Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 53



Keesokan harinya Selena sangat tidak bersemangat. Karena ada wanita lain yang saat ini dekat dengan Eliot. Meski begitu Selena tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Dia tetap bekerja secara profesional meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Mau tidak mau Selena juga harus bangun dari tidurnya dan bersiap untuk bekerja lagi. Begitu selesai bersiap Selena pun keluar dari kamar. Saat Selena berjalan melewati lorong-lorong Mansion Eliot, banyak sekali para pelayan yang menatapnya remeh. Beberapa ada yang berbisik seperti memang sedang menceritai Selena.


Bahkan beberapa di antara mereka malah secara terang-terangan mengejek Selena. Seolah Selena sedang bermimpi untuk mendapatkan cinta Eliot.


"Lihatlah dia. Kasihan sekali. Kekasih Tuan Eliot sudah datang. Tentu saja dia ditendang."


Terdengar tawa dari pelayan itu. Sebenarnya sebelumnya Joanne juga keluar masuk keansion itu. Hanya saja selama ini Joanne menyembunyikan identitasnya. Wanita itu memakai topeng hingga tidak semua orang bisa mengetahui wajah aslinya.


Tapi sekarang justru Joanne muncul dengan gaun seksi yang sangat terbuka. Wanita itu terlihat sangat elegan. Jelas saja semua pelayan di mansion berpikir kalau Joanne adalah kekasih Eliot. Karena memang mereka terlihat seperti sepasang kekasih.


"Tentu saja wanita Tuan Eliot harus berkelas. Selena saja yang tidak sadar diri karena berani bermimpi untuk menjadi kekasih Tuan Eliot." Pelayan lainnya pun ikut menimpali. "MEMALUKAN!"


"Selena! Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan hatimu? Seharusnya kau jangan bermimpi terlalu jauh. Lihat sekarang. Tuan Eliot sekarang membuangmu. Tentu saja kekasihnya sangat menawan sehingga kau seharusnya tidak bermimpi." Terakhir kalinya pelayan itu menimpali kata-kata temannya dan tertawa bersama.


Selena hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Meski begitu Selena juga tidak berminat untuk membalas ejekan pelayan-pelayan lain.


"Benar. Tuan Eliot tidak pernah mengatakan apapun. Sama juga Tuan Eliot tidak pernah berkata dia memiliki kekasih. Kita kan teman. Pasti Tuan Eliot berkata jujur padaku." Selena membatin sendu.


Tiba di dapur Selena ikut membantu Bibi Greta dan pelayan lain. Selena tidak ingin berlarut dalam masalah hatinya. Walaupun hatinya sakit tapi Selena mencoba untuk sadar diri.


"Bibi masak apa? Tuan Eliot bilang akan turun sebentar lagi. Jadi Bibi bisa menghidangkan sarapannya sekarang." Suara Joanne terdengar mengalun merdu seiring wanita itu berjalan memasuki dapur. Selena melebarkan mata ketika mendengarkan suara Joanne.


"Baik, Nona. Selena. Ayo segera siapkan sarapan." Bibi Greta meminta pada Selena dan beberapa pelayan untuk membantunya menyiapkan sarapan.


Pun juga dengan Selena ikut membantu tanpa bersuara apapun. Tak lama kemudian terlihat Eliot masuk ke ruang makan. Tapi Eliot tidak sendiri. Laki-laki itu bersama dengan beberapa anak buahnya yang lain.


Di mana mereka semua yang terluka ikut tinggal sementara di rumah Eliot. Karena Eliot ingin memantau mereka supaya benar-benar sembuh.


"Halo, Nona Selena! Anda mengingat saya?" Leo lagi-lagi menegur Selena yang sedang melamun. Gadis itu langsung tersenyum begitu melihat Leo.


"Tentu saja saya mengingat Anda, Tuan Leo. Bukankah Anda yang selama ini menjaga saya?" Selena tersenyum sambil menunjuk Leo.


Kedekatan Leo dan Selena membuat Eliot tidak senang. Eliot tadinya yang ingin duduk di kursi langsung berdiri lagi. Langsung menarik tangan Selena dan mendudukkan Selena di kursi.


"Duduk di sini! Kau harus ikut makan denganku! Kalau kau tidak ingin dipecat maka turuti keinginanku! Leo! Seharusnya kau tidak mengajaknya bercanda!" Eliot lalu duduk di kursi yang tepat berada di samping Selena.


Aura Eliot yang pagi ini mendadak berubah membuat semua orang terdiam di tempatnya. Joanne yang melihat Eliot perhatian terhadap Selena pun terlihat kesal.


Wanita yang duduk di samping Selena itu menatap tajam Selena. Membuat Selena tidak nyaman berada di sana. Namun Selena juga tidak berani membantah Eliot.


"Tuan Eliot. Bukankah Anda tidak suka dengan nasi goreng?" Joanne lalu mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat.


Setelah itu Joanne memberikannya kepada Eliot. Selena melirik ke arah Eliot yang menerima roti itu. Akan tetapi Eliot tetap mengambil nasi goreng.


"Kau harus makan. Sebelum bekerja setidaknya perutmu harus terisi." Eliot menyuapi Selena dengan nasi goreng.


Tingkah Eliot membuat semua orang terkejut. Begitu pula dengan Joanne. Walaupun Eliot menerima roti itu tapi Eliot tidak memakannya. Malah Eliot makan bersama Selena dalam satu piring.


"Kau coba dulu makanan ini. Kau pasti akan menyukainya Joanne." Di luar dugaan Eliot mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Joanne. Melihat sikap Eliot tersebut akhirnya dapat membuat Joanne tersenyum.


"Terima kasih Eliot." Joanne lupa untuk memanggil Eliot dengan sebutan Tuan. Tapi tampaknya Eliot tidak mempermasalahkannya.


Walaupun Leo dan yang lainnya menatap tidak suka kepada Joanne. Mereka seolah tahu bahwa Joanna sudah melanggar batasan. Mike yang ada di samping Joanne pun membisikkan sesuatu.


"Apa yang sudah kau lakukan?" bisik Mike.


Akan tetapi Joanne tidak menjawab apapun. Wanita itu malah terus menikmati nasi goreng yang diambilkan oleh Eliot. Sama halnya dengan Mike, Leo menendang kaki Joanne di bawah meja. Seolah itu peringatan untuk Joanne agar tidak bertindak sesuka hatinya.


"Tuan Eliot, Leo sangat jahat sekali. Masa dia menendang kakiku!" Joanne tanpa diduga mengadu pada Eliot. Membuat Leo kesal bukan kepalang.


"Leo, ada apa denganmu? Kenapa kau usil sekali? Kau mau kuhukum?" Eliot mengancam Leo.


"Maaf." Leo hanya bisa pasrah dan meminta maaf.


Hening. Tidak ada yang berbicara lagi. Tapi mata Joanne terus melirik tajam pada Selena. Tentu saja Selena merasa tidak nyaman semenjak Joanne duduk di sampingnya.


"Joanne dan Mike hari ini ikut denganku. Aku harus membahas beberapa hal yang penting. Sisanya berada di rumah dan sembuhkan luka kalian." Eliot telah menyelesaikan sarapannya. Ia lalu mengambil tas dan pergi setelah memberikan segelas air minum untuk Selena.


Joanne buru-buru menyelesaikan sarapannya. Ia langsung meninggalkan ruang makan diikuti oleh Mike. Selena kembali murung. Ia merasa tidak nyaman saat Joanne memiliki kedekatan dengan Eliot.


"Tuan Eliot memang baik. Dia baik pada semua orang. Seharusnya aku tidak terlalu membawa perasaan. Mungkin memang benar Nona Joanne kekasih Tuan Eliot. Buktinya Tuan Eliot mengambilkan makanan untuk Nona Joanne. Apa mungkin hanya aku saja yang menyukai Tuan Eliot?" Selena membatin sedih.


Terdengar kursi yang berderit membuat Selena tersadar dari lamunannya. Leo dan yang lainnya pergi meninggalkan meja makan. Melihatnya, Selena menjadi terburu-buru minum air putih dan segera membersihkan meja makan.


"Sudah, Selena. Lebih baik kau menyapu ruang tamu. Biar di sini yang lain mengurusnya." Bibi Greta menahan Selena untuk membersihkan meja makan. Bibi Greta sangat ingat apabila Selena tidak boleh mendapatkan pekerjaan yang terlalu berat.


"Eh, oh. Tidak, Bi. Biarkan aku ikut membantu. Soalnya aku tadi ikut sarapan," tolak Selena.


"Sudah. Pergilah. Pekerjaanmu masih banyak kan? Lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu, Selena." Bibi Greta memberikan perintah pada pelayan yang lain untuk membereskan meja makan.


Mau tak mau Selena pergi melakukan pekerjaan yang lain sesuai perintah Bibi Greta. Anita datang membawa dua sapu. Tentunya satu sapu diberikan pada Selena.


"Kita sapu bagian teras dulu, Selena. Bantu aku. Setelah itu aku akan membantumu," kata Anita.


"Siap!" Selena tidak bisa menolak permintaan Anita. Kini keduanya pun pergi menuju ke teras.


Begitu sampai di teras, Selena membeku di tempatnya. Senyuman dan tawa Selena mendadak hilang ketika Selena melihat Eliot mengusap kepala Joanne dengan lembut.


Raut wajah Selena yang terlihat sedih, membuat Anita bingung. Anita pun menatap ke arah Selena memandang. Di mana Eliot dan Joanne saling bercanda satu sama lainnya.


"Melihat itu, aku seharusnya sadar kalau aku dan Tuan Eliot mustahil menjadi kekasih. Memang benar mereka cocok sekali. Tapi, mengapa aku begini, Anita?" Selena tak dapat membendung air matanya. Gadis itu menangis tanpa suara. Sungguh sakit hati Selena.


"Tenanglah, Selena. Mungkin saja mereka hanya berteman. Kau lihat Tuan Eliot bersama teman-temannya yang lain. Mungkin mereka memang bercanda saja, Selena," hibur Anita.


"Iya aku tahu. Aku hanya tidak mengerti. mengapa di hatiku sangat sakit, Anita? Apa ini yang dinamakan cemburu?"