela nafas, dia ingin kembali menutup pintu itu “Tunggu!”Cegahnya menggunakan lengan kekar untuk menahan pintu apartemen Rigel.


“Apa lagi?”Rigel mendelik dengan malas.


“Aku suamimu jika kau lupa.”


Rigel mengangkat kedua bahunya “Aku pun bukan isterimu, tuan Lascelles. Kenapa kau bisa menemukanku?”


“Kau begitu Binary...”


“Hanya jasadnya, Binary sudah lama mati. Aku yang membunuhnya.”Ucap Rigel dengan enteng.


Pemuda itu menyelonong masuk kedalam apartemen Rigel, ia pun menutup pintu apartemennya. Melalui sepasang iris aquamarine beningnya, ia mengunci tatapan Rigel “Aku tak tahu apa yang sudah terjadi padamu. Bina.”Rahang pemuda itu mengeras setelah ucapannya.


“Kau salah paham, tuan Lascelles. Aku bukan Binarymu, sungguh. Sesuatu konyol terjadi padaku hingga diriku yang asli masuk kedalam tubuh isterimu ini.”


“Kau ingin lari dari masalah dengan mengatakan dirimu yang menjadi gila itu?!”


Rigel menghela nafas ‘Pria keras kepala, sangat Ares’Ia membatin seorang diri seraya memperhatikan pria dengan postur tubuh tinggi tegap itu yang terus memandanginya seperti mangsa yang hendak kabur.


“Dengar.”Ucap Rigel “Kau pasti lebih tahu siapa sosok isterimu bukan?”Rigel memiringkan kepalanya, mencoba mengintimidasi Jevandres dengan ucapan manipulasinya “Kau tak menginginkannya bukan? Terus kenapa kau bersusah payah untuk mendatanginya?”Rigel melipat kedua tangannya didepan dadanya. Dia tahu, lawannya kali ini bukan orang sembarangan.


“Tch.”Jevandres mendecih dengan rahang yang mengeras, tangan lebarnya meraih dagu Rigel dalam sekali pegangan “Kau pikir, aku akan tertipu padamu lagi Binary? Sudah kukatakan aku hanya ingin bayi itu. Bukan kau, jangan bersih keras menjadi Lunaku dengan bertingkah menarik pesonamu itu. Kau bukan Aphroditeku. Kau hanya manusia biasa yang kebetulan sedang beruntung.”


Rigel membulatkan kedua matanya, ia terkejut ‘dia tak menyadari sosok Aphroditenya sendiri’Batin Rigel sambil melihat iris aquamarine yang menatap dengan tajam itu. Rigel tak habis pikir, namun saat itu dia mulai menyadarinya.


“Hey, Ares...”Ucap Rigela seraya menyentuh kedua pundak Jevandres untuk menatap langsung kedua iris aquamarinenya ‘hm... seseorang sudah memasang penangkal rupanya’Rigel menyunggingkan senyumannya saat melihat iris aquamarinenya Jevandres yang memantulkan bayangan seseorang berjubah. Sedikit banyaknya, Rigel tahu soal sihir dan beberapa ilmu hitam. Dia pun tak menyangka, sosok Ares mampu terjerat sihir tak biasa ini.


“Siapa Ares?! Kau berbicara apa Bina? Apa jangan-jangan dia pria barumu?”Jevanders menggelap. Ia pun menarik pergelangan tangan kecil Rigel dalam satu kali sentakan.


Rigel, walaupun berada didalam tubuh lemah Binary. Memutar tangannya dengan gesit, kemudian menepis tangan Jevandres dengan cepat “Sudah kukatakan, aku bukan Binary.”Ucap Rigel dengan tatapan tajamnya.


Rigel terkekeh pelan “Kak Jev, rasanya aku menyesal sudah mengangumimu.”Kata Rigel sambil berjalan menuju sofanya, untuk sekedar duduk disana. Saat dirasa, tubuhnya malah menjadi lelah bahkan tanpa melakukan apapun.


Jevandres yang merasa diacuhkan oleh Binary aka Rigel itu, mengekorinya untuk duduk bersebelahan dengan gadis manis bersurai hitam legam itu “Kau harus segera kembali kekediaman Lascelles.”Ucap Jevandres dengan dingin.


Sayangnya Rigel mengacuhinya “Kau tak mencintainya bukan? Untuk apa kau memintanya kembali. Dasar pria bodoh.”Celetuk Rigel saat itu.


Akhirnya Jevandres menghela nafas “Aku tak ingin mengkasarimu Bina, setelah tahu kau juga mengandung anakku.”


“Tch.”Rigel mendecih “Lakukan saja, kau pikir aku akan diam?”Tantang Rigel lagi. Tentu saja, dia tak akan tunduk pada siapapun. Selain kemarahannya sendiri. Ironinya, sang kemurkaan ini masih saja betah duduk disebelah pria tegap itu lantaran aroma maskulin yang wangi menenangkan indera penciumannya. Diam-diam Rigel sendiri bersemu dengan merah, namun ia sembunyikan dengan membuang pandangannya.


“Kau tahu kadang aku akan gelap dengan amarahku sendiri?”Ucap Jevandres memperingati “Aku tak akan segan-segan, Bina.”


Rigel memayunkan bibirnya, dia pun menggerutu dalam hati ‘tentu saja tahu, memang dari mana datangnya amarah itu kalau bukan dari dosamu sendiri’batin Rigel hanya sambil mengembungkan pipi kirinya.


Jevandres menghela nafas, ia memilih mengalah dengan sikap keras kepala isterinya yang dirasa baru tampak saat ini “Terserah kau saja...”Ucap Jevandres yang hendak beranjak berdiri.


“Tunggu...”Namun Rigel, menahan pria itu dengan memengang ujung sweater yang dikenakannya “B-bayi ini menyusahkan. J-jangan pergi dulu...”Pinta Rigel dengan wajah kemerahannya.


“Serius? Inikah kau Bina? Kau tak seperti biasanya.”


“Bodoh! Kembali duduk atau aku tak akan sudi menemuimu lagi.”Ancam Rigel dengan wajah memerah malunya.


Jevandres baru kali ini melihat sosok yang masih disangkanya Binary bersemu merah. Dia berbeda dengan Binarnya selama ini, atau bahkan Jevandres tak pernah memperhatikan Binary selama ini karena ia hanya sibuk mengejar Luna dianggapnya sebagai dewi cinta yang dipujanya “Baiklah...”Jevandres kembali duduk disebelah gadis bersurai legam itu.


Rigel mulai merasa nyaman, namun ia mencari kehangatan lain dengan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Jevandres yang dibalut sweater cokelatnya itu “Dalam sekejap, aku sudah kehilangan kehidupanku. Selama ini aku terlalu memanjakan diriku seperti manusia lainnya.”Ucap Rigel terkekeh hambar “Aku menyayangi ibuku, manusia yang sudah melahirkanku. Aku menyukai kehidupanku selama berkuliah ini, dan aku juga mencoba menjalin hubungan dengan pria bernama Theo itu. Kupikir, hidup menjadi gadis biasa akan melupakan ambisiku selama ini.”Sepasang mata Rigel berangsur-angsur menatap sayu.


Jevandres masih diam mendengarkan ucapan Binary yang dirasanya berubah seperti ‘sosok’ lain. Ia masih tertarik dengan sosok baru Binary ini.


“Sekarang kehidupan lainnya terjadi, pendosa seperti itu diberi kesempatan untuk berada ditubuh rapuh yang mempesona ini. Jika kau menyadarinya...”Sepasang kelopak mata Rigel perlahan-lahan memejam karena mengantuk.


“Aphordite... sudah berada didepanmu sejak.. dulu.”Akhir kalimat ucapan Rigel terdengar setelah sang pemilik iris berlainan ini masuk kealam mimpinya. Kini dengkuran halus pun terdengar.


Jevandres menatapnya dengan lembut, telapak tangan besarnya tanpa sadar menyentuh permukaan wajah cantik gadis yang tertidur itu “Rigel...”Panggilnya dengan lembut pada sosok gadis yang tengah tertidur itu.


Pria bersurai blonde itupun menggendong tubuh Rigel untuk memindahkannya keranjang kasur. Ia meletakkan tubuh itu dengan pelan, kemudian menyelimutinya hingga kedadanya. Ada rasa menggelitik diujung perasaan pria bermarga Lascelles ini saat memperhatikan Rigel yang tertidur dengan damai. Ia memperhatikan paras wajahnya yang terdapat kesamaan dengan Binary sejak pertama kali bertemu dengannya. Padahal, dia sendiri tahu jika wanita muda ini dua orang yang berbeda.


Sepasang iris aquamarine indah Jevandres menatapnya dengan tajam, ia mendekatkan dirinya pada tubuh Rigel yang tertidur pulas itu “Bahkan... suaramu begitu mirip dengannya.”Ucap Jevandres seraya memengang ujung suraian rambut Rigel, kemudian mengecupnya.


Jevandres belum meninggalkan apartemen Rigel, ia berjalan menuju jendela yang terbuka itu. Tangannya merogoh sekotak rokok dan korek apinya, paras rupawan Jevandres memandang datar hiruk pikuk perkotaan itu “Ck. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?”Ucapnya seraya membakar ujung rokok itu, kemudian menyesapnya dengan nikmat. Kepulan asap rokok menemaninya malam ini, ia sengaja tak meninggalkan sosok manis yang tengah tertidur itu. Entahlah, ia hanya khawatir melihatnya. Apalagi si manis itu tengah membawa nyawa lain bersamanya.


 


 


 


.


.


 


Bersambung