
Eliot menerawang. Pikirannya tertuju pada Selena. Kini pesawat pribadinya sudah berangkat. Para pasukannya pun akan berangkat dengan pesawat lain. Tidak mungkin membawa pasukan dalam jumlah besar dalam satu pesawat.
"Selena, aku akan kembali." Eliot menggumam pelan. Ia berjanji akan kembali pulang dengan selamat.
"Tuan, apa yang Anda pikirkan?" Joanne yang ada di samping Eliot menegur Eliot saat laki-laki itu tengah melamun.
"Bukan apa-apa. Joanne. Aku membutuhkanmu untuk mengarahkan semua pasukan. Mereka harus paham area mana yang aman untuk menyerang. Kuharap, kau dapat melakukannya dengan baik." Eliot mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Joanne membahas perihal Selena.
"Saya sudah mengikuti Anda selama bertahun-tahun. Saya yakin Anda tahu bagaimana kinerja saya bukan? Tapi, sepertinya sejauh ini Anda banyak berubah," ucap Joanne.
"Pada akhirnya kau membahasnya juga ya," balas Eliot.
"Hmm. Mohon kerjasamanya, Tuan. Saya harap Anda bisa fokus pada perang kali ini. Tetapi jika anda kurang yakin, kita masih memiliki waktu untuk mundur," ujar Joanne menawarkan.
"Tidak! Kita harus segera menyelesaikannya!" sahut Eliot cepat. "Aku ingin istirahat."
"Baiklah, Tuan." Joanne tersenyum tipis. Selebihnya keduanya hanya terdiam dan kembali fokus pada pikirannya masing-masing. Eliotpun mulai memejamkan matanya dan berusaha istirahat. Dia juga harus mengumpulkan banyak energi malam ini.
...***...
"Persiapan amunisi kita lumayan bagus, Tuan. Selebihnya kami bergantung pada Anda, Nona Joanne." Salah seorang pasukan berusia 40 tahunan itu menyeringai. Tatapan matanya tertuju pada Joanne.
"Serahkan saja padaku. Bukankah kau seharusnya kembali ke posisimu?" Joanne menatap nyalang pada lawan bicaranya.
Tak lama setelahnya laki-laki itu pergi meninggalkan Eliot dan Joanne. Namun, fokus Joanne menjadi buyar ketika Eliot juga bersiap.
"Anda akan memimpin pasukan ini sendiri?" tanya Joanne tidak percaya.
"Ya," jawab Eliot.
"Bukankah Marthin sudah mengambil posisi utama, Tuan?" Joanne tidak habis pikir mengapa Eliot akan terjun langsung ke medan perang.
"Ini dendam lama. Aku harus mengakhiri ini semua atau aku yang mati." Eliot tetap bersiap. Ia tidak mendengarkan omelan Joanne yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Tapi, Tuan-"
"Aku tahu kau akan mengomel. Tapi, kalau aku tidak menyelesaikan dendam lama ini kemungkinan aku yang akan kehilangan orang terkasih. Aku tidak ingin berada di posisi itu. Kuharap kau bisa fokus pada jalan yang harus kutempuh. Marthin akan mengandalkan yang lainnya," jelas Eliot lagi. Bahkan dia tidak memberikan kesempatan kepada Joanne untuk menjelaskan.
Joanne tidak berbicara lagi. Mengingat Eliot sudah memberikan keputusan. Keduanya pun terdiam. Sampai akhirnya pesawat sudah sampai tujuan. Eliot dan Joanne keluar dari pesawat. Tampak seorang laki-laki muda menyambut kedatangan Eliot dan Joanne.
"Selamat datang, Tuan. Kami sampai terlebih dahulu atas perintah Nona Joanne. Sisanya, pasukan Anda yang sedang dalam perjalan." Laki-laki muda itu membungkukkan badannya. Ia menyambut kedatangan Eliot dan Joanne.
"Terima kasih, Marthin. Nanti aku akan memberikan arahan selanjutnya. Kau harus segera menyusul setelah memastikan semua pasukan sudah berkumpul. Jangan kecewakan aku," tukas Joanne.
"Baik, Nona Jo." Marthin menyahut sambil membungkukkan setengah badannya lagi.
Eliot sama sekali tidak mengucapkan kata apapun. Sebab Joanne yang mengambil alih sebagian kekuatan Eliot. Sedangkan sebagian lagi ada Marthin yang juga memiliki kekuatan. Eliot tidak pernah salah menilai berlian di depan mata.
"Kita langsung menuju ke tempat yang aman," titah Eliot.
"Anda tidak istirahat di hotel?" tanya Joanne.
"Aku sudah bersiap seperti ini. Apa kau pikir kita memiliki banyak waktu? Sebelum dia menyerangku, maka aku harus melumpuhkannya terlebih dahulu. Jadi, langsung ke perkemahan," tandas Eliot.
Tepat saat jam sudah menunjukkan pukul satu siang Eliot sudah berada di perkemahan. Laki-laki itu mulai menyusun rencana bersama dengan antek-anteknya. Bahkan sampai akhirnya malam tiba mereka baru selesai berdiskusi. Rencana benar-benar matang kali ini. Eliot yakin dia akan menang.
Eliot sudah memiliki beberapa anak buah yang Eliot tempatkan pada posisi penyerang. Elliot sangat menantikan perang kali ini. Atau lebih tepatnya ini merupakan serangan mendadak yang dilakukan oleh Eliot. Terlebih saat ini waktu tengah malam. Tentunya penjagaan musuh sedikit longgar.
"Semuanya sudah berada di posisi masing-masing, Tuan Eliot. Apakah Anda ingin langsung menyerang sekarang?" tanya Marthin.
Eliot menatap Joanne yang sudah selesai dengan tugasnya. Wanita itu lalu menerbangkan segerombol robot berbentuk lebah. Eliot tahu itu. Dialah yang mendesain semua senjata pasukannya.
"Ini hadiah yang luar biasa, Tuan. Nilai karya Anda sangat luar biasa. Nah, Marthin. Sekarang perhatikan layar monitor dengan seksama dan teliti. Ingatlah setiap area yang sedang lengah, Marthin." Joanne mulai memberikan arahan.
Eliot masih diam saja sembari memikirkan Selena. Entah kenapa di situasi genting seperti ini dia masih saja memikirkan Selena.
Para pasukan sudah bersiap di tempatnya. Pun juga dengan Eliot. Laki-laki itu mulai menyokong senjatanya. Beberapa alat peledak juga berada di balik jas anti peluru miliknya.
Pria itu berdiri di depan sembari memperhatikan markas Jonathan yang terlihat tenang. Ada senyuman tipis di sana sebelum akhirnya Eliot meneriakkan sesuatu.
"Serang!" perintah Eliot.
Joanne mengambil alih kendali. Ia memerintahkan drone diterbangkan terlebih dahulu. Yang mana drone-drone tersebut sudah dilekatkan dengan alat peledak yang sudah diatur waktunya.
Tak berlangsung lama, drone-drone yang masuk ke dalam markas musuh itu meledak. Ledakan demi ledakan mulai terjadi. Suara dentuman yang keras itu nyatanya membuat panik semua orang. Musuh mulai pontang panting melarikan diri.
Suasana malam yang sebelumnya sunyi itu mulai riuh terdengar. Ditambah dengan jeritan pilu dari para manusia yang terluka. Bahkan mansion yang sebelumnya gelap itu kini bersinar. Tentunya disinari oleh cahaya-cahaya dari peledak yang meledak.
"Kejutan, Jonathan!" Eliot sangat puas melihat apa yang terjadi di dalam mansion besar itu.
Laki-laki yang sedang meneropong itu bahkan sampai tertawa sangat keras. Sepertinya Eliot benar-benar puas dengan keadaan markas musuh yang berantakan.
Joanne mulai menggerakkan pasukan penyerang. Pasukan Eliot itu pun berduyun-duyun menyerang pintu gerbang yang sebelumnya sudah porak poranda akibat ledakan.
Setelah para pasukan penyerang turun, Eliot terus mengawasi keadaan sekitar. Jika pasukan musuh mulai lengah, Eliot akan turun. Setidaknya Eliot harus memastikan terlebih dahulu orang-orang yang tak berguna itu tersingkir.
Eliot menatap nyalang lautan darah di depannya. Laki-laki itu memandang datar pada markas musuh yang nyaris rata dengan tanah. Terlebih ada banyak bangunan yang terbakar karena ledakan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Eliot berlari kencang meninggalkan Joanne seorang diri di sana dengan beberapa anak buah Eliot saja. Tentunya mereka yang tinggal di sini memiliki andil untuk mengarahkan pasukan perang agar tidak terlalu banyak memakan korban.
Eliot terus berlari. Di layar monitor tadi dia melihat sosok yang paling ia cari saat ini. Kemudian Joanne memberikan arahan mana jalan yang bisa dilalui tanpa harus khawatir menemukan musuh.
"Tuan, awas di belakang Anda!" Suara Joanne terdengar di earphone yang terpasang di telinga Eliot.
Mendengar suara Joanne, Eliot membalik tubuhnya dan langsung melesatkan satu tembakan. Musuh itu pun ambruk di lantai. Eliot mulai memasang waspada. Sebab di sekitar tempat inilah orang yang sedang diintainya berada.
Eliot pun berlari lagi. Hingga sampai akhirnya Eliot menemukan orang yang sudah menjadi otak dari semua kejadian belakangan ini.
"Jo-na-than! Aku mengutukmu! Aku datang, Jonathan! Mari kita akhiri ini semua, Jonathan!" teriak Eliot.
"Oh, aku sudah menebak apa yang sedang terjadi." Jonathan memberikan seringai menjijikkan untuk Eliot.
Lantas, bagaimana dengan dua orang yang kini sudah bertemu itu? Akankah Eliot dapat memenangkan peperangan ini?