Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 29



Selena memasuki kamarnya dengan wajah yang lelah. Tubuhnya hampir remuk. Ia sudah mandi dan baru kembali dari makan malam yang terlambat.


Selena pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu menatap langit-langit kamar. Selena terdiam beberapa waktu. Entah apa yang sedang dia pikirkan akan tetapi Selena sangat tidak nyaman.


"Kenapa aku menjadi seperti ini?" Selena merasa bahwa ia memiliki firasat aneh. Gadis itu berpikir keras karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan seperti ini.


"Tidak akan ada yang menggangguku lagi ketika aku berada di rumah Tuan Eliot. Benar. Di sini Tuan Eliot memiliki banyak penjaga di rumahnya. Lalu apa yang aku takutkan?" Selena menggumam lirih.


Benar. Selena tidak boleh takut. Walaupun gadis itu merasa terbebani dengan rasa tidak nyamannya, ia akhirnya memilih untuk mengabaikannya. Selena pun kini bersiap pergi tidur.


Keesokan harinya, sebuah alarm pengingat menyentak Selena dari tidurnya. Sontak saja Selena langsung terduduk ketika ia mendengar suara alarm pengingat itu.


"Argh! Alarm pengingat sialan! Seharusnya aku tidak membuat alarm ini. Berisik sekali, eh?" Kedua mata Selena membulat saat ia sadar kalau hari ini merupakan waktu ia mencicil utang ayahnya.


Belum sempat Selena berpikir jernih, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Namun, Selena semakin kalut ketika para rentenir itu bahkan mengetahui nomor handphonenya.


"Dari mana para rentenir ini tahu keberadaanku? Orang-orang yang sudah berkorban untuk melindungi diriku nyatanya semua sudah pergi. Hanya diriku seorang di tempat ini. Aku harus bagaimana? Apa aku laporkan saja ke polisi?" Selena membatin dalam hati. Selena bingung harus bagaimana. Sebab Selena juga sudah pernah meminta keringanan.


"Tunggu dulu. Apa yang akan aku lakukan? Sudah jam segini seharusnya aku segera mandi dan bekerja. Lalu bagaimana aku harus meminta ijin supaya bisa keluar dari rumah ini? Tuan Eliot pasti tidak akan memberikan izin dengan mudah kepadaku. Walaupun aku memaksa. Hasilnya pun akan tetap sama." Selena sambil bermonolog itupun berbicara dengan melalui telepati.


Selang sekitar 45 menit Selena sudah keluar dari kamar. Wanita itu segera bergabung dengan teman-temannya. Walaupun banyak pelayan yang tidak menyukai Selena, untungnya Selena kebal terhadap intimidasi orang lain.


"Hari ini aku akan pulang terlambat. Kau ikutlah dengan Bibi Greta pergi ke supermarket. Kau harus bisa tampil berani. Ah, tidak. Kau mau memakai apapun pasti tetap cantik." Eliot sudah bersiap hendak berangkat bekerja.


Nyut!


Jantung Selena berdetak tak karuan ketika Eliot terus memberikan perhatiannya kepada Selena. Wanita itu terdiam untuk beberapa waktu.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau malah bengong? Ikuti aku." Bibi Greta menatap Selena sekilas sebelum melangkah.


Bibi Greta mengambil sesuatu dari laci sebelum berdiri di depan Selena. "Selena ini daftar belanjaan yang akan kita beli. Nanti bantu aku memilihnya." Bibi Greta memberikan sebuah list belanjaan kepada Selena. Wanita itu menerimanya lalu membacanya satu persatu.


"Baik, Bi." Dia melirik tas belanjaan yang di genggam Bibi Greta. "Biar aku bawakan keranjangnya," pinta Selena.


"Bukan seperti itu, Bi. Hari ini firasatku tidak enak." Selena menahan langkahnya.


"Karena Tuan Eliot memujimu?" ledek Bibi Greta.


Selena mengernyitkan dahi. "Memujiku?"


"Ayo masuk. Kita sudah kesiangan." Kali ini Bibi Greta memaksa Selena masuk. Selena sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelahnya mobil melaju cukup kencang. Hingga tanpa disadari, mobil sudah memasuki halaman parkir sebuah gedung mewah. Selena sempat bingung karena tadinya dia pikir mereka akan pergi ke sebuah supermarket.


"Dimana ini Bi?"


"Supermarket," sahutnya santai.


"Supermarket?" Selena menahan langkah kakinya lalu memperhatikan gedung berbentuk seperti apartemen itu sekali lagi.


"Ini memang gedung apartemen Selena. Di sebelah sana supermarketnya," ucap Bibi Greta yang mengerti akan kebingungan Selena.


"Oh," sahut Selena seperti orang bego. Wanita itu berjalan sambil memuji kemewahan gedung apartemen yang kini ia lewati.


"Akhirnya sampai juga di sini! Ayo, Selena." Bibi Greta pun berjalan mendahului Selena. Wanita berusia paruh baya itu sangat senang karena keluar dari rumah.


Akan tetapi, ketika Selena hendak masuk ke dalam supermarket dan mengikuti Bibi Greta, gadis itu kembali dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang preman.


"Bi-bi Greta, a-aku ketinggalan!" Selena membeku di tempatnya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang sangat ia benci di masa lalu.


"Halo Nona Manis! Kenapa kau terkejut dengan kehadiran kami?"


"Padahal kami semua menunggu kedatanganmu lo. Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan uangnya?"


"Ya Tuhan! Bagaimana bisa mereka tahu keberadaanku? Sedangkan aku masih belum memiliki uang banyak. Bagaimana ini?" Selena membatin takut-takut. Para rentenir yang ditakuti Selena, kini ada di hadapan Selena. Gadis itu merasa akan terancam.