Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 27



Pagi ini Selena memiliki tugas baru dari Eliot. Yaitu mengurus bunga-bunga di taman belakang mansion mewah itu. Tugas baru inilah yang membuat Selena sedikit senang. Lantaran tugas inilah yang paling ringan.


"Menyiram bunga begini, rasanya menyenangkan. Tumbuhlah dengan cantik." Selena tersenyum sambil terus menyiram bunga.


Semua bunga yang ada di sini bahkan jarang Selena temui. Mungkin pemilihan bunga dari kalangan kelas atas dan bawah berbeda. Selena teringat gaji pertama yang diberikan oleh Eliot. Mungkin, Selena akan membuat rekening untuk menyimpan uangnya.


"Sepertinya aku memang harus membuatnya. ATM yang dulu bahkan sudah mati karena tidak pernah diisi. Tapi, apa Tuan Eliot akan memberiku izin keluar rumah? Sangat mustahil melihat dia seorang iblis." Selena menghela napasnya.


Utang kedua orang tuanya sangat besar. Uang sekitar 20 juta sangat sulit Selena kumpulkan. Itu pun sudah berkurang banyak. Selena baru mengetahuinya ketika ayahnya meninggal dunia. Sejak itulah beban di pundaknya cukup berat.


"Waktu ayah mengatakan hal itu, kupikir utang ayah hanya sekitar 10 juta saja. Ternyata beranak pinak menjadi 30 juta. Dari catatan ayah, memang dia hanya berutang 10 juta. Sayangnya, ayah berutang pada rentenir. Jadinya beranak menjadi 30 juta. Ini menjadi tiga kali lipatnya. Sungguh menyedihkan." Selena menggumam dalam hati.


"Selena, sudah waktunya jam istirahat. Ayo, kita makan bersama." Anita berlari tergopoh-gopoh mendekati Selena yang sedang menyiram bunga.


"Cepat sekali. Kalau begitu tunggu sebentar. Aku matikan keran airnya," ucap Selena.


"Enak sekali kau, Selena. Di sini kau malah enak-enakan menikmati suasana sejuk. Aku di dalam mansion, malah setiap saat harus membersihkan mansion. Ayo, cepat. Kita harus segera makan siang," ajak Anita.


Senyuman mengembang di bibir Selena ketika ia melihat bunga-bunga di taman Eliot terlihat sejuk. Lantas Selena berjalan mendekati Anita. Kedua gadis itupun berjalan beriringan menuju ke dapur.


Selena tanpa sengaja mengamati lukisan yang menempel di dinding. Ia baru menyadari jika Eliot cukup menyukai barang antik atau berharga. Mendadak Anita bingung saat melihat Selena malah mendekati salah satu lukisan. Anita yang heran dengan Selena pun mendekati gadis itu.


"Kenapa?" tanya Anita penasaran.


Selena menyentuh lukisan yang berbentuk persegi panjang itu. Matanya berbinar meneliti setiap detail lukisan tersebut. Seulas senyuman tipis terbit di bibir gadis itu.


"Lukisan musim gugur," kata Selena.


"Aku sangat menyukai lukisan. Hanya saja mendiang ayah pernah bilang kalau menjadi pelukis itu tidak akan medapatkan apapun. Tapi…lukisan ini jelas sangat berharga. Maklum, Anita. Aku berasal dari keluarga yang miskin. Ah, kenapa aku bercerita? Ayo, kita makan siang!" Selena tersadar. Gadis itu buru-buru menarik Anita untuk ke dapur mengambil makanan.


Sebenarnya mansion Eliot ini memiliki dapur khusus pelayan. Di sana pelayan bebas untuk makan. Maka dari itu, Selena dan Anita juga pergi ke sana.


"Anu, Selena. Kau tidak boleh mengambil makanan di sini," tegur Bibi Greta.


Pernyataan Bibi Greta membuat perhatian semua orang tertuju pada Selena. Mereka terkejut dengan pernyataan Bibi Greta yang tiba-tiba. Selena yang sudah mengambil tempat makan itu terbengong di tempatnya.


"Tapi, Bi. Selena bisa pingsan kalau tidak makan siang," sela Anita.


"I-iya! Memangnya saya melakukan kesalahan, Bi? Kenapa saya dihukum tidak boleh makan? Kalau saya mati bagaimana?" Selena memberondong Bibi Greta dengan banyak pertanyaan.


"Kau sudah punya makan siangmu sendiri. Itu pesan dari Tuan Eliot. Kemarilah dan bawa piringmu." Bibi Greta memberitahu Selena bahwa Eliot sudah memberikan makan siang untuknya.


Beberapa pelayan mulai berbisik. Mereka menyebutkan bahwa Selena sudah merayu Eliot. Melihat situasi ini, Selena menjadi risih dan tidak nyaman.


"Sepertinya musuhku di dunia semakin bertambah." Selena membatin dalam hati. Dengan berat hati, Selena berjalan mendekati Bibi Greta sambil membawa piringnya.


"Bibi Greta, apa ini tidak berlebihan? Kenapa makan siangku tidak sama dengan pelayan yang lain? Saya tidak pantas dibedakan seperti ini, Bi," sesal Selena.


"Jangan berpikir aneh-aneh. Kau sangat spesial di mata Tuan Eliot," ucap Bibi Greta.


"Apa? Spesial?" tanya Selena tidak percaya.


"Bukankah jelas kalau kau dan Tuan Eliot memiliki hubungan spesial?"