Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 44



"Ya Tuhan, perasaanku semakin tidak enak." Selena terus merasa gelisah. Gadis itu tidak bisa tidur karena terus memikirkan Eliot. Suasana rumah juga terasa sangat mencekam. Selena takut sekaligus khawatir. Itulah yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Mungkinkah terjadi sesuatu?" tanya Selena.


Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal Selena tidak menambah suhu AC di kamarnya. Perasaan tidak enak dan tidak nyaman bergelayut di hatinya.


Selena menerawang. Matanya terus menatap langit-langit kamar milik Eliot. Sejak Eliot menghilang, memang Selena berada di kamar Eliot. Sedangkan di luar kamar, ada Leo yang setia berjaga supaya Selena selamat. Ingatan Selena tertuju pada Leo yang sedang berada di luar kamarnya. Entah mengapa Selena semakin berpikir buruk.


"Di luar ada Tuan Leo. Tapi, mengapa dia sampai menjagaku seperti ini? Apa karena sebelumnya ada orang yang ingin melukai Tuan Eliot? Jadi Tuan Eliot menyuruh orang lain untuk menjagaku?" Selena mencoba menebak apa yang terjadi. "Tapi apa hubungannya denganku? Aku tidak melakukan kesalahan. Apa mungkin mereka juga berniat mencelakaiku?"


Sekali lagi Selena merenung dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Eliot yang dikejar orang sampai ditembak, membuat Selena bergidik ngeri. Bisa-bisanya ada orang yang ingin melukai orang lain secara terang-terang.


"Tapi, bagaimana kalau memang seperti itu yang terjadi? Mereka berniat mencelakaiku karena aku bekerja di bawah pimpinan Tuan Eliot?"


Tengah malam itu, Selena terus menebak apa yang terjadi. Sebab, perasaan Selena sedikit aneh. Gelisah dan memiliki pemikiran buruk terhadap Eliot yang tiba-tiba saja menghilang.


Ingatan Selena terlempar kembali pada saat club Eliot yang terbakar. Selena langsung memposisikan dirinya duduk di ranjang. Jika dipikir sekali lagi sepertinya belakangan ini ada banyak hal yang terjadi. Dan itu berhubungan dengan dirinya. Karena dia selalu ada di setiap masalah yang terjadi.


"Club yang terbakar, Tuan Kay yang kecelakaan, dan beberapa waktu lalu ada orang aneh. Yang berusaha melukai Tuan Eliot. Kemudian sekarang Tuan Eliot menghilang. Jangan-jangan Tuan Eliot diculik orang yang berniat jahat kemarin?" Selena langsung turun dari ranjang.


Gadis itu berjalan cepat menuju pintu. Kemudian Selena membuka pintu dan menemukan Leo sedang berjaga sambil duduk di depan pintu. Tubuh Selena mendadak membeku ketika melihat ada senjata api di tangan Leo.


"No-Nona?" Leo terkejut. Mata Leo melebar ketika melihat Selena membuka pintu dengan kasar. Leo pun berdiri. Tidak lupa menyimpan senjata api miliknya.


"Apa yang terjadi, Nona? Kenapa Anda keluar dari kamar?" tanya Leo.


"Aku tidak bisa tidur," jawab Selena sebelum menunduk. Sesekali ia melirik ke pinggang tempat Leo menyimpan senjata apinya.


"Tidak bisa tidur?" tanya Leo bingung. "Tuan Eliot memerintahkanku supaya menjaga Nona Selena dengan aman di kamarnya. Memang kamar Tuan Eliot memiliki keamanan yang jauh lebih baik dari kamar lainnya. Kamar ini terbuat dari lapisan anti peluru. Jadi, tempat ini akan aman. Tapi, mengapa Nona Selena menjadi tidak nyaman?" Leo membatin khawatir.


"Maafkan aku, Tuan Leo. Tapi, aku merasa khawatir pada Tuan Eliot. Maaf. Belakangan ini ada yang aneh. Club Tuan Eliot terbakar. Lalu Tuan Kay yang sebagai sepupu dan sahabat Tuan Eliot tiba-tiba mengalami kecelakaan. Terakhir, Tuan Eliot diserang tiba-tiba oleh banyak orang. Anehnya setelah kejadian-kejadian itu, Tuan Eliot menghilang. Apa kau tahu sesuatu, Tuan Leo?" Selena akhirnya meluapkan semua kekhawatirannya. Gadis itu bahkan tidak berbasa-basi dan langsung bertanya pada Leo.


"Lalu apa Anda khawatir, Nona?" tanya Leo.


"Ya! Aku sangat khawatir dengan apa yang akan dihadapi oleh Tuan Eliot. Aku merasa tidak tenang sekarang, Tuan Leo," jawab Selena.


"Sebenarnya saya juga khawatir. Tapi saya percaya pada Tuan Eliot. Jadi, Anda tenang saja. Tuan Eliot pasti akan kembali dengan selamat!" hibur Leo.


"Kalau begitu, apa Tuan Leo tahu Tuan Eliot pergi kemana?" timpal Selena.


Leo menggelengkan kepala. "Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu apapun."


"Lebih tepatnya belum mendapatkan kabar dari mereka, Nona." Leo membatin dalam hati. Laki-laki itu tidak tega membohongi Selena.


Selena tersentak. Matanya yang menatap Leo dengan sendu itu beralih. Selena menundukkan kepala. Ia sedih karena Selena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


"Nona, ini sudah malam. Sebaiknya Anda segera tidur. Saya akan berusaha keras untuk melindungi Anda. Jadi, Anda jangan khawatir, Nona. Anda bisa beristirahat dengan tenang." Leo berusaha untuk tersenyum. Tapi, kenyataannya adalah wajah Leo terlihat semakin menakutkan.


Selena tidak memiliki pilihan lain selain kembali masuk di kamar Eliot. Gadis itu tidak puas dengan jawaban dari Leo.


"Tuan Eliot, semoga saja Anda bisa selamat. Kumohon, segeralah kembali!" pinta Selena dalam hati.


Namun, Selena tidak mampu mewujudkannya lantaran sebuah surat kabar dan juga berita utama di tv memberitakan sebuah rumah sakit yang terbakar. Perasaan Selena berubah menjadi tidak karuan. Terlebih, ada Kay yang saat ini juga sedang dirawat di rumah sakit.


"Ya Tuhan! Itu rumah sakit di mana Tuan Kay dirawat!" Selena berseru panik.


Tubuhnya bergetar hebat. Tak lama kemudian tubuh Selena melorot ke lantai. Gadis itu menangis tanpa bisa dibendung lagi. Ada banyak korban kebakaran. Selena takut apabila Kay tidak selamat.


"Ya Tuhan! Mengapa semua ini terjadi? Huhu! Kenapa? Tuan Kay yang selalu menghiburku. Dia laki-laki baik. Ya Tuhan." Selena menangis. Firasat buruknya terbukti. Sekarang tidak ada yang tahu bagaimana nasib Kay.


"Seharusnya, ada yang berjaga di sana." Leo membatin sambil matanya terus melihat ke arah tv yang menampilkan berita.


"Selena, bangunlah. Kau bisa masuk angin kalau berada di lantai begini?" Suara Bibi Greta terdengar serak. Wanita berusia paruh baya itu membantu Selena berdiri.


"Tapi, Bi. Saat ini tidak ada yang tahu apakah Tuan Kay selamat dari kebakaran. Bukankah kemarin Tuan Kay baru saja melewati masa kritisnya?" Selena tidak bisa berpikir jernih. Gadis itu menangis pilu meratapi keadaan.


"Nona, tenanglah. Saya akan berusaha mencari tahu apa yang terjadi di rumah sakit itu. Saya sedang menunggu kabar dari teman saya. Semoga saja teman saya bisa menyelamatkan Tuan Kay." Leo berusaha menenangkan Selena.


"Sungguh? Kau jangan berbohong, Tuan Leo. Iya, semoga saja. Tolong katakan padaku kalau kau sudah mendapatkan kabarnya, Tuan Leo." Selena merengek. Ia benar-benar ingin mengetahui keadaan Kay maupun Eliot.


"Ya, Nona. Mohon bersabar."


Di sisi lain, saat semuanya sudah heboh dengan berita mengerikan, seorang pasien tetap tenang tidur di ranjang pesakitannya. Matanya mengerjap berulang kali setelah ia mengamati keadaan di sekitarnya.


"Di mana aku?" tanya Kay.


Mata Kay terus mengawasi ke sekeliling. Sebuah kamar dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Kay tahu kalau ia baru saja mengalami kecelakaan. Hanya saja, Kay merasa saat ini sedang berada di sebuah rumah biasa.


"Ini rumah? Tapi ini bukan kamarku atau kamar Eliot. Eliot? Apa kau mendengarku? Pasienmu ini sudah bangun! Eliot? Kau meninggalkan pasienmu begitu saja? Hei!" Kay terus berteriak. Dia berpikir kalau Eliot ada di sekitar sana dan sedang menjaganya. "Kenapa dia tidak menjawab ku!"


Padahal Kay baru saja bangun dari tidurnya yang panjang. Sampai seseorang masuk ke dalam kamar asing itu. Mata Kay membulat ketika ia tahu kalau laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kamarnya itu membawa sebuah senjata api laras panjang yang terselip di belakang punggung.


"Halo, Tuan Kay. Perkenalkan nama saya adalah Tom. Orang yang akan menjaga Anda. Saya orang dari Tuan Eliot. Jadi, Anda tenang saja. Anda aman berada di sini. Maaf, karena saya harus membawa Anda ke tempat aman. Di sini tidak akan ada orang yang berani mengganggu istirahat Anda." Tom memperkenalkan dirinya.


Ceklek.


Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka. Seorang laki-laki masuk ke dalam kamar asing itu. Mata Kay melebar ketika ia mengenali siapa orang itu.


"Zack? Kenapa kau ada di sini?" tanya Kay bingung.


"Aku? Seharusnya kau jangan tanya padaku. Kita harus tanya pada Tuan Tom yang tiba-tiba saja menemui kita. Bukankah begitu, Tuan Tom? Mengapa Anda nekat untuk menemui kami?" Zack mengintimidasi. Zack membutuhkan jawaban atas semua yang terjadi.


"Jika dipikir sekali lagi memang aneh. Belakangan ini Eliot selalu mendapatkan masalah. Tuan Tom, bisakah kau menjelaskannya kepada kami? Seolah dengan semua kejadian ini Eliot memiliki musuh yang sangat kuat. Apa itu benar?" Kay menimpali.


Sebagai sahabat Kay juga tidak bisa diam saja. Belakangan ini juga Eliot lebih banyak diam ketika Kay dan Zack bersama Eliot. Mata Kay tertuju pada Tom yang tetap berdiri dengan tenang.


"Katakan apa yang terjadi saat ini dan jelaskan mengapa kau sampai membawa senjata api itu?" Kay mendesak. Ia membutuhkan jawaban.


Akankah Tom mengatakan dengan jujur siapa Eliot yang sebenarnya?