Boss, I Love You

Boss, I Love You
The End



Sontak aja Selena dengan cepat membuka penutup matanya. Wanita itu pun perlahan membuka kedua matanya. Sebuah pemandangan yang indah cukup memanjakan mata.


Selena yang terkejut itu spontan langsung menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya. Saat ini mereka berdua tengah berada di satu tempat yang terlihat nyaman dan sejuk.


Sebuah rumah yang bercat putih lebih sederhana daripada mansion tempat tinggalnya bersama Eliot. Apalagi di sekitarnya ditumbuhi dengan banyak jenis sayur-sayuran. Ini merupakan villa milik Elliot.


"Kau pernah bilang kalau pernah memiliki tempat seperti ini di kampung. Apakah tempat seperti ini yang kau inginkan? Aku baru saja membelinya satu minggu yang lalu. Kau tahu saat aku sangat sibuk untuk mengurus pertunangan Kita? Sebenarnya aku juga memikirkan tempat untuk bulan madu kita. Apa kau menyukai tempat ini? Hanya dua lantai. Lalu ada juga danau buatan seperti yang kau inginkan. Mau lihat?" Eliot menawarkan Selena untuk melihat danau buatannya.


"Kau juga membuat sebuah danau buatan seperti yang kau inginkan. Mau lihat?" Eliot menawarkan Selena untuk melihat Danau buatannya.


"Kau juga membuat sebuah danau?" Kedua mata Selena melebar. Wanita itu sangat terkejut karena Eliot membuat danau.


"Danau buatan itu sudah biasa. Aku sangat terburu-buru mengerjakannya. Jadi banyak dari orang-orang yang bekerja untuk menyelesaikannya. Bagiku tidak masalah membayar mereka mahal. Lagipula hanya satu minggu lamanya. Ayo. Aku akan memperlihatkan Hadiah itu untukmu." Eliot yang sangat tahu dan paham bagaimana karakteristik dari Selena itu sudah berpikir panjang untuk memilih hadiah pernikahannya dengan Selena.


Selena merupakan wanita sederhana yang menyukai alam. Selena tidak begitu menyukai kemewahan. Elliot pikir bahwa kemewahan tidak begitu berarti bagi Selena. Namun lihatlah kondisi saat ini. Selena justru sangat senang dan bahagia saat Elliot membuatkan danau buatan untuk Selena.


"Jadi ini danau buatan?" Selena tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Wanita itu langsung berjongkok dan menyentuh air di dalam danau.


"Aku tidak percaya kalau ini danau buatan. Bahkan sudah ada ikannya? Bagaimana bisa kau mempersiapkan Ini semua hanya dalam satu minggu? Luar biasa! Eliot. Aku menyukai ini!" Selena tidak henti-hentinya bersyukur karena memiliki kesempatan untuk melihat semua itu.


"Tempat ini sudah ku ubah atas namamu. Jadi ke depannya kau harus bekerja keras untuk menjaga tempat ini," ucap Eliot.


"Apa katamu? Tempat ini sudah berubah atas Namaku?" Selena tidak percaya Karena Eliot mengatakan bahwa tempat itu sudah beratas namakan dirinya. Apakah itu maksudnya merupakan dokumen surat tanah dan kepemilikan tempat ini? Selena benar-benar bingung dan terkejut.


"Benar. Karena teman-temanku sudah memberikan banyak perhiasan untukmu jadi kupikir menghadiahkan sesuatu yang akan selalu kau ingat. Aku senang karena kau menyukai tempat ini." Eliot tersenyum kepada Selena yang saat ini tengah ragu padanya. Hal itu seketika membuat Selena terharu.


"Padahal tanpa kau memberikan hadiah sekalipun aku sudah tenang." Selena memeluk Eliot untuk meluapkan kebahagiaannya.


"Aku senang jika kau menerima pemberianku," balas Eliot.


"Aku punya ide. Kalau begitu apa boleh kita menikah di sini?" tanya Selena.


"Tidak bisa. aku sudah membooking hotel. Lebih baik Villa ini kita gunakan untuk berbulan madu saja."


***


Hari pernikahan pun tiba. Selena sudah sejak pagi buta dirias oleh MUA ternama di kota itu. Sedangkan Eliot juga sibuk setengah mati. Lagi-lagi Selena gugup bukan main. Kali ini Selena bahkan terlihat gemetar. Joanne yang ada di ruangan itu pun melihat bagaimana Selena ketakutan.


"Haduh! Dasar bocah itu. Yang tunangan duluan itu aku. Kenapa malah kalian yang nikah duluan? Argh! Bikin kesal sekali." Joanne mengeluh dengan nada suara yang keras.


"Hei, Anita. Kau mau jomblo sampai kapan?" Kali ini Joanne mengganggu Anita yang duduk tepat di depan Selena.


"Hah? Sa-saya? Anu, saya kan masih muda. Karena saya anak pertama jadi saya masih harus bekerja dulu, Nona Jo," jawab Anita.


"Cepat cari laki-laki yang baik. Kau harus menemukan laki-laki yang bisa menghormatimu. Bertemulah dengan laki-laki sabar dan tidak tempramen seperti Eliot!" pesan Joanne.


"Eliot tidak tempramen, Kak Jo. Eliot laki-laki yang baik. Kalau tidak baik bagaimana bisa aku menikah dengannya?" Selena mengerucutkan bibirnya maju ke depan.


"Syukurlah. Dia sudah membaik," batin Joanne.


"Nona Jo, acaranya sudah dimulai. Pengantin wanita waktunya keluar." Seorang penjaga memberitahukan pada Joanne.


"Baik. Ayo, kau boleh mencubitku kalau gugup." Joanne memberikan tangannya pada Selena. Tentu saja Selena terkekeh pelan.


"Terima kasih, Kak Jo. Kau sudah membuatku tenang."


***


"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus." Eliot telah menyelesaikan janji pernikahannya. Kemudian di susul oleh Selena.


Tepuk tangan oleh para undangan pun terdengar menggema ke setiap sudut ruangan. Bahkan para penjaga dan pelayan yang berada di luar pun ikut bersorak ketika Selena dan Eliot telah resmi sebagai sepasang suami istri.


"Cium."


"Cium."


"Cium."


"Selena, ingatlah bahwa mulai detik ini kau adalah istriku." Eliot mencium bibir Selena dengan lembut dan dalam.


"Yey!"


"Hore!"


"Selamat menempuh hidup baru!"


"Selena, Eliot. Aku turut berbahagia untuk kalian berdua," gumam Kay dalam hati. Kemudian Kay menghilang begitu saja dibalik ramainya tamu undangan.