
News~
Project baru Infected Angel dan karya sudah tamat Empires of Heart
Happy Reading!
.
.
.
Keabadian. Selama ini dia lelah dengan kata itu, hidup begitu panjang sembari memakan setiap energi negatif amarah. Bahkan Rigel Wijayakusuma Carlin aka Ira aka Adonis, sudah merasa kemurkaan yang dipegangnya ini begitu ironi. Setiap manusia murka karena kehidupannya. Marah atas kegagalan, marah karena cemburu, marah karena putus asa atau marah karena sudah lama hidup.
“Ah~”Rigel menghela nafas, dia tengah memikirkan semua itu. Wajah manisnya tampak menatap bosan pekarangan universitas dengan gedung bergaya victoria. Kuno dan lama, sejenak mengingatkan Rigel dengan kehidupan terdahulunya. Hidup berulang kali dan mati berulang kali “Sama saja.”Celetuk Rigel sambil melangkah dengan dua buah buku tebal yang dipeluknya.
Sejam yang lalu kelasnya baru berakhir, Kini Rigel yang mulai merasa lelah karena baru saja sehabis dari toilet untuk memuntahkan seluruh sarapan paginya “Morning Sicknessku mulai terasa.”Dia menggulum senyuman, setidaknya kali ini hidup Rigel lebih menarik dari yang lalu-lalu. Pasalnya, ada jiwa lain yang hidup diperutnya ini.
Bibir ranum itu terus mengembangkan senyumannya dengan manis “Kira-kira apakah kau perempuan atau laki-laki ya?”Gumam Rigel seorang diri.
Disaat Rigel tengah asik senyum-senyum sendiri sambil memikirkan bayi yang dikandungnya, seorang pria pirang dengan iris aquamarine berjalan dilorong koridor universitas. Sebenarnya, raut wajahnya datar dan dingin. Tapi, parasnya yang rupawan menyita perhatian para mahasiswa yang kebetulan berada disekitarnya, beberapa terpukau dan sebagian besar berbisik-bisik akan paras rupawannya itu.
Iris aquamarine itu menangkap sosok manis yang berdiri sambil memikirkan sesuatu, dari wajah datarnya langsung berubah sumringan kala melihat sang Rigel kala itu “Rig, apa baik-baik saja?”Jevandres menangkup wajah Rigel, saat sampai menghampirinya.
“Kau sedikit pucat.”
“Uhm... iya, aku baru saja memuntahkan semua sarapan pagi kita tadi, maaf ya. Anakmu ini benar-benar mulai menjahiliku.”Rigel terkekeh kecil didalam kedua tangan lebar Jevandres yang masih memengang kedua pipi gempalnya.
Jevandres mengangguk paham “Kalau begitu aku menjemputmu untuk pulang.”Ucap Jevandres beralih meraih tangan Rigel.
“Aku bosan dirumah, kak Jev sendiri sehabis ini mau kemana?”
Jevandres menggandeng tangan kecil itu “Tidak bisa, wajahmu pucat. Istirahat dirumah.”Keputusan Jevandres mutlak.
Rigel pun hanya mendengkus kesal sendiri, namun dia tetap menuruti keputusan Jevandres. Kala itu Rigel ikut masuk kedalam mobil yang Jevandres kemudikan.
“Kak Jev, apa kau merasakan keanehan?”
Jevandres mengenakan sitbelt kepada Rigel “Apa maksudmu?”
Rigel hanya diam, dia mengamati seluruh orang yang hilir mudik berlalu sama seperti hari sebelumnya. Bedanya itu, Rigel melihat nyaris seluruh energi negatif dosa-dosa meningkat dengan terang. Hal itu dia lihat dari berbagai warna yang beradu bercahaya itu, Rigel tahu. Sesuatu tengah terjadi “Kedua kakakku...”Ucap Rigel “Kedua kakakku sedang tidak baik-baik saja, Kak Jev.”Lanjutnya lagi.
Brakk...
Jevandres baru usai memasangkan sitbelt kepada Rigel, dia harus menatap seorang yang seharusnya tak ada saat ini. Bahkan mobilnya sengaja ditabrak oleh seseorang dari arah yang berlawanan. Sontak, Jevandres melindungi Rigel dari pecahan kaca dengan menjadikan tubuhnya sebagai tameng.
“Luna?”Rigel berguman dari dalam kungkungan tubuh Jevandres.
Jevandres tak menghiraukan, dia keluar dari mobil yang sudah rusak itu membawa serta sang Rigel dengan menggendongnya “Rig, tidak apa-apa?”Ucap Jevandres.
Rigel mengangguk, dia baik-baik saja tapi tidak dengan Jevandres yang penuh dengan luka “Aku baik-baik saja, tapi kau tidak kak Jev.”
“Binary!”Gilanya wanita itu, mobilnya juga harus terbanting rusak. Namun dia masih berdiri dengan kokohnya sambil berjalan kearah Rigel.
Rigel yang tahu, energi kemurkaan yang menyelimutinya menatap dengan iba. Sebenarnya dia tak berniat mengubah Luna dengan gelap mata akan kemurkaan “Aku akan bicara dengannya.”Ucap Rigel.
“Aku dosa kemurkaan, jika kau lupa.”
“Aku tahu.”
Dor...
Mereka berdua sama-sama menoleh, diiringi jeritan pejalan kaki yang menatap Luna yang tergeletak dengan simbahan darah. Seseorang baru saja melayangkan sebuah peluru dari jarak yang jauh.
Rigel langsung menatap kearah gedung yang berseberangan, dari sinyal kaca Visir yang sengaja dipantulkan oleh cahaya matahari. Rigel tahu “Kak Jev, lebih baik kita menghindar dulu. Kurasa bukan hanya Luna, tapi beberapa orang lain disekitar sini menjadi ‘bersih-bersih’ mereka.”Ucap Rigel dengan menatap Jevandres.
Tak berapa lama Jevandres membawa Rigel kedalam sebuah taxi “Apa kau ingin bilang jika teman-temanmu yang melakukannya?”Ucap Jevandres didalam taxi.
“Aku tahu itu mereka, tapi aku tak tahu mereka sedang menjalankan misi apa. Jika tebakanku Theo menyewa jasa mereka untuk melenyapkan Luna, benar. Tidak ada orang yang paling logis melakukan hal ini.”
Ponsel Rigel bergetar dari saku jaketnya, Rigel segera merogohnya. Dilayar dia melihat sebuah pesan singkat dari Aria “Captain, sebaiknya kalian berdua jauh-jauh dulu. Klien kami menginginkan Binary Rui Aristolochia dan Luna Aristolochia. Code klien: Mr.T”
Rigel menghela nafas “Sudah kuduga... Tapi kenapa Luna bisa ada disini?”Batin Rigel. Dia sampai lupa dengan Jevandres, ketika dia menoleh Jevandres sudah bersandar pada kursi taxi menatap Rigel dengan kedua iris aquamarinenya.
“Lukamu? Bagaimana?”Ucap Rigel.
“Sudah baikkan, sesampai dirumah cukup bantu obatin saja Dokter Lascelles.”
Rigel memerah saat itu “Aku masih Rigel Wijayakusuma Carlin, tuan Lascelles. Sejak kapan kita menikah? Sampai kau seenaknya mengganti namaku.”
“Kalau sekarang saja bagaimana? Kebetulan aku luang.”
Rigel mencubit lengan kekar Jevandres “B-bodoh!”Ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
“Tadi itu nyaris saja, Dio.”Ivan berucap dengan nafas yang tersenggal, kedua tangannya sudah bergetar memengang gagang pedangnya “Kulihat, kau babak belur ya Dio.”Ujar Ivan lagi.
Arcadia Dio menunduk sejenak, tubuhnya sudah banyak luka “Yah! Karena kita diwilayah manusia. Sulit menggunakan penyembuhan didimensi ini.”
“Oh ya? Apa kalian sudah lelah, Invidia... Acedia...”Ujar pria bersurai cokelat terang itu.
Ivan hanya terkekeh “Kami tak lelah meladenimu. Antonio Ver Redee, Superbia.”
“Haha! Kalian bahkan tahu nama wadahku.”
Ivan dan Arcadia berdiri berdekatan, mereka siap bertarung lagi “Setidaknya tidak sepengecut dirimu. Kakak tertua.”Ucap Ivan.
.
.
Bersambung