
Selena duduk melamun di depan kolam renang. Lagi-lagi pikirannya dipenuhi dengan nama Eliot. Setelah Leo memberi kabar kalau Kau dan Zack baik-baik saja, Selena merasa lega. Tetapi tetap saja informasi itu tidak bisa membuatnya tenang dan kembali ceria.
Dari kejauhan, Leo meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya. Pria itu baru saja mendapat kabar kalau Eliot sudah dalam perjalanan pulang. Dia juga merasa senang karena mendengar kabar baik itu. Namun sayangnya Leo tidak bisa membagi kabar baik ini kepada Selena karena Eliot melarangnya.
"Seharusnya sekarang Tuan Eliot sudah tiba." Leo melirik jam di pergelangan tangannya. Pria itu mendesah. "Bukankah musuh sudah tewas? Lalu kenapa Tuan Eliot terlambat tiba di rumah?"
Leo memandang ke arah Selena lagi. Ternyata wanita itu sudah beranjak dari posisi duduknya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah. Tentu saja Leo juga harus mengikutinya. Karena memang itulah tugasnya selama ini.
Selena menahan langkah kakinya melihat pintu utama yang tertutup rapat. Dia kembali ingat bagaimana Eliot pulang setiap sore dan malam. Pria itu akan masuk melalui pintu itu dan melangkah dengan wajah sangat. Terlihat dingin dan juga menjengkelkan. Tetapi entah kenapa sikap buruk seperti itu yang sangat dirindukan Selena.
"Tuan, pulanglah. Saya tidak akan pernah mempermasalahkan umpatan yang anda ucapkan untuk saya. Yang penting anda pulang. Anda dalam keadaan sehat. Tuan, pulanglah. Saya ... saya merindukan anda," batin Selena dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba saja buliran air mata jatuh hingga membuat Selena merasa sedih. Dia sudah lelah menangis seperti ini. Selena butuh Eliot. Dia mau Eliot pulang!
Saat ingin melangkah ke kamar, tiba-tiba saja Selena berhenti lagi dan memandang ke pintu. Ketika pintu utama terbuka lebar, Selena mematung dengan wajah kaget.
Eliot berdiri di sana dengan setelan jas hitam favoritnya. Pria itu tadinya ingin melangkah ke kamar untuk bertemu dengan Selena. Tetapi ketika melihat Selena sudah berdiri di hadapannya, Eliot hanya diam saja memandang Selena.
"Tuan? Tuan Eliot? Apa benar ini anda?" tanya Selena tidak percaya. Wanita itu menghapus air matanya lalu berlari kencang.
"Selena berhati-hatilah!" cegah Eliot. Dia tidak mau sampai Selena terjatuh.
Selena menahan langkahnya ketika sudah tiba di dekat Eliot. Dia tersenyum sebelum akhirnya memeluk Eliot dengan erat. "Tuan, terima kasih anda sudah pulang dengan selamat. Saya sangat senang, Tuan."
Eliot mematung. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Selena akan menyambutnya dengan pelukan seperti ini. Padahal tadinya Eliotlah yang ingin memeluk Selena lebih dulu.
"Kau merindukanku Selena?" ledek Eliot.
Selena melebarkan kedua matanya sebelum melepas pelukannya itu. Wanita itu memalingkan wajahnya karena malu. "Tentu saja tidak. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan anda. Saya takut anda di culik," dusta Selena tanpa berani memandang wajah Eliot.
Eliot sedikit membungkukkan tubuhnya lalu mendekati wajah Selena. "Yakin?" tanya Eliot penuh penekanan.
Eliot tersenyum mendengarnya. Mereka saling memandang untuk waktu yang lama.
Saat Eliot dan Selena sedang berbahagia karena pada akhirnya mereka bisa bersama lagi, di waktu yang bersamaan Joanne terlihat uring-uringan di kamar tidurnya. Wanita itu memikirkan Selena. Ya, Selena. Selama bertahun-tahun dia bekerja dengan Eliot, belum pernah pria itu dekat dengan wanita manapun. Bahkan Eliot juga belum pernah memperlakukan wanita sepesial Selena.
"Baru kali ini Tuan Eliot mengatakan kalau aku tidak berguna. Dia bahkan tidak mau aku ikut ke mansion! Biasanya aku sangat bebas keluar masuk mansion. Apa dia takut wanita itu cemburu? Tapi mereka tidak berpacaran. Lalu untuk apa dia harus takut?" Joanne menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Sejak kapan Tuan Eliot takut pada seseorang? Bukankah secara tidak langsung bisa dikatakan kalau Tuan Eliot takut pada wanita itu? Dia takut wanita itu marah!"
Suara ketukan pintu membuat Joanne tersentak kaget. Wanita itu segera beranjak dari sofa dan melangkah ke pintu. Tentu saja seorang Joanne tidak akan langsung membuka pintunya. Dia mengintip terlebih dahulu untuk memastikan kalau bukan musuh yang ada di depan sana.
"Mike? Untuk apa dia datang ke sini?" Joanne segera membuka pintu kamarnya. Dia terlihat jutek menyambut kedatangan Mike siang itu.
"Kau tidak mengizinkanku masuk, Nona Joanne?"
Joanne menghela napas panjang sebelum menyingkir. "Masuklah. Tapi jangan lama-lama karena aku mau tidur siang!" ketus Joanne. Mike hanya mengangguk saja. Dia langsung saja masuk ke dalam ruangan berukuran luas yang menjadi kamar favorit Joanne.
Kamar itu seperti pabrik robot. Ada banyak sekali barang-barang elektronik di dalamnya. Salah sentuh bisa bahaya jadinya.
"Apa kau tidak bosan mengurung diri di kamar ini Nona?"
"Bosan?" Joanne tertawa kecil lalu berjalan mendekati Mike. "Apa aku punya pilihan? Tuan Eliot memintaku untuk selalu berada di ruangan ini. Dia akan marah jika aku pergi tanpa izin."
"Bagaimana kalau Tuan Eliot lupa memberikan anda izin keluar, Nona? Tuan Eliot sedang bersenang-senang dengan wanitanya. Dia tidak akan ingat dengan anda!" ledek Mike dengan senyuman penuh arti.
"Mike, jika kau datang hanya untuk membuat masalah! Pergi dari sini sekarang juga!" Wajah Joanne semakin tidak bersahabat.
Mike menggeleng lalu menatap wajah Joanne. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku butuh bantuanmu, Nona Joanne. Apa kita bisa bicara di luar? Makan siang mungkin," bujuk Mike agar Joanne tidak marah lagi.