
Happy Reading~
.
.
.
“Apakah kau sudah lama menungguku?”Seorang pemuda beriris biru laut baru saja tiba, dengan langkah tergesa-gesa dan nafas memburu. Ketika saat itu dia melihat seorang gadis yang tampak duduk dibangku taman fakultas tempatnya mengemban ilmu, rona manis yang bisa dia lihat meluluhkan pertahanannya. Walaupun berlari mengelilingi dunia demi gadis ini, dia rela. Asalkan untuk gadis ini seorang.
Sang gadis menggeleng pelan “Tidak kok, aku juga baru saja tiba.”Ujarnya merona kemerahan dengan senyum malu-malu.
Tapi setelah itu raut wajahnya berubah kecewa, karena sejujurnya yang dia tunggu bukanlah pemuda berlesung pipi ini “Jika... Professor Jevan tak semanis kak Theo, kalau seperti kak Theo sih pasti aku sudah memilihmu.”Katanya diakhiri helaan nafas.
Ucapan gadis itu berhasil menaikkan sebelah alis tebalnya “Memangnya, apa hubungan antara Luna yang manis ini dengan Theo?”Dusta jika dia tak memahami maksud ucapan gadis itu, dia amat sangat mengerti sampai tak tega menyakiti perasaannya walaupun perasaan sesak sudah menggelitik dadanya “Aku bercanda Luna.”Pemuda itu terkekeh seraya mencubit gemas pipi gadis itu.
“Jevandres Altair Lascelles. Menyebalkan.”Gadis itu menggembungkan pipinya.
“Tapi, lebih menyebalkan lagi jika melihat kak Theo dekat dengan junior angkatan baru itu.”
Tampaknya si iris aquamerine nan teduh itu memahaminya “Sudahlah. Jika memang benar, Jevandres ini masih kosong kok untuk seorang Luna. Bagaimana?”Ujarnya dengan senyuman yang manis, sampai-sampai menampaki sepasang lesung pipi pada kedua pipinya.
“Kau gila kak Jev? Bagaimana jika Bina tahu kalau kau menggoda gadis lain?”
“Memangnya kenapa kalau aku inginnya Luna bukan Bina?”
“Bercandamu keterlaluan kak Jev?!”
Tak ada satupun yang kurang dari pria muda ini. Tampan, rupawan, dan manis. Kepribadiannya yang hangat senantiasa tersenyum dengan ringan, ditambah tatapan teduh dari sepasang aquamarine sebening samudera yang tengah menatap memuja gadis bernama Luna ini. Tampaknya perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan, pahit kenyataan harus diterimanya “Theo hanya berteman dengannya, lagi pula junior itu juga juniorku semasa sekolah. Tidak ada yang perlu dicemaskan, aku yakin dia tak akan seperti itu Luna.”Dengan senyum yang dipaksakan pemuda bernama lengkap Jevandres Altair Lascelles itu tetap berucap lembut padanya.
“Terimakasih kak Jevan! Kau memang kakak terbaikku.”Sahut gadis itu seraya menubrukkan tubuhnya pada tubuh pemuda itu.
Berbeda dengan Jevan yang walaupun turut membalas pelukannya. Kakak. Kata itu terngiang dibenaknya, dengan sungguh menyakitkan. Dia menanti gadis itu bertahun-tahun lamanya serta bersusah payah kembali ke Seoul setelah menghabiskan sebagian masa remajanya di Negara lain, menentang otoriter keluarga besarnya itu demi seorang Luna. Tapi hanya dianggap sebagai sosok kakak untuknya. Jevan tak mempungkiri, dirinya cukup menyesal tak mengakui lebih cepat daripada sosok yang gadis ini kagumi. Dia memang terlambat. Diam-diam Jevandres hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
“Guys...”Keduanya menoleh pada suara yang menginterupsi mereka saat ini.
Seorang pemuda dengan surai brunette yang teracak karena ulah angin tiba terburu-buru. Sama halnya dengan Jevandres. Dia melangkah dengan cepat “Luna! Maaf aku terlambat, ada kelas yang belum selesai.”
Luna yang dipanggil, tentu saja mengenali suara manis dari pemuda beriris zambrud itu. dia melepaskan pelukannya bersama Jevandres, serta dengan mudahnye menghambur ke tubuh pria jangkung itu “Kau terlambat kak Theo, aku sudah menunggumu sejak tadi. Apa kau pikir enak menunggu lama?”Protes Luna dengan memasamkan wajahnya seraya mengerucutkan bibirnya kembali.
Theo yang sedang diomeli, hanya tertawa hambar. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu “Maaf-maaf, sungguh tadi tiba-tiba saja ada agenda bersama anak-anak dikantor. Benarkan Jev? Oh iya kenapa kau sudah disini? Bukannya kau harus kestasiun radio ya?”Ucap Theo sengaja mengalihkan pembicaraan. Bahkan dengan sengajanya mengajak Jevandres yang menatap mereka berdua dengan raut yang sulit diartikan.
“Tentu saja, aku harus ke stasiun radio setelah ini.”
“Woah, kau benar-benar pekerja keras.”
Jevandres tersenyum tipis “Kau benar.”Dia setuju dengan ucapan pemuda itu, sebenarnya tak perlu bagi seorang Jevandres untuk banting tulang bekerja keras. Dia sudah terlahir dari keluarga kaya yang terpandang, seharusnya tak akan hidup dalam kesusahan. Dia rela membanting stir kehidupan demi mengejar gadis yang ada dihadapannya ini.
“Aku lupa!”Theo sampai memukul dahinya sendiri “Luna, Ayo ikut aku sebentar. Aku meninggalkan sesuatu dikantor.”
Apakah Theo menunggu balasan Luna? Atau sekedar menunggunya mengatakan iya atau tidak? Tentu saja dia tak melakukannya, dia segera meninggalkan Jevandres yang masih mematung. Bahkan dia menggandeng tangan halus milik Luna untuk bersamanya.
Ditinggalkan tanpa sepatah kata apapun, Jevandres memilih untuk turut meninggalkan tempat itu juga dengan tatapan yang acuh, dingin dan menjengah dengan malas. Seolah tahu ulah Theo hanya untuk memanas-manasinya. Dia pun tak ambil pusing untuk kembali kedalam fakultas, karena dirinya sendiri masih ingin pergi kekamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya dengan air. Setidaknya bisa mengurangi rasa emosinya yang kapan saja bisa meledak keluar.
Jevandres memang memiliki kepribadian dan wajah yang indah, sebenarnya sudah banyak wanita yang menggilainya diwilayah kampus ataupun diluar. Namanya memang tak asing, sebagai dosen muda sekaligus putera tunggal keluarga yang kaya dan berpengaruh.
Tetapi untuk Jevandres, dia hanya ingin merasakan bebas memilih jalannya sejenak dengan memutus hubungan komunikasi dengan keluarganya. Disinilah dia kembali berada, dikota tempat semasa kecilnya untuk bekerja sekaligus mengambil pekerjaan sampingan sebagai penyiar radio. Ketika pemuda itu masuk ke toilet pria, Jevandres langsung menuju westafel seraya mengalirkan air dari keran. Dia membasuh wajahnya terlebih dahulu, kemudian menyibakkan poni kebelakang serta melihat pantulan dirinya dari arah cermin.
“Bersabarlah sedikit.”Ucapnya diakhiri helaan nafas.
Jevandres tak ingin berlama-lama, dia melirik jam dipergelangan tangannya. Kemudian tanpa melakukan apapun lagi, dia langsung beranjak keluar dari toilet pria.
Baru saja keluar, sepasang iris aquamarine Jevandres menangkap sosok gadis manis yang berdiri dengan secarik kertas yang dipegangnya. Bukan. Tapi diremasnya sampai nyaris sobek. Kedua tangan yang terkepal menahan emosi, tapi hebatnya raut pada paras cantik itu hanya terdiam dengan tenang. Jevandres pun tertarik melihat sepasang iris berlainan warna yang unik milik gadis itu menatap lurus kedepan.
Jevandres mengekori arah tatapannya. Dia pun melihat Theo dan Luna yang berjalan beriringan. Dia mengerti arah tatapan gadis mungil itu, yang mungkin hanya setinggi dadanya. Namun, dari tenang tatapannya serta kepalan tangannya. Entahlah dia mengingatkannya dengan sesuatu.
“Rigel...”Panggil Jevandres kepadanya.
Gadis itu pun menoleh, Jevandres langsung tersenyum simpul lengkap dengan lubang kecil dikedua pipinya. Dimples. Sungguh manis secara bersamaan.
“Rigel, kau kenapa diam dan hanya berdiri disana?”Ucap Jevandres yang berjalan mendekatinya.
Gadis itu mulai kikuk, dia pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal “Tidak. Tidak apa-apa.”
Jevandres hanya menatapinya terlebih dahulu, bahkan dia turut terdiam sehingga menciptakan jeda diantara keduanya cukup lama. Dia pun mengusak surai cokelat gelapnya. Sesekali tersenyum simpul, lagi-lagi menampaki sepasang lesung pipinya.
“Tumben, tidak bersama Theo?”Tanya Jevandres dengan kekehan singkatnya. Sambil melirik Theo dan Luna yang sudah hilang dari pandangannya.
“Tidak tahu. Mungkin bersama kekasihnya.”Lanjutnya lagi.
“Kau baik-baik saja, Rigel?”
Gadis itu mengangguk pelan “Iya kak, aku baik-baik saja.”
Jevandres tak sengaja melihat secarik kertas digenggaman Rigel “Ah... tampaknya Rigel kita ini, berhasil lolos beasiswa?”Ujarnya “Selamat!”Lanjut Jevandres.
“A... ini, iya terimakasih!”
“Sebagai ucapan selamat dariku, bagaimana kalau kita makan siang bersama?”
“Kurasa tid—“
“Aku memaksa. Ayo.”Ucap Jevandres dengan gemasnya menggengam pergelangan tangannya dan turut membawanya berjalan beriringan bersama.
Hujan baru usai mengguyur. Rasa dingin masih terasa, walaupun keduanya sudah berada didalam sebuah restoran. Tampaknya cuaca dingin diluar cukup membuat suasana keduanya menjadi dingin, karena keduanya salingdiam membekukan suasana. Canggung tentu saja. Jevandres hanya melirik diam-diam gadis yang ada didepannya ini.
Jevandres yang memilih pesanan, disaat waitress restoran tiba dimeja mereka. Selang beberapa saat, makanan yang dipesan pun tiba dengan jumlah yang tak sedikit. Cukup menggiurkan, apalagi potongan ayam goreng yang dibaluri saus pedas dengan taburan wijen diatasnya “Kuharap kau tak takut gemuk.”Canda Jevandres pada Rigel dikala itu.
“Sayangnya, aku ini tak perduli soal itu. kata ibuku tidak boleh menyia-nyiakan rezeki karena itu tidak baik.”Ucap gadis itu dengan nada yang serius. Bahkan raut wajahnya tampak senang, bisa dilihat dengan senyumannya, apalagi disaat dia mengambil sumpit yang ada didekat tangannya kemudian menyumpit potongan ayam itu kedalam mulutnya.
Gadis berlainan iris mata ini membulatkan kedua matanya “Enak.”Komentarnya sembari memakan potongan ayam lain.
“Sampai saat ini aku tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi kak.”
Jevandres segera menanggahkan tatapannya, beralih menatap gadis didepannya ini “Ah iya... kamu adik kelasku saat SMA sekarang kita ketemu diSeoul dengan universitas yang sama pula. Aku sempat terkejut melihatmu pada saat penyambutan mahasiswa baru.”Ucapnya seraya diiringi tawa yang lembut.
“S-sudah empat tahun yang lalu ya?”Ujar Rigel penuh kehati-hatian.
“Apa kak Jevan mengajar disini?”
“Benar, sampai sekarang aku juga tak menyangka masih bisa bertemu denganmu.”Jevandre, entah kenapa merasa tertarik dengan tingkah gadis ini. Dia kikuk, malu-malu dan sangat natural. Berbeda dengan Luna. Kenapa Jevandres tiba-tiba memikirkan gadis itu? Dengan sedikit menggeleng Jevandres memilih melanjutkan aktivitas makannya.
Rigel mengangguk pelan “A...aku minta maaf...”Lirih Rigel dengan pelan.
Setelah mendengar itu Jevandres merasa sedikit heran, dia pun menatap paras Rigel yang tampaknya menunduk dengan ragu “Emangnya kamu kenapa?”Tanya Jevandres penasaran.
“Aku...”Gadis itu berhenti berucap ketika ponselnya bergetar, dia pun merogoh saku celananya kemudian menatap layar pipih itu sesaat “Ternyata aku masih memiliki kelas kak.”Kata Rigel menatapnya dengan ragu-ragu
Jadi pertemuan ini terasa singkat. Membuat Jevandres tak bisa mempungkiri jika dia turut merasa sedikit kecewa.
“Tidak apa-apa...”Ujarnya mencoba untuk mengerti.
“Tapi lain kali kita makan siang bersama ya?”Lanjutnya tanpa nada memohon tapi, dengan tatapan serius. Semoga dengan tatapan ini gadis manis didepannya turut menurutinya.
“Tentu, terimakasih banyak kak.”Rigel saat itu mengangguk dengan sopan, bahkan raut wajahnya tampak tak enak hati untuk meninggalkan Jevandres. Walaupun dia terpaksa melesat dari restoran itu dengan langkah tergesa-gesa.
Jevandres memandanginya, gadis yang menarik atensinya sejak tadi. Entah kenapa Jevandres merasa tertarik pada gadis mungil itu. tak lama ponselnya turut bergetar, dia pun merogoh benda pipih nan kotak itu. Jevandres mendelik malas seketika, saat mendapati kontak telepon dari seseorang yang paling dihindarinya selama ini. Lebih tepatnya setengah tahun ini. Dengan mendesah malas dia pun mengangkat sambungan telepon itu.
“Aku sudah mengurus perceraian kita.”
“Je-jevan...akhirnya kau mengangkat teleponku. A..aku... maafkan aku, tapi aku tak mengerti kesalahanku dimana. Kita bisa selesaikan baik-baik.”Ucap seseorang diseberang telepon itu.
“Kesalahannya ada padamu, Bina. Lagipula ini hanya perjodohan, kau pun sama sepertiku. Terpaksa.”Jevandres melirik jam tangannya sejenak memastikan dia masih memiliki waktu sebelum kembali berangkat bekerja.
“Maafkan aku, karena aku ini kau tak bisa memperjuangkan cintamu pada Luna.”Suara rintihan dari seberang telepon itu terdengar diakhir kalimatnya.
“Oh memang benar, dan lagi... kalau waktu itu lupakan saja, saat itu aku mabuk. Anggap tak ada apapun yang terjadi pada kita.”Ucap Jevandres menahan amarahnya yang nyaris tersulut itu.
“Ta-tapi Jev dengarkan aku sebentar...”
“Aku akan pergi bekerja Bina, sampai jumpa.”Jevandres memutuskan sepihak sambungan telepon itu. Dia menghela nafas dengan panjang, kemudian memijit pelipisnya dengan pelan. Suara lembut wanita itu sama sekali tak berubah. Walaupun dia tak pernah melakukan kesalahan, wanita itu selalu mengalah terlebih dahulu. Terlalu naif. Jevandres sendiri langsung mematikan ponselnya, ketika kontak nama wanita itu kembali tampak pada layar ponselnya.
“Kesalahannya adalah aku tak pernah menginginkanmu, Bina.”Raut lembut Jevandres sudah berubah serius, tatapannya menatap tajam kedepan. Menerawang sesuatu yang kosong “Semuanya harus berakhir Bina. Kau bukan Aphrodite yang kucari.”Lanjutnya lagi.
.
..
.
.
Bersambung...