Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 8 : Twinkle twinkle little star



Happy Reading~


.


.


 


 


 


Rigel bangun keesokan harinya, dia terbangun ketika sinar mentari menampaki wujudnya dengan hangat. Rigel merentangkan kedua tangannya “Enngghh...”Ia mengerangkan tubuhnya.


“Uhm~ kenapa si pria bongsor itu?”Ucap Rigel saat mengingat jika kemarin, pria bermarga Lascelles itu menemaninya hingga tertidur.


Rigel beranjak bangun dari ranjang tidurnya, matanya melihat kekiri dan kekanan untuk mencari sosok tinggi tegap itu. Sadar jika Lascelles pirang itu sudah tak berada diapartemennya, Rigel mendengkus kesal. Ia merasakan kesepian saat pria itu tak bersamanya “Tch. Biarkan saja, kenapa aku harus perduli?”Ucap Rigel seorang diri seraya berjalan ke lemari freezer untuk mencari makanan. Dia merasa lapar, namun tak mendapati apapun.


Kring...kring...


Bel pintu apartemennya berbunyi, Rigel langsung membukanya. Dia mendapati seorang pegawai delivery restoran makanan yang memberikan pesanan makanan untuknya “Aku tak memesannya.”Ucap Rigel kala itu dengan raut kebingungannya.


“Tuan atas nama Lascelles sudah memesannya ke alamat ini. Selamat Pagi Nona, selamat dinikmati.”


Rigel mengambil pesanan makanan itu dengan senyuman yang mengembang manis, namun sedetik kemudian ia menggeleng “Bodoh, jangan lupa aku pernah mati konyol akibat ulahny.”Ucapnya meruntuki dirinya sendiri.


Namun Rigel, tetap mau memakan makanan yang dipesankan oleh Jevandres itu seperti biasanya. Hanya satu suapan, sementara satu suapan lagi dia kehilangan nafsu makannya”Eugh...”Ia menutup mulutnya menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya.


Rigel menarik nafas dalam dengan pelan, kemudian meminum air putih “Ck. Menyebalkan...”Gumam Rigel dengan kesal.


Akibat kehilangan nafsu makan dan merasa kebosanan. Rigel memutuskan untuk pergi ke universitasnya, niatannya agar kembali mendaftarkan dirinya menjadi mahasiswi dari universitas itu dengan dirinya yang baru.


Cuaca diluar sedang mendung, sebentar lagi akan hujan. Rigel baru selesai bersiap-siap dengan pakaian serba panjangnya itu. Tak lupa, ia pun menyelipkan satu revolver dipinggangnya yang ditutupi coat hitam panjang. Rigel membawa serta payung hitam bersamanya. Ia pun mengunci pintu apartemennya, kemudian berjalan kaki menuju universitasnya itu.


Tepat pada pukul sepuluh lewat dua Rigel memasuki kereta yang berhenti didepannya “Padahal tadi pagi cerah kok, kenapa malah mau hujan.”Ucap Rigel seorang diri seraya menunggu didalam kereta api yang akan dinaikinya, sembari duduk dengan tenang.


.


.


.


Guratan angka-angka yang menjejer panjang disebuah papan tulis putih, oleh tangan lebar yang seraya melirik sesekali buku kalkulus yang dipegangnya. Hidung bangirnya bertengger kacamata, Jevandres tampak dalam mode seriusnya didepan kelas. Sementara sebagian besar mahasiswa menatapnya dengan penuh pesona, sebagian lainnya hanya diam memperhatikan kharismanya yang tak main-main itu.


Tepat setelah usai memberikan materi, pria beriris aquamarine itu tak langsung keluar dari kelasnya. Beberapa, mahasiswi tampak menghampirinya untuk sekedar bertanya materi yang kurang atau bahkan sengaja mendekati pria yang ternyata sudah beristri itu “Iya...Iya... sampai ketemu besok, jangan lupakan tugas kalian ya...”Akhir Jevandres yang sebenarnya sudah sedari tadi ingin keluar dari kelas ini.


“Byebye Prof..”Beberapa siswi turut mengucapkan selamat tinggal, sebagian lainnya menyapa Jevandres yang baru saja keluar dari kelas seraya menenteng tas jinjingnya itu.


Dia tak menyadari akan sosok manis yang bersandar disamping sebuah loker tepat disebelah kelasnya mengajar, dengan raut masam yang tak ketara “Aku dengar semuanya, Kak...”


Pendengaran Jevandres menangkap suara manis yang mengalun dengan lembut itu, lantas ia pun menoleh “Oh hai...”Sapa Jevandres dengan kikuk. Pasalnya ‘Binary’ tak akan pernah berani mengunjungi tempat kerjanya, hal itu karena Jevandres yang melarangnya. Dia hanya tak ingin, dilihat oleh Luna yang juga berkuliah di Universitas ini sehingga sulit mendekati Luna.


Paham dengan gelagat Jevandres, Rigel memilih melintasi Jevandres dengan acuh “Jangan salah paham, aku tak berniat mengunjungimu kok.”Ucap Rigel.


Baru saja dua langkah Rigel meninggalkannya, tepat dihadapannya ia melihat Luna yang berlalu dengan sosok pemuda yang amat dikenalnya ini “Tch. Apa-apaan gadis ini.”Rigel mendecih tak suka.


“Kak Bina...”Sama halnya dengan Jevandres, raut wajah Luna menyapanya dengan gelagapan.


“Dia kakakmu itu? Binary Rui Lascelles? Wah isterinya Jevandres.”Pemuda disamping seolah sengaja berkata dengan keras.


Luna yang ada disampingnya, menyiku pemuda itu “Pppssst... kau bodoh ya?”


Tapi terlambat, beberapa mahasiswi yang ada disana mulai berbisik-bisik. Tak tanggung-tanggung para gadis murid kelasnya Jevandres menghampiri professornya yang diam bergeming itu.


“Prof ternyata sudah menikah ya?”


Jevandres mematung, dia tak tahu harus menjawab apa “Ah ka—“


“Ah tuan Kim Theo.”Rigel memotong dengan cepat, bahkan berbicara dengan suara lantang.


Melalui tatapan tajamnya “Apa kau pernah bertemu dengan isteri Professor Lascelles?”Ucap Rigel.


Theo tertawa hambar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal “Wah, tidak juga nona. Kalau begitu, Luna berkata jika saudarinya merupakan isteri Professor Lascelles.”Theo berucap dengan polos. Baik itu disengaja atau tidak.


“Sayangnya, aku tak kenal wanita ini.”


Sontak, Luna menatap tak percaya “Kak...”Mulutnya menganga.


Sebenarnya itu tak salah, Rigel yang asli memang tak mengenal Luna “Anda sendiri, apa pantas berpacaran dengan mahasiswinya dilingkungan universitas?”Ucap Rigel dengan sarkas “Oh ya... Pantas saja popularitas Professor Lascelles lebih baik dibandingkan anda.”Rigel menyeringai kecil.


“Aku bahkan tak mengenal Professor Lascelles, karena aku sendiri mahasiswa pindahan baru.”Rigel menyunggingkan senyuman saat melirik Theo yang mengepalkan kedua tangannya.


“Nona...”Panggil Theo dengan senyumannya, percayalah itu hanya dustanya semata “Kalau boleh tahu, siapa nama anda?”Ucapnya lagi.


Rigel tampaknya berpikir sejenak, dia tak boleh asal jawab. Bahkan wajahnya ini memang milik seorang Binary Rui Aristolochia. Akhirnya, karena ia mengingat sepasang iris berlainan warna yang masih melekat pada dirinya Rigel pun tersenyum manis “Rigel. Namaku Rigel Wijakusuma Carlin.”


Theo mengulas senyumannya “Baik, tampaknya anda mahasiswi baik yang sudi menegur saya. Terimakasih. Rigel...”Ucap Theo tampak mengancamnya.


Rigel tak takut sama sekali, dia pun melintasi Theo dan Luna dengan acuh.


Theo yang merasakan keanehan itu, hanya menatap Jevandres yang berdiri tak jauh dari mereka. Sama halnya dengan Rigel, Jevandres pun mendelik acuh seraya meninggalkan mereka.


“Kau kenapa, Kak Theo?”Tanya Luna merasa kekasihnya ini menjadi berbeda.


“Ah tidak apa-apa, tampaknya nona muda tadi bukan kakakmu ya?”


Luna menggeleng “Itu kakakku, hanya saja dia sudah lama meninggalkan keluarga kami.”Luna menatap dengan sendu “Dia menjadi gila semenjak menikah dengan Professor Jevandres.”Luna pura-pura menampakkan raut sedihnya, dia ingin terlihat rapuh agar dilindungi oleh Theo.


Sang kekasih tentu saja menenangkannya “Pasti kakakmu memiliki masalah, jangan dipikirkan ucapannya ya.”


Luna mengangguk “Benar, dia menjadi kasar dan mudah marah. Kasihan dia...”


“Tch.”Jika kalian berfikir Rigel sudah pergi meninggalkannya, tentu saja belum. Dia hanya berbelok disamping loker lain yang berada dikelas tepat dipersimpangan koridor. Masih dapat mendengar ucapan mereka, sembari bersandar pada loker dengan bersidekap. Diam-diam Rigel menyeringai dengan pelan “Bagus, kau hanya membuat Ivie semakin gemuk dengan kedengkian kalian.”Ucap Rigel seraya berjalan menjauh dari pasangan itu.


Tadinya Rigel ingin kembali mendaftarkan dirinya sebagai mahasiswa di Universitas ini namun Rigel mengurungkan niatannya, kini pada pukul dua siang lewat tiga puluh menit. Rigel duduk didepan kantor didalam gedung fakultas Kedokteran yang berbeda dengan fakultas Jevandres, Luna maupun Theo.


Saat ini Rigel si manis bersurai hitam legam itu tengah duduk untuk beristirahat sejenak karena dirasanya kedua kakinya terasa begitu pegal “Mengulang dari awal mula lagi...”Rigel menghela nafas.


“Oh iya... Theo aku memang sudah kenal lama sejak tahun pertama masuk, sementara Jevandres tentu saja aku kenal dia sejak SMA. Kalau gadis bernama Luna itu...”Ucap Rigel menyentuh dagunya sendiri “Rasanya, baru beberapa minggu ini familiar melihatnya... Itupun karena wanita itu terus berada didekat Theo. Ckck.”Ucap Rigel seorang diri.


Rigel mengerangkan tubuhnya yang terasa pegal itu “Rigel... Rigel... Mari kita lupakan urusan mereka. Sekarang.”Rigel bangkit berdiri “Kita coba pergi menemui Arcadia. Yeay...”Ucapnya dengan senyum sumringan itu.


Pada pukul empat sore, ditemani langit citrus yang bersemu merah. Rigel berjalan kaki menuju stasiun kereta api terdekat untuk kembali ke apartemennya. Dia melangkah dengan ringan “twinkle... twinkle little star, How I wonder what you are.”Ia bersenandung kecil untuk menemani langkahnya namun langkahnya berhenti tepat didepan sebuah cafe yang menyuguhkan beberapa dessert manis yang tampak lezat itu.


“Ayo... Kita makan terlebih dahulu, kau pasti lapar juga ‘kan?”Rigel berucap dengan riang seraya memasuki cafe itu.


Disana dia memesan strawberry cheese cake dengan secangkir teh chamomile. Rigel memilih duduk dibangku paling ujung yang menghadap jalan raya itu, hari ini ia melakukan aktivitasnya seorang diri sama seperti dihari-hari lalunya.


“Kadang aku berfikir, Binary. Apakah hari yang kau lalui juga sesepi ini?”Ucap Rigel seorang diri. Rigel, menompang dagunya dengan tangannya sendiri dia yang melamun memandangi jalan sampai tak menghiraukan seorang waitres yang menghantarkan pesanannya.


Plukk...


Seseorang baru saja mengusak puncak kepalanya, sengaja menganggu aktivitas melamun seorang Rigel itu.


Rigel terusik lamunannya dia pun segera menoleh “YAK?!”Katanya setengah berteriak kepada pria itu.


Sementara pria bersurai pirang itu mendelik acuh sambil memilih untuk duduk tepat dihadapan Rigel “Tehmu masih panas, lekas diminum.”Ucapnya dengan datar.


Rigel melihat secangkir teh chamomile itu, dia pun menyesapnya dengan nikmat “Uhm~”Gumam Rigel menyukai sensasi cairan hangat yang baru saja ditengaknya itu.


“Kenapa kau kemari? Apa kau berubah profesi menjadi seorang pengutit?”Cetus seorang Rigel dengan acuh sembari menyendoki strawberry cheese cakenya kemudian menyuapkan potongan kecil kue manis itu “Uhm~ enak...”Lagi-lagi Rigel bergumam dengan menggemaskan. Dia sangat menikmati makanan manisnya itu.


Diam-diam seorang Jevandres hanya mampu memperhatikan perilaku lucu Rigel, yang sangat natural itu “Kebetulan lewat.”Jawab Jevandres dengan acuh.


“Uhm begitu...”


Seorang waitres kembali tiba dengan secangkir americano pesanan Jevandres, usai waitres itu menghantar pesanannya. Mereka berdua sama-sama terdiam tanpa sepatah kata apapun, hanya dentingan alat makan Rigel yang sibuk menyendoki kue manis kesukaannya itu. Sementara Jevandres sudah mengeluarkan laptopnya, dan ia pun sibuk dengan benda lipat itu.


Sampai pada akhirnya, Rigel berucap lebih dahulu “Oh iya... Luna itu apakah dia anggota keluargaku?”


Jevandres ingin mendecak kesal, namun ia melihat lagi gadis kecil itu “Luna Agatha Aristolochia adik bungsumu, Bina.”Ucap Jevandres seraya menghela nafas untuk mencoba sabar kepada gadis mungil ini.


Rigel mengangguk “Oh~ Binary dan Luna, ini kebetulan atau sebuah penjelasan. Sang bintang ganda dan sang bulan. Menurutmu siapa yang jauh bersinar lebih terang?”Gumam Rigel sambil memakan makanannya lagi.


“Tidak keduanya...”


“Uhm?”Rigel masih mengunyah potongan cheese cakenya.


“Jika kau melihat melalui bumi, bulan akan terang dimalam hari. Tapi jika kau melihat melalui angkasa, Binary akan tampak terang namun didalam Binary masih ada bintang lain yang jauh lebih terang. Sirius. Tapi bagiku sendiri. Aku lebih tertarik...”Jevandres tak langsung melanjutkan ucapannya ia menatap terlebih dahulu, sosok Rigel yang mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu.


“Aku lebih tertarik dengan cahaya si pemburu Rigel.”


Rigel mencoba untuk tidak menampaki raut terkejutnya “Uhm~ kau tahu, aku tak mempelajari astronomi... itu hanya pertanyaan iseng hehe~”Rigel terkekeh hambar, teramat cemas jika pria itu melanjutkan ucapannya.


Jevandres diluar dugaan, dia malah mengangguk setuju “Benar, kau mahasiswi fakultas kedokteran.”Ucap Jevandres dengan tenang. Ia menegak pelan americanonya.


“EH?!”Rigel tersentak kaget “Kau tahu? J-jadi selama ini kau sudah tahu?”Rigel menunjuk sosok tampan didepannya itu dengan telunjuknya.


Jevandres menatap acuh “Rigel Wijayakusuma Carlin, bukan?”


Rigel meneguk ludahnya sendiri, dia kira Jevandres tetap menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Dia tak menduga jika pemuda itu akan mempercayainya “Eh..i-iya...”Cicit Rigel dengan pelan.


“Seharusnya Binary mati.”


“Kenapa dia harus mati? Dibandingkan dirimu, dia jauh lebih layak untuk hidup.”Rigel menginterupsi Jevandres dengan cepat.


‘Menarik’Batin Jevandres seraya menatap sepasang iris berlainan milik seorang Rigel ini “Rasanya Deja vu. Sungguh, kukira kau akan mati dengan mudah Binary. Ternyata jiwa lain masih mengasihi hidupmu.”Ucap Jevandres. Lagi, ia menyesap americano panasnya dengan tenang. Bahkan saat diam pun, kharismatik pria ini tidak main-main. Walaupun bercampur dengan aura tajam miliknya.


“Aku tak mengerti ucapanmu, kau benar-benar gila. Kak.”Ucap Rigel setengah muak mendengarnya, akibatnya mood miliknya pun menjadi menurun ‘bagaimana bisa seorang dengan mudahnya menyebutkan kematian itu dengan mudahnya’Batin Rigel berteriak seraya beranjak berdiri dari duduknya. Ia berjalan dengan acuh meninggalkan Jevandres untuk pergi kekasir agar membayar makanannya. Sungguh Rigel ingin cepat-cepat menjauh dari pria blonde itu.


“Ini...”Jevandres tiba-tiba dengan cepat menyodorkan kartu hitamnya kepada kasir itu.


Rigel yang masih berkutat dengan dompetnya, hanya bisa terdiam. Setelah itu dia pun melesat menghindari Jevandres dengan cepat. Dia tak tahu, perutnya mulai terasa bergejolak dengan berangsur-angsur terasa sakit.


“Dia semudah itu mengucapkannya, disaat Binary memohon-mohon kepadaku atas keselamatan pria menyeramkan itu. Sungguh perwujudan Ares yang tak main-main. Sekarang aku tak perlu lagi untuk mengurungkan niat balas dendamku.”Ucap Rigel bernada lirih dengan langkahnya yang tertatih pelan, akibat menahan nyeri pada perutnya itu.


Rigel akan bernasib buruk jika tak segera menoleh kearah kanannya. Dia dengan jelas melihat seorang pria yang menodongkan senapang tepat pada dirinya itu “Gawat!”Kedua mata Rigel membulat, dia sudah bersiap dengan revolvernya. Namun sayang, akibat nyeri pada perutnya Rigel terlambat menarik pelatuk pistolnya.


Dorr...


Pria itu lebih dahulu menarik pelatuknya, diiringi teriakan semua pejalan kaki saat itu. Mereka dengan panik berhamburan melarikan diri.


Rigel memejamkan kedua kelopak matanya, untuk bersiap dengan kenyataan yang akan diterimanya “Eh?!”Rigel sadar dia tak tertembak oleh pria itu. Dia hanya merasakan tubuhnya sudah didekap oleh seseorang.


“K-kau?”Ucap Rigel melihat Jevandres yang mendekapnya, Rigel pun tak buta menyadari lengan kekar Jevandres yang tertembak itu. Darahnya sudah merembes tak berhenti dari balik coat cream mudanya yang didominasi oleh warna merah diseluruh lengannya itu.


“Tch. Bodoh! Apa kau mencari mati ha?!”Bentak Jevandres tepat didepan Rigel. Rahang pria itu mengeras dengan iris aquamarine yang menyalang.


Rigel justru keheranan ‘bukannya kau yang ingin aku mati ya’ batin Rigel hanya menatap pria besar itu. Hal itu ia lakukan dengan menatap lugu pria itu. Tanpa satu pun ucapan. Dia tak habis berpikir, baru saja beberapa menit yang lalu dia mengatakan mengenai kematian akan dirinya. Sekarang pria itu mempertaruhkan dirinya sendiri untuk melindungi seorang Rigel.


“Astaga!”Rigel mendecak, ia baru ingat akan seorang pria yang hampir menembaknya itu, Rigel mengedarkan pandangannya. Dia tak menemukan sosok pria itu lagi diseberang jalan, tampaknya pria itu sudah berhasil melarikan diri. Tepat setelah mobil polisi tiba.


“Ssttss...”Rigel mendesis, saat rasa nyeri diperutnya kembali terasa “Asataga, bisakah kau tidak nakal dulu.”Ucap Rigel memengangi perutnya.


Jevandres turut memperhatikan wanita kecil itu, tanpa ia sadari tangan lebarnya mengusap pelan perut Rigel “Ayo... Kita tak boleh berlama-lama disini.”Ucap Jevandres seraya dengan cepat menarik pergelangan tangan Rigel.


Rigel menggeleng “Lenganmu terluka.”Ucapnya sambil melihat lengan Jevandres yang tertembak itu.


“Ini tak akan membuatku mati dengan mudah. Sudahlah, Ayo.”Jevandres meraih tangan kecil milik Rigel membawanya turut serta kedalam genggaman tangannya.


 


 


Bersambung