
"Ternyata sangat menyenangkan! Aku akan mencobanya lagi!" Selena semakin bertambah semangat ketika ia mengetahui tembakannya tepat sasaran. Senyuman Selena melebar seketika.
"Bagus! Kerja bagus, Selena! Kau memang wanitaku!" Eliot tak kalah gembira dengan keberhasilan Selena. "Aku semakin mencintaimu Selena!"
"Eliot, bagaimana kalau aku ikut bergabung dengan geng mafia milikmu? Kau lihat aku berbakat bukan? Aku bisa membantumu nanti! Aku akan disampingmu! Ajari aku sampai aku bisa kau andalkan, Eliot!" Selena sangat senang. Gadis itu terus tersenyum ke arah Eliot supaya Eliot memujinya.
Eliot diam sejenak. Permintaan Selena memang permintaan yang aneh. Pasalnya Eliot akan meninggalkan geng mafianya. Tetapi kini justru wanita yang ia cintai memutuskan untuk bergabung di dalamnya.
"Tapi, jika keadaan seperti ini terus. Aku belum bisa meninggalkan Black Tiger. Aku masih membutuhkan mereka untuk mengalahkan musuh yang tersisa," batin Eliot dengan serius.
"Kau tidak setuju ya?" tanya Selena dengan wajah penuh harap.
"Baiklah. Aku akan mengajarimu nanti. Itu kan hanya satu tembakan kecil. Kau terlalu banyak gagal, Selena. Sepertinya akan membutuhkan waktu untuk mengajarimu sampai bisa. Apa kau mau bersabar?" Eliot memberitahu Selena bahwa supaya dapat menjadi penembak jitu maka diharuskan banyak latihan. Sedangkan di posisi Selena saat ini merupakan satu keadaan yang dipaksakan.
Gadis itu tak menjawab. Ia kembali fokus menembak. Setelah benar-benar fokus, ternyata lagi-lagi tembakan Selena tepat mengenai ban mobil milik musuh yang mengejar mereka.
"Ha-ha-ha! Rasakan! Salah siapa kalian mengejar kami yang tidak tahu apa-apa! Teganya kalian begitu pada kami!" Selena berseru riang. "Aku hebat! Aku pemenangnya!"
Matanya menangkap salah seorang yang terluka. Mungkin itu disebabkan karena tembakannya. Akan tetapi Selena tidak menyesal. Gadis itu malah senang karena sudah membalas dendam.
Kemudian Selena menutup kaca jendela mobil. Senyumannya tetap tersemat di bibirnya. Gadis itu terus menatap pada pistol yang ada di tangannya.
"Kenapa kau malah tersenyum begitu?" Eliot bertanya sambil mengurangi kecepatan mobilnya.
Laki-laki itu bernapas lega karena mobil musuh sudah berguling. Eliot ingat dia harus segera menghubungi Leo dan Marthin. Setidaknya Eliot harus tahu siapa dalang yang sedang mengincar nyawanya.
Eliot masih sibuk memberikan perintah supaya Leo dan Marthin mengurus musuh yang tadi mengejarnya. Namun, Eliot terkejut karena ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami hal seperti itu. Akan tetapi Leo dan juga Marthin mendapatkan hal yang sama dengannya.
"Mengapa kau begitu? Ada apa, Eliot? Mana Leo dan Marthin?" Selena bingung setelah ia melihat Eliot gelisah.
Padahal tadi Eliot ingin menghubungi Leo supaya mengurus orang-orang yang tadi mengejarnya. Ternyata malah Leo juga mengalami hal yang sama.
"Oke. Mereka akan mengurus orang-orang itu. Kau jangan khawatir, Selena," kata Eliot.
"Tapi sepertinya bukan aku yang khawatir. Kau terlihat khawatir, Eliot. Adakah hal yang terjadi?" Selena curiga Eliot menyembunyikan sesuatu darinya. Gadis itu menyipitkan kedua mata. Ia ingin tahu mengapa Eliot menjadi gelisah.
Akhirnya Eliot menceritakan semuanya kepada Selena. Tentu saja Selena terkejut bukan main. Ternyata ada orang yang lebih jahat lagi.
"Menjadi mafia ternyata belum tentu memulai peperangan ya? Aku baru sadar kalau ada banyak orang dari kalangan biasa nyatanya bahkan bisa membunuh orang lain dengan mudah. Yang lebih parah lagi, membunuh saudaranya sendiri hanya untuk harta dan kekuasaan. Miris sekali ya?" Selena membatin sambil bergidik ngeri.
Gadis itu membayangkan bahwa ada banyak orang biasa yang sudah saling membunuh satu sama lain tanpa embel-embel geng mafia. Sungguh Selena tidak habis pikir karena ada manusia sangat jahat.
Eliot menyimpannya ke dalam laci khusus yang ada di dalam mobilnya. Setelah itu, Eliot kembali melajukan mobil. Kali ini Eliot melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Kau pasti terkejut. Bagaimana kalau kita mencari restoran dulu untuk makan dan minum? Sepertinya itu lebih baik supaya kau tidak syok begini. Maaf ya. Gara-gara aku, kau harus mengalami hal yang seperti ini," sesal Eliot.
"Mengapa kau malah minta maaf padaku? Memangnya kau berbuat salah? Kau juga tidak tahu akan ada kejadian seperti ini bukan? Tenanglah. Aku baik-baik saja. Entahlah. Sewaktu aku dapat menembak tepat sasaran tadi, rasanya aku lega. Apa mungkin aku selama ini tidak bisa meluapkan kekesalanku ya? Pada dunia yang tidak adil? Tadi, rasanya sangat menyenangkan sekali!" Selena tersenyum. Ia terlihat sangat senang dan lega.
Eliot tidak menyangka kalau Selena bisa tersenyum lega seperti itu. Lalu Eliot memilih untuk tidak bersuara lagi. Karena itu juga merupakan pilihan Selena sendiri. Eliot tidak dapat berkata apapun lagi. Ternyata Selena benar-benar dapat menerima masa lalunya. Bahkan lebih dari yang Eliot duga.
Mobil Eliot kini sudah memasuki halaman. Semua penjaga sudah bersiap pun juga dengan para pelayan yang menyambut kedatangan Eliot dan Selena. Dua orang itu masuk ke dalam Mansion dengan pikiran yang rumit.
"Eliot! Bagaimana? Syukurlah kalian berdua selamat! Tadi aku ingin menyusul kalian berdua. Tapi ternyata Leo tidak membalas pesanku. Jadi kupikir lebih baik datang ke mansion ini. Malah lebih si*l lagi aku tidak mendapatkan petunjuk apapun." Joanne datang langsung mengomel.
Ia bahkan mengumpat. Di belakang Joanne ada Mike yang duduk di sofa dengan tenang. Sepertinya perpaduan antara Joanne dan Mike sangat seimbang. Sama halnya dengan Selena dan Eliot. Di mana Eliot yang dingin bersama dengan Selena yang hangat.
"Sudahlah. Kami berdua selamat. Kenapa kau sangat panik begitu? Padahal kau sudah melihatku baik-baik saja begini." Eliot membalas omelan Joanne. Laki-laki itu sangat kesal.
"Apa? Kau? Beraninya kau meremehkan nyawamu, Eliot? Kau mau mati? Jelas-jelas tidak ada pengawal atau pasukan bayangan yang ikut menjagamu! Mulai besok para pengawal harus bekerja lagi padamu! Mereka harus menjagamu dan jangan sampai ada musuh bisa melukaimu! Kau membuatku frustasi. Apa kau tidak sadar?" kesal Joanne.
"Tentu saja. Ada Selena yang menembak tamu tak diundang itu. Jadi aku bisa menyetir dengan aman," sahut Eliot.
"Apa?" Joanne dan Mike secara bersamaan terkejut. Mereka berdua lalu menoleh ke arah Selena.
Lebih lagi mata Joanne mengamati penampilan Selena. Gadis cantik yang lemah lembut dan anggun itu mustahil bisa menembak tamu tak diundang itu. Begitulah pikiran Joanne bekerja. Joanne menatap tidak percaya pada Selena yang berdiri sambil tersenyum itu.
"Jangan bercanda! Kita sedang serius membicarakan nasib nyawa kalian ke depannya! Selena, kau harus bisa menjaga dirimu! Jangan sampai ada orang yang berniat mencelakaimu! Di sini kau adalah orang awam. Jangan sampai kau terluka karena menjadi target musuh Eliot. Cinta boleh, tapi nyawamu lebih penting. Kau paham? Kau harus meminta Eliot supaya para penjaga kembali bekerja untuk menjagamu!"Joanne memegang kedua lengan Selena.
Eliot lalu melepaskan tangan Joanne dari lengan Selena. "Sudah kubilang. Selena sendiri yang menembak tamu tidak diundang itu. Bahkan tepat sasaran. Ban mobil musuh tertembak. Akhirnya oleng dan akhirnya menggelinding. Selena sudah menembaknya berkali-kali. Jadi kupikir wajar kalau mobil musuh menggelinding. Untungnya sih, mobilnya tidak meledak!"
"Hah? Benarkah mobilnya bisa meledak?" Selena menatap tak percaya pada Eliot.
"Benar. Mobil yang terkena tembakan senjata api bisa saja tepat mengenai tempat bahan bakar mobil itu. Jadi tidak heran kalau ada mobil yang meledak. Tunggu, kau benar bisa menembak mobil musuh sampai menggelinding?" Mata Joanne melotot tidak percaya. Gadis di depannya itu sangat anggun. Bagi Joanne sangat mustahil jika Selena bisa menembak musuh tepat sasaran.
"Benar, Nona. Meskipun ini pengalaman pertamaku dalam menembak. Tapi ternyata seru juga ya menembak! Lain kali Eliot akan mengajariku cara menembak. Bukankah itu keren?" balas Selena dengan polos.
"Hah?" Mike dan Joanne terkejut bukan main. Bahkan Joanne menampar pipinya sendiri.
"Bukan mimpi. Tembakan pertama kali tepat sasaran? Situasi macam apa itu?" Joanne yang tidak percaya dengan kenyataan itu mendadak pingsan. Joanne teringat kalau ia butuh waktu satu bulan untuk bisa menembak tepat sasaran.