
.
.
.
“Kak Invidia dan kak Acedia benar-benar bodoh!”Wajahnya memerah, berucap dengan satu kali hembusan nafas. Pemuda bermata merah yang kita sebut sebagai Guilia sudah memporak porandakkan ruang makan itu. Bertingkah selayaknya anak kecil, walaupun masih mengunyah dengan mulut penuh.
Hanya tinggal tiga pendosa dengan kubu yang memihak Rigel, tak lain jika Ivan Tristan dan Arcadia Dio. Dimulai dengan amukan pendosa kerakusan, Guilia. Ivan dan Arcadia langsung waspada, mereka saling menatap satu sama lain. Sebenarnya, mereka sudah membuat rencana jauh-jauh hari sebelum ini. Menjadikan Rigel sebagai umpan, kemudian mengorban dirinya. Jika memang berhasil, Rigel akan memberi aba-aba kepada Ivan dan Tristan untuk memasuki area yang akan Hubris Superbia buat.
“Perkiraan Rigel, semua perkataannya benar-benar terjadi.”Ivan berkata kepada Arcadia, sampai memperkirakan Guilia yang bertindak lebih dulu. Semua ini sudah Rigel perkirakan.
Arcadia Dio mengangguk “Benar, walaupun dia menolak kita untuk bergabung tetap saja mereka bertiga akan merepotkan.” Anting berbentuk bel kecil yang hanya ada didaun telinga kanan Arcadia berdenting “Mauve, jangan tahan amukanmu lagi...”
Ivan juga memiringkan senyumannya “Viridian... Kita akan lembur kali ini.”Ivan dan Arcadia Dio sudah bersiap, mereka berdua akan bertarung bersama tiga pendosa lainnya.
Sementara itu...
“Manusia yang iblis jerumuskan dalam dosa, kita hanya perlu memakannya. Keberadaanmu sekarang ini bahkan sebuah larangan, Aku Hubris Superbia Raja dunia bawah akan menghukummu.”
“Aku begitu mencintaimu, kak Jev...”
“Ah, ini akhir dari kehidupanku... Maafkan mommy anak-anak...”Batin Rigel berucap. Masih terbayang wajah lucu kedua anak-anaknya yang amat dicintainya itu.
Kedua tangannya menggengam erat belati itu, dia memejamkan kedua matanya kemudian dengan ringannya mengayunkan belati itu untuk menghabisi nyawanya tanpa ragu.
Kemudian...
“Kumohon... Jangan lakukan itu, aku sudah pernah membunuhmu dan aku tak ingin kau kembali mati bersama penyesalanku. Adonis, Maafkan aku...”Sepasang mata emas terang itu menubruk pandangan pada iris merah lembayung yang terbuka dengan pelannya itu. Iris berlainan warna yang menubruk satu. Menatap erat satu sama lainnya.
Rigel melihat, tangan besar Jevandres menahan belatinya. Memengang bagian tajam itu dengan kedua tangannya yang sudah berdarah-darah. Menahan dengan sekuat hati, agar tak melukainya “Ares... Kutukanku sudah sirna, aku hanya ingin kau mengakui kesalahanmu.”Ujar Rigel tersenyum kepadanya.
“Benar, aku sudah tahu hal itu. Bocah ini akan kembali, tapi saudaramu tak bisa lagi kutahan...”
Rigel menggeleng “Tidak, Terimakasih selama ini sudah menjaga pria bodohku itu.”Mengalun lembut suara Rigel dengan senyuman manisnya.
“IVIE! DIO! Sekarang!”
Brakhhh... Dimensi ruangan yang diciptakan Hubris Superbia pun hancur, kedua saudaranya menerobos masuk ketika energi Hubris berhasil ditekan berkat kemunculan Ares.
“Nona Rigel, namamu bukan?”Jevandres masih pada iris emasnya, pertanda Ares masih ada disana.
“Benar, itu namaku. Adonis, memang sudah tiada. Aku hanya aku, Rigel Wijayakusuma Lascelles.”
“Sungguh kehormatan bagiku, melihat wanita yang petarung yang tangguh ini. Selamat Tinggal, nona Rigel...”Berangsur-angsur iris mata merah Jevandres kembali, tinggal sedikit lagi. Hubris dapat dikalahkan.
Rigel membalikkan belatinya “Diabolus et examinate...”Ujar Rigel dengan mantera penyegel yang hanya bisa ia gunakan, menyegel seluruh energi pendosa kebanggan. Kemudian, dia berhasil membalikkan kekuasaan dengan menguarkan energi kemurkaan disekitarnya.
Rigel menoleh kepada kedua saudaranya yang tak kalah kelelahan itu, tampaknya Avaritia, Guilia dan Luxie juga susah ditaklukkan “Sekarang!”Rigel memerintahkan kedua saudaranya itu. Ingat akan eksekusi Jevandres tempo waktu, untuk menjerat ingatannya. Hal ini bisa juga dilakukan untuk mengeluarkan jiwa Hubris Superbia jika Rigel berhasil menyegelnya.
Ivan mengangguk “Viridian, bereave!”
Anting berbentuk bel kecil yang hanya ada didaun telinga kanan Arcadia berdenting “Mauve, perangkap jiwanya.”Ucap Arcadia Dio seraya menjentikkan jemarinya tangan kanannya kepada Jevandres “Ketemu kau Hubris Superbia!”Arcadia Dio menarik benang halus yang keluar dari punggung Jevandres kemudian memutuskannya dengan mudah.
Rigel merampas benang itu dari Arcadia Dio “Humilitia... Izinkan aku mengurungnya”Ujar Rigel pada Knuckle yang sempat digunakannya. Saat itu pula senjata suci Humilitia berubah berbentuk sangkar, dia pun memasukkan benang itu kedalamnya.
“Lepaskan Mauve-mu Dio.”
Setelah benang itu kembali ke bentuk antingnya Arcadia, sosok jiwa dari Hubris Superbia pun tampak di sangkar itu “Sambil menunggu cara memisahkan kekuatan kebanggan, sementara ini dia akan berada disangkar senjata suci Humilitia.”Ujar Rigel.
Ivan dan Arcadia Dio menghela nafas bersamaan. Keduanya terkekeh bersamaan dengan wajah yang penuh luka itu.
Rigel tersenyum, dia mengulurkan tangannya pada kedua saudaranya itu “Terimakasih, rencanaku tak akan berhasil jika kalian tak membantuku.”
Ivan dan Arcadia meraih kedua tangan Rigel bersamaan, tanpa aba-aba kedua pria itu memeluk adik bungsu mereka.
“Syukurlah...”Ivan.
“Kau tak apa-apa kan Rig?”Arcadia.
Rigel menggeleng, dia membalas pelukan kedua saudaranya itu “Kak Jev, aku sampai lupa dengannya.”Kata Rigel terkekeh pelan, dia menegok kearah Jevandres yang masih tak sadarkan diri itu.
Rigel berlari kecil kearahnya, dia mengangkat kepala Jevandres untuk direbahkan pada kedua pahanya “Kak Jev... Bangun.”Ucap Rigel dengan pelan sambil menepuk-nepuk pipi Jevandres.
Kedua kelopak mata itu berkedip-kedip, kelopak matanya terbuka pelan. Kedua iris Aquamarine itu terbuka menatap sepasang merah lembayung yang menunduk menatapnya “Ah... Rig, apa kau baik-baik saja?”Ujar Jevandres, tadi ingin menyentuh wajah Rigel namun kedua tangannya penuh dengan darah. Jevandres terkekeh pelan “Darah ini akan mengotori wajah cantik isteriku.”Katanya.
Rigel menitik air mata harunya, dia tersenyum dengan lebar “Dasar bodoh.”Gumam Rigel walaupun diiringi senyum indahnya.
.
.
.
“Papa pulang...”Pria bertubuh tegap dengan kacamata yang bertengger dihidung bagirnya itu, melihat rumah yang mereka tinggali itu terasa begitu sepi. Dia meletakkan tas berbentuk persegi itu diatas sofa ruang tamu. Kemudian membuka jasnya dan menggantung jas hitam itu pada tiang penggantung baju.
Dia berjalan menuju dapur, dilihatnya bocah berusia satu setengah tahun itu sedang bermain diatas hamparan tepung putih. Tentu saja dengan Rigel yang sedang menghias kue yang baru saja dipanggangnya itu. Dia membiarkan kedua putera kembarnya bermain menaburkan sekantung tepung terigu dilantai dapur.
Jevandres menggulung lengan kemeja putihnya hingga kesiku dan membuka dua kancing kemejanya “Ayo anak-anak, kalian harus mandi.”Jevandres berseru sambil menggendong kedua puteranya itu dengan sepasang lengan kekarnya.
Rigel yang tadi sedang menunduk karena menghias kue itu dengan mentega langsung menatap pria beriris aquamarine itu “Oh, hai. Baru pulang? Aku sedang membuatkan kue brownies untuk ulang tahun pernikahan kita.”Rigel menghampiri suaminya itu. Dia berjinjit untuk mengecup pipi tirus suaminya.
“Bukannya shiftmu malam ini ya Rig?”
Rigel menggeleng “Aku sudah izin off hari ini, lagi pula klinik itu milik kakakku. Mau kubuatkan kopi?”
Jevandres mengangguk “Si kembar belum mandi, bukan? Sekalian saja ya aku mandikan.”Ujar Jevandres sambil melesat kekamar mandi.
“Ah iya tolong ya kak Jev...”Ujar Rigel yang akan disibukkan mengemasi kekacuan didapur ini akibat ulah kedua puteranya itu.
Rigel masak banyak hari ini, dia menatanya diatas meja makan. Terakhir meletakkan kue yang sudah dibuatnya itu “Hihi... jadi juga.”Rigel berseru dengan senang. Hingga sampai dia mendengar suara tawa dari kedua puteranya bersama kekehan sang ayah. Rigel memasang raut wajah datar, dia menghampiri kamar mandi itu “Kak Jev! Mereka bisa masuk angin, bergegaslah jangan lama-lama mandinya.”Decak Rigel setengah marah.
Dia pun berjalan kekamar, menyiapkan pakaian kedua puteranya dan tentu saja suaminya juga. Kini Rigel memiliki tiga bayi, dua kecil dan satu besar.
“Sayang~ kami sudah mandi~”Jevandres, tubuh telanjang yang hanya mengenakan handuk dipinggang hingga kebawahnya itu bahkan hanya meletakkan handuk dengan asal pada kedua puteranya yang terkekeh geli itu.
“Dasar...”Rigel menggeleng, dia mengambil kedua puteranya untuk diletakkan diatas ranjang kasur. Rigel dengan telaten memakaikan pakaian mereka berdua secara bergiliran.
“Sayang~ aku juga.”Ujar Jevandres dengan manja.
Rigel langsung melempar pakaian Jevandres kewajah tampan suaminya itu “Apa kataku, aku ini punya tiga bayi...”Sarkas Rigel tanpa memperdulikan Jevandres.
Jevandres tertawa terbahak-bahak, gadis mungil yang mengomel itu sangat menggemaskan baginya.
Ting...tung...
“Apa kau mengundang seseorang?”Tanya Jevandres.
Rigel mengangguk “Aku meminta Dio menjemput nenekku, aku mengundang Ivan dan Aria juga.”
Rigel menggendong Calleriu, kemudian Jevandres menggendong Caleb. Mereka berdua serempak menyambut tamu-tamu itu.
“Ah kyaaa~ lihat keponakanku sudah besar!”Aria paling bersemangat melihat dua anak kecil tampan itu.
“RigeRige! Cucu nenek kah ini?”
“Anu nek... cicit nenek, Rigel saja cucu nenek.”Ralat Arcadia Dio yang menuntun tangan tua rentan itu.
Rigel hanya tersenyum “Aku memasak, rasanya tak kalah hebat dengan masakanmu.”Ujar Rigel kepada Ivan.
Ivan hanya mengangguk dengan malas, malam itu mereka melakukan makan malam bersama. Tentu dengan si kembar yang duduk dibangku bayi mereka masing-masing.
Ting... tung...
“Sayang, apa kau mengundang seseorang lagi?”
“Bukan seseorang sih, dua orang. Litia dan Ramone...”
Jevandres langsung menatap dengan masam, hingga Rigel harus terkekeh melihat reaksi suaminya itu “Aku bukakan pintu dulu...”
“Halo, selamat malam Rigel.”Humilitia dan Ramone berdiri diluar. Rigel pun mempersilahkan mereka untuk masuk.
Aria menatap Ivan, mereka tahu hari istimewah ini. Melihat pasangan Jevandres dan Rigel yang sibuk mengurusi kedua puteranya itu, sejoli ini tak kalah memiliki ide agar keduanya bersantai sejenak.
“Nona Rigel, kami akan menjaga Caleb dan Calleriu. Kalian kenapa tidak bersantai saja dulu?”
Jevandres mengangguk “Ide bagus, ayo Rigel. Kita keluar sebentar, rasanya kita tidak berkencan loh sejak menikah.”Jevandres menarik tangan Rigel, dia menghampiri kedua puteranya dulu mengecup mereka bergiliran “Papa, culik Mommy kalian dulu ya...”
Rigel bahkan tak diberi kesempatan untuk berbicara, bahkan dia sudah terlanjur digendong oleh Jevandres memasuki mobil lamborghini hitamnya “Oi! Hei! Kak Jev! Caleb dan Calleriu belum tidur...”
“Mereka bersama orang-orang yang mereka kenal, bukankah Aria sudah terbiasa mengasuh Caleb dan Calleriu? Tenanglah, bersantai sedikit. Kita tak pernah berkencan bukan?”
Rigel memerah, dia begitu malu namun kenyataannya memang mereka bertemu begitu saja malah dengan sederet masalh yang terjadi “M-mau... kemana?”
Jevandres mulai menginjak gas mobilnya dengan pelan “Kemana? Keluar negeri juga dekat. Mau ke paris? Dari Amsterdam tidak begitu jauh.”
Rigel membulatkan kedua matanya “Ih tidak! Semakin aneh saja. Aku mau tempat yang lebih tenang saja, seperti taman begitu.”
“...Okay.”
.
.
.
Bersambung