
"Akhirnya! Aku sampai di kontrakan juga! Ayo cepat! Ayo cepat!" Selena buru-buru berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Gadis itu tidak sabar untuk segera melepaskan sesuatu yang mengikat dadanya. Terlalu engap bagi Selena jika terlalu lama menggunakan kemben itu.
"Wah! Lega sekali! Huh! Lebih baik aku cepat mandi dan istirahat. Aku sangat mengantuk." Selena bermonolog seorang diri.
Gadis itu segera mengambil handuk dan berlalu menuju ke kamar mandi. Suasana jam 4 pagi itu sedikit membuat bulu kuduk Selena meremang. Hawa dingin terlalu menusuk tulang.
Setelah membersihkan diri, Selena pun langsung menggunakan daster kumuh miliknya. Kemudian ia berjalan menuju ke dapur sempit miliknya. Di sana gadis itu hanya memiliki sebutir telur yang tersisa.
"Untung masih ada satu telur. Nanti waktunya belanja di pasar. Eh, ngomong-ngomong aku tadi dapat uang dari Nona Mely. Sepertinya aku lihat dulu deh. Jadi penasaran karena tadi sedikit tebal amplopnya." Selena teringat amplop yang diberikan oleh Mely di club.
Secepat kilat gadis itu kembali menuju ke kamarnya. Ia pun bergerak cepat membuka tas dan mencari amplop itu. Begitu ketemu, Selena pun tidak sabar membuka amplop itu. Setelah mengeluarkannya, Selena melebarkan mata.
"Ya Tuhan! Ini banyak sekali! Apa benar ini tips yang diberikan oleh pelanggan kepada pelayan sepertiku?" Selena bertanya pada dirinya sendiri.
Tak menunggu lama, Selena lalu menghitung uang yang ada itu. Perlahan-lahan sekali Selena menghitung lembaran uang berwarna merah itu. Hingga sampai waktunya tiba, Selena semakin takjub.
"Gila! Ada 3 juta yang diberikan oleh Nona Mely sebagai tips! Ya Tuhan! Aku bisa hidup selama satu bulan dengan uang ini! Besok, aku akan membuat rekening ATM. Untuk menyimpan uang ini. Aku harus berhemat karena utang bapak dan ibu belum juga aku dapatkan. Bagaimana ya caranya supaya aku bisa menutupi utang mendiang bapak dan ibu?" Selena termenung. Gadis itu walaupun baru saja mendapatkan rejeki nomplok tetapi beban hidupnya masih saja berat.
Setelah berbelanja kebutuhan selama satu minggu, Selena pun bergegas pulang. Ia harus cepat istirahat karena bekerja saat malam tiba itu membutuhkan tenaga ekstra. Apalagi Selena bekerja di club malam yang terkenal.
"Kemana angkot jam segini? Ck! Ini sudah 15 menit aku di sini. Tapi belum juga kelihatan." Selena menggumam kesal.
Angkutan umum yang ia tunggu masih belum terlihat sama sekali. Entah harus berapa lama lagi Selena menunggu kedatangan angkutan umum itu. Jika mencari ojek, maka itu akan memakan uang yang lebih besar. Untuk itulah Selena rela berpanas-panasan.
Hingga tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berdiri tepat di depannya. Karena takut mengganggu, Selena akhirnya mundur beberapa langkah ke belakang. Ia tidak ingin bersinggungan dengan orang kaya yang mungkin berimbas buruk padanya.
"Hai!" Seorang laki-laki turun dari mobil. Ia menyapa Selena yang kini memasang wajah terkejutnya.
"Ya ampun! Tuan Kay! Bagaimana bisa Tuan Kay ada di sini?" Selena membatin gelisah. Gadis itu heran mengapa bisa bertemu di tempat seperti ini dengan orang-orang yang ada di club.
Selena semakin takut. Ketika Selena sadar bahwa ia sedang tidak menggunakan identitasnya sebagai Berto. Jantung gadis itu berdebar tak karuan saat Kay sudah berdiri di depannya.
"Habis belanja? Apakah rumahmu ada di sekitar sini?" Kay kembali bertanya ketika ia tidak mendapatkan respon apapun dari Selena.
"Nona? Kenapa wajahmu pucat? Hei! Tenang saja! Aku akan menepati janjiku padamu. Eliot tidak akan tahu identitas aslimu!" Kay membujuk Selena. Ia pun mengatakan akan merahasiakan identitas Selena dari Eliot.
"Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Kay.
"Em, sepertinya kau salah orang. Maaf, aku permisi dulu!" Selena buru-buru pergi.
Akan tetapi, Kay tidak menyerah. Laki-laki itu terus mengikuti Selena.
"Kalau kau menghindariku seperti ini, aku akan mengatakannya pada Eliot!" ancam Kay.
Mendengar ancaman dari Kay, Selena pun menghentikan langkah kakinya. Gadis itu memejamkan kedua matanya sejenak. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Sebenarnya apa mau Anda, Tuan Kay? Tidak bisakah kita berdua saling tidak mengenal satu sama lain?" Selena memelas. Ia tidak suka bila terus diancam.
"Saya tidak ingin kemana-mana. Saya hanya ingin pulang dan Anda tidak mengganggu saya. Karena nanti malam saya harus bekerja lagi," tolak Selena.
"Kalau begitu tidak usah bekerja lagi. Aku akan mengatakan kepada Eliot kalau di clubnya ada penyusup." Kay mengancam lagi.
Ancaman Kay membuat Selena tak mampu membalas. Seulas senyuman tersemat di bibir Kay. Laki-laki itu menarik tangan Selena dengan cepat dan memasukkan Selena ke dalam mobilnya.
"Tuan Kay! Apa yang Anda lakukan?" kesal Selena.
"Pergi mencari makan!" Kay menjawab dengan cepat. Lalu ia menutup pintu mobilnya dan kemudian berlari memutari mobil.
Kini Kay sudah duduk di kursi kemudi mobilnya. Tepatnya di samping Selena yang tidak bisa berbuat apapun untuk menolak Kay. Tak lama kemudian mobil Kay pun melaju membelah jalanan aspal yang berdebu.
"Sebenarnya apa yang Anda inginkan, Tuan Kay?" ketus Selena.
"Siapa namamu?" tanya Kay.
"Waduh! Bagaimana ya? Jangan sampai Tuan Kay tahu siapa nama asliku. Siapa ya enaknya? Tukiyem? Musdalifah?" Selena membatin bingung. Gadis itu terus berpikir mencari nama samaran.
"Siapa?" ulang Kay.
"Ambar!" Selena akhirnya menyebutkan satu nama. "O-oh, Ambar! Nama saya Ambar!"
"Kau yakin? Kau jangan menipuku, Nona." Kay curiga jika Selena menipunya. Laki-laki itu memicingkan matanya. Ia ingin mengawasi apakah Selena berbohong padanya.
"Kalau Anda tidak percaya ya tidak apa-apa. Memang nama saya jelek! Maklum, saya bukan anak orang kaya," ketus Selena.
Kay salah tingkah. Laki-laki itu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Padahal ia hanya tidak ingin ditipu oleh Selena.
"Baiklah. Kalau begitu salam kenal. Kita makan di sini ya!" Kay tiba-tiba membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir sebuah restoran.
Selena melebarkan mata. "Tuan Kay! Tidak! Saya ingin pulang, Tuan!"
"Kenapa? Makanan di sini enak-enak lo!" Kay mematikan mobilnya.
"Tuan Kay! Apa Tuan Kay ingin mempermalukan saya?" Akhirnya Selena menemukan ide untuk menghindari Kay.
"Ah, tidak. Siapa yang ingin membuatmu malu? Aku hanya ingin mengajakmu makan siang saja," dalih Kay.
"Anda lihat orang-orang di restoran sana. Apakah saya pantas untuk berada di restoran mewah dan berkelas ini? Sedangkan saya hanya menggunakan setelan kumuh. Yakin, Anda tidak ingin membuat saya malu?" jelas Selena.
"Apa yang kau katakan? Aku hanya…" Saat Kay ingin membalas pernyataan dari Selena, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil Kay.
"Eliot?" Kay menyebut nama orang yang sedang berada di luar mobil itu.
"Kau sedang apa di sini? Kalau tahu kau ada di sini, aku akan mengirim pesan padamu. Ngomong-ngomong kau dengan siapa itu?" Eliot menundukkan ataupun menjulurkan kepala. Ia ingin melihat Kay sedang bersama siapa. Kedua mata Eliot melebar seketika.
"Gadis itu?"