Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 35



Selena berdiri dengan debaran jantung yang tidak karuan. Setelah memintanya masuk, Eliot justru berdiri di depan jendela tanpa mengatakan satu katapun.


"Tuan Eliot kenapa sih! Dia memintaku masuk tetapi sekarang berdiri seperti patung seperti itu. Lalu sekarang aku harus apa?" batin Selena bingung. Selena melangkah maju berusaha untuk mengajak Eliot bicara. Dia tidak mau berdiri seperti patung seperti itu sampai berjam-jam lamanya.


"Tuan, ada yang ingin anda katakan?"


Tiba-tiba saja Eliot memutar tubuhnya dan menarik pinggang Selena. Pria itu mendaratkan bibirnya di bibir Selena. Kedua mata Selena melebar ketika bibir yang hangat itu menyentuhnya. Ketika ingin menolak, justru Eliot lebih dulu mengecup bibir Selena dengan lembut dan penuh perasaan. Selena mematung. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ciuman pertamanya akan di renggut oleh seorang Eliot.


Eliot memejamkan mata dan menikmati bibir Selena untuk menenangkan hatinya sendiri. Dia tidak mau marah-marah lagi karena Eliot tidak mau sampai membuat Selena pergi meninggalkannya.


"Tuan." Selena mendorong Eliot hingga ciuman itu terlepas. Selena sama sekali tidak bisa menikmati ciuman itu karena posisinya dia ketakutan. "Apa yang anda lakukan?"


"Selena, kau wanitaku! Kau tidak boleh pergi meninggalkanku. Kau harus selalu ada disisiku. Apa kau mengerti?" Eliot memegang kedua pipi Selena hingga membuat Selena kesulitan menganggukkan kepalanya. "Bagus!" ujar Eliot lagi sebelum memeluk Selena. Pria itu menghirup aroma tubuh Selena sambil memejamkan mata. Dia benar-benar sudah tergila-gila dengan Selena. Eliot tidak bisa hidup tanpa Selena.


"Aneh. Kenapa pelukan Tuan Eliot terasa sangat nyaman. Aku bahkan ingin berlama-lama ada di posisi ini. Di balik sikapnya yang menyebalkan dan sangat kasar ternyata dia adalah pria yang penyayang. Tuan Eliot, anda tidak perlu khawatir. Saya janji tidak akan meninggalkan anda. Bukan karena saya butuh uang saja. Tetapi saya merasa nyaman ada di sisi anda. Saya sendiri tidak tahu, kenapa!" batin Selena. Wanita itu memejamkan matanya dan membiarkan waktu terus berjalan tanpa mau melepaskan pelukan hangat tersebut.


Di sisi lain, Zack memukul stir mobilnya hingga berulang kali. Pria itu benar-benar marah karena Selena tidak mau menerima tawarannya. Zack ingin Selena. Dia butuh Selena.


Dari jendela Tante Greta berdiri mengamati mobil Zack yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Zack. Bagaimanapun juga sejak kecil Eliot dan Greta sering di rawat oleh Tante Greta. Wanita itu sudah menganggap Eliot dan Zack sebagai putranya sendiri.


"Kenapa semua ini harus terjadi? Sejak dulu Tuan Eliot dan Tuan Zack selalu kompak. Mereka selalu bersatu menghadapi masalah seberat apapun. Sekarang hanya karena seorang wanita mereka bermusuhan. Selena, sebenarnya wanita seperti apa dirimu? Apa memang pantas kau diperebutkan oleh pria seperti Tuan Eliot dan Tuan Zack?"


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tetapi Selena masih belum bisa memejamkan matanya. Apa yang terjadi tadi masih mengganggu pikirannya. Selena terus saja berpikir kenapa dia bisa merasa nyaman.


"Hanya pelukan kedua orang tuaku yang selalu membuatku merasa nyaman. Tetapi kenapa pelukan Tuan Eliot terasa begitu nyaman. Aku sendiri yang tidak ingin dia melepaskan pelukan itu. Aku merasa seperti dipeluk mama. Sudah lama aku tidak merasa senyaman itu.


Perasaan apa ini? Apa mungkin aku sudah jatuh cinta pada Tuan Eliot? Tapi, jika memang benar. Aku seharusnya sadar diri. Itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Aku dan Tuan Eliot ibarat bumi dan langit. Kami berdua tidak akan pernah bisa bersatu. Aku ini apa? Hanya wanita yang kebanyakan utang.


Semua orang hanya akan memandangku sebelah mata. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah dipandang pantas untuk berada di sisi Tuan Eliot." Selena menghela napas lalu memiringkan tubuhnya ke samping.


"Sebaiknya aku jangan mikir kejauhan. Sekarang sudah malam. Aku harus tidur. Besok pagi entah pekerjaan apa lagi yang akan diberikan Tuan Eliot. Bukankah jalan pikirannya sangat sulit di tebak?"