Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 37



"Tuan Eliot, kita mau kemana?" Selena bertanya karena bingung. Sebab, Eliot mengajaknya dengan sangat terburu-buru. Di tambah lagi kini Eliot melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Selena menjadi takut. Dia tidak mau sampai celaka.


"Ada kejadian yang tidak pernah aku duga. Kau dimlah. Kau akan mengerti ketika sudah sampai di sana," kata Eliot tanpa mau memandang Selena. Pria itu hanya fokus dengan laju mobilnya saja.


Selena melirik Eliot dengan seksama. Laki-laki itu terlihat serius dan seolah ada kepanikan di matanya. Namun, di saat yang bersamaan Selena juga dapat merasakan kalau Eliot sedang menyembunyikan kemarahannya.


"Kenapa aku merasa Tuan Eliot sedang menyembunyikan sesuatu? Apa Tuan Eliot marah? Ekspresinya…sangat sulit untuk kutebak," batin Selena dalam hati.


Ctak!


Eliot menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Selena. Tentu saja Selena terkesiap kaget melihat tingkah laku Eliot. Pria itu sedang menyetir tapi masih sempat-sempatnya menyiksa Selena.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau terus saja menatap wajahku!" protes Eliot.


"Uh?" Hal itu membuat wajah Selena memerah dalam sekejap. Dia malu. "Tu-tuan! aku tidak memandang anda."


"Kenapa kau bisa sampai terkejut begitu? Kau jangan terlalu banyak melamun, Selena." Eliot memandang Selena lagi sebelum fokus ke depan. Bahkan pria itu harus menurunkan laju mobilnya agar mereka tidak sampai celaka.


Suasana menjadi hening. Baik Selena maupun Eliot tidak ada lagi yang berbicara. Selena sendiri sibuk menetralkan degupan jantungnya. Di sisi lain, Eliot sedang memikirkan apa yang terjadi.


Hingga tidak lama kemudian, mobil Eliot memasuki parkiran rumah sakit. Selena semakin khawatir. Wanita itu memandang Eliot lagi untuk menagih penjelasan.


"Tuan Eliot, kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Selena hati-hati. Dia takut melakukan kesalahan-kesalahan.


"Kay kecelakaan." Eliot menjawab tanpa melihat ke arah Selena.


"Apa?" Selena terkejut bukan main.


"Ayo, kita turun, Selena." Eliot turun terlebih dahulu. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk membantu Selena turun.


"Te-terima kasih, Tuan." Selena mau-tak mau menyambut uluran tangan dari Eliot. Walaupun Selena sendiri malu dibuatnya.


Tak berselang lama, Eliot dan Selena melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Keduanya pun segera mencari kamar di mana Kay mendapatkan perawatan. Langkah Eliot sangat cepat. Pria itu sudah tidak sabar melihat keadaan sahabat terbaiknya.


"Tuan Eliot!" Terdengar seorang laki-laki berteriak memanggil Eliot.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Eliot pun bergegas berjalan menuju ke tempatnya. Selena mengikuti dari belakang. Gadis itu melirik ke arah laki-laki yang memanggil Eliot. Dia mungkin berumur seusia Eliot.


"Mungkinkah dia teman Tuan Eliot?" tanya Selena dalam hati.


"Bagaimana, Mike?" Begitu sampai Eliot bertanya pada laki-laki yang tadi memanggilnya.


"Maaf, Tuan. Bisa kita berbicara sebentar? Berdua saja." Laki-laki bernama Mike itu melirik kepada Selena yang berdiri tepat di samping Eliot.


"Eh? Anu. Kalau begitu saya ke sana sebentar, Tuan Eliot." Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan intimidasi Mike, Selena memilih mengalah. Ia berjalan sedikit menjauh dari tempat Eliot dan Mike.


Selena dari kejauhan dapat melihat tatapan mata Eliot yang sedang mengkhawatirkannya. Lalu Selena tersenyum dan melambaikan tangan sambil tersenyum seolah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


"Katakan, Mike," ucap Eliot.


Tak diduga, Mike membungkukkan setengah badannya. Sepertinya Mike sangat merasa bersalah atas ketidakmampuannya. Eliot terus memandang ke arah Selena. Entah mengapa Eliot takut bila musuhnya bergerak menargetkan Selena.


"Huh, si*l! Bagaimana bisa kalian meloloskan mereka? Dimulai dari kebakaran yang terjadi di club milikku. Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan? Padahal selama beberapa waktu ini tidak ada pekerjaan berat yang aku limpahkan pada kalian.


Apakah kalian semua sudah tidak berguna? Pasukan bayangan sebagian perintahkan untuk berjaga di tempat ini. Lalu sebagian lagi aku ingin mereka menjaga orang yang sangat penting untukku. Nanti aku akan memberikan satu foto. Aku harap kalian bisa menjaganya dengan baik." Eliot mendesah resah. Ia sedikit takut apabila musuh menargetkan Selena.


"Ya Tuhan! Jangan sampai Selena juga terluka karena ego-ku. Aku ingin memiliki gadis itu. Ya, dia adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku." Eliot membatin dalam hati sambil memandang lekat pada Selena.


Pandangan Eliot rupanya membuat Selena tidak nyaman. Entah sudah berapa lama Selena berdiri seorang diri di kejauhan. Gadis itu bahkan terus tersenyum. Sedikit membuat Selena membeku di tempatnya karena Selena takut membuat kesalahan.


"Aduh, kenapa dia menatapku begitu? Rasanya menakutkan sekali. Apa aku membuat kesalahan? Lalu siapa itu, Mike? Kenapa dia membungkuk di depan Tuan Eliot?" Selena bermonolog dalam hati. Ia resah karena melihat tatapan aneh dari Eliot.


Tak lama kemudian Selena melihat Mike pergi meninggalkan Eliot. Mike bahkan melewati Selena begitu saja. Tangan Eliot melambai. Seolah menginginkan Selena mendekatinya. Selena yang peka, gadis itu berjalan mendekati Eliot.


"Sudah berbicaranya, Tuan Eliot?" tanya Selena.


"Dia orangku. Jangan khawatir. Dia sudah membantu Kay saat kecelakaan terjadi. Untungnya saat ini keadaan Kay sudah melewati masa kritisnya. Jadi, kita hanya bisa menunggu Kay bangun. Dia kehilangan banyak darah dengan luka yang cukup parah. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tapi, dia sudah mendapatkan penangan yang paling bagus di sini." Eliot menatap sendu pada pintu ruang perawatan intensif Kay.


"Aku…gagal menjaganya," sesal Eliot dalam hati.


"Kenapa melihatnya sedih aku jadi ikut sedih," batin Selena.


Tiba-tiba saja Selena menggenggam tangan Eliot. Membuat Eliot langsung menatap Selena dengan mata melebar. Namun, Eliot semakin terkejut ketika mendapati Selena tersenyum padanya.


"Anda jangan sedih lagi, Tuan Eliot. Kan Tuan Kay sudah mendapatkan perawatan dari dokter dan sudah melewati masa kritisnya. Bukankah seharusnya Anda bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Tuan Kay bisa sehat lagi?" Selena menghibur Eliot. Membuat Eliot bernapas lega.


"Kau tidak tahu, Selena. Akulah penyebab Kay menjadi seperti ini. Bagaimana aku tidak merasa bersalah? Kau juga akan membenciku ketika kau tahu kalau ini semua disebabkan karena musuhku. Tapi, bisakah aku memberitahumu? Tidak. Kau akan takut hidup bersamaku. Kau bisa pergi dari hidupku kapan saja. Tuhan, bolehkah aku sedikit egois sekali ini saja? Aku ingin, Selena selalu berada di sampingku," gumam Eliot dalam hati.


"Tuan Eliot? Kenapa? Ada apa? Mengapa Anda memandang saya sampai seperti itu? Anda membuat saya malu!" Selena melepaskan tangan Eliot. Gadis itu juga langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Menggemaskan sekali," celetuk Eliot.


"Anda bilang apa, Tuan? Maaf, saya tidak dengar," kata Selena.


"Bukan apa-apa. Hanya saja kenapa aku baru sadar kalau kau sangat jelek hari ini?" ejek Eliot.


"Ap-apa? Dasar jahat! Anda selalu saja mengejek saya! Padahal yang jelek itu Anda! Makanya Anda jomlo sampai sekarang!" balas Selena.


"Hmm."


Eliot tersenyum. Seketika membuat Selena bergidik ngeri. Tidak biasanya Eliot tersenyum sampai seperti itu. Bukankah Selena harus waspada? Sampai pada akhirnya Eliot memiliki keberanian untuk mengajak Selena masuk ke dalam ruangan Kay. Begitu masuk ke dalam dengan pakaian khusus, kedua mata Selena dan Eliot melebar.


"Ya Tuhan! Tuan Kay!" Selena tak mampu menyembunyikan rasa ngerinya begitu melihat keadaan Kay.


"Si*al! Aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah menyentuh keluargaku seenaknya! Lihat saja! Aku akan menghabisi kalian semua!" Eliot menggeram penuh amarah. Sepertinya Eliot sudah mengambil keputusan besar.