Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 24 : Black Haired



Happy Reading~


.


.


.


 


 


Bisa dikatakan, ini kampung halamannya. Seorang Jevandres kecil lahir disini, bahkan seluruh keluarganya berasal dari negeri tulip ini. Jevandres terpaksa mengikuti kehendak sang ayah sebulan yang lalu untuk mengurus perusahaannya disini sekaligus dalam masa pemulihannya. Omong-omong soal Rigel, pria beriris aquamarine ini masih mencari gadis manis bintang birunya. Seolah setelah keajaiban menimpanya, Rigel justru menghilang tanpa jejak dari dunianya.


“...Charlie, kita berhenti disini.”Jevandres mematikan puntung rokok yang masih hidup itu, dia menyibak surai blondenya terlebih dahulu. Kemudian membuka pintu mobilnya.


Jevandres berdiri sejenak, dia menghela nafas “Charlie, pulang duluan. Aku akan pakai taxi.”Ucap Jevandres sambil melangkah masuk kedalam sebuah coffee shop saat hari masih pagi menjelang siang. Bukannya makan siang, dia malah ingin menegak espresso sembari menikmati suasana lain tak seperti biasanya.


Tubuh kekar dan besarnya berjalan masuk kedalam Caffe, dia memilih bangku lumayan ujung setelah bangku lain yang diisi oleh seorang gadis muda bersurai hitam. Jevandres masih acuh dengan duduk disana, kemudian memesan espresso panas kepada waitres yang menghampirinya.


“...Hm?”Sebelah alis Jevandres menaik, seorang gadis bersurai hitam pendek berhasil mencuri atensinya kala itu. Jevandres semakin mengamati gadis berpostur kecil dan manis itu. Tampaknya ia sedang larut dengan bacaannya, seperti itulah batin Jevandres seraya mengamatinya. Gadis itu masih menundukkan wajahnya, dengan sebelah tangan kanannya yang memengang secarik kertas itu.


Gadis itu menaikkan wajahnya yang langsung menghadap wajah Jevandres. Sepasang iris Jevandres melebar saat menatap gadis yang ada didepannya ini.


Sepasang iris kenari cerah,


Paras cantik yang teramat manis,


Surai hitam sekelam angkasa tanpa perlip para bintang,


Bagaimana mungkin Jevandres lupa? Hingga sedetik menubruk tatapan dengan iris berlainan warna itu. Jevandres menyadari raut wajah sedih dan sembabnya. Kedua iris kenari itu memerah dengan pilu. Dia terisak dalam diamnya, hingga ujung perasaan pria sekeras Jevandres merasa perih melihatnya.


Jevandres beranjak dari duduknya, ingin menghampiri atau bahkan memeluk tubuh kecil yang bergetar samar itu.


Grep...


Niatannya ditunaikan, dia merangkul tubuh kecil itu didalam dekapannya. Masih sama hangat dan nyamannya. Tak perduli walaupun puluhan tatapan sepasang mata kepadanya, Jevandres hanya menginginkannya. Tidak yang lain.


“Engh~...Meneer?”Dirasa Rigel merengkuh sedikit didalam dekapannya.


Jevandres merasa asing dengan panggilan ‘tuan’ kepadanya. Jevandres pun melepaskan pelukannya dengan tetap memengang kedua pundak Rigel. Dia menatap sepasang iris kenari itu untuk menyakinkannya.


“...Rig, ini aku. Jevandres.”Tegas Jevandres kepada si manis Rigel.


Kedua iris kenari itu dengan polos tak mengetahuinya, dia menggeleng pelan kemudian mengeser posisi duduknya. Menjauh dari Jevandres, yang dianggapnya sebagai orang asing “...Mungkin, t-tuan salah orang.”Gugup dan kaku Rigel, kemudian mengemasi buku yang sedari tadi dibacanya. Tak lupa, menghapus air mata yang sudah keluar dari matanya itu dengan kasar.


Jevandres melongo, untuk memastikan kembali dia langsung melirik perut Rigel “...Namamu Rigel Wijayakusuma Carlin. Bukan? Kalau tidak salah, sedang hamil usianya empat ming—“


“Delapan minggu! Nyaris sembilan minggu, tuan kenapa anda tahu saya?”Rigel menatap horror seolah Jevandres adalah pengutit yang menyeramkan.


Jevandres menghela nafas, hanya kepada Rigel seorang Jevandres menjadi lembut walau pun begitu ia sedikit senang. Bayinya itu masih tumbuh bersama Rigel. Kini, dia hanya harus bersabar untuk tahu yang sudah terjadi kepada Rigel “Sayang. Kau hamil anakku jika kau lupa?”Ucap Jevandres teramat lembut.


Rigel bergidik ngeri “S-siapa tuan, mengaku-ngaku.”


“Aku suamimu, ya benar. Kau isteriku dan itu anak kita.”Tegas Jevandres sekali lagi.


“Suamiku sudah lama meninggal, yang benar saja?! Dia bukan Holland, tapi pria asli Indonesia. Dia meninggal karena sakit.”Rigel memerah padam, dia benar-benar kesal dengan pria bersurai pirang ini “Permisi!”Rigel tak segan setengah berteriak untuk bergerak menjauh dari pria aneh ini. Menurutnya.


Jevandres semakin dibuat bingung, ingin tertawa namun gemas dengan kekesalan Rigel yang dirasanya begitu baru. Setahunya, Rigel adalah wanita muda secerah mentari bahkan begitu frontal dengan hal yang dirasakannya. Terkadang bersikap tak toleran, tapi cenderung tegas disaat-saat tertentu. Dia bahkan masih ingat bagaimana sigapnya Rigel saat bertemu ayah mertuanya.


Tahu-tahu, Rigel sudah berada diluar Coffee shop itu. Jevandres tak menunggu apapun lagi, dia menyusul Rigel setelah membayar pesanan serta mengurungkan niatannya untuk duduk di coffee shop itu.


“,,.Rig, tunggu! Perlahan jangan lari, kau hamil sayang.”Jevandres masih gigih menyusul langkah Rigel yang berlari darinya.


Rigel mendecih, ia meraih ponsel dari mantel cokelatnya. Mencoba menelpon polisi, tapi tidak setelah ia mendapati Arcadia yang ada didalam mobilnya berada diseberang jalan. Arcadia hendak menyeberang saat itu, hanya dia tengah menunggu lampu lalu lintas setidaknya ia akan memutar tak jauh dari coffee shopnya “DIO!”Rigel meneriaki nama kakaknya. Ia takut dengan pria aneh itu, yah walaupun Rigel tak mempungkiri ketampananya.


“DIO! Tolong, ada orang aneh!”Rigel melambai-lambaikan tangannya. Masih terus berjalan dengan ceroboh kejalan raya.


Jevandres langsung bergerak cepat meraih tubuh itu untuk menepi ke trotoar jalan. Sedetik saja terlambat, kendaraan lalu lintas yang bergerak itu akan mengenai Rigel “Masih saja ceroboh.”Celetuk Jevandres sambil mendekatkan tubuh kecil itu. Sebelah alis Jevandres merasa tubuh Rigel bergetar samar, ia pun menunduk untuk melihat gadis yang jauh lebih kecil darinya itu.


“Rig, kau tak apa-apa?”Tampaknya Rigel syok, tampak dari kedua iris kenarinya yang melebar. Pasalnya kendaraan itu memang nyaris mengenai tubuhnya. Entah hal buruk apa yang akan terjadi jika Jevandres terlambat menepikannya saat itu. Jevandres pun mengusap-usap puncak kepalanya, dia berusaha menenangkan Rigel.


“...Maaf. T-tapi bisa lepaskan tuan? Aku, tak mengenalimu.”


“Sayang, apa sebegitu marahnya padaku sampai berpura-pura hilang ingatan, hm?”Jevandres menangkup wajah Rigel agar menatap langsung kedua matanya. Disana ia melihat, Rigel menatapnya dengan asing.


“Ah maaf, apakah adikku baik-baik saja? Kulihat tadi dia nyaris dilindas mobil. Betapa cerobohnya.”Arcadia baru tiba dengan langkah tergesa-gesanya, walaupun tetap dengan raut wajah malasnya.


Jevandres mengangguk “Dokter Arcadia, sesuatu sudah menimpa Rigel. Kenapa dia tak mengenali saya?”


Arcadia memilih untuk tetap tenang “Benar, dan itu lebih baik. Ayo Rig, kita pulang.”Ucap Arcadia sambil mengulurkan tangan kanannya pada Rigel.


“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Terimakasih Tuan Jevandres, selamat siang.”Sahut Arcadia dengan bergegas menggandeng Rigel bersamanya.


Jevandres, dia hanya menatap punggung kecil yang membelakanginya itu. Semakin menjauhinya lagi, bahkan begitu jauh darinya. Jevandres menahan amarahnya. Dia kesal, atas semua yang terjadi bahkan tanpa diketahuinya satupun. Saat berkedip, iris mata emas menyalang itu menatap kepergian Rigel. Tangan kanannya mengepal dengan keras.


.


.


.


Rigel mengeratkan pegangan tangannya kepada Arcadia, tatapnya mulai meragu.


“Rig, kau tidak apa-apa?”


Rigel menggeleng pelan, dia hanya turut bingung harus berkata karena debaran jantungnya mendesir dengan lembut. Sampai-sampai kedua pipinya merona dengan manis.


Didalam mobil, Rigel yang duduk dibangku belakang mobil memilih merebahkan tubuhnya disana “Kakiku pegal.”Ucap Rigel tanpa melihat sang kakak yang sedang menyetir itu


Arcadia Dio hanya menyetir sembari mendengung, mengiyakan ucapan Rigel saat itu. Ia sudah memaklumi, apalagi Rigel lumayan lama menunggunya menjemput. Arcadia bukan orang yang banyak bicara, dibandingkan Ivan yang peka terhadap Rigel. Arcadia lebih memilih diam dengan tenang.


Oleh karena itu, Rigel memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu “Dio, kau mengenal pria aneh tadi?”


“Hn. Kenal, dia teman kenalanku.”


“Terus, kenapa dia mengenaliku?”


“Karena dia mengenalku, jadi dia mengenalimu.”Jawab Arcadia dengan gamplang sambil memutar stirnya.


Rigel tak puas dengan jawaban Arcadia “Terus, dia itu ngaku-ngaku sebagai suamiku loh. Apalagi dia menyentuhku dengan mudah. Tidak canggung sama sekali, ish menyebalkan.”Ujar Rigel bersunggut-sunggut.


“Biarkan saja, mungkin karena dia penggemarmu.”


“Iya yah, bisa saja. Apakah dia memang seaneh itu?”


“Aku tak begitu mengenalinya Rig, mungkin itu karena dia salah mengenali orang lain.”


Rigel mengangguk dengan polos, ingatanny memang hilang. Jadi dia tak mengenali Jevandres “Hm~mungkin pria itu baru kehilangan isterinya, makanya dia salah mengenaliku. Setiap orangkan bisa memiliki kemiripan.”Ucap Rigel seorang diri sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang berbaring ditempat duduk penumpang itu “Rasanya... Pria itu tidak jahat kok, hanya aneh saja.”Lanjut Rigel lagi sambil mengelus lembut perutnya.


Diam-diam Arcadia, melihat Rigel dari kaca spion yang ada ditengah-tengah mereka “Apa kau sudah memutuskan akan tinggal bersama Ivan?”


Rigel menggeleng “Ivan usahanya ada diSeoul, mungkin aku akan tinggal sendiri di Rumah yang dibeli oleh Ivan. Aku tak ingin menyusahkan siapapun, ayah dan ibu juga sudah tua seharusnya istirahat.”


“Kau yakin?”


“Ya. Yakin saja. Bukankah rumahnya dekat dengan universitas baruku? Jadi kurasa semuanya akan mudah. Hehe~”


“Kau itu hamil.”


“Yah kan hamil, bukan sakit keras. Huh~”Rigel memiringkan tubuhnya, menatap punggung tempat duduk dibelakang mobil. Dia kesal dengan Arcadia, yang terkadang sama cerewetnya dengan Ivan. Rigel itu hanya ingin bebas dengan kehidupannya ‘Bebas, rasanya aku sudah lama berkenalan tanpa arah.’Batin Rigel “Eh?!”Seru Rigel tiba-tiba “Kenapa aku berpikir seperti itu?Hm aneh...”Ia berucap sendiri.


Mobil yang dikendarai Arcadia diparkirkan tepat didepan sebuah rumah yang ada didalam sebuah komplek perumahan yang tenang “Rig, sudah sampai.”Ucap Arcadia sambil membukakan pintu mobil itu untuk Rigel.


“Terimakasih.”Rigel melangkah dengan ringan, ia melihat rumah yang tak begitu besar namun nyaman menurutnya. Terletak disebuah gang didalam jalanan sepi yang damai di Westeinde. Rigel menyunggingkan senyuman “Ah iya, Ivan belum memberikan kuncinya.”Kepada Arcadia dia memandang kakak beriris merah itu.


Arcadia menggeleng “Ada padaku.”Melangkah lebih dulu, ia membukakan pintu rumah itu. Rumah yang ia belikan untuk adik manisnya ini. Benar, Arcadia membelikan rumah ini sementara Ivan yang mengurus segala keperluan Rigel disini. Duo combination, kakak protektif yang baik.


Click...


Setelah terbuka, Arcadia masuk lebih dahulu dan langsung merebahkan diri disofa panjang ruang tamu.


Rigel celinga-celingu heran “Loh, kok isinya sudah lengkap?”


“Ivan yang mengurusnya, aku sih tahu beli rumah ini saja.”Arcadia berucap teramat santai, seolah ia hanya membeli sesuatu yang begitu murah.


Rigel mengangguk paham “Terimakasih ya kalian berdua. Hehe~”Ucap Rigel tersenyum kemudian memilih untuk berjalan memasuki ruangan lain dirumah itu. Adanya sekitar dua ruang kamar tidur dilantai atas dan lantai bawah, sebuah dapur, sebuah kamar mandi. Serta halaman belakang yang tak begitu luas.


“Terlalu besar, nanti aku kesepian loh disini sendiri.”Komentar Rigel sambil menghampiri Arcadia yang masih merebahkan dirinya di sofa ruang tamu “Tapi, rasanya begitu nyaman. Apakah aku memang suka menyendiri yah... Hehe.”Rigel duduk dihadapan Arcadia, wanita manis bersurai pendek itu masih terkekeh manis.


“Aku akan pindah kesini, mungkin bulan depan. Setelah pekerjaanku di Seoul selesai.”


Rigel ber-Oh Ria. Dia tak sengaja menoleh keperampian yang ada diruang tamu itu. Rasanya begitu klasik, bukankah bisa menggunakan mesin elektronik pemanas ruangan “Aku baru sadar, ruangan ini tertata begitu klasik. Benar-benar selera Ivan...”Canda Rigel diakhiri tawa renyahnya.


.


.


.


Bersambung