
Happy Reading
.
.
.
“Jangan dengarkan kata mereka, memang ini akan memberatkanmu. Tapi percayalah, hanya kau Rigel tidak ada wanita lain selain kau untukku.”Tangan kecul Rigel sudah dikecup oleh Jevandres, bahkan ucapannya terucap begitu nyata bagi seorang Rigel.
Rigel menunduk sejenak ‘Aku juga ingin mengatakannya’Keraguan Rigel muncul, ragu jika terlalu mencintai malah menjadi takut kehilangannya. Bisa saja seorang Jevandres yang menawan dengan segala kelengkapannya ini akan meninggalkannya suatu saat nanti.
Diamnya seorang Rigel, membuat Jevandres mencemaskannya “Kenapa Rig? Apa kau lelah? Atau perutmu sakit lagi?”Jevandres tak tanggung-tanggung menangkup wajah manis itu kehadapannya. Dia melihat Rigel hanya melenguh kecil.
“Tidak, aku baik-baik saja. Tuan...”Ujar Rigel dengan menghela nafas. Mencoba untuk tetap tenang dengan deru perasaannya.
Jevandres meraih tangannya, mereka pergi menaiki lantai dua. Padahal diruangan tengah para tamu undangan bersorak menyanyikan lagu selamat ulang tahun, tak sedikit pula yang terdengar mencari Jevandres “Istirahatlah disini.”Ujar Jevandres yang membawanya kedalam sebuah ruangan dilantai dua.
Rigel mengangguk kecil, dia mengikuti langkah Jevandres yang masuk kedalam sebuah kamar mewah dengan cat berwarna kuning gading “Apa ini kamarmu?”
“Kamar kita, sayang. Semua yang kumiliki juga milikmu.”Ujar Jevandres dengan santai, dia membuka lemari dan tampak menyiapkan beberapa baju santai untuk Rigel “Berhati-hatilah jika ingin kekamar mandi.”Jevandres meletakkan piyama tidur diatas ranjang kasur, kemudian berjalan ke arah Rigel dan mengecup pelan puncak kepalanya “Aku masih memiliki urusan, besok pagi akan kuantar pulang. Sekarang istirahatlah dulu.”Ucap Jevandres sambil menutup pintu kamar itu, dia pun lenyap disana.
Menyisakan Rigel yang berdiri mematung sambil memengangi dahinya yang baru saja dikecup oleh Jevandres “Engh? K-kenapa dia suka melakukan itu.”Ujar Rigel dengan memerah malu. Berapa kali pun Jevandres seperti itu, Rigel akan tetap malu. Perasaannya menghangat dengan lembut, rasanya ribuan kupu-kupu yang terbang didadanya. Begitu manis.
Suara pintu kamar Rigel kembali terdengar, seseorang mengetuk dari luar. Rigel mengira Jevandres sudah kembali dengan cepat “Kenapa cepat kemba—“Raut wajah sumringan Rigel langsung sirna. Dia mendapati seorang wanita cantik yang berdiri didepan kamar ini.
“Hai... Disini rupanya Ares menyembunyikan kelinci manisnya.”Gadis itu memperhatikan Rigel dengan remeh “Red Crimson, apakah pangkatmu sudah turun sekarang? Wahai adikku, Ira.”Ucapnya menyeringai kecil.
Rigel mengeryit, jelas tak mengenali wanita ini “Siapa?”Ucapnya dengan heran.
“Hahaha! Aku yakin Ira, kekuatan kecil Acedia dan Invidia akan sangat mudah dihancurkan untuk dirimu seorang.”Dia tertawa dengan terbahak-bahak seolah pertanyaan Rigel merupakan komedi yang begitu lawak “Lihatlah dirimu yang menjadi naif, Ayolah... kau lebih menyeramkan dari ini Ira.”
“Nona, mungkin sudah mabuk. Rasanya nona berkata sesuatu yang tak kumengerti. Kalau begitu selamat malam.”Rigel akan menutup pintu kamarnya kembali.
Namun Tangan wanita itu menahan pintu dengan kuat “Aku kecewa padamu, Red Crimson.”Lagi, wanita itu menyeringai dengan tatapan menyeramkannya. Kuku-kuku tangannya panjang menghitam, seakan mampu mencabik seluruh tubuhnya.
Rigel berjalan mundur, ingin melarikan diri pun percuma. Dia begitu ketakutan, bahkan kedua kakinya pun dirasa bergetar samar “Ha... ah...”Deru nafas Rigel memacu dengan cepat. Dia hanya mampu menutup kedua kelopak matanya sambil mendekat perutnya sendiri.
“Examin et eras...”
Selayaknya Rigel, harus merasa sebuah tangan lebar yang mendekapnya dari belakang. Dingin dan kaku, namun rasa melindungi terasa dengan kental. Rigel membuka kelopak matanya, dia melihat sepasang sayang putih yang menutupi pandangannya. Tak lama pun mengepak terbuka lagi “Eh?”Rigel terheran-heran. Melihat gadis menyeramkan itu tengah mengeliat kesakitan.
“Maaf, kurasa kita harus segera pergi dari mansion kumpulan mahluk ini.”Ujar suara mengalun lembut itu dari belakang Rigel.
Kedua iris kenari Rigel hanya merasakan tubuhnya digendong oleh sepasang lengan pria. Rigel ingin melihat wajahnya, namun dia terlanjur terkejut. Ketika pria itu melayang dengan cepat mengudara dilangit yang malam “Tunggu. Kau tak bisa melakukan ini, terimakasih sudah menolongku tapi aku tak bisa pergi. Tuan Jevandres tak mengetahuinya.”Rigel berkata dengan cepat. Dia tak mungkin memberontak, mengingat keduanya tengah berada diatas langit yang tinggi.
“Baiklah, asal kau tahu saja. Jevandres itu tak bodoh mengenali orang-orang yang ada disekitarnya. Dia Ares, dewa peperangan yang keji. Seluruh aura haus darahnya tak mungkin begitu jinak terhadap musuh-musuhnya, kecuali jika itu sekutu Ares. Tadi, wanita itu merupakan pendosa Lust. Jangan katakan kau lupa segalanya Ira?”
Rigel mengedip-ngedipkan kedua matanya “Hm tuan, sungguh aku tak mengerti maksud ucapanmu. Apakah itu seperti mitologi yunani? Wah tuan pasti mahasiswa sejarah yang cerdas hehe...”Rigel tertawa renyah dengan manis. Pipi gembulnya sampai memerah.
‘G-gawat! Manis sekali!’Pria emerald itu menelan ludah. Dia tak sanggup melihat mahluk manis yang ada didalam gendongannya ini, mereka pun turun pada sebuah balkon apartemen “yang jelas kau harus istirahat malam ini.”Ujar pria itu sambil menuruni tangga meski tetap menggendong Rigel dengan kedua lengannya.
“Apa tuan sedang menculikku?”Polosnya Rigel berkata demikian.
Sebelah alis pria rupawan itu mengeryit, kemudian kedua sayapnya menghilang “Aku masih waras untuk menculik isteri orang lain asal kau tahu.”Pria itu menyadari sesuatu. Ingatan Rigel tengah disegel, meski sebagian besar sudah menghilang. Bahkan aura kemurkaannya ikut diredam dengan dalam.
Pria itu membuka pintu dengan kakinya, dia langsung meletakkan tubuh Rigel dengan pelan diatas ranjang kasur “Tidur...”Ujarnya sambil menjauh dari Rigel.
“Tunggu! Apakah kita saling kenal?”
“Tentu, aku teman lamamu. Namaku Ramone Angeleus.”Tatapan emerald itu tampak memiliki guratan kepedihan, dia yang duduk ditepian ranjang kasur mulai mengarahkan tangannya untuk membelai permukaan wajah Rigel dengan lembut “Tak perlu takut, aku tak akan berbuat macam-macam pada kalian berdua. Tenanglah, kau aman bersamaku.”Ujar pria bermarga Angeleus itu.
Rigel menatap sepasang iris emerald miliknya, terasa tak asing namun dia tak tahu pasti “Kenapa kau menolongku?”
“Tidurlah... kau bisa bertanya hal itu esok pagi.”Setelah berkata pemuda itu mendekati wajahnya pada Rigel “Sleep well, Dear Ira...”Ucapan itu bagaikan mantera tidur. Dari suara manis yang lembut, pemuda itu melihat Rigel yang perlahan-lahan memejamkan kedua matanya untuk menuju mimpi indah.
“Eungh~”Rigel melenguh dengan kedua matanya yang terpejam, kini sudah terdengar dengkuran halusnya.
Sekali lagi, dia mengusap wajah manis yang tengah terlelap itu “Apakah kau, membenciku sebegitunya. Ira...”Tatapannya benar-benar sendu, seolah wanita ini telah melukainya dengan dalam. Namun, dia tak bisa membalas perbuatan wanita manis ini. Sampai kapanpun, akan tetap seperti itu “Memberikan kehidupanmu kepada seorang manusia, apakah kau ingin membantunya balas dendam atau kau memang ingin menghilang dariku? Kenapa, kau lakukan semua ini Ira.”Dia menyentuh Rigel seolah wanita ini merupakan sesuatu yang begitu rapuh, menyentuh dengan amat berhati-hati.
Kini tangannya pun beralih menyentuh perut Rigel “Disini. Ada kehidupan kecil yang sudi kau tampung Rigel, bahkan bukan milikmu. Tapi milik pria itu dengan sang dewi yang malang. Kenapa? Pendosa sepertimu teramat malaikat dari malaikat itu sendiri, Ira. Teramat baik dan tulus.”Pria itu mengecup puncak kepala Rigel “Dia pun tahu, manusia fana itu pun tahu dan kau sendiri pun tahu. Beban yang kau tanggung bukan kepemilikanmu, sang kemurkaan indahku.”Dalam kegelapan kamar, dia meninggalkan Rigel yang tertidur pulas seorang diri. Kriek... Bunyi pintu yang tertutup berdecit.
Sepasang mata merah lembayung terbuka, dalam posisi tidur terlentangnya dia meletakkan sebelah lengan kanannya menutup sebagian wajahnya “Hey Zuriel.”Wanita manis itu menghela nafas berulang kali, seolah melepaskan beban masalahnya disana.
“Ira itu jauh lebih tahu, dan perkataanmu pun tak sepenuhnya salah. Zuriel...”
"Namun sayang, harapanmu tak bisa kukabulkan."
Rigel tersenyum hambar "Karena kekasihmu itu, sudah benar-benar hilang sesuai keinginannya."
Air mata pun mengalir dari ujung pelupuk matanya, sebagian wajah yang tertutupi lengan itu tampak menangis menutupi kepedihannya. Enggan untuk menurunkan tangannya.
"Ha... Perasaan milik Ira, begitu menyebalkan."Dia hanya bisa menghela nafas dengan pelan.
.
.
.
Tobecontinue