
Selena menghela napas. Ia masih mengeluarkan buku-buku itu dari rak kayu. Ini sudah pukul 1 pagi dan Selena masih berada di ruangan Eliot.
"Hei! Kenapa kau lelet? Kubilang turunkan semua buku-buku itu! Bukankah aku sudah memberimu tugas-tugas? Mengapa kau malah banyak membuang waktu seperti itu?" Suara Eliot membuat Selena terkesiap.
"I-iya, Tuan. Maafkan saya. Saya sedikit haus!" Selena berteriak dari atas tangga alumunium itu.
"Beraninya kau berteriak padaku? Turun kau! Kenapa kau berteriak padaku ha? Seharusnya kau sadar diri, Berto! Kalau kau haus ya minum! Memangnya siapa yang melarang untukmu minum? Jika kau mati yang mendapat masalah juga aku, Berto!" Kini Eliot di bawah juga tak kalah berteriak.
"Rasakan kau! Beraninya kau galak padaku! Sekarang, sampai besok pun pekerjaanmu itu juga tidak akan selesai! Yah, tergantung bagaimana suasana hatiku. Kalau aku masih kesal padamu, siap-siap saja besok aku akan memberimu pekerjaan lebih banyak lagi!" batin Eliot dalam hati.
Selena kembali fokus pada buku-buku itu. Ia harus bertekad supaya pekerjaannya itu sudah selesai. Sebab Eliot juga meminta Selena untuk mengelompokkannya pada jenis-jenis buku yang ada di perpustakaan kecilnya itu.
Setelah semua buku sudah Selena turunkan, Selena pun turun perlahan dari tangga. Kemudian ia menurunkan tas besar yang Selena gunakan untuk menyimpan buku-buku itu. Tidak mungkin Selena harus menjatuhkan setiap buku-buku milik Eliot.
"Duh, pundakku sakit sekali. Yah, mau bagaimana lagi. Buku-buku ini sangat banyak dan tebal," lirih Selena.
"Apa kau sedang mengumpatku, Berto?" sentak Eliot.
Selena terkejut. Rupanya Eliot masih bisa mendengarkan suara Selena. Gadis jtu tersenyum ketika Eliot memicingkan mata.
"Tidak, Tuan. Mana saya berani kepada Anda? Anda kan yang sudah memberikan saya kehidupan!" Selena mengukir senyuman cerah. Jantungnya berdebar cepat. Selena takut, Eliot akan semakin berulah.
"Kerjakan pekerjaanmu. Kenapa kau malah senyum-senyum seperti orang gila?" Eliot lagi-lagi membuat Selena jengkel.
Meski begitu, Selena tidak membalas. Gadis itu memilih segera bekerja kembali. Dari kejauhan, tanpa Selena sadari, Eliot masih terus menatapnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Eliot. Namun, tampak laki-laki itu memiliki pemikiran yang rumit.
"Berto, apa kau punya pacar?" Tiba-tiba Eliot bertanya sesuatu yang membuat Selena terkejut bukan main.
Gadis yang sedang minum air mineral itu secara spontan menyemburkan minumannya. Membuat Eliot berteriak memanggil nama Berto. Laki-laki itu mengusap wajahnya yang basah.
"Ya Tuhan! Apakah kau pembawa si*l? Kau! Kau! Argh! Berto! Cepat pel lantai yang menjijikkan ini!" Eliot berteriak lagi. Laki-laki itu mengatur napasnya.
Wajah Eliot tampak memerah. Mungkin itu salah satu efek dari kemarahannya. Semalam suntuk Selena terus mendengarkan suara Eliot yang berat dan menggelegar itu.
Mendengar amukan Eliot, Selena buru-buru pergi ke bagian kebersihan. Selena ingin sekali memukul sesuatu. Sebab gadis itu harus turun ke lantai 1 untuk mengambil pel dan membersihkan ruangan Eliot.
"Ya Tuhan! Anak itu mau kemana? Aku menyuruhnya mengambil pel. Kenapa dia keluar dari ruangan ini? Padahal alat pel yang canggih ada di sini." Eliot memutar tubuhnya. Benar saja. Barang elektronik yang canggih itu memang bisa meringankan dirinya membersihkan lantai.
"Jangan-jangan dia mengambil kain pel-pelan yang ada di ruang kebersihan? Astaga! Dia memang bodoh! Mengapa dia tidak bertanya dulu?" Eliot menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia akan menunggu Selena di sana.
Di sisi lain, Selena mengerjapkan mata dengan cepat. Sungguh ia lelah dan sangat mengantuk. Mungkin karena Selena turun dan naik tangga alumunium itu. Sehingga membuat Selena kelelahan.
"Berto? kenapa kau membawa kain pel-pelan itu?" Kay tak sengaja berpapasan dengan Selena.
"Wajahmu pucat. Apa kau sakit?" tanya Kay dengan nada suara yang khawatir.
"Tidak, Tuan Kay. Saya tidak sakit. Hanya saja saya sedang lelah. Maafkan saya, Tuan Kay. Saya permisi sebentar." Selena buru-buru keluar dari lift.
"Tunggu. Kalau kau sedang sakit pulang saja. Eliot pasti akan mengerti," kata Kay.
Selena menyeringai. Padahal Eliot yang sudah membuat Selena kelelahan. Mengapa Kay malah justru akan meminta izin kepada Eliot hanya untuk dirinya? Selena tidak mengerti. Mengapa Eliot bisa sangat menyebalkan hari ini.
"Hei! Kau baik-baik saja?" tanya Kay.
Kini tidak ada lagi yang diharapkan oleh Selena. Gadis itu tersenyum sendu. Kemudian ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kay berdiri di depan pintu gerbang.
"Maafkan saya, Tuan Eliot. Saya baru datang," kata Selena.
"Kau benar-benar bodoh, Berto. Ada alat yang canggih mengapa kau malah memilih untuk menggunakan kain pel-pelan seperti itu?" Eliot tersenyum kecut.
Ia terlihat meremehkan Selena. Jari telunjuk tangan Eliot menunjuk pada alat pel yang canggih itu. Membuat Selena melebarkan kaget.
"Ya Tuhan! Padahal Tuan Eliot sendiri yang menyuruhku untuk mengambil alat pel! Kenapa Tuan Eliot malah terus mengatakan saya bodoh? Saya bahkan turun ke lantai satu hanya untuk mengambil alat ini!" Selena akhirnya tak mampu lagi menahan kekesalannya.
Mendengarkan keluhan dari Selena, Eliot terkejut bukan main. Kedua mata Eliot melotot. Suara Selena ketika berteriak kali ini melengking dan meninggi.
"Berto, apa kau tidak sadar kalau suara teriakanmu itu seperti kuntilanak? Padahal kau itu laki-laki! Tunggu. Bukan itu seharusnya. Hei, Berto! Kenapa kau malah berteriak padaku ha?" Eliot kembali membentak Selena.
"Iya! Saya membentak Anda, Tuan Eliot yang terhormat! Kenapa? Apa Anda tidak terima?" balas Selena.
"Si*l! Hei! Kau kira di sini siapa bosnya? Aku! Aku bosnya, Berto! Ingatlah aku bos di tempat ini! Salah ataupun benar, aku akan tetap benar!" Eliot tidak mau mengalah.
Tanpa mereka berdua sadari, Kay membuka pintu ruangan Eliot. Laki-laki itu berjalan pelan memasuki ruangan Eliot. Kay melongo. Ia tidak pernah melihat Eliot sampai semarah ini.
Kay juga tidak menyangka kalau gadis yang bekerja di bawah kungkungan Eliot itu memiliki nyali membentak Eliot. Di mana Eliot sendiri memiliki watak yang keras kepala.
"Ya, Anda benar! Anda bos di sini tapi Anda harus ingat bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban! Saya pun juga memiliki hak yang sama dengan Anda! Kenapa sejak saya masuk ke dalam ruangan ini Anda terus memanggil saya si bodoh? Padahal Anda sendiri yang bodoh karena tidak jelas memberikan perintah!" Selena pun tak kalah mengeratkan lehernya. Kay bisa melihat otot-otot leher Selena.
"Ap-apa kau bilang? Kau berani mengatakan aku bodoh dan tidak jelas? Berto!" Eliot pun tak tinggal diam. Kini laki-laki itu hendak mendekati Selena.
"Tunggu! Tunggu! Ada apa ini sobat? Kenapa kalian berdua bertengkar?" Kay berusaha untuk melerai.
"Diam!" Eliot dan Selena pun saling membentak Kay bebarengan. Membuat Kay terjingkat kaget.