
Zack tersenyum kecil setelah mendengarnya. Berbeda dengan Kay yang sepertinya masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Eliot.
"Kau berbisnis di dunia gelap, Eliot? Untuk apa? Apa bisnis yang selama ini kau jalani masih kurang memuaskan hasilnya? Eliot, apa kau sadar kalau dunia mafia itu sangat kejam. Nyawa taruhannya. Apa kau mengerti konsekuensinya sebelum terjun?" Zack masih tidak habis pikir dengan sepupunya itu. Bisa-bisanya mereka sejak kecil bersama dan Zack masih kecolongan.
"Zack, tapi aku bahagia ada di sana. Mereka setia. Mereka melindungiku. Aku merasa seperti memiliki dunia sendiri. Aku bukan mencari uang tetapi mencari kepuasan," jawab Eliot tidak mau disalahkan.
"Dengan terjun ke dunia mafia?" Kay mulai bersuara. "Eliot, semua bisa menjadi korban. Semuanya. Bahkan mungkin Selena."
Untuk kalimat yang baru dikatakan Kay, Eliot memang setuju. Tapi Eliot yakin anak buahnya pasti bisa menjaga Selena.
"Aku minta maaf sebelumnya karena sudah melibatkanmu Kay. Kau sampai celaka seperti ini. Aku tidak menyangka dia akan sejahat ini. Tetapi kau tenang saja. Aku sudah berhasil membunuhnya," ujar Eliot dengan penuh kebanggaan.
"Membunuh? Kau membunuh manusia, Eliot?" tegas Kay sekali lagi. "Apa kami tidak salah dengar?" Zack juga sering memukul orang sampai masuk rumah sakit. Tapi tangan pria itu belum pernah sekalipun membunuh.
"Bukan pertama kalinya. Ini sudah kesekian kalinya Zack." Eliot mendesah. "Inilah sisi gelapku. Sekarang kalian aku beri kesempatan untuk memilih. Mau tetap menjadi saudaraku atau tidak. Aku tidak akan memaksa lagi." Eliot terlihat takut. Dia tidak mau jika Zack dan Kay meninggalkannya. Namun, dia juga tidak bisa memaksanya.
"Kami sudah sampai di sini. Kami sudah terlihat ke dalam masalahmu. Jika kami pergi meninggalkanmu, apa musuhmu tidak akan lagi mengincar nyawa kami? Apa ada jaminannya?" Kay terlihat menyelidik.
"Aku janji kejadian seperti yang di alami Kay tidak akan terulang lagi. Aku sudah meminta anak buahku lebih waspada. Hanya saja, apa kalian siap menerimaku? Tanganku ini sering membunuh," jelas Eliot lagi.
"Eliot, sejak dulu kita sudah berjanji untuk selalu bersama. Saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Bagaimana mungkin kami meninggalkanmu. Kami menghargai kejujuranmu. Oh iya, anak buahmu itu belum mengatakan apapun. Tadi kamu hanya berbohong saja," jelas Zack.
"Sudah ku duga. Tom tidak akan selancang itu." Pada akhirnya Eliot bisa kembali tenang. Kini dia merasa jauh lebih lega setelah memberi tahu mereka identitasnya yang sebenarnya.
Saat tiga pria itu sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba saja mereka mendengar suara pecahan kaca dari dapur.
"Selena!" celetuk Eliot, Zan dan Kay bersamaan. Tiga pria itu segera beranjak dari sofa dan berlari menuju ke dapur. Mereka ingin memastikan kalau Selena baik-baik saja.
Setibanya di dapur, Selena terlihat berjongkok sedang memungut pecahan gelas di lantai. Wanita itu mengangkat kepalanya melihat Eliot, Zack dan Kay ada di sana.
"Selena, kenapa kau ceroboh sekali!" protes Zack. Pria itu maju dan membantu Selena.
Eliot mengepal kuat tangannya. Rahangnya mengeras pertanda kalau dia tidak suka dengan sikap Zack.
Zack melirik ke arah Kay. Meskipun pria itu berbisik, tetap saja Zack bisa mendengarnya. Eliot melepas kepalan tangannya dan memalingkan wajahnya. "Apa kau sudah siap? Ayo kita pulang!" ketusnya.
"Sedikit lagi matang, Tuan." Selena berdiri setelah membereskan kekacauan yang ia buat. Wanita itu melangkah ke kompor untuk memeriksa bubur buatannya.
"Eliot, Selena masih bisa untuk diperjuangkan. Kau harus bersikap sportif," ucap Zack memperingati.
"Zack, aku tidak mau ribut. Bisakah kau diam? Karena itu jauh lebih baik daripada kau harus bicara omong kosong seperti ini!" ketusnya masih dengan wajah kesal.
Tom yang baru saja tiba langsung ke dapur ketika melihat keributan di sana. Pria itu terlihat bahagia bisa melihat Eliot dalam keadaan selamat. Bahkan tidak ada yang kurang sedikitpun.
"Tuan, senang bertemu dengan anda." Tom menunduk hormat.
"Tom, pulanglah dan istirahat. Sepertinya Kau tidak membutuhkanmu lagi. Dia sekarang akan pulang ke rumahnya." Eliot melirik Kay. "Bukankah begitu Kay?"
"Aku berpikir dua kali. Sepertinya aku memutuskan untuk tetap di rumah ini. Ya memang tadinya aku ingin pergi. Tapi setelah aku tahu kalau ...." Kay melirik ke arah Selena yang masih fokus dengan masakannya. "Lebih baik di sini saja bersama Tom. Hitung-hitung aku akan belajar menembak dan bertarung dengannya setelah sembuh nanti."
Eliot memandang Zack. "Bagaimana denganmu Zack?"
"Jangan khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku harus pergi dari tempat ini karena akan memperjuangkan wanita pujaanku, Eliot." Rasanya Zack senang sekali bisa meledek Eliot dengan cara seperti itu.
Selena mematung mendengar obrolan tiga pria itu. Dia mematikan kompor sebelum meletakkan bubur di dalam mangkuk. "Tuan Kay, ini buburnya. Bisa di makan saat sudah hangat."
Eliot segera melangkah mendekati Selena. "Ayo kita pulang?"
Selena tersenyum. "Ayo."
"Aku ingin disuapi Selena, Eliot!" protes Kay tidak setuju.
"Minta suapin Tom saja. Dia pria serba bisa!" ketus Eliot sebelum pergi.
Selena hanya tersenyum saja mendengarnya. Melihat senyum manis di bibir Selena membuat Zack tertegun. "Dia bahagia bersama Eliot? Apa memang sudah tidak ada harapan bagiku untuk mendapatkanmu Selena."