
"Ada apa, Tuan?" tanya Selena bingung.
"Apa yang kau lakukan dengan Zack?" balasan Eliot semakin membuat Selena bingung.
"Apa? Sa-saya tidak mengerti apa yang Tuan katakan. Me-memangnya ada apa dengan saya dan Tuan Zack?" Jantung Selena berdegup kencang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Padahal tidak mungkin Eliot tahu pertemuannya dengan Zack.
"Tunggu? Tuan Zack dan aku tidak sengaja bertemu. Apa Tuan Zack memberitahu Tuan Eliot? Ya Tuhan! Terus kenapa Tuan Eliot marah begini? Ini membuatku takut." Selena membatin.
Nyalinya menciut seketika setelah mengetahui Eliot marah karena tahu pertemuannya dengan Zack. Kini Eliot melepaskan cekalan tangannya pada tangan Selena. Laki-laki itu memegang dagu Selena dengan kasar.
"Tu-Tuan! Apa yang Anda lakukan?" tanya Selena.
"Selena, katakan padaku dengan jujur. Apa yang kau lakukan bersama Zack?" Nada suara Eliot menurun. Namun, Eliot malah menundukkan kepalanya.
Situasi ini membuat Selena merinding. Gadis itu selain bingung dengan tingkah Eliot juga takut. Sebab ekspresi Eliot terlihat jelas bahwa ia sangat marah.
"Sa-saya ada perlu dengan Tuan Zack. Hanya sebuah permintaan sedikit." Selena menjawab dengan asal. Ia memaksakan senyuman.
"Permintaan? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Apakah susah mengatakannya padaku? Sehingga kau malah meminta pada Zack yang jelas kau tidak dekat dengannya. Bukankah kita memiliki hubungan dekat, Selena?" Terdengar geraman dari Eliot.
"Eh?" Selena semakin tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya. Otak Selena berpikir keras.
"Hubungan dekat? Ah, kenapa aku tidak sadar? Tuan Eliot selama ini berbuat baik padaku. Memberikan aku tempat tinggal dan pekerjaan. Jadi, aku bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membayar utang pada rentenir. Mengapa aku tidak sadar? Jangan-jangan Tuan Eliot kecewa padaku," batin Selena dalam hati.
Hening menyapa. Eliot dan Selena sama-sama saling terdiam untuk waktu yang lama. Meski begitu Selena memilih tetap mengawasi gerak-gerik Eliot.
Tatapan Eliot terhenti pada bibir merah Selena yang menggoda. Pria itu tergoda. Namun di momen seperti ini jelas saja dia harus memiliki harga diri. Pria itu menghempaskan wajah Selena sebelum memandang ke arah lain.
"Kau benar-benar wanita tidak memiliki perasaan Selena!" umpatnya kesal.
"Pasti Tuan Eliot kecewa padaku. Karena aku memilih minta bantuan Tuan Zack. Sedangkan selama ini Tuan Eliot yang membantuku." Selena menggumam dalam hati.
"Maafkan saya, Tuan. Entah saya boleh minta bantuan pada Anda atau tidak. Hanya saja waktu itu…" Selena memainkan kedua jari telunjuknya. Ia ragu-ragu untuk mengatakannya pada Eliot.
"Kenapa kau tidak minta bantuanku? Bukankah seharusnya kau minta bantuanku, Selena? Kau tinggal di rumah ini. Kita setiap hari bertemu. Lalu mengapa kau malah minta bantuan dari Zack? Apa kau berpikir jika aku tidak bisa membantumu? Argh! Si*l! Ini membuatku seperti orang bodoh," umpat Eliot.
"Ah, tidak! Siapa yang berpikir kalau Anda bodoh, Tuan Eliot? Sa-saya hanya merasa tidak enak karena terus dibantu oleh Anda. Padahal Anda sudah sangat membantu dalam hidup saya. Hanya … saya takut jika Anda marah pada saya. Karena berpikir kalau saya memanfaatkan Anda." Selena menundukkan kepala. Ia menatap rumput di halaman dengan sendu.
Berbeda dengan Eliot yang malah menegakkan kepala. Ia kembali mendekati Selena. Lalu merengkuh kedua pipinya. Sehingga kini mata Selena dan Eliot saling beradu pandang.
"Selena, aku tidak pernah berpikir kalau kau memanfaatkan aku! Apapun jika kau sedang kesusahan aku berharap kau terus mengatakannya padaku. Aku … bukankah kita memiliki hubungan yang baik? Kita dekat walaupun sering bertengkar. Tapi! Apa ini? Perasaan apa ini? Si*l!" Eliot melepaskan tangannya dari wajah Selena. Laki-laki itu lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Otak Selena kembali berpikir keras. Ia mengingat semua bantuan dari Eliot yang memang entah berapa kali. Saat club malam itu kebakaran, Eliot juga menyelamatkan Selena. Walaupun Eliot bersikap keras pada Selena, tapi selalu membantu Selena.
"Tapi, Tuan. Ini perkara uang. Sa-saya membutuhkan uang banyak dalam waktu yang sebentar. Sedangkan saya sudah memiliki utang kepada Anda. Apalagi jumlah uang yang saya butuhkan juga besar. Saya takut kalau Anda berpikir buruk tentang saya." Selena akhirnya berani mengungkapkannya.
Meskipun saat ini ia berbicara dengan kepala yang terus menunduk dalam, tapi setidaknya Selena sudah berhasil mengatakannya pada Eliot. Gadis itu semakin takut saat Eliot menyentuh kedua bahunya.
Eliot menarik kedua tangannya. Ia kemudian menatap Selena dengan tatapan tajam. "Kenapa kau tidak langsung minta bantuanku? Malah minta bantuan orang yang jauh. Dikiranya nanti aku bos jahat yang mengabaikan kesejahteraan pelayannya."
"Ugh!" Selena kembali menundukkan kepala.
"Ya ampun, dia mengerikan," batin Selena.
"Hah! Sekarang katakan padaku. Berapa yang kau butuhkan? Kau tahu aku bosmu. Aku kaya! Banyak uang!" Lagi-lagi Eliot memberikan penekanan kepada Selena.
Tarikan napas Selena perlahan mulai santai. Ia tidak lagi takut dan gugup. Otaknya sudah menemukan jawabannya. Benar kalau selama ini Eliot sangat menyebalkan. Meski begitu, Eliot terus membantu Selena. Sangat tidak pantas jika Selena mengabaikannya.
"Banyak, Tuan. Dua puluh juta. Em. Sebenarnya utang mendiang orang tua saya hanya 10 juta. Entah kenapa menjadi banyak. Dulu sebanyak 30 juta. Tapi saya sudah membayar 10 juta. I-itu banyak, Tuan." Selena bernapas lega setelah dia mengatakannya. Bahkan bisa tersenyum tipis.
"Yang penting aku sudah berkata jujur pada Tuan Eliot. Kalau dia tidak bisa membantuku, tidak masalah." Selena membatin puas. Ia lega karena sudah berkata jujur.
"Oke. Hanya 20 juta. Ikuti aku." Eliot menjawab dengan gampang. Laki-laki itu bahkan sudah melangkah pergi meninggalkan Selena.
"Hah? Apa?" Selena linglung. Ia tidak menyangka kalau Eliot akan langsung memberinya uang.
"Kenapa kau masih berdiri di sana bodoh? Kau tidak mengerti maksud perkataanku? Atau karena banyak utang kau jadi tidak bisa berpikir? Mau uang atau tidak ha?" Suara Eliot melengking. Ternyata jarak Eliot dan Selena sudah lumayan jauh.
"Eh, iya!" Selena berlari. Ia berusaha menyusul Eliot.
Kali ini Selena sangat bersyukur karena Eliot masih berbaik hati bersedia membantunya. Senyum Selena melebar. Ia bahkan sangat lega dan puas karena bisa melunasi utang-utang kedua orang tuanya.
"Benar. Tuan Eliot selalu keras padaku. Tapi mengapa aku tidak pernah menyadari kebaikannya? Sekarang, dia bahkan menyelesaikan masalahku dengan tenang." Batin Selena dalam hati.
"Tuan Eliot, Anda keren sekali! Bisa menyelesaikan masalah saya begitu saja! Beban berat di pundak saya akhirnya terangkat berkatmu. Anda mau saya buatkan makan malam? Saya pandai masak lo!" goda Selena.
"Si*alan! Tidak sudi. Kau pasti akan meracuniku. Tapi kalau berbicara soal keren, ya aku memang keren!" Eliot berjalan lebih cepat. Laki-laki itu merasakan panas di wajahnya. Sepertinya kedua pipinya memerah.
"Dia bilang aku keren." Eliot membatin sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Selena. Kenapa kau baru menyadarinya sekarang? Padahal aku sudah keren sejak dulu," ketus Eliot.
"Hehe." Selena tersenyum.
Hidup memang ada kalanya pasang dan surut bukan? Selena sangat bersyukur bisa bertemu dengan Eliot. Ingatan Selena kembali pada pertemuan pertamanya dengan Eliot.
Kalau saja dulu Selena tidak nekat untuk memasuki gedung club malam Eliot, apakah sekarang Selena akan memiliki kehidupan baik? Tempat tinggal, uang simpanan dan bahkan bisa membayar utang mendiang orang tuanya.
Apakah situasi Selena tidak akan membaik apabila ia tidak bertemu dengan Eliot? Apapun itu, Selena menyukai keadaannya sekarang.
"Tuan Eliot, terima kasih." Senyum Selena yang manis membuat Eliot kembali tenang. Sayangnya keadaan tidak berlangsung lama karena di depan pintu Zack sudah berdiri dengan wajah yang khawatir.
"Selena, apa Eliot melakukan sesuatu padamu?"