Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 23



Sudah satu minggu Selena berada di rumah megah milik Eliot. Tidak terasa Selena mulai terbiasa berhadapan dengan Eliot yang sesekali menyebalkan. Akan tetapi hari ini bertepatan dengan para pelayan yang mendapatkan gaji.


Semua pelayan bersuka cita. Hanya Selena saja yang murung. Telinganya bahkan terasa panas karena banyak pelayan yang terus membicarakan gaji.


"Enak sekali kalau sudah bisa gajian." Selena berbicara dengan salah satu pelayan di sana. Gadis itu bernama Anita.


"Kau juga akan mendapatkan gaji. Entah itu berapa lama kau ada di sini. Tepatnya setelah tanggal 1 maka kita akan mendapatkan gaji. Jadi kau jangan khawatir. Kau akan mendapatkan gaji walaupun tidak sebanyak kami yang bekerja satu bulan lamanya. Bukankah kau harus bersyukur karena masih bisa mendapatkan gaji?" Anita satu-satunya teman baru yang menerima kedatangan Selena.


Anita sudah membuat Selena merasa nyaman. Karena sebelumnya banyak sekali para pelayan yang selalu memusuhi Selena. Anita, satu-satunya pelayan yang menemani Selena ketika senggang.


"Benarkah? Jadi hari ini aku juga akan mendapatkan gaji? Benarkah, Anita? Kau tahu, aku jadi tidak sabar!" Senyuman Selena pun melebar.


Gadis itu menjadi tidak sabar karena akan mendapatkan gaji dari Eliot. Setidaknya kerja kerasnya selama satu minggu ini akan dibayar. Apalagi selama Selena bersama ataupun melayani Eliot, laki-laki itu selalu membuat Selena kesal.


"Selena, apa kau tahu belakangan ini ada rumor yang beredar di rumah ini?" Tiba-tiba saja Anita mengalihkan topik pembicaraan.


Keduanya saat ini sedang menyapu halaman belakang Mansion milik Elliot. Tepatnya taman yang belakangan ini menjadi tempat favorit Selena. Gadis itu akan berada di sana untuk waktu lama. Seolah sedang meresapi keadaannya saat ini.


"Aku selalu bersama dengan Tuan Eliot. Bagaimana bisa aku mendengar rumor yang beredar Anita? Kau sendiri tahu kalau aku selalu terlambat untuk istirahat. Entah hanya perasaanku atau memang Tuan Eliot seperti sedang menguji kesabaranku. Apa dia pikir aku akan segera menyerah dan pergi dari tempat ini? Tentu saja tidak! Aku membutuhkan uang untuk hidup." Selena mengatakan kegundahannya. Akan tetapi Anita justru tertawa mendengar kegelisahan Selena belakangan ini.


"Ada apa denganmu? Mengapa kau tertawa sampai seperti itu?" Selena memicingkan kedua matanya. Ia ingin menyelidiki alasan Anita tertawa.


"Jadi kau beranggapan kalau tuan Elliot selalu mengganggumu?" tanya Anita.


"Tentu saja! Sebagai majikan dia terus saja menggangguku! Kau sendiri juga tahu kalau dia sering memberikan perintah yang tidak berguna. Aku tidak tahu sebenarnya aku sedang bekerja atau bermain." Jawaban Selena lagi-lagi sukses membuat Anita tertawa.


"Itu artinya kau benar-benar tidak tahu rumor yang beredar itu, Selena. Para pelayan mengatakan kalau kau memiliki hubungan spesial dengan Tuan Eliot. Bahkan Bibi Greta juga beranggapan seperti itu." Anita mengungkapkan rumor yang saat ini tengah panas di kalangan para pelayan.


"Apa kau bilang? Aku memiliki hubungan spesial dengan Tuan Eliot? Yang benar saja!itu tidak mungkin, Anita!" Selena segera mengelak tentang rumor yang beredar itu.


Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Gadis itu tidak menyangka jika para pelayan bisa menggosip sampai keterlaluan. Padahal dia sudah mati-matian dikerjain oleh Eliot.


Baru seminggu Selena bekerja di rumah Eliot. Akan tetapi Selena sudah merasa seperti satu bulan lamanya bekerja di sana.


Sebab memang Eliot selalu memberikan pekerjaan yang tidak berguna untuk Selena. Seperti harus merapikan kembali pakaian Elliot yang sudah tertata rapi di dalam lemari.


"Apa kau yakin, Selena? Aku pikir Tuan Eliot sedang mencari perhatian padamu," celetuk Anita.


"Jangan berbicara omong kosong, Anita. Sudah jelas kalau itu merupakan sesuatu yang mustahil. Dia benar-benar sangat menyebalkan. Kalau kau menjadi aku, mungkin kau tidak akan kuat untuk bertahan. Karena dia selalu meminta sesuatu yang aneh. Ah pokoknya jangan! Aku bisa mati berdiri!" Selena menggeliat.


Selena merinding geli karena membayangkan Eliot memiliki perhatian kepadanya. Anita mencebikkan bibir. Bisa-bisanya Selena bersikap aneh.


"Hei! Kalian berdua! Kita sudah gajian! Cepat sana! Bibi Greta sudah membagikan sebagian gaji pelayan!" Suara seorang pelayan terdengar.


Anita dan Selena menoleh. Keduanya kini saling berpandangan dan kemudian bersorak riang. Dua gadis itu berlari dengan penuh semangat.


"Anita!" Bibi Greta memberikan satu amplop tebal untuk Anita.


"Terima kasih, Bi!" Anita berseru riang.


"Eh, kau Selena? Kata Tuan Eliot, dia akan memberimu gaji sendiri. Tadi Tuan Eliot berpesan, kalau kau ingin mengambil gajimu selama 1 minggu ini, kau harus menunggunya pulang kerja." Bibi Greta berbicara dengan nada yang ramah. Bahkan tersenyum. Membuat Selena mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Begitu ya, Bi? Tapi, saya benar akan mendapat gaji? Soalnya kan saya baru bekerja selama satu minggu ini," kata Selena.


"Iya, supaya nantinya kalau pas tanggal 1 semua pelayan dapat gaji, kau juga tidak ketinggalan. Sudah. Sana selesaikan tugasmu tadi. Tuan Eliot sedang keluar." Bibi Greta hendak berdiri. Dengan cepat Selena menahannya.


"Tunggu, Bi. Memangnya Tuan Eliot pergi bekerja? Bukannya club malam waktu itu terbakar?" Selena penasaran. Sebab para pelayan mengatakan kalau Eliot bekerja.


"Bisnisnya bukan club malam saja, Selena. Ada restoran, tempat karaoke. Sudah. Selesaikan tugasmu." Terlihat Bibi Greta terburu-buru. Selena pun tak ingin menahan Bibi Greta lagi.


"Hei, anak baru! Sebenarnya cara apa yang kau pakai untuk mencari perhatian Tuan Eliot?" Sebuah pertanyaan yang cukup menyinggung hati nurani Selena. Tampak salah seorang pelayan datang mendekat.


"Selena, kita sama-sama pelayan di rumah ini. Tapi, kenapa harus kau? Seorang pelayan yang baru saja bekerja di sini?" tuduh pelayan yang lainnya.


"Atau mungkin saja dia memang merayu Tuan Eliot, Leli. Dasar murahan!" Pelayan yang lain pun mendorong tubuh Selena tanpa diduga. Membuat Selena tersungkur di lantai.


"Aduh! Sebenarnya kalian itu kenapa sih?"