
Happy reading~
.
.
Perlahan-lahan sepasang mata aquamarine milik Jevandres terbuka dengan berat, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah manis yang tengah duduk dipinggiran ranjang dengan menatapinya.
“Hehe~”Rigel senyum sumringan “Bagaimana keadaanmu?”Ucap gadis itu lagi dengan sepasang iris berlainan warna yang berbinar itu. Begitu cantik, seperti dua buah batu permata yang berbeda. Ruby dan Zirkon, yang berkilau indah milik Rigel menatap Aquamarinenya Jevandres dengan penuh rasa cinta. Benar, selain senyuman yang terus mengembang manis. Sang pendosa kemurkaan ini hanya perlip dengan kemilauan asramanya terhadap Jevandres.
Jevandres sampai memalingkan pandangannya, dia tak tahan menatap Rigel yang terlalu menggemaskan itu “Hm. Baik-baik saja.”Gengsinya Jevandres tak membalas dengan manis pertanyaan Rigel itu.
Tapi tak mengapa, Rigel senang melihat Jevandres masih dapat sadar dari pingsannya setelah tiga jam lamanya itu “Syukurlah, apa kau mau makan kak?”
Jevandres menegok Rigel lagi “Kita di rumahku bukan?”Jevandres mengenali kamar bernuansa serba hitam ini. Dimana lagi selain bukan di Mansion keluarga Jevandres di Seoul, tapi keluarga ini juga memiliki kediaman lainnya dinegara-negara lain “Kau sendiri bagaimana Rig?”Sahut Jevandres dengan raut cemasnya sambil melirik perut Rigel itu.
“Ah ini?”Rigel meletakkan tangannya Jevandres pada perutnya “Baik-baik saja, aku bahkan sudah makan dua porsi pasta buatan Charlie tadi hehe...”Rigel tersenyum kepada Jevandres. Dia tahu raut wajah Jevandres itu “Mau memastikannya sendiri?”Ucap Rigel seraya meraih tangan kanan Jevandres kemudian meletakkannya pada perutnya itu “Belum terasa apa-apa, karena usianya masih begitu kecil.”Rigel hanya sumringan lagi.
“Oh iya, beruntung kak Jev hanya tertembak pada bagian punggung kanan atas.”
“Begini...”Lanjut Rigel berganti memengang tangan lebar Jevandres dengan kedua tangan mungilnya “Aku tak bisa terus berada didekatmu, jika tidak kejadian seperti ini akan terus terulang. Aku hanya membahayakanmu kak Jev...”Sesal seorang Rigel harus menatap pria ini terus-menerus menjadi tameng kehidupannya. Semua ini salahnya, jika kembali dihadapkan oleh kematian yang sama Rigel mulai menerimanya.
Tanpa diduga, Jevandres membalas pegangan tangan Rigel. Dia meremat jemari-jemari besarnya pada jemari mungil seorang Rigel “Tidak masalah, itulah yang harus dilakukan seorang pria kepada wanitanya.”
Blushing. Rigel merona merah, dia tak tahu harus berkata apapun selain merasakan telapak tangan hangat Jevandres yang menggengam erat tangannya “K-kau tak marah ji-jika tahu sebenarnya? Atau terluka seperti ini tanpa alasan apapun dariku?”Suara Rigel bergetar.
Tatapan aquamarine teduh Jevandres sungguh teramat tulus, jika dibandingkan kebengisan dirinya saat beriris emas terang itu “Aku sudah tahu semuanya. Kau, mantan member elit milik Black Ash. Kapten komandan tim khusus Avid, bukan?”
Rigel tersentak kaget, dia mengalihkan tatapannya. Nyaris ingin menangis.
“Hei..Hei...”Jevandres sampai harus membangunkan dirinya untuk duduk menghadap tubuh kecil si manis Rigel “Tidak apa. Tidak masalah, semua orang memiliki rahasia gelapnya sendiri.”Ucap Jevandres sambil menarik dagu kecil Rigel untuk menatapnya.
Rigel langsung menghamburkan pelukan kepada Jevandres. Tubuh kecilnya tenggelam dalam dekapan tubuh kekar Jevandres “Maaf... Seharusnya aku tidak turut membahayakanmu.”Rigel tak mengelak, dia mengakuinya. Pekerjaan lamanya sungguh berbahaya, begitu keji dan gelap. Jika bukan untuk mencari tahu rahasia dari pimpinan tertinggi Black Ash mengenai masa lalunya, Rigel tak akan ikut campur urusan dunia ini. Bahkan, menggandeng gelar pendosa saja sudah cukup baginya.
“Aku juga sama Rig. Lascelles, bukan hanya keluarga kaya dari kalangan pembisnis. Jika bukan karena itu. Aku pun tak akan keluar dari keluarga ini.”Jevandres menangkup wajah Rigel dengan kedua tangannya “Yang jelas, hal ini belum bisa kubicarakan padamu.”Lanjutnya lagi.
“Uhm~”Rigel mengangguk pelan.
Tok..tok..
Pintu kamar mereka diketuk dari luar “Tuan muda dan nona. Tuan dan Nyonya Aristolochia ada dibawah.” Suara Charlie terdengar dari luar.
Sontak, Rigel dan Jevandres saling melihat satu sama lain. Rigel yang sedikit kesal dan Jevandres yang tetap tenang.
“Mereka bertamu malam-malam.”Rigel tertawa hambar “Mau makan atau istirahat?”Tawar Rigel lagi.
Jevandres meraih tangan Rigel dan mengecup punggung tangannya “Aku baik-baik saja. Temui keluargamu dulu.”Ucap Jevandres sambil mengangguk.
‘Ah~Bisa meleleh jika terus begini’Rigel membatin dengan tersipu, namun ia sembunyikan melalui raut wajah datarnya “Kalau begitu, aku menemui mereka dulu ya.”Ujar Rigel sambil membenahi selimut yang dikenakan oleh Jevandres, sekarang Rigel pun tak canggung mengecup puncak kepala suraian pirang milik Jevandres ini kemudian ia pun melangkah keluar dari kamar mereka menuju lantai bawah. Dimana ruang tamu itu berada.
Pukul delapan malam tepat, Rigel baru saja menuruni anak tangga. Ia mendapati sepasang suami isteri yang tengah mengobrol dengan ibunya Jevandres. Nyonya Erika Lascelles. Oh bahkan, Luna adiknya ‘Binary’ ada disana.
Rigel berpikir sejenak ‘Mereka masih mengenaliku sebagai Binary, kecuali Jevandres yang sudah dimodifikasi ingatannya’Ucap Rigel dalam hatinya, gadis itu memilih untuk tetap tenang agar menghindari masalah ‘Oh ya?’Rigel menyadari sesuatu saat melihat sosok Luna yang duduk dengan manis disofa ruang tamu. Rigel pun menyeringai kecil.
“Hai ibu... ayah... Luna juga.”Sapa Rigel dengan nada riang beserta senyuman manisnya ‘Hm~ Luna ternyata pemuja Luxie’Rigel terkekeh pelan. Sebenarnya ia sudah terbiasa melihat manusia yang bersekongkol dengan para pendosa sepertinya, namun sosok Luna ini sampai bisa menjerat seorang Jevandres sebelum Jevandres ada bersamanya. Kini, Rigel pun tahu siapa yang mengunci ingatan Jevandres hebatnya lagi. Adiknya Binary ini memiliki, aura pertikaian yang cukup besar ‘Sepertinya, Luna ini sudah melayani Luxie dengan baik.’Rigel mengamati Luna sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Kak... Apa kau baik-baik saja? Kudengar, kalian baru saja diserang aksi ******* saat makan malam. Bagaimana keadaan Kak Jevandres?”Raut polos Luna, berucap dengan cemas.
‘Ah~ manipulatif.’Rigel membatin.
“Aku baik-baik saja, tapi kak Jev yang terluka.”Rigel pun duduk disebelah pasangan suami isteri itu.
Tuan Aristolochia memandangi Rigel “Bagaimana keadaan cucu kami?”Rigel jenah menatap mereka, sama halnya dengan Luna. Sedikit tidak banyaknya, Rigel merasa kasihan dengan kehidupan lama seorang Binary. Keluarganya sendiri mahir bersandiwara.
“Baik-baik saja.”Rigel tersenyum, walaupun sesungguhnya ia sudah merasa bosan berada disana. Rigel selalu menyadari hati seseorang yang ternodai akan dosa, biarpun bukan kemurkaan saja. Nyaris ia selalu tahu niatan tak baik dari hati seseorang, maka dari itu Rigel tak pernah sulit menangani kelakuan manusia kepadanya.
“Bagaimana dengan kuliahmu kak? Bukankah kita bertemu beberapa hari yang lalu?”Entah, mungkin Luna memang sengaja mengatakannya.
Rigel tahu, pancaran raut tak suka suami isteri Aristolochia itu langsung tampak “Kurasa, aku mengurungkan niat untuk berkuliah disana. Rencanaku akan pergi ke Amsterdam saja melanjutkan studiku.”Ucap Rigel dengan gamblang, hal itu tak akan sulit baginya. Rigel memang cerdas, bahkan kedua kakaknya Ivan dan Arcadia pasti akan mendukungnya.
“Tugasmu hanya menjadi isteri baik untuk tuan muda Jevandres.”Sahut nyonya Aristolochia itu kepada Rigel “Kami, sudah menitipkanmu kepada keluarga Lascelles. Setidaknya kau bisa patuh terhadap suamimu Bina.”Tatapan ancaman itu tampak dari wajah keriput dengan riasan mencoloknya itu.
“Kurasa...”Rigel memicingkan kedua matanya “Sayangnya ibu, aku tak perduli pendapatmu karena aku sudah dewasa untuk menentukan pilihanku. Kak Jev suamiku dan ini keluarga kecil kami, tak salah bukan mengisi waktu luang dengan belajar lagi?”Rigel menghela nafas sejenak, dia tak boleh terpancing.
“Anak ini!”Suara nyonya Aristolochia malah meninggi “Maafkan perilaku Binary nyonya Lascelles.”
“Yah dia memang gadis yang kasar, tentu kadang aku cemas dengan putraku Jevandres menghadapi kelakuan liar Binary ini...”Ucap Erika Lascelles malah menyetujui ucapan wanita yang notabene adalah ibu kandung ‘Binary’ yang asli.
“Ibu... Kak Bina tidak sengaja, ayo kak minta maaf pada ibu dan Nyonya Lascelles.”
Kini Rigel sudah memuncak ‘Yang benar saja memintaku minta maaf.’Rigel bersidekap. Dia pun menjentikkan jemarinya, lantas seluruh waktu pun terhenti tentu seluruh orang yang turut ada disana kecuali Luna.
“Puas dengan permainanmu, Luna?”
Gadis itu menatap dengan bingung, masih mencerna hal yang sedang menimpanya “B-bagaimana bisa?”Dia gelagapan. Masih tak percaya dengan seluruh waktu yang berhenti dan semua orang yang mematung dengan diam. Luna sesekali mengguncang tubuh Tuan dan Nyonya Aristolochia yang sudah terdiam itu.
“Hey! Aku berkata padamu?”Rigel menompang dagunya dengan arogan, dia duduk dengan kedua kakinya yang disilangkan.
Luna, menunjuk Rigel tepat didepan wajahnya “W-wanita iblis! Kau pasti melakukan sihir hitam atau mengguna-guna orang tua kita sendiri.”
‘Oh~Benar sih? Tapi aku lebih dari itu.’Rigel terkikik, dia tertawa disamai oleh iblis berpangkat rendah. Jelas-jelas saja, Sang Pendosa Kemurkaan satu dari tujuh dosa legendaris penguasa dunia bawah “Benar, atau tidak ya? Kalau begitu apa bedanya denganmu, Hehe... Bukannya kau menggunakan pesona milik Luxuria? Kau sendiri yang sudah bersekongkol dengan iblis dengan menggadaikan jiwamu.”Ucap Rigel tertawa meledek “Menyedihkan~”Gumamnya lagi sambil menyeringai kecil.
Kedua mata Luna membelalak tak percaya “T-tidak... aku tak melakukan itu. Kau memfitnahku, dasar wanita gila!”
“Kau pikir aku tak tahu? Bersyukurlah dirimu, bisa melihat kuasa sang pendosa besar sepertiku.”Rigel beranjak berdiri. Dia sungguh sudah muak dengan Luna sejak pertama kali bertemu dengan wanita muda ini “Bisa kau jelaskan kenapa Theo mudah melekat padamu? Alih-alih ingin menyamai Aphrodite kau justru penjilat kecil.”
“Itu tidak benar... Kenapa kau bisa tahu?”
“Kau bukan tandinganku sama sekali.”Rigel pun berjalan mendekatinya dengan seringai yang menyeramkan “Diabolus, odium...”Rigel mengatakan sebuah mantera dalam satu kali jentikan tangannya.
Sekujur tubuh Rigel berubah menampaki ‘sosok’ aslinya “Kau... Sungguh membenci sosok Binary bukan?”Ucap Rigel seraya menyentuh permukaan wajah ketakutan Luna yang tak mampu berkutik dengan kuku-kuku hitam memanjangnya “Maka rasakan semua kebencian ini. Haha...”Rigel sengaja mendominasi rasa benci dalam hati seorang Luna, hingga yang dia rasakan hanyalah benci, dendam dan amarah.
“Tidak...”Luna teriak memberontak “Tolong aku! Tolong Yang Mulia Lux!”namun terlambat. Sang kemurkaan sudah mempengaruhi hampir seluruh hatinya dengan kebencian, bahkan semua hati kebajikannya sudah tertutup. Jika memang dia ingin kembali berbuat baik, bayang-bayang penyesalannya akan terasa teramat perih.
“Hehe...”Rigel diam-diam terkekeh pelan, dia tersenyum puas setelah mengembalikan waktunya kesediakala “Show Time”Rigel bergumam sendiri.
Nyonya Aristolochia tersentak sadar nyaris ingin kembali memarahi Rigel, namun pandangannya teralih melihat anak gadis tersayangnya mulai berperilaku aneh “S-sayang kau kenapa?”Nyonya Aristolochia melihat Luna sudah dengan mata memerahnya, deru nafasnya tak lagi tenang dengan raut wajah yang penuh amarah.
“Diamlah bu! Jangan menanyakan aku!”Luna berteriak dengan kasar.
Rigel terkikik, kemudian cepat-cepat menyembunyikan raut wajahnya “Astaga Luna, pasti kau hanya kelelahan.”Ucap Rigel dengan nada yang sengaja dibuat-buatnya. Rigel tengah bersandiwara dengan berpura-pura menjadi orang yang simpati.
“Diam kau wanita pesakit! Tidak bisa apa-apa hanya menjadi beban! Sudah mendapatkan Kak Jev kemudian berlagak lemah agar semua orang mengasihimu.”Luna berteriak kepada Rigel, bahkan dia menepis tangan Rigel dengan cepat.
“Ya Tuhan, Luna... kau kenapa sayang?”Tuan Aristolochia mencoba menyentuh puteri kesayangannya itu, namun Luna segera menepis tangan ayahnya itu dengan kasar.
Sosok Luna manis dan polos, seperti dugaan mereka berubah menjadi wanita yang kasar. Kedua orang tuanya, tuan dan nyonya Aristolochia hanya bisa menatap tak percaya puteri kesayangannya itu.
Erika Lascelles mendehem “Tuan dan Nyonya Aristolochia, bisa tolong bawa puteri kalian pulang saja?”Ucapnya dengan tenang. Bahkan nyonya besar Aristolochia itu memanggil penjaga untuk menyeret Luna yang berteriak kesetanan itu.
‘Selamat, kau tak akan pernah bisa mengembalikan hatimu...’Rigel berseru dalam hatinya. Dia hanya menjadi penonton atas perubahan Luna yang menjadi begitu kasar itu.
.
.
.
Pukul sepuluh malam Rigel kembali kekamar Jevanres tanpa memperdulikan ibu mertuanya yang menatapnya dengan sinis. Rigel menaiki anak tangga, menuju kamar Jevandres yang ada dilantai dua itu kemudian membuka pintu kamarnya, dia melihat Jevandres yang duduk bersandar diatas kasur sambil membaca sebuah buku lengkap dengan kacamata yang bertengger di hidung bagirnya. Sungguh menambah paras rupawannya dengan tampan.
Jevandres menutup buku yang tengah dibacanya itu “Kudengar suara berisik dilantai bawah?”
“Hm~ Luna tiba-tiba saja marah, mungkin dia tengah lelah.”Rigel merangkak kesamping Jevandres, dia pun turut bersandar dipundak Jevandres “Aku juga sangat lelah...”Rigel tak mempungkiri rasa kantuknya yang semakin menyerang kedua matanya ini.
Jevandres melepaskan kacamatanya, dia membenahi guling dan bantal untuk Rigel kemudian berbaring miring kesamping gadis kecil itu “Tidurlah... “Pinta Jevandres sambil menyelimuti tubuh Rigel bersama dirinya.
Rigel dengan mata kantuknya menatap wajah tampan Jevandres “Kak Jev, Menurutmu dunia ini apa?”
“Hn. Maksudmu?”Jevandres balik bertanya, ia bingung dengan ucapan tiba-tiba seorang Rigel.
Rigel menggeleng pelan “Menurutmu, apakah dunia ini hanya berpihak kepada yang benar dan hanya menghakimi yang salah?”Racau Rigel dengan kedua mata sayunya, kemudian perlahan-lahan memejamkan kedua matanya.
“Menurutku...”Jevandres mengusap puncak kepala Rigel “Kesalahan tak selamanya salah, dan yang tampak benar bisa saja kesalahan yang sebenarnya.”Ucapnya sambil mengecup puncak kepala Rigel dengan lembut, dia tersenyum kecil melihat Rigel yang mendengkur halus.
.
.
.
Bersambung