Carnival Of Binary

Carnival Of Binary
Episode 12 : Brother's Protecting



Hai Hai


Happy Reading~


.


.


 


 


Rigel tengah berbaring diatas sebuah ranjang kasur yang serba putih, lima belas menit yang lalu tiba dirumah sakit kemudian ditangani oleh dokter Obgyn yang memeriksa keadaannya. Kini Rigel masih berbaring dengan tenang disana. Ia merasakan gel yang dioles pada perut datarnya, bahkan ia bisa merasakan alat yang dipegang dokter itu bergerak dengan licin pada perutnya.


“Tampaknya, nyonya Lascelles bekerja terlalu lelah hingga kelelahan. Tapi sejauh ini bayi anda baik dan sehat, pertumbuhannya pun normal.”Ucap dokter itu, tanpa dia jelaskan pun Rigel sudah tahu.


Jevandres yang berdiri disebelah Rigel hanya menatap dengan diam, dia teramat tenang justru membuat Rigel bergidik ngeri “Lihat, aku baik-baik saja bukan?”.


Setelah usai mengetahui keadaan Rigel, wanita bersurai hitam itu berjalan dikoridor Rumah Sakit sembari digandeng oleh Jevandres. Keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Sementara Rigel mulai menyadari perubahan sikap pria aquamarine itu sejak pertama kali menjumpainya di bakery milik Ivan.


“Kau—Ingin pergi ke Amsterdam?”Ucap Jevandres tiba-tiba.


Rigel mengangguk “Ayah dan ibuku beserta kakak laki-lakiku disana. Tak perlu cemas dengan tubuh Binary, mereka pasti tahu ini aku. Lagipula, aku tak pulang selama lima tahun lamanya.”Tukas Rigel berbicara dengan nada pelannya itu.


“Eh?! Bukannya itu Dio?! Dio! Dio! Hei...”Setelah Rigel memicingkan matanya melihat seorang dokter yang baru saja melintasi mereka. Rigel tak menyangka bisa menemui pria itu disini.


Dokter itu menoleh dengan raut wajah malasnya, kedua kelopak mata pandanya dan tampang kantuknya tampak disana “Oh Hai, Rig...”Berbeda dengan Ivan, dokter ini langsung mengenali Rigel hanya dalam sekali tatapannya.


Jevandres tersentak kaget saat Rigel berlari-lari kecil, hal itu membuat Jevandres turut menyusul langkah wanita manis itu. Dia mencemaskan keadaan Rigel yang terkadang bergerak lincah seolah lupa dengan tubuh berbadan duanya ini.


“Perlahan, kau tak perlu berlari seperti itu.”Dokter itu berbicara dengan nada malasnya.


Rigel tersenyum riang, dia pun memeluk lengan pria bersurai hitam legam itu “Selamatkan aku dari pria gila ini ya, Hehe...”Rigel dengan konyolnya berucap seperti itu.


“Oh, selamat pagi Tuan Lascelles.”


“Selamat pagi, Dokter Arcadia Dio.”


Rigel menatap Jevandres dan Arcadia secara bergiliran, mereka berdua tampaknya sudah saling mengenal “Tsk. Lihatlah, kau ini sama saja.”Ucap Rigel bersunggut-sunggut, bahkan tak ragu memukul lengan dokter yang ternyata adalah kakak laki-lakinya itu selain Ivan.


“Ah~Gagallah semuanya.”Rigel memayunkan bibirnya, niatan dirinya untuk pergi menjauh dari Jevandres seutuhnya gagal.


Arcadia Dio, tampaknya peka dengan raut perubahan Rigel. Dia mengusak puncak kepala gadis itu dengan asal “Tuan Lascelles sudah cerita semuanya, bahkan Ivan sudah menghubungiku kemarin. Kalau mau pulang, bicarakan baik-baik dengan tuan Lascelles bukannya malah main kabur-kaburan.”Ucap Arcadia dengan nada malas sebagai ciri khasnya itu.


Rigel menggembungkan sebagian pipinya, dia bersidekap dengan membuang pandangannya dari Jevandres “Tch. Dia memperlakukanku seperti orang sakit, padahal aku kan bukan sakit.”


“Kebetulan.”Ujar Arcadia seraya merogoh ponsel genggamnya sejenak “Ada hal yang ingin kutunjukkan, sekaligus ingin kutanyai padamu. Jika kau tak merasa lelah.”Lanjutnya lagi.


“Apa?!”


“Sudah kuduga, kau akan penasaran. Baiklah tuan Lascelles, apa tidak masalah memperlihatkan Rigel dengan temuan kemarin?”


Jevandres mengangguk sebagai ucapan setuju “Jangan ceroboh, ingat kau sedang hamil.”Ucap Pria itu lagi sembari mengekori langkah Rigel.


Tapi Rigel, malah tetap berada tak berjauhan dengan Arcadia bahkan melekat dengan Arcadia. Dia tak memperdulikan Jevandres sama sekali, bahkan tak ingin berdekatan dengan Jevandres.


“Kau, alih-alih menyelesaikan masalahmu. Malah kembali melibatkan Ivan dan aku kedalam masalahmu, lagi.”


“Aku sendiri tak tahu, malah pindah ke tubuh ini.”


Kedua mata Rigel membulat “I-itu karena aku tak ingat apapun soal Ira.”


Arcadia mengangguk dengan raut wajah malasnya “Kau penasaran bukan? Seharusnya itu tak perlu.”


Rigel menunduk karena merasa bersalah, setibanya didepan sebuah ruangan forensik yang dingin itu. Dia bisa melihat sebuah tubuh diatas meja besi yang ditutupi oleh kain putih nan tipis itu, dari penampakan wajahnya saja Rigel sudah menerkanya dengan benar “Itu diriku.”Ucap Rigel bergumam kecil.


Arcadia mengangguk “Aku hanya membantu menyelidiki, sudah jelas kematiannya karena pendarahan yang hebat tepat pada aorta jantungmu. Penembak ini pastilah sangat berpengalaman, apakah ucapanku salah?”Ucap Arcadia kepada Rigel.


Gadis itu mengangguk “Aku yang melakukannya.”


Jevandres terkejut, dia tak menyangka dengan pengakuan dari Rigel “Siapa?”Jevandres menatapnya dengan tajam.


Rigel tak lagi takut “Tak penting, yang jelas kau sudah tahu kak siapa yang melakukannya. Hanya itu saja, tak perlu diperpanjang lagi karena sesuatu yang sudah kulakukan tak akan bisa kuubah lagi seperti sediakalanya.”Ucap Rigel dengan menghela nafas, dia lelah. Rigel tak tahu jika semuanya malah menjadi begitu berantakan.


“Kau juga sama Arcadia, tidakkah ini seperti memancing mereka untuk mencariku? Setahuku selama ini, setiap anggota yang mati akan dimusnahkan jejaknya dengan Boss. Mungkin, tinggal menunggu saja tubuhku itu dicuri oleh mereka.”Jelas Rigel dengan gamplang.


Liu Naufar, yang baru saja tiba mendengar akhir kalimat dari Rigel “K-kau? Kenapa tahu begitu banyak soal Black Ash?”Pria itu tersentak kaget sejenak, dia melihat gadis nan indah ini “N-nona Aristolochia, kau kah ini?”Liu Naufar setengah tak percaya, padahal tahun lalu ia menghadiri pernikahan Jevandres dan Binary. Tapi kali ini, wanita berperangai kecil, manis dan sepasang iris berbeda warna itu tampak berbeda. Liu Naufar pun menyadari hal itu.


“Hm?”Rigel mendelik “Apa yang ingin kau ketahui? Mereka hanya organisasi yang berisi para pembunuh terlatih, bahkan seluruh orang berpengaruh didunia ini pernah menyewa jasa Black Ash.”


“Berarti kau tahu markas mereka?”


Rigel tertawa mendengar pertanyaan pria berwajah oriental itu “Menurutmu? Haha... Mereka itu hanya mengendalikan dari jauh tanpa menggunakan markas, malah berhati-hatilah dengan rasa keingintahuanmu itu.”Rigel bersidekap kilatan matanya menajam “Lagipula aku bukan tersangkanya bukan? Lihat.”Rigel menggunakan dagunya menunjuk jasadnya yang sudah mati itu “Tersangkanya sudah mati, korbannya tiada.”


Liu Naufar memajukan langkahnya, satu-satunya petunjuk dalam menemukan organisasi yang dicarinya selama ini “Kumohon, bersedialah menjadi saksi dalam kasus ini.”Ujar Liu Naufar memandang Rigel dengan serius, kedua alis tebalnya bertautan. Tak lama ponsel pria itu bergetar, dia pun merogohnya.


Arcadia Dio mendeham “Maaf turut menganggu perbincangan kalian, Tapi Rigel memang memiliki masalah dengan temperamentalnya Tuan Liu hal itu tentu mempengaruhi ucapannya. Apalagi adik kecil saya ini, baru saja mengalami stres yang berat setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit minggu lalu. Harap tuan Liu mempertimbangkan keterangan Rigel, bisa saja menjadi gaps dalam kasus yang anda selidiki.”Arcadia memandangi Rigel dengan malas “Jangan suka mengada-ngada.”Tegur dokter muda itu seraya mencubit pelan pipi gempal Rigel.


Pria bersurai hitam itu tampak berpikir, kemudian ponselnya terdengar berdering ia pun segera mengangkatnya “...Baik, saya akan menemui anda dibawah.”Ucap Liu Naufar kemudian mematikan sambungan teleponnya “Sepertinya, saya harus kebagian administrasi untuk beberapa keterangan ini disana.”Pria itu pun segera melesat pergi.


“Rig, jelaskan padaku.”Giliran Jevandres menatap sang surai hitam dengan tatapan yang sulit diartikan “Katakan, jika kau bukan orang yang diperintahkan untuk membunuhnya?”


Rigel melihat sorot mata Jevandres, namun ia tak ingin berspekulasi lebih jauh “Benar, mempertahankan rahasiaku pun percuma. Aku sebagai anggota Black Ash memang diperintahkan untuk melenyapkan Binary Rui Aristolochia atas permintaan klien.”Rigel berucap dengan teramat tenang, seolah dia sudah menyadari semuanya.


“Klien atas nama tuan J. Semoga itu bukan dirimu.”


Jevandres, mengepalkan kedua tangannya. Awalnya yakin, namun dia ragu. Akan tekatnya untuk melenyapkan isterinya sendiri, tapi kini raga isterinya sudah berisi jiwa orang lain yang jauh lebih berbahaya namun dicintainya disaat yang bersamaan. Jika ini memang sebuah peperangan, Jevandres mengakui kekalahannya dihadapan Rigel.


“Cukup, Rig. kau terlalu jauh.”Arcadia akhirnya ikut berucap, setelah sedari tadi hanya menjadi penonton atas perbincangan keduanya “Tuan Lascelles, jika orang lain bisa menahan ingatanmu. Maka kami dengan terpaksa menghapus sebagian ingatanmu.”Ucap Arcadia sambil menatap sesuatu dibelakang Jevandres, sampai kepalanya sedikit memiring karenanya.


 


 


Pukkk...


Ivan tiba-tiba saja berada dibelakang Jevandres dengan nafas terengah-engahnya “Ha... Ha...Yo, bung!”Pria bersurai perak itu langsung menyentuh pundak Jevandres, dia mengeluarkan kalung pendulumnya “Viridian, bereave!”Sesaat setelah itu pendulum itu bersinar kehijauan.


 


.


.


 


Bersambung