
"Kenapa kalian bertengkar?" Bibi Greta datang mendekat.
Padahal tadinya Bibi Greta sudah pergi dari tempat ini. Terlihat Anita berada di sampingnya. Itu artinya Anita yang memanggil Bibi Greta.
Selena dibantu oleh Anita untuk berdiri. Terlihat pelayan yang tadinya bersikap angkuh kepadaku itu ini menundukkan kepalanya. Memang posisi Bibi Greta lebih tinggi dari para pelayan biasa. Selena benar-benar kagum dengan sikap Bibi Greta yang tegas.
"Kenapa kalian diam saja? Aku bisa melihat kalau kalian mendorong Selena. Mengapa kalian melakukannya? Selena juga tidak mengganggu kalian. Tidak bisakah kalian jangan membuat ulaj? Kalau sampai Tuan Eliot tahu, mungkin kalian akan dipecat." Bibi Geeta mengancam 3 pelayan itu.
"Sebenarnya aku juga bingung. Mengapa mereka memusuhiku. Selama di sini memang aku hanya selalu mendapat intimidasi dari mereka. Akan tetapi mereka tidak pernah berulah sampai seperti ini." Selena membatin dalam hati.
Ia sendiri juga bingung kenapa para pelayan lain selalu mengganggunya. Jelas-jelas Selena tidak pernah membuat pula. Sebagai orang baru, Selena tentunya tahu diri. Sehingga Selena lumayan berhati-hati dengan lingkungannya.
"Maafkan kami, Bibi Greta." Salah satu dari pelayan itu menundukkan kepalanya. Dua temannya yang lain pun ikut membungkukkan setengah badannya.
"Maafkan kami, Bibi Greta!"
"Sudahlah. Kalian memiliki salah pada Selena, bukan aku! Cepat minta maaf!" Bibi Greta meminta pelayan yang bersalah itu untuk meminta maaf pada Selena.
Setelah meminta maaf, Bibi Greta meminta mereka supaya pergi dari tempat itu. Selena menatap kepergian tiga pelayan yang sudah membuatnya terjatuh.
"Ada apa, Selena? Apakah kau terluka?" Pertanyaan Bibi Greta membuat Selena tersadar.
Dengan canggung Selena tersenyum. "Tidak, Bibi Greta. Terima kasih sudah membantuku."
"Hem. Ya sudah. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Mungkin saja Tuan Eliot sebentar lagi akan pulang," ucap Bibi Greta sambil melirik jam di dinding.
Selena dan Anita pun pergi. Selepas kepergian Selena, Bibi Greta masih menatap dua gadis yang perlahan menjauh itu. Tatapan mata yang aneh.
"Sumpah ya, mereka keterlaluan sekali. Padahal kau tidak pernah terlihat merayu Tuan Eliot. Sejak awal kau datang Tuan Eliot sudah bilang kau akan menjadi pelayan pribadinya. Kupikir itu sudah jelas." Anita menggerutu. Seingatnya memang Selena memiliki posisi yang berbeda. Di mana Selena harus terus berinteraksi dengan Eliot.
"Ini semua karena bos galak itu. Mungkin tiga orang tadi tidak tahu betapa mengerikannya Tuan Eliot. Hii." Selena bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan laki-laki seperti Eliot justru membuatnya harus berhadapan dengan banyak gadis yang tergila-gila padanya.
"Tuan Eliot sebagai bos atau majikan kita memang terkadang menyeramkan. Tapi, selama ini dia baik kepada orang yang bekerja di bawahnya. Aku sih paham. Kalau memang ada gadis pelayan yang diam-diam menaruh hati pada Tuan Eliot. Sebagai laki-laki, dia memiliki wajah tampan. Apalagi kekayaannya. Hanya saja, baru kali ini mereka secara terang-terangan menyerang rival." Anita berpikir keras. Ini merupakan kejadian yang baru pertama kali terjadi. Kepala Anita mengangguk.
Tampan. Tiba-tiba Selena teringat kejadian di mana kebakaran club malam itu terjadi. Selena pikir, dia akan mati terpanggang. Tapi, samar-samar dia mendengar suara Eliot yang terus mencoba untuk menyadarkannya.
Suara bariton yang seksi di tengah kepanikannya. Bukankah itu sesuatu yang langka? Eliot, laki-laki yang dingin itu panik ketika Selena tidak sadarkan diri.
"Apakah Tuan Eliot memiliki perasaan kepadaku?" tanya Selena dalam hati.
Buru-buru Selena menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bagaimana mungkin dirinya memiliki pemikiran seperti itu? Selena mencoba untuk mengenyahkan pikirannya terhadap pesona Eliot. Bahkan Selena memukul kepalanya sendiri.
"Selena, apa yang kau lakukan?" Suara yang baru saja menjadi fantasi di otak Selena itu kembali terdengar.
"Astaga! Pikiranku benar-benar buruk!" Selena lagi-lagi memukul kepalanya sendiri. Sampai pada akhirnya sebuah tangan menahan Selena. Tentu saja Selena terkejut.
"Kenapa kau melakukan hal yang aneh? Kau itu baru saja lolos dari mati! Mengapa kau malah memukul kepalamu sendiri? Kalau kau ingin mati, jangan di sini! Aku tidak akan sudi menolongmu!" Eliot melepaskan tangan Selena dengan kasar.
Spontan, Selena mundur ke belakang dua langkah. Gadis itu diam mematung. Di sisi lain, Anita tidak mampu berbuat apapun. Seumur hidupnya bekerja di sini, Anita tidak pernah melihat Eliot bersikap lembut maupun khawatir kepada orang lain.
Anita berpikir ia sedang bermimpi. Gadis itu menepuk pelan pipinya. Terasa sakit. Itu artinya Anita tidak bermimpi. Gadis itu reflek menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia mulai sadar atas sikap Bibi Greta yang tadi sempat membela Selena.
"Pantas saja para pelayan lain sangat membenci Selena. Rupanya memang Selena memiliki kedekatan dengan Tuan Eliot. Astaga! Kenapa aku selama ini tidak sadar?" Anita membatin dalam hati. Mendadak gadis itu gelisah.
"Em anu. Tadi saya melamun. Padahal pekerjaan saya masih banyak. Jadi, saya berusaha untuk menyadarkan diri saya supaya tidak melamun lagi, Tuan Eliot. Anda baru saja pulang?" Selena memberikan alasan yang cukup meragukan. Segera saja Selena langsung mengubah topik pembicaraan.
Satu jari telunjuk Eliot kini berada di kening Selena. Laki-laki itu mengetuk-ngetukkan jarinya di sana. Lagi, Anita semakin terkejut dibuatnya. Bahkan kedua mata Anita terlihat melotot setelah melihat interaksi antara Eliot dan Selena secara langsung.
"Kau itu selain bodoh, rupanya menyebalkan juga. Padahal aku membayarmu mahal. Tapi, kau di sini malah melamun? Sepertinya aku perlu memberikan hukuman padamu. Lari keliling taman ini. Aku akan mengawasimu sambil duduk di bangku sini. Lari sebanyak 3x. Cepat!" Sikap menyebalkan Eliot kembali membuat Selena terkena apes.
Gadis itu lagi-lagi mendapatkan hukuman dari tindakannya yang tidak jelas. Padahal itu bukan suatu kesalahan yang besar.
"Anda menyuruh saya untuk lari keliling taman ini sebanyak 3x? Apa Anda gila, Tuan? Saya kan tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa Anda malah menghukum saya?" Selena tidak terima.
Hanya melamun sebentar saja dia harus berlari keliling taman sebanyak 3x. Sedangkan taman belakang ini sangat luas. Selena tidak habis pikir dengan tindakan yang diambil oleh Eliot.
"Selena, apa kau lupa siapa bos di rumah ini? Aku! Jadi, kau sebagai orang yang bekerja padaku, bukankah harus mengikuti perintah bosnya? Jangan membuang waktu, Selena. Ayo, cepat lari!" Eliot semakin menegaskan kekuasaan yang ia miliki di rumah ini. Membuat Selena jengkel.
"Tapi, Tuan Eliot…"
"Apa kau mau aku tidak memberikan gajimu hari ini?" ancam Eliot.
"Tunggu, apa? Gaji?" Selena semakin kesal pada Eliot.
"Si*l! Tuan Eliot lagi-lagi mengancamku! Apa-apaan tadi kata Anita dia orang baik. Nyatanya dia ini seperti setan yang bergentayangan! Jahat sekali memberiku hukuman berlari hanya karena aku melamun? Dasar iblis!" maki Selena dalam hati.
"Selena! Cepat lari! Atau kau mau aku menambahkan hukuman?" Ancaman Eliot semakin menjadi-jadi.
"I-iya, Tuan!" Selena pun tak memiliki kesempatan untuk membela diri. Gadis itu mulai berlari mengitari taman. Selena menoleh ke belakang. Terlihat Eliot tersenyum lebar.
"Dasar iblis!" gumam Selena.
Senyuman Eliot menghilang saat ia mendengar makian Selena. "Apa kau bilang? Kalau begitu lari 5x mengelilingi taman!"
"Apa? Kenapa kau menambah hukumanku?" kesal Selena.
"Ya tentu saja karena aku iblis!"