
Selena berdiri di sebuah lapangan luas yang sangat dingin. Wanita itu bingung karena tempat dia kini berada sangat asing. Sebelumnya dia belum pernah datang ke tempat itu. Tidak ada satu manusiapun dia temui.
Tempat itu memang sangat indah. Padang rumput yang hijau dan taman bunga yang indah. Seperti negeri dongeng yang selama ini diimpikan oleh Selena. Namun entah kenapa Selena merasa takut karena dia hanya sendirian di sana.
"Eliot, kau dimana?"
Selena mencari keberadaan Eliot. Pria itu seharusnya ada di sana untuk mendampinginya. Tetapi kini Selena tidak bisa menemukan keberadaan pria tersebut.
"Selena!"
Selena memutar tubuhnya ke belakang. Dia melihat kedua orang tua kandungnya berdiri di sana. Mereka tiba-tiba saja muncul. Padahal sebelumnya Selena yakin 100% kalau tidak ada seorangpun di sana.
"Mama … Papa …."
Air mata Selena berlinang. Wanita itu sangat merindukan kedua orang tuanya. Ia tidak mau mengulur waktu terlalu lama. Selena segera berlari untuk memeluk dua orang yang sangat ia sayangi itu.
"Kenapa kalian meninggalkan Selena? Hidup Selena menjadi sulit sejak di tinggal sendiri. Keluarga kita tidak ada yang peduli. Bahkan Selena tidak tahu sekarang mereka ada dimana. Rentenir itu terus mengejar Selena. Mereka sering sekali mengancam Selena."
Selena melampiaskan rasa lelah yang selama ini dia rasakan. Sudah lama dia tidak curhat ke orang tuanya dengan cara seperti ini.
"Selena, tapi semua sudah berhasil kau lalui. Sekarang hidupmu bahagia bukan?"
Selena mengernyitkan dahinya. Ia kembali mengingat kehidupannya yang sekarang. Eliot sangat mencintainya dan mereka akan segera menikah.
Setelah menikah Selena akan menjadi ratu di rumah itu. Tidak akan ada lagi penderitaan yang ia temui. Wanita itu memandang kedua orang tuanya lalu mengangguk.
"Namanya Eliot. Dia pria yang baik. Dia sangat mencintaiku. Begitupun denganku," jelas Selena.
"Tolong restui hubungan kami."
"Selena, kami akan tenang sekarang. Kau sudah berhasil mendapatkan buah dari kesabaranmu selama ini."
Selena melamun sejenak sampai ia tidak sadar kalau kedua orang tuanya sudah menghilang. Wanita itu mencari kemana-mana. Dia kembali sedih. Selena belum puas. Rasa rindunya belum habis. Selena ingin lebih lama lagi mengobrol dengan kedua orang tuanya.
"Selena."
"Eliot?" Selena kenal betul siapa pemilik suara itu. Dia mencari ke segala arah agar bisa menemukannya.
"Selena …."
"Selena!"
Selena terbangun dari tidurnya ketika Anita menepuk pipinya dengan pelan. Malam ini memang Selena meminta Anita untuk menemaninya tidur. Wanita itu sama sekali tidak menyangka kalau Selena akan mengigau ketika tidur dan menangis.
"Anita, aku dimana?" Selena segera terduduk dengan wajah bingung.
"Selena, apa kau mimpi buruk?" Anita mengambil air minum di atas nakas lalu memberikannya kepada Selena. Selena tidak langsung menjawab pertanyaan Anita. Wanita itu meneguk air minum tersebut sampai habis sebelum meletakkan gelas kosong kembali ke atas nakas.
"Anita, aku baru saja bertemu kedua orang tuaku. Aku sangat senang bisa melihat mereka baik-baik saja. Sudah lama aku tidak bermimpi tentang mereka. Biasanya mereka datang di dalam mimpiku ketika aku sakit saja."
"Pasti mereka datang ke dalam mimpimu karena ingin mengucapkan selamat. Selena, bukankah sebentar lagi kau dan Tuan Eliot akan bertunangan lalu menentukan tanggal pernikahan. Sepertinya mereka ikut senang dengan kebahagiaanmu," jawab Anita sambil tersenyum.
Selena memandang Anita sebelum tersenyum bahagia. "Anita, maafkan aku sebelumnya. Tetapi, bukankah kita ini sahabat. Anita, selama ini kau tidak pernah membahas tentang keluargamu. Apa mereka tidak merindukanmu? Apa mereka masih ada?"
Wajah Anita berubah berseri. Dia mengangguk lalu memegang tangan Selena.
"Ya, mereka masih hidup. Mereka tinggal di luar negeri. Selena, sebenarnya aku terdampar di kota ini. Aku tidak bisa kembali lagi ke negaraku karena faktor ekonomi. Aku sudah menabung selama bertahun-tahun. Tetapi jumlahnya masih belum cukup untuk aku pulang ke negaraku. Lagian kalau aku pulang, aku belum tentu menemukan pekerjaan yang seenak sekarang. Selena, sebenarnya aku ini bingung. Tapi jika aku tidak pulang, aku tidak tahu bagaimana kabar kedua orang tuaku. Ya, memang di telepon mereka selalu bilang baik-baik saja. Tapi rasanya ada yang kurang jika tidak bertemu langsung," jelas Anita dengan mata berkaca-kaca.
Selena tahu bagaimana rasa rindu yang kini dirasakan oleh sahabatnya itu. Dia segera memeluk Anita untuk membuatnya tetap kuat.
"Anita, aku yakin. Suatu saat nanti kau pasti bisa pulang ke negaramu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu. Kau juga masih bisa bekerja di rumah ini. Aku doakan agar hari itu segera tiba. Sekarang jangan sedih lagi." Selena menepuk punggung Anita dengan lembut sambil memejamkan mata.
"Seharusnya aku yang menguatkanmu. Kenapa sekarang posisinya jadi terbalik?" sahut Anita masih di dalam pelukan Selena.
"Kita harus saling menguatkan. Itu intinya," sahut Selena lagi. Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan dan memutar memori saat masih kecil dulu. Sungguh indah. Baik Anita dan Selena kini tersenyum tanpa mengatakan satu katapun.
Hari pertunangan tiba. Selena berada di sebuah kamar yang besar dengan banyak orang. Di mana orang-orang itu sedang merias Selena sejak pagi. Anita yang tahu kalau Selena sangat gugup pun terus mendampingi Selena.
Bahkan kini tangan Selena mencari-cari tangan Anita. Melihat tangan Selena yang meraba-raba, Anita pun menempelkan tangannya.
"Tanganmu dingin, Selena. Apa kau ingin makan sesuatu? Katakan saja, maka aku akan mengambilkanmu," kata Anita.
"Ah tidak. Kau sudah menjejali mulutku dengan banyak makanan sejak pagi. Belum lagi Joanne cerewet sekali. Mentang-mentang dia sudah tunangan lebih dulu. Jadi sok-sok an memberikan aku banyak makanan. Kalian berdua sengaja membuatku gendut?" Selena memprotes. Karena Anita dan Joanne sangat cerewet sejak semalam.
"Nona Joanne begitu karena dia menyayangimu, Selena. Kau harus senang karena ada banyak orang yang sayang padamu." Anita memberikan nasihat. Ia tersenyum karena akhirnya Selena akan bertunangan dengan Eliot.
"Aku tahu, Anita. Ya Tuhan, aku gugup sekali!" Selena meremas tangan Anita. Membuat Anita meringis kesakitan.
"Kenapa kalian banyak bicara? Ayo, Selena. Acara sudah dimulai." Joanne tiba-tiba datang memasuki kamar Selena. Bertepatan dengan Selena yang sudah selesai dirias.
"Iya, Jo." Selena berdiri.
Kini Joanne dan Anita yang mendampingi Selena. Dua gadis itu nyatanya bisa akrab meskipun awalnya mereka selalu bertengkar karena memiliki perbedaan dalam berpikir.
"Tarik napas dalam-dalam. Dan kemudian hembuskan perlahan, Selena. Tenanglah. Ada aku yang akan mengawasimu. Supaya tidak membuat malu Eliot dan aku! Ayo!" Joanne berceloteh. Ia mengingatkan Selena bahwa Joanne akan mengawasi Selena.
Meski jantung Selena terus berdegup kencang. Selena dan Eliot kini sudah berada di atas panggung yang sudah disediakan. Setelah memotong kue, Selena dan Eliot pun saling bertukar cincin berlian yang sudah Eliot siapkan.
Acara demi acara pun dilewati dengan lancar. Tidak ada halangan apapun. Selena dan Eliot terus menerima tamu yang memberikan selamat pada mereka berdua.
"Ini seperti mimpi. Si*l kau, Eliot! Kenapa kau mendapatkan Selena?" gerutu Kay.
Kay dan Zack juga datang di acara tunangan Eliot. Kini mereka berdua sedang mengucapkan selamat untuk Eliot. Namun, sepertinya sangat sulit bagi Kay melupakan rasa cintanya pada Selena.
"Kenapa kau terlihat dendam begitu? Kau seharusnya dapat menerima semua ini dengan lapang dada. Ikhlas melepaskan rasa cintamu itu akan membuatmu tenang, Kay. Ngomong-ngomong sebentar lagi aku akan menikah dengan Selena. Tenang saja aku akan mengundangmu nanti." Eliot malah menggoda Kay yang mengerucutkan bibirnya. Kay masih saja kesal pada Eliot yang terus menyombongkan kemenangannya mendapatkan Selena.
"Aku senang sekali. Kalian semua datang ke sini. Rasanya aku sekarang memiliki keluarga. Terima kasih, Tuan Kay. Terima kasih Tuan Zack. Dan juga terima kasih atas hadiahnya. Tapi, bukankah ini terlalu berlebihan? Kalung berlian dan gelang berlian ini rasanya sangat tidak cocok denganku." Selena memperlihatkan hadiah dari Kay dan Zack yang berupa berlian. Gadis itu merasa tidak enak hati.
"Jangan dilepas, Selena! Itu sangat cocok denganmu! Kau semakin menyilaukan. Dengan kulitmu yang putih itu. Kenapa kau malah ingin melepasnya? Padahal ada banyak wanita yang sangat suka diberikan hadiah seperti itu," kata Kay.
"Benar. Kau sangat cantik saat menggunakannya. Banyak orang di luar sana yang juga menginginkannya. Lain kali minta sama suamimu. Supaya membelikan berlian yang banyak. Uangnya jangan hanya ditimbun terus!" Zack kembali memberikan satu cincin untuk Selena.
"Hei! Mengapa kau memberikan cincin untuk Selena?" protes Eliot.
"Hanya sebagai tanda persahabatan saja! Mengapa kau sangat cemburu? Kami ini kan berteman. Kau sangat over protektif begitu, Eliot!" balas Zack.
"Eh, iya benar. Aku dan Zack berteman. Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali kalau aku dan Zack berteman?" Selena mengerucutkan bibirnya. Ia kesal pada Eliot.
"Baiklah. Karena sudah memasuki acara inti, ayo, Sayang." Tiba-tiba Eliot membawa pergi Selena.
Kini Eliot dan Selena berdansa di tengah-tengah aula gedung. Sepasang kekasih itu berdansa dengan romantis dan mengabaikan orang-orang yang menatap mereka dengan tajam.
"Aduh!" Tak diduga Eliot mengaduh kesakitan di tengah-tengah dansa. Ternyata Selena tidak sengaja menginjak kaki Eliot.
"Eh? Maaf! Maafkan aku, Eliot. Aku sudah bilang kan kalau aku ini tidak bisa berdansa. Tapi kau malah memaksaku!" Selena berusaha melepaskan tangan Eliot.
"Jangan dilepas! Musiknya saja sudah romantis begini. Kok malah disia-siakan?" Eliot kembali mengajak Selena berdansa. Namun, lagi-lagi mata Eliot melotot sempurna. Karena memang kakinya terinjak lagi.
"Hehe. Maaf. Kau sudah memaksaku. Jadi kau harus bertanggung jawab, Eliot. Kalau aku terus menginjak kakimu, bukankah kau harus menahannya? Tapi, kalau kau kesakitan, kau boleh menghentikan musiknya dan kita juga berhenti berdansa, Eliot." Selena mengerlingkan matanya. Ia sebenarnya tidak enak hati karena terus menginjak kaki Eliot.
"Tidak! Kau pikir aku akan menyerah? Kau jangan dengan sengaja menginjak kakiku ya!" Eliot menggeram tiba-tiba. Ternyata belum ada satu menit Selena menginjak kaki Eliot.
"Ingat, kau harus menahannya!" Selena mengingatkan Eliot.
"Aku ini laki-laki. Tentu masalah begini saja mudah untukku, Selena!" Eliot berteriak ketika kakinya terkena sepatu high hells Selena yang runcing. Napas Eliot tersendat-sendat.
"Selena, sepertinya kau ingin aku mati!" Eliot marah karena Selena terus menginjak kakinya. Tentunya Selena memang sengaja untuk bagian yang terakhir itu. Sebab, Selena tersenyum riang setelah berhasil menginjak kaki Eliot dengan sengaja.
Akan tetapi kali ini malah Selena yang terkejut. Karena Eliot mencium bibir Selena. Di tengah-tengah aula dan keramaian itu mereka berdua saling bercumbu mesra. Semua orang bersorak riang. Benar-benar dunia milik berdua untuk Eliot dan Selena.