
"Apa kau merindukanku Eliot? Sampai-sampai rela menempuh perjalanan jauh hanya demi bertemu denganku." Jonathan sudah jelas-jelas mengalami kerugian besar. Akan tetapi pria itu masih sanggup untuk tersenyum dan bersikap seolah-olah di sana tidak terjadi apa-apa.
"Aku memang merindukanmu Jhonatan. Lebih tepatnya menginginkan kematianmu. Orang sepertimu tidak pantas hidup. Aku seharusnya tidak memberimu kesempatan hidup waktu itu!" Eliot kembali mengingatkan Jonathan kalau dipertarungan terakhir mereka, Eliotlah yang menang. Bahkan hari ini juga akan sama.
"Oh ya? Kau yakin akan membunuhku?" Jonathan mengeluarkan sebuah ponsel lalu memamerkannya di depan Eliot. Eliot sendiri tidak tahu apa gunanya Jonathan memamerkan ponselnya.
Pasukan Eliot semakin waspada. Begitupun dengan Joanne. Dia memperhatikan dan memeriksa ponsel itu untuk memastikan kalau itu bukan benda yang bisa meledak.
"Tuan, semua aman. Benda yang dia pegang benar-benar ponsel," ujar Joanne melalui earphone.
"Aku ingin memberimu kabar baik, Eliot." Jonathan terdiam sejenak. "No. Aku rasa ini bukan kabar baik bagimu. Kabar baik bagiku!" Jonathan tertawa kencang seolah-olah ada yang lucu di sana.
"Jonathan, lama tak bertemu ternyata kau berubah gila sekarang!" Eliot menaikan satu alisnya sebagai bentuk ledekannya.
"Aku sudah memasang bom di rumah sakit tempat sahabat terbaikmu di rawat, Eliot! Bukankah sepupumu juga di rumah sakit? Itu berarti aku akan membunuh dua orang sekaligus!" Jonathan lagi-lagi tertawa.
Eliot mulai panik. Namun dia masih memperlihatkan wajah yang tenang. "Kau yakin akan berhasil? Bagaimana kalau aku sudah meminta mereka pindah? Bukankah itu berarti rencana besarmu akan sia-sia?"
Eliot berusaha mengulur waktu. Dia ingin Joanne segera menghubungi orangnya yang ada di rumah sakit agar segera membawa Kay dan juga Zack pergi.
"Tidak! Kali ini aku tidak akan gagal Eliot!" Jonathan memandang ponselnya.
Tiba-tiba saja Eliot mengangkat senjata apinya dan menembak ponsel yang ada di genggaman Jonathan. Hal itu membuat Jonathan melebarkan kedua matanya.
"LEDAKKAN SEKARANG JUGA!" teriaknya. Berharap orang di dalam telepon masih bisa mendengar suaranya.
Eliot terus saja menembak ponsel itu sampai benar-benar tidak bisa digunakan lagi. Pria itu tidak tahu rencana dia berhasil atau tidak. Yang pasti, sekarang dia sudah menghancurkan alat yang menghubungkan Jonathan dengan anak buahnya di rumah sakit.
Jonathan segera mengangkat senjata apinya. Dengan cepat pria itu mendaratkan peluru panasnya di lengan kanan Eliot. Eliot mematung sejenak. Dia masih berusaha untuk tetap menggenggam senjata apinya.
Dua pria itu sama-sama maju. Mereka akan bertarung tanpa senjata untuk membuktikan siapa yang paling hebat.
"Tuan, kelemahannya ada pada kaki kiri," ucap Joanne di earphone. Eliot hanya senyum saja mendengarnya.
BRUAKKK
Satu pukulan pembuka justru diterima oleh Eliot. Pria itu tidak bisa memukul duluan karena darah mengalir dengan begitu derasnya.
"Kali ini kau akan kalah Eliot. Hanya aku yang paling hebat. Hanya aku yang akan ditakuti!"
Ketika ingin menendang perut Eliot, tiba-tiba Eliot lebih dulu menendang kaki kiri Jonathan. Seperti kata Joanne tadi. Letak kelemahan Jonathan ada di sana.
Setelah menerima tendangan Eliot, Jonathan langsung tersungkur ke bawah. Pria itu terlihat menahan sakit atas sakit yang ia derita.
"Eliot, kau!"
"Ada apa Jonathan? Segini saja sudah kalah?" ledek Eliot. Pria itu mengepal kuat tangannya sebelum melayangkan pukulan di wajah Jonathan. Eliot mengabaikan tangannya yang terus saja mengeluarkan darah. Dia ingin menghabisi Jonathan sekarang juga.
Jonathan memang terlihat kalah. Namun sebenarnya pria itu sangatlah licik. Secara diam-diam dia menarik earphone di telinga Eliot lalu melemparkannya sejauh mungkin.
"Kau masih mengandalkan bawahannya Eliot? Sekarang cepat hadapi aku tanpa bantuan anak buahmu yang payah itu!"
Kali ini Jonathan yang mengambil alih. Dia menarik baju Eliot hingga posisinya Jonathan yang ada di atas tubuh Eliot. Pria itu juga masih menahan sakit. Namun Eliot sekarang juga melakukan hal yang sama.
Di waktu yang bersamaan, Marthin muncul dengan senjata api di tangannya. Dia sudah berhasil mengalahkan anak buah Jonathan dan sekarang waktunya dia membantu Eliot. Akan tetapi pemandangan di depan justru membingungkan. Eliot juga memberontak hingga pada akhirnya tubuh dua pria itu saling memukul dan sesekali berguling hingga posisinya bertukar.
"Marthin, jangan nekad! Tuan Eliot sudah tertembak di lengannya! Bagaimana kalau pelurumu mendarat di kepala Tuan Eliot?" protes Joanne berusaha memperingati.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" Marthin melangkah maju. Dia tidak butuh senjata api. Dia hanya perlu membantu Eliot untuk menghajar Jonathan. Ketika sudah semakin dekat, tiba-tiba ada tembakan tepat di depan Marthin. Hal itu membuat Marthin menahan langkah kakinya. Dia memandang ke samping lalu melihat seorang pria berbadan tegap berdiri di sana.
"Lawan aku jika kau berani! Aku yakin Bos Jonathan pasti akan menang kali ini!"