
Happy Reading
.
.
.
“Kau! Kau merebut segalanya! Kau dipromosikan sebagai jabatan kapten lebih dulu, kau mengambil kekasihku Theo, kau bahkan memiliki tim yang sangat hormat kepadamu. Kebahagiaanmu bukan milikku. Itu kesalahanmu!”
Kedua mata Rigel membulat, dia merasa murka dengan ucapan gadis itu.
“Aku tak mengerti. Tapi ucapanmu begitu menjijikkan.”Rigel pun menjadi bersedia untuk menghadapi gadis itu, dia menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
“Katamu seolah menudingku sebagai perebut kebahagiaanmu, kutanya padamu lagi. Apakah aku terlihat seperti menginginkan kebahagiaanmu?”
Gadis yang memiliki bekas luka diwajahnya, tersenyum puas. Aura disekitar Rigel yang dilihatnya begitu dingin dan menusuk, wajah datar dan tatapan sepasang kenarinya perlahan-lahan menajam. Kilauan binar mata Rigel pada awalnya hilang dengan kilapan tajam yang menusuk “Wah~ seperti itulah seharusnya. Seorang Cadas yang tak mengenal belas kasihan.”Ujarnya tertawa dengan terbahak-bahak seolah itu adalah hal konyol yang menyenangkan.
Rigel semakin jengkel, namun tak termakan emosi. Justru dia begitu senang dengan sensasi ini. Ketika gadis itu kembali menyerangnya dengan membabi buta, Rigel langsung menyiku perut dan memberi sebuah pukulan di punggungnya. Hal itu dia lakukan cepat dengan bertahan menggunakan kuda-kudanya.
“Uhuk..”Gadis itu mengeluarkan sedikit darah dari ujung bibirnya, pukulan Rigel mengenai organ vitalnya. Walaupun tak memberi efek yang mematikan, setidaknya itu cukup membuat gadis itu berhenti bergerak.
“Maaf, jika aku tak mengenalimu tapi kau tampak mengetahuiku.”Rigel berjalan mendekatinya, dia hendak membantu. Rigel rasa, dia menyerang terlalu kasar “Siapa namamu?”Seorang Rigel berkata halus, lawan bicaranya pun termangun.
“Elisa... Code name Rose.”
Rigel mengulum senyuman, dia mengulurkan tangannya “Namaku Rigel Wijayakusuma Carlin.”
Elisa, gadis yang sempat membenci Rigel lebih dari apapun menjadi mematung untuk kembali menatapnya. Memang Rigel terlihat berbeda, selain rambut pendeknya, wajah dan iris mata Rigel sebenarnya berbeda walaupun dia tahu jika keterangan Rigel mengalami prosedur pergantian wajah yang disengaja. Tapi Elisa tak salah mengenali rivalnya ini. Bahkan teknik menghindar Rigel masih sama, dan satu-satunya orang yang mudah mengalahkannya berkali-kali hanya Rigel seorang “A-apa tak masalah mengatakan nama aslimu.”Elisa meraih tangan Rigel yang begitu halus, bahkan Rigel tak berniat untuk menyerangnya.
Sebaliknya Rigel memang tersenyum dengan tulus “... Aku paham, hal yang kau rasakan. Tapi kedengkian itu tak akan meredam amarah.”Rigel melirik energi dosa didalam gadis itu yang berangsur-angsur mereda “Amarah akan tetap menjadi sumbu api kebencian, akar dari semua dendam.”Nasehat Rigel yang tampak memahami Elisa, biar bagaimana pun Rigel merasa pernah ada diposisinya. Perasaannya pun menghangat.
“Kukira sedari dulu kau selalu angkuh dan dingin. Siapa sangka, kau gadis yang begitu manis.”Elisa terkekeh geli, dia merasa kalah. Rigel tangguh dan berhati besar “Aku mengaku kalah Cadas.”Ujarnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
Rigel hendak meraihnya “Dank u wel...”(terimakasih)
Elisa langsung menarik tangan Rigel “Dengar. Aku rela misiku gagal, tapi kau harus tahu Cad. Semua orang tengah mengincar nyawamu, bukan hanya Black Ash bahkan kerajaan juga mengincarmu. Tampaknya kau tak tahu jika sudah mengandung anak seorang Earl?”Elisa berbisik ditelinga Rigel “Perhatikan posisi terdahulumu, keadaan ini akan semakin mempersulitmu.”Bisiknya lagi.
“Okay... aku pergi dulu, bye-bye nyonya Lascelles.”
Rigel mengepalkan kedua tangannya, perasaannya menghangat oleh kecewa atas kenyataan yang turut diterimanya. Baru saja hendak dihadapkan oleh ancaman yang nyata, nyawa dan anaknya nyaris melayang. Rigel menahan isak air matanya “Ini tidak akan benar.”
Kedua iris kenarinya pun berkaca-kaca namun raut wajah manisnya menatap dengan tegar, Rigel kembali masuk kedalam apartemen neneknya dengan langkah tergesa-gesa. Dia yakin, Jevandres pasti sudah mengatakan sesuatu kepada neneknya. Sekarang Rigel baru penasaran “Nek! Katakan padaku, jika Jevandres bukan suamiku bukan? Katakan dia hanya pria kantoran biasa, bukan Earl bukan pula orang berpengaruh?”Sayangnya perkataan Rigel tidak akan benar.
Tahu cucunya yang menahan isakan itu, dia pun menghampirinya. Memberi pelukan hangat, biarpun wanita ini pikun. Dia tahu, Rigel sedari kecil sudah terlalu banyak masalah.
“Sayangku, tenanglah.”Kedua tangan keriputnya membelai puncak kepalanya. Dia tahu Rigel gadis yang tangguh, kini dia hanya terlalu larut oleh perasaan karena kehamilannya “Jevandres, anak yang baik. Tidak ada yang menyangkal betapa dia sangat mencintaimu, Rige kecilku.”
Rigel tertegun, dia melupakan hal itu. Hal yang paling penting, rasanya Jevandres selalu ada untuk menyelamatkannya “Ta-tapi... Aku tak ingat jika pernah bersamanya, aku tak ingat pernah menikah dengannya dan aku tak ingat siapa aku untuknya.”Ucap Rigel teramat perih, sesungguhnya itu adalah pemikirannya selama ini. Dia masih menganggap dirinya sebagai orang lain untuk Jevandres, serta tidak berhak untuk semua kebaikan pria beriris aquamarine itu.
Annette Carlin menyentuh pipi gempal milik Rigel “...Kau, tersenyum bahagia ketika bersamanya dan nenek tahu, Rigel sangat menyukainya. Perasaanmu akan ingat, walaupun pikiranmu akan lupa.”
Degupan jantung Rigel berpacu kuat, perkataan sang nenek benar adanya. Seribu tahun lupa pun, perasaannya akan tetap sama. Rigel bangkit berdiri “Terus... dimanakah pria itu bekerja? Bukankah Jevandres pasti mengatakannya kepada nenek.”
Wanita tua itu mengulum senyuman “Tentu, Earl Lascelles cucu dari sahabatku. Bagaimana mungkin aku lupa? Kami sering berbincang.”
Rigel mengangguk antusias “uhm okay kapten!”
.
.
.
Pada sebuah kursi sofa, dua orang pria dewasa menegak wine dari masing-masing sloky. Salah satu bersurai pirang dan yang lain bersurai cokelat terang, biar terlihat santai namun para pelayan yang berdiri disekitar mereka merasakan aura mencekamnya.
“...Kudengar, kau gagal menghancurkan organisasi tikus itu?”
“Tidak juga.”
“Sir Lascelles, kau menyembunyikan sesuatu?”
“Sebaiknya, negosiasimu diperbaiki. Tugasmu membenahi, jadi jangan mengurusi tugas-tugas kotorku.”
Charlie, pelayan pribadi keluarga Lascelles mendekati tuan mudanya “Tuan, nona Rigel ada didepan gerbang.”Bisik Charlie kepadanya.
Kedua iris aquamarine Jevandres melebar, dia pun langsung beranjak berdiri “Permisi Duke Ver Redee. Tampaknya gadis kecilku merindukan suaminya.”
Pria berambut cokelat terang itu terkekeh “Menikahi gadis biasa, kemudian membuang gelarmu. Sungguh seorang Var d’Auxy.”
Jevandres tersenyum ketika namanya disebut “Ah... sudah lima tahun ini tak mendengar nama keluarga itu.”Ujarnya sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
Baru saja Jevandres nyaris keluar dari ruangan itu dia pun terhenti berkat mendengar perkataan seorang Duke Ver Redee itu “Satu-satunya keluarga Var d’Auxy yang hidup, seharusnya keluarga Lascelles yang mengangkatmu mengatakan sebenarnya. Jevandres, sebagai kakak sepupumu aku merasa prihatin dengan area ‘kotor mereka’ yang turut mempengaruhimu.”Ujar pria itu sambil menompang dagunya.
“Aku sudah melupakan keluarga Var d’Auxy.”Ujar Jevandres sambil terus berjalan keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Charlie.
Jevandres dengan wajah datarnya berjalan keluar dari mansion megah itu, disana tepat diluar gerbang tinggi itu dia melihat seorang gadis kecil yang mengenakan mantel berbulunya tengah berdiri dengan sedikit mengigil. Saat itu, Jevandres langsung berlari untuk menyusulnya. Dia tak menyangka, Rigel akan dengan sendirinya mendatanginya.
“Hai! Tuan Jevandres.”Pipi kemerahan Rigel menggembangkan senyuman manis, dia pun melambai-lambaikan tangannya pada Jevandres. Lucu dan menggemaskan.
Jevandres membuka gerbang itu, seolah tak memperdulikan dua orang penjaga disana. Dia pun berlari dan langsung meraih tubuh kecil itu kedalam pelukannya “Rig! Apa yang kau lakukan dimalam hari dengan udara dingin ini?!”Jevandres mengomelinya walaupun sambil mengecup seluruh permukaan wajah Rigel.
“Hehe... Aku menyusulmu tentu saja, habisnya kata seketaris dikantormu kau memiliki agenda disini.”Ucap Rigel sambil terkekeh geli karena terus diciumi kedua pipi gempalnya oleh Jevandres.
“Ayo pulang Tuan Jevandres.”Ajak Rigel.
Jevandres, walaupun tahu Rigel masih belum mengingatnya. Melalui sikap lembut Rigel, dia setidaknya bersyukur. Rigel sudah mulai menerimanya “Ayo, biar kuantar kau pulang.”
Rigel menggeleng “A-aku ingin bersamamu.”Ujarnya dengan wajah memerah.
Jevandres tersenyum “Iya iya, kita pulang bersama. Kau harus istirahat setelah ini.”Sahut Jevandres sambil mengecup puncak kepala Rigel.
.
.
.
Bersambung