
"Selama kau masih tinggal di kota ini, maka kau tidak akan pernah bisa bersembunyi!" ucap salah satu rentenir.
"Saya tidak pernah memiliki niat untuk kabur dari anda. Saya sedang bekerja untuk mengumpulkan uang agar bisa membayar utang orang tua saya. Bisakah kalian memberi saya waktu lagi. Saya janji akan segera melunasinya." Selena berusaha untuk bernegosiasi. Wanita itu ingin mengulur waktu berharap Bibi Greta muncul untuk menyelamatkannya.
"Apa kau pikir Kami masih bisa mempercayai semua perkataanmu. Kau ini gadis kecil yang sangat pintar bersilat lidah. Terakhir kali kita bertemu kau juga mengatakan kalimat yang sama kepada kami. Kau menghilang tanpa kabar. Sedikitpun kau tidak mencicilnya sama sekali. Apa sekarang kami masih bisa mempercayai perkataanmu?" Rentenir itu menatap sinis ke arah Selena. Mereka geram karena Selena tidak kunjung melunasi utang yang ada.
"Tuan, tapi untuk saat ini saya tidak memiliki uang 30 juta." Selena segera mengambil dompet dari dalam tas yang ia bawa lalu menyerahkan uang beberapa juta yang ia miliki. "Saya harap uang ini bisa menjadi DP untuk hutang kedua orang tua saya." Selena segera memberikan uang itu kepada rentenir. Pria itu menerima sejumlah uang yang diberikan oleh Selena dan menghitungnya dengan begitu teliti. Ada seulas senyum di bibir rentenir itu meskipun uang yang dibayar Selena belum cukup melunasi utangnya.
"Sayangnya kau harus melunasi semua hutang orang tuamu hari ini juga. Kau sudah terlalu lama mengulur waktu Selena. Jika kau tidak mampu membayarnya." Salah satu dari rentenir itu berjalan mendekati Selena dan memegang tangannya agar Selena tidak kabur lagi. "Kau harus bekerja untuk kami! Hasilkan uang yang banyak!" Rentenir itu menatap mesum ke arah tubuh Selena.
"Tuan, bagaimana saya bisa bekerja dengan anda sementara saat ini saya bekerja dengan seseorang. Saya janji akan membayar utang kedua orang tua saya. Saya tidak akan kabur dan bersembunyi. Tetapi saya sedang mengumpulkan uang itu." Selena berusaha untuk berontak. "Anda bisa lihat sendiri. Sekarang saya sudah memiliki uang meskipun tidak banyak."
Rentenir itu sudah tidak mau bernegosiasi lagi. Dia memandang keadaan sekitar sebelum memberi perintah kepada anak buahnya sendiri. "Bawa wanita ini pergi. Semua orang akan memperhatikan kita."
"Baik, Tuan."
"Jangan!" teriak Selena. "Tolong lepaskan saya."
Selena di tarik secara paksa menuju ke parkiran mobil. Wanita itu tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari pria yang memegang tangannya.
"Bagaimana ini? Aku tidak mau sampai di tangkap oleh rentenir ini. Dengar-dengar dia akan menjual wanita yang memiliki utang padanya kepada pria hidung belang. Aku tidak mau nasipku sampai seperti itu," gumam Selena di dalam hati.
Ketika Selena ingin dimasukkan ke dalam mobil, tiba-tiba saja Zack muncul. Tanpa bertanya lagi, pria itu segera menarik Selena dan menghajar satu persatu rentenir yang ingin membawa Selena pergi.
Selena menutup mulutnya dengan tangan melihat Zack memukul satu persatu rentenir itu. Dia justru khawatir karena takut terjadi sesuatu kepada rentenir itu dan akan membuat Zack masuk ke dalam penjara.
"Tuan, berhenti. Jangan pukul mereka lagi," teriak Selena.
Selena berlari mendekati Zack dan memegang tangan pria itu. Dia menatapnya dengan wajah takut.
"Tuan, berhentilah. Anda bisa masuk penjara jika terus memukul mereka."
Zack menatap ke arah Selena sebelum melepas pria yang ada di hadapannya. "Pergi Kalian atau aku akan menghajar kalian lebih parah lagi!" ancam Zack.
Para rentenir itu segera masuk ke dalam mobil untuk kabur. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ada pria hebat yang akan melindungi Selena siang itu.
Setelah mobil yang ditumpangi oleh para rentenir menjauh dan menghilang dari hadapannya, Selena segera terduduk di lantai. Wanita itu benar-benar merasa kelelahan karena tadi energinya terkuras habis ketika para rentenir itu ingin membawanya ke dalam mobil.
"Kenapa kau duduk di situ? Apakah kau baik-baik saja?" Zack segera berjongkok lalu menatap wajah Selena. "Siapa mereka? Kenapa mereka memperlakukanmu seperti tadi?"
"Ceritanya panjang Tuan. Saya tidak bisa menceritakannya saat ini," tolak Selena dengan napas yang belum normal.
"Saya memiliki banyak waktu untuk mendengarkannya."
Selena menatap ke arah Zack sebelum menunduk lagi. Dia memiliki utang budi terhadap Zack. Rasanya dia tidak enak jika harus meninggalkan Zack begitu saja tanpa menceritakan masalah yang sebenarnya terjadi.
Tidak jauh dari posisi Selena dan Zack berada, Tante Greta berdiri dengan wajah bingung. Wanita paruh baya itu bahkan memilih bersembunyi agar Selena tidak mengetahui keberadaannya.
"Itu Tuan Zack? Ada hubungan apa Selena dengan Tuan Zack? Kenapa mereka bertemu di sini? Apa mereka sudah janjian?" Tante Greta memandang ke arah lain. "Bukankah Selena dekat dengan Tuan Eliot? Ternyata dia tidak sepolos yang aku pikirkan. Dia hanya wanita matre yang suka sekali menggoda pria kaya. Aku harus foto mereka berdua dan laporkan masalah ini kepada Tuan Eliot." Tante Greta segera mengambil ponselnya lalu memotret Selena dan Zack yang terlihat berduaan. Lalu dia segera mengirim foto itu kepada Eliot.
"Sekarang aku hanya tinggal menunggu keputusan dari Tuan Eliot."