
Selena menerawang. Ia tidak menemukan jawaban akan kegelisahannya. Leo juga tidak mau jujur tentang keberadaan dan keadaan Eliot.
"Perasaan apa ini sebenarnya?" Selena mengusap dadanya.
Gadis itu menyapu dengan pelan. Seolah Selena tidak bersemangat sama sekali. Ini sudah satu minggu semenjak kepergian Eliot. Pun sama halnya sejak itu pula Selena terus melamun. Anita yang baru datang menghela napas.
"Kenapa kau melamun? Ini sudah waktunya makan siang, Selena." Suara Anita menyentak Selena yang melamun. Anita berjalan mendekati Selena.
"Anita. Sudah waktunya makan siang rupanya ya? Maaf, aku tidak sadar." Selena tersenyum kaku.
Anita tahu kalau belakangan ini Selena sering melamun. Bahkan saat mengerjakan tugas sendiri seperti ini, Selena akan terang-terangan melamun.
"Belum ada kabar dari Tuan Eliot ya?" Anita bertanya tidak basa-basi. Ia tahu kalau Selena sedang mengkhawatirkan Eliot.
Benar saja. Ekspresi Selena berubah sendu. Namun, detik berikutnya Selena tersenyum. Gadis itu menaruh sapu-nya di tanah dan bergelayut di lengan Anita.
"Sudah. Jangan membahas hal yang lain. Sudah waktunya jam makan siang bukan? Kau pasti datang untuk mengajakku makan siang. Ayo, kita makan siang!" Selena mengalihkan topik pembicaraan.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Selena. Aku tahu belakangan ini kau sering melamun. Gosip tentangmu semakin menyebar. Apalagi sekarang di belakangmu ada orang yang menjagamu. Apakah benar, kau ini kekasih Tuan Eliot?" Pertanyaan Anita membuat Selena terdiam.
Kini dua gadis itu saling berpandangan. Selena dibuat salah tingkah dengan penuturan dari Anita. Tidak banyak yang mereka bicarakan belakangan ini. Karena Selena lebih banyak melamun.
"Apa yang kau katakan, Anita? Aku bukan kekasih Tuan Eliot," jawab Selena.
"Bohong. Kau jangan terlalu banyak berbohong, Selena. Bukankah kita teman? Kecuali jika kau tidak menganggapku sebagai temanmu," tegas Anita.
Selena terdiam akan kata-kata Anita. Selama ini Anita tidak pernah banyak bertanya tentang hubungan Selena dan Eliot yang dekat. Namun, kali ini berbeda. Anita tiba-tiba menanyakan hal itu sehingga membuat Selena terkejut.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, Anita. Aku dan Eliot tidak menjalin hubungan seperti yang kau katakan. Kenapa kau berpikir seperti itu? Selama ini Tuan Eliot memang sudah banyak membantuku. Jadi otomatis kami dekat seperti yang kau bilang. Lagipula, tidak mungkin aku dan Tuan Eliot berpacaran," jelas Selena.
"Tapi, kenapa ada orang yang menjagamu? Bukankah kita sama-sama pelayan? Mengapa kau mendapatkan penjagaan sedangkan pelayan lainnya tidak? Kau juga banyak berubah. Belakangan ini kau sering melamun. Semenjak Tuan Eliot tidak ada di mansion ini. Atau jangan-jangan kau mencintai Tuan Eliot?" Pernyataan dari Anita membuat Selena bungkam seketika.
"Ma-mana mungkin, Anita! A-aku tidak mungkin mencintai Tuan Eliot! Kami hanya berteman saja!" elak Selena.
"Bohong!" Anita langsung menjawab tegas. "Kau sangat jelas mengkhawatirkan Tuan Eliot, Selena. Jika bukan kau memiliki perasaan pada Tuan Eliot, lalu apa? Sikapmu belakangan ini dan hubunganmu dengan Tuan Eliot membuatku bingung, Selena. Padahal dulu kau sangat bersemangat sekali saat bekerja," ungkap Anita.
Selena menundukkan kepalanya. Gadis itu seolah ditampar dengan kata-kata Anita. Benar juga. Dia hanya berteman dengan Eliot. Tapi, Selena mendapatkan perhatian berlebihan dari Eliot.
"Aku…tidak tahu bagaimana perasaan ini, Anita. Aku sendiri juga bingung. Tapi, aku benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Tuan Eliot. Kau pasti dengar gosip tentang kejadian di rumah sakit yang terbakar. Aku takut, Anita. Aku takut." Selena menatap Anita dengan mata yang berkaca-kaca.
...***...
"Nona Joanne, Anda jangan menangis lagi. Mike sudah melakukan yang terbaik untuk Tuan Eliot." Marthin mencoba menghibur Joanne yang menangis.
"Bagaimana aku bisa tenang, Marthin! Tuan Eliot sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari! Kau pikir aku bisa tenang? Aku sudah menyarankan kalian supaya membawa Tuan Eliot ke rumah sakit! Tapi kenapa tidak ada yang mendengarkanku?" teriak Joanne.
"Beri-sik!" kesal Eliot.
Eliot membuka kedua matanya secara perlahan. Ia mendengar suara tangisan sesenggukan seseorang. Tubuh Eliot terasa kaku.
"Ya Tuhan! Syukurlah Anda selamat, Tuan Eliot!" Joanne menghapus air matanya lalu berlari menghampiri Eliot. "Sejak kapan anda sadar, Tuan?"
"Sadar? Apa kau pikir aku pingsan?" ketus Eliot. "Aku hanya tidur sebentar saja." Eliot duduk di atas tempat tidur. Dia memperhatikan semua bawahannya yang berkumpul dengan wajah khawatir.
"Tuan, bagaimana keadaan anda sekarang?" tanya Mike dengan wajah sedikit lega. Sebenarnya selama beberapa hari ini pria itu juga tidak tenang. Dia yakin dengan kemampuannya. Namun, siapa yang bisa melawan takdir? Dia takut justru Tuhan sudah memiliki rencana lain untuk Eliot.
"Anda terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya, Tuan. Apa kita pulang hari ini juga?" Marthin memang selalu bersikap seperti itu. Dia paham apa yang dipikirkan Eliot.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita pulang. Aku merindukan Selena," ucap Eliot keceplosan. Pria itu langsung terdiam sejenak. "Sudah berapa lama kita pergi?"
"Satu minggu Tuan," jawab Marthin cepat.
"Apa Selena baik-baik saja? Apa Leo berhasil menjaganya?" batin Eliot. "Lalu bagaimana dengan mansion? Apa aman?"
"Aman, Tuan. Bahkan Tuan Kay dan Tuan Zack juga selamat," jelas Marthin lagi.
Mike dan Joanne memilih menjadi pendengar setia di sana. Mereka tidak mau bicara apapun lagi karena semuanya sudah dijelaskan Marthin dengan begitu rinci.
"Tom memang bisa di handalkan, Tuan. Dia tahu kalau musuh membuat jebakan di rumah sakit itu. Sejam sebelum rumah sakit diledakkan, dia berhasil mengevakuasi Tuan Kay. Meskipun awalnya sulit karena Tuan Zack berusaha menentangnya," jelas Marthin lagi.
Eliot tersebut. Sekarang semua masalah sudah selesai. Jonathan sudah tewas. Selena baik-baik saja. Begitupun dengan Kay dan Zack. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi.
"Oke, kalau begitu ayo kita pulang ke mansion!"
Joanne menunduk sedih. Biasanya Eliot lebih sering bertanya padanya. Namun kali ini Eliot terlihat berbeda. "Kenapa Tuan Eliot berubah? Apa ini karena wanita itu? Namanya Selena? Sepenting apa dia di mata Tuan Eliot?" batin Joanne dengan wajah cemburu.