
Sepanjang perjalanan melewati koridor rumah sakit, Eliot terus berpikir. Laki-laki itu merasa ada yang mengikutinya. Entah sejak kapan Eliot diikuti oleh orang tidak dikenal. Sungguh berani sekali orang tersebut.
Namun sayangnya, Eliot tidak bisa memainkan senjata apinya. Ada Selena di sana. Dia tidak mau membuat Selena takut. Meskipun sekarang dia sudah sangat geram dan ingin sekali segera memberi pelajaran kepada orang yang sudah mengikutinya sejak tadi.
"Aku harus memberi kabar pada mereka. Setidaknya mereka akan memperkuat keamanan di sekitar mansion. Selena, aku takut. Aku sangat takut bilamana musuh menargetkanmu. Kupikir, aku perlu membentengi mansion dengan pasukan bayangan." Eliot membatin sambil terus berpikir. "Tapi bagaimana kalau mereka memiliki rencana yang lebih licik? Bagaimana kalau mereka berhasil menerobos mansion?" Eliot terus saja membatin bingung sambil berjalan. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau sejak tadi Selena memperhatikan wajahnya.
"Sebenarnya Tuan Eliot kenapa? Dia diam saja sejak tadi. Wajahnya juga terlihat bingung. Apa dia memikirkan Tuan Kay?"
"Pasukan bayangan! Ya, mereka pasti bisa di handalkan," batin Eliot lagi.
Pasukan bayangan yang Eliot maksud adalah anak buah Eliot paling kuat di dalam geng mafia. Di mana pasukan bayangan ini memiliki kecepatan, ketangkasan dan kemampuan yang hebat.
Sedangkan disebut bayangan, karena para pasukan itu seolah-olah menjadi bayangan Eliot. Tujuannya adalah menjaga Eliot supaya tidak diincar oleh geng mafia lainnya. Untuk itulah, Eliot membentuk pasukan bayangannya sendiri.
"Tuan! Tuan Eliot! Tuan!" Selena menggoyangkan lengan Eliot. Seketika membuat Eliot tersentak kaget.
"Anda kenapa melamun? Terus kita mau kemana?" tanya Selena bingung.
"Maafkan aku, Selena. Ngomong-ngomong, memangnya kita kemana lagi? Seharian ini aku ingin bersamamu. Ayo kita pulang ke mansion!" Eliot kembali menarik tangan Selena.
Namun, Selena bisa menyadari bahwa Eliot sedang panik. Sebab Selena merasakan tangan Tuan Eliot begitu dingin. Selena menebak jika Tuan Eliot mulai goyah.
"Ya Tuhan, apapun yang terjadi aku harap Tuan Eliot akan selalu baik-baik saja. Karena ada banyak orang yang pastinya bergantung pada kebaikannya," batin Selena dalam hati.
"Aku akan mengirim pesan pada Tom. Jika aku dapat menghubunginya, aku tidak akan khawatir sampai seperti ini," gumam Eliot dalam hati.
Diam-diam Eliot mengeluarkan handphone dari dalam sakunya. Eliot harus segera memberikan sinyal pada orang-orang yang sudah menjadi kepercayaannya selama bertahun-tahun.
"Tuan Eliot, kita tidak pergi langsung sekarang?" Selena bertanya ketika Eliot terus mengabaikannya. Sebab Eliot lebih memilih untuk memainkan ponselnya sendiri.
"Tunggu sebentar, Selena. Kau jangan khawatir. Kita bisa pulang sambil jalan-jalan sebentar hari ini dengan sedikit berisik. Tapi, aku berjanji bahwa kau akan selamat sampai rumah," kata Eliot.
"Sungguh? Tapi, apa maksud Anda dengan sedikit berisik, Tuan?" tanya Selena tidak percaya.
"Mungkin kita akan mendapatkan tamu tak diundang. Maka dari itu kau jangan pergi dariku ya? Walaupun aku harus menelepon teman-teman yang lain," jawab Eliot.
"Jawabanmu tidak memuaskan, Tuan Eliot. Saya malah semakin bingung." Selena tidak puas dengan jawaban dari Eliot.
Saat Selena terus merengek, Eliot merasakan ada hawa dingin yang terasa tidak enak. Laki-laki itu terus mengedarkan pandangan mencari bayangan hitam yang sejak tadi menguntit.
Hingga Eliot segera menarik tangan Selena dan membawanya pergi. Eliot harus segera membawa Selena untuk masuk ke dalam mobilnya. Sebab bila Selena berada di dalam mobil, maka Selena bisa aman.
"Ada apa, Tuan?" tanya Selena. "Jangan cepat-cepat!"
Eliot tak menjawab. Sampai terdengar suara bunyi tembakan. Selena sontak saja menjerit keras. Gadis itu tidak pernah mendengar suara tembakan. Tubuh Selena gemetar. Eliot langsung memeluk Selena dan satu tangan Eliot mengambil senjata api di dalam saku jasnya. Kali ini dia tidak dihadapkan pilihan lagi Eliot harus bertindak!
Eliot akhirnya mampu melesatkan timah panas itu ke arah musuh. Melihat tindakan Eliot, Selena semakin lemas. Kedua kakinya gemetar tak bisa menopang tubuhnya.
"Ah! Ma-maafkan sa-saya!" Selena meminta maaf ketika tubuhnya tiba-tiba merosot ke lantai. Wanita itu tidak bisa berdiri lagi. Entah kenapa tiba-tiba kakinya terasa lemas. Suara tembakan terdengar sangat menakutkan bagi Selena.
"Si*l!" Eliot mengumpat.
Saat Eliot melihat bayangan hitam itu bergerak menjauh, Eliot segera menggendong Selena untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Untungnya mobil Eliot terparkir tidak jauh dari sana.
"A-Anda membawa pistol?" Selena tergagap karena sangat ketakutan. Gadis itu tidak menyangka kalau Eliot bahkan memiliki pistol!
"Leo, cepat pergi dari sini! Kita harus menyelamatkan diri sampai Tom datang ke sini. Kemungkinan masih perlu waktu supaya Tom dapat mengejar kita. Cepat pergi, Leo!" Eliot berseru nyaring kepada supir di mobilnya. Memang supir itu tiba-tiba datang setelah tahu bahaya mulai mengintai Tuannya.
"Baik, Tuan." Supir Eliot yang bernama Leo itu langsung melajukan mobilnya.
Di saat seperti ini, Selena yang tidak tahu apa-apa itu mencoba memahami keadaan. Matanya menatap lurus ke depan sampai Selena menyadari kalau supir Eliot belum pernah ia temui sebelumnya.
"Tuan Eliot mengganti supir yang biasanya. Sebenarnya ada apa? Rasanya ada yang disembunyikan dari Tuan Eliot. Tapi apa? Mengapa banyak yang janggal? Kebakaran club malam, kecelakaan Tuan Kay dan sekarang ada yang mencoba membunuh Tuan Eliot? Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak mungkin kan jika semua ini merupakan kebetulan?" batin Selena dalam hati.
Kedua tangan Selena memeluk tubuhnya. Selena gemetar ketakutan. Terlebih, Eliot juga dapat menembaknya apabila Selena tidak mengikuti perintah Eliot.
"Kalau aku ingin selamat, mungkin aku harus patuh pada Tuan Eliot." Selena menggumam dalam hati.
Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh. Tak lama kemudian, tiba-tiba mobil berbelok arah. Membuat tubuh Selena oleng. Di saat seperti ini Selena dapat merasakan kalau seseorang sedang memakaikan Selena sabuk pengaman. Selena yang tadinya memejamkan kedua mata itu kemudian membuka mata.
"Tuan Eliot?" panggil Selena.
"Aku bilang kau akan selamat, Selena. Jadi jangan khawatir!" Eliot tersenyum. Ia mencoba menenangkan Selena yang kini berwajah pucat. Bisa dipastikan kalau Selena sangat ketakutan.
"Tuan, ada yang mengejar kita. Apakah itu mobil Tom?" Leo bertanya pada Eliot.
"Tidak ada simbol di mobilnya. Kau tahu kalau mobil orang-orang kepercayaanku memiliki simbol bukan? Bisa lebih cepat lagi, Leo? Aku tidak tahu berapa lama dapat bertahan. Aku sudah lama tidak mengecek peluru yang aku simpan di mobil ini," jelas Eliot.
"Peluru?" Selena membatin.
Kedua mata Selena melebar ketika Eliot mengatakannya dengan santai. Bukankah itu artinya Eliot sudah terbiasa menggunakan peluru maupun senjata apinya? Selena semakin menggigil ketakutan.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Tak disangka mobil oleng berkali-kali. Membuat Selena merinding. Di sampingnya, Eliot kembali menggunakan senjata api yang sebelumnya sudah Eliot pakai untuk menembak.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah, Eliot kembali menembak. Selena memberanikan diri untuk melihatnya. Ternyata ada dua mobil yang berusaha mengejar mobil Eliot. Sesekali orang-orang yang ada di dalam mobil itu menembaki mobil Eliot. Namun, Eliot juga membalas tembakan-tembakan dari para musuh.
"Ya Tuhan, selamatkan aku!" lirih Selena.
"Si*al! Kapan Tom akan datang? Aku bahkan tidak bisa melakukan ini lebih lama lagi! Karena saat aku lengah sedikit saja, kemungkinan kita semua akan celaka! Bagaimana dengan Joanne? Kau bilang setelah kau datang, Joanne akan menyusulmu?" Eliot menggeram.
Walaupun Eliot sudah memprediksi ini akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, tapi Eliot tidak percaya bahwa musuhnya sudah nekat. Bahkan berani muncul di secara terang-terangan.
"Itu artinya mereka sudah tidak bisa menahan lagi. Baik Tom dan Joanne, segeralah datang! Aku membutuhkan kalian untuk menyelesaikan ini dan juga mencari identitas orang yang mencari masalah denganku!" Eliot membatin sambil terus merencanakan sesuatu.
Jika saja Eliot mengetahui siapa yang kini menjadi musuh dan mengincar nyawanya, mungkin saja Eliot dapat memikirkan cara apa untuk menyelesaikannya. Kalau aksi percobaan pembun*han ini memiliki pelaku yang sama antara kasus club malam dan Kay, Eliot tidak akan melepaskan musuh begitu saja.
"Kalau tebakanku benar, dia dalang dari semua masalah ini. Tidak perlu mengulur waktu maka aku akan menyerangnya malam ini juga! Bukankah dia sangat lancang kembali mengusik orang-orang terdekatku?" batin Eliot.
Malam ini amarahnya telah tersulut. Bukankah setidaknya Eliot perlu membalaskan semuanya? Ya, jika Joanne dapat memberikan semua jawaban, malam ini Eliot akan bergerak untuk meratakan musuh menjadi abu!
"Argh!" Selena menjerit. Membuyarkan lamunan Eliot.
"Di depan ada mobil! Apakah kita akan mati, Tuan Eliot?"