
Happy reading ^-^
Tinggalkan jejak kalian ya~
Agar saya bisa lanjut dengan super duper semangat Hehe~
Thanks.
.
.
.
“Apa kau tahu?”Ucap Ivan sambil menyetir mobilnya. Sore itu langit mulai menguyur hujannya. Pria muda bersurai perak sebahu itu, mengikat rambutnya ekor kuda. Dia berbicara pada seseorang yang ada disebelahnya.
“Uhm~ tahu, kami sudah menyelidikinya juga. Kali ini bukan kesalahan nona Rigel.”Ucap gadis bersurai merah itu.
Ivan mengangguk “Benar, ini tidak ada hubungannya dengan Rigel.”Ivan menatap lurus kejalan, dia tentu saja tahu seseorang yang ikut campur dalam masalah yang dialami oleh Rigel. Jelas saja, orang-orang ini memang tak menyenangi adiknya. Sayangnya Ivan, tidak bisa mengatakan itu kepada kekasihnya cuman hanya bisa mencari tahu melalui jaringan yang kekasihnya bisa jangkau.
“Mau bertemu dengan Rigel?”
Aria mengangguk “Keberangkatanku nanti malam, jadi masih bisa mampir melihat nona Rigel. Bagaimana tadi setelah control ke dokter kandungan?”
“Katanya, kandungannya memiliki berat yang tak wajar dari usianya. Rigel harus memperhatikan nutrisi dan kesehatannya. Jika dua minggu kedepan masih seperti itu buruknya, kemungkinan akan digugurkan. Tapi hal ini belum Rigel ketahui, dia hanya tahu jika dia harus memperbaiki kesehatannya.”
Aria membulatkan matanya, dia tak percaya “Ya Tuhan, sungguh kasihan sekali nona Rigel.”Ucap Aria sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ivan hanya tetap terus menatap jalan raya yang diguyur hujan itu “Semoga saja Rigel tetap kuat.”Kini, tatapan Ivan menjadi sendu. Dia memikirkan nasib adiknya. Tak perduli, itu Adonis atau Ira. Tapi yang ia tahu Rigel adalah adiknya. Mereka bersama sejak lama dengan ikatan keluarga ini.
Aria menyentuh pundak Ivan kemudian mengelus lembut pundak kekasihnya itu “Ivan, jangan bersedih lagi ya...”Aria menyandarkan kepalanya pada pundak kekar Ivan.
.
.
.
“Owah~ hujan!”Seru Rigel seraya memandangi guyuran hujan dari jendela kaca yang tertutup rapat itu, sementara kedua tangannya tengah memengang mug berisi cappucino hangat. Minuman kesukaannya, walaupun hanya bisa diminum saat Arcadia ataupun Ivan tak bersamanya. Jika tidak mereka pasti akan melarang Rigel untuk meminum susu atau jus, dan Rigel benci itu.
Arcadia Dio, pamit pergi sekitar sejam yang lalu. Katanya, pria beriris merah itu memiliki urusan lain. Seperti biasa dokter sibuk seperti Arcadia walaupun berwajah malas tapi kegiatannya banyak “Yah~sudahlah.”Rigel menegak cappucinonya dengan pelan “Uhm enak...”Ucap Rigel sambil berjalan duduk disofa ruang tamu. Menghadap meja yang sudah terdapat tumpukan buku-buku yang akan dibacanya.
Hari itu, petang dengan hujan dimusim seminya. Rigel seorang diri menikmati waktunya, walaupun sejam yang lalu sudah dikirimi pesan dari Ivan yang akan datang berkunjung bersama Aria. Kekasihnya.
“Hoam~”Rigel mengantuk, sementara hujan masih tak kunjung reda. Dia membaca buku berbahasa Belanda itu setelah habis membaca buku berbahasa inggris mengenai patologi, sambil menyandarkan punggungnya pada sofa panjang itu.
Tiba-tiba Rigel tersenyum seorang diri “Aku suamimu, ya benar. Kau isteriku dan itu anak kita.”Rigel bergumam mengulang perkataan Jevandres. Pipinya pun terasa memanas “Yang benar saja! Kenapa aku memikirkannya.”Rigel menjadi malu sendiri. Terutama saat dia mengingat Jevandres mendekapnya dengan hangat. Wajah dan tatapan Jevandres sesaat menghipnotis dunianya “Yah memang tampan sih...”Ucap Rigel bergumam sendiri sambil mengusap perutnya.
Ketika itu Rigel tiba-tiba merasakan sesuatu. Membuatnya menjadi waspada walaupun itu hanya desiran perasaannya. Rigel pun menoleh kearah pintu yang terkunci dengan rapat “Hm? Tidak salah lagi seperti ada orang didepan sana...”Rigel beranjak berdiri dengan tatapannya yang menelisik. Rigel memang lupa, tak ingat masa lalunya. Namun sepanjang hidupnya berlatih ilmu bela diri, tubuhnya mengingat setiap jurus dan teknik menggunakan alat bela diri bahkan insting dan intuisinya memang tajam didukung panca inderanya yang peka.
Rigel tahu seseorang sedang menerronya. Dia bisa melihat bayangan seseorang dari celah pintu luar. Tanpa berpikir apapun lagi Rigel membuka pintu rumahnya, dia mendapati dua orang pria asing yang sudah berdiri disana “Anda masih tahu menggunakan bel rumah bukan?”Rigel tidak lemah, dia hanya gampang merasa kelelahan.
“Nona... anda harus kami tangkap dalam keadaan hidup atas perintah bos.”
Rigel mengeryit heran “Bos? Memangnya kalian siapa?”
Kedua pria itu enggan menjawab, dan nyaris memborgol Rigel serta memasukkan wajahnya dengan tudung kain. Namun sebelum itu terjadi, Rigel menghajar dua orang pria itu dengan mudah. Salah satu dari mereka bahkan terpental hingga jatuh menuruni anak tangga rumahnya.
Perut Rigel tiba-tiba saja terasa nyeri dia pun tak sengaja lengah saat menanyai pria itu, tanpa sadar seseorang dari mobil lain yang terparkir didepannya sudah bersiap dengan pistol kaliber 25 nya. Dia tengah membidik Rigel saat itu. Dia menarik pelatuknya, sebuah peluru amunisi melesat dengan cepat. Namun disaat itu...
Dorr...
Kedua iris mata kenari Rigel melebar, dia melihat peluru itu tepat didepan matanya hanya saja terjebak oleh sebuah barrier kemerahan transparan didepannya. Bersamaan dengan cincin hitam yang mengkilat merah ditangan kirinya itu. Rigel berhasil terselamatkan biarpun ia masih tidak habis pikir dengan keajaiban itu.
Mobil itu melesat laju, saat Rigel menyadarinya. Bahkan dua orang itu ikut melarikan diri memasuki mobil itu, sebelum sempat Rigel kembali menghajarnya “...astaga, tadi itu apa?”Rigel sampai berjalan terhuyung-huyung kebelakang. Hingga bersandar pada dinding bagian depan rumahnya, dadanya naik turun. Antara lelah dan terkejut.
“Rig!”Semenit kemudian mobil Ivan berhenti tepat didepan rumahnya, pemuda itu melihat adiknya yang dalam kondisi berantakan sambil memengangi perutnya. Dia pun berlari menembus hujan untuk menghampiri Rigel, yang Ivan lihat hanyalah sebuah mobil yang melaju sebelum dirinya tiba.
‘Ecru, bereaksi tanpa tuannya memerintah? Tidak biasanya.’Ivan membatin sambil terus memperhatikan cincin hitam Rigel yang mengkilat dengan samar itu “Rig...”Ivan pun meraih tubuh Rigel untuk memeluknya “Maaf aku terlambat.”
Aria yang tak sengaja melihat dua orang pria itu menajamkan matanya, dia tak salah mengenali pesuruh amatir itu “Nona Rigel tidak apa-apa?”Ucap gadis itu sambil membuka mantel merah mudanya untuk memakaikannya pada tubuh Rigel “Ayo masuk. Diluar dingin.”
“Rig, hey Rig...”Ivan membantu meletakkan tubuh kecil yang gemetar itu untuk duduk disofa.
Riger bergetar samar, dia menatap Ivan dengan kedua iris kenari yang menatap dengan kosong “J...jevandres... Je... bent me ve..rgeten?(kamu sudah melupakanku?)”Ucap Rigel terbata-bata dengan suara lirihnya yang merintih. Senyuman pun terpancar diakhir ucapannya diiringi tetes air mata yang samar, setelah itu Rigel memejamkan kedua matanya. Ia tidur kelelahan.
“Kenapa dengannya?!”Aria panik saat itu. Dia takut gadis manis Rigel mengalami sesuatu yang buruk.
Ivan yang tahu berkat melihat kilatan merah dicincin Rigel ‘Sepertinya itu tak sengaja membangkitkan kekuatannya’Batin Ivan berkata dengan hanya bisa menghela nafas “Dia tidak apa-apa sebenarnya, hanya kehabisan baterai.”Ivan berucap konyol untuk menutupi rahasia itu dari Aria, Ivan tahu kekasihnya ini gadis yang jenisu.
Ivan pun menggendong tubuh Rigel “Eugh~ dia semakin berat.”Ivan pun berjalan menuju kamar Rigel yang berada dilantai dua.
Aria dengan sigap mengikutinya, dia membukakan pintu untuk Ivan yang menggendong Rigel.
“Okay, tidurlah anak nakal.”Ucap Ivan sambil menyelimuti Rigel.
“Aku akan menggantikan pakaian nona Rigel.”Seru Aria yang dibalas anggukan oleh Ivan.
Pemuda itu pun keluar dari kamar Rigel, menutup pintunya “Aku akan membuatkan makan malam, jika sudah lekas turun kebawah.”Seru Ivan sambil menutup rapat pintu kamar itu.
Aria berjalan kearah lemari, dia mengambil beberapa helai pakaian. Aria dengan telaten membantu menggantikan pakaian Rigel dengan piyama panjang, kemudian memberi minyak aroma terapi pada leher dan kedua tangan Rigel. Saat Aria membantu membenahi posisi kepala Rigel dengan bantal, ia menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah dilihatnya “Hm? Aku tak pernah tahu nona Rigel mentato lehernya.”Ucap Aria sambil melihat tanda bergambar singa yang ada dileher Rigel, hal itu karena selama ini Rigel selalu menutupinya dengan surai hitam panjangnya. Bahkan tanda itu sempat mengkilat sedikit, Aria berpikir jika tato itu menggunakan tinta khusus yang memang bercahaya “Hm, ya sudahlah.”Aria mendelik acuh, kemudian menyelimuti Rigel sampai kelehernya.
Langkah kaki menuruni tangga terdengar, Aria mendapati Ivan yang sibuk didapur. Pria muda itu tampak menyingsingkan kedua lengan kemejanya yang digulung hingga kesiku, menggunakan apron berwarna cokelat dan sibuk membalikkan telur omellet dengan spatulanya “Uhm~ seperti masakan Chef yang handal.”Aria menggoda Ivan. Seolah sengaja bertingkah lupa jika kekasihnya ini memang seorang Chef yang memiliki beberapa toko roti dan restoran.
Ivan memutar kedua bola matanya dengan malas “Ya terus saja seperti itu.”Ujar Ivan sambil mencebik masam.
Aria terkekeh, gadis polos seperti Aria hanya tersenyum melihat kekasihnya yang menggemaskan itu “Terus aku harus apa biar Tuan Ivan tidak marah lagi?”Sedikitnya Aria merasa bersalah, pasalnya Ivan setelah memasak hanya mengatur meja makan tanpa bersuara.
“Kalau dicium aku akan berhenti marah.”Ucap Ivan dengan asal sambil duduk dikursi meja makan, sebenarnya Ivan memang tidak berniat menjahili kekasih polosnya ini.
“Engh...A-aku...”Aria salah tingkah, dia menjadi gelisah dengan rona wajah kemerahan pada wajahnya. Kemudian, dia pun berjalan mendekati Ivan dan mengecup dahi Ivan dengan lembut.
Ivan tersentak kaget, kedua iris mata merahnya membulat “Eh?! A-apa yang sudah kau lakukan?”Ucap Ivan sambil memengangi keningnya sendiri.
“Katamu akan berhenti marah jika kucium.”Aria berkata dengan polos sambil memalingkan wajahnya.
“I-iya. Aku tidak marah lagi.”Ivan tak kalah memerah kala itu.
.
.
.
Bersambung