
"Sumpah, aku hampir mati, Anita." Selena merebahkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan Anita baru saja datang ke kamar Selena. Gadis itu ingin tahu berapa gaji Selena.
"Bagaimana? Apa Tuan Eliot sudah memberikan gajimu?" Anita menodongkan pertanyaan begitu ia sudah duduk di ranjang Selena.
"Jadi, kau datang-datang hanya ingin mendengar berapa gajiku?" ketus Selena.
"Kau menjadi gosip. Teman-teman yang lain mengatakan kau lagi-lagi mencari perhatian Tuan Eliot. Telingaku sangat panas mendengarnya. Jadi, aku ke sini saja," ungkap Anita.
Selena terdiam. Kemudian ia menatap Anita sambil memicingkan mata. Selena ingin mendengar gosip apa yang tersebar di kalangan pelayan.
"Gosip apalagi?" tanya Selena.
"Menurutmu? Asal kau jangan mendengarkan apa yang sedang menjadi bahan gosip pelayan di rumah ini, kau akan hidup tenang. Jangan khawatir. Yang bisa memecatmu hanya Tuan Eliot." Anita mencoba untuk menghibur Selena.
Pasalnya hari ini Selena seperti sedang tertimpa apes. Selain didorong oleh teman sesama pelayan, Selena masih harus dihukum oleh Eliot.
Selena menatap langit-langit kamar. Berpikir keras tentang bagaimana bisa dirinya menjadi topik pembicaraan para pelayan. Padahal tidak ada yang salah dari dirinya.
"Selena, kau belum menjawab pertanyaanku," kata Anita.
"Kau akan tahu nanti. Aku mau tidur dulu. Kakiku rasanya pegal-pegal. Apa kau mau memijit kakiku?" Selena mengubah posisinya menjadi tertelungkup. Ia sangat lelah karena berlari mengitari taman.
"Selena! Aih! Kenapa kau malah tidur? Sia-sia saja aku datang ke sini!"
Hari menjelang pagi. Selena yang tertidur nyenyak itu pun perlahan bangun. Alarm ponselnya sudah menggelegar membangunkannya.
Tentunya ini masih pukul 4 pagi. Sudah menjadi kebiasaan Selena bangun tidur. Semenjak ia menjadi pelayan pribadi di rumah Eliot. Jam tidur Selena sudah berubah normal.
"Waktunya untuk bangun dan bekerja. Ngomong-ngomong, gaji pertamaku." Selena teringat dengan amplop coklat yang diberikan oleh Eliot.
Gadis itu diliputi semangat. Ia pun segera membuka amplop gaji pertamanya. Setelah Selena berdo'a, ia membuka amplop itu dengan tidak sabar.
"Dua juta?" Selena sudah selesai menghitung. Kedua matanya melebar. Kemudian ia menghitung lagi dan benar. Gaji pertamanya selama satu minggu itu berjumlah dua juta.
"Jadi, kalau sebulan aku bekerja dengan Tuan Eliot, aku mendapatkan gaji full 8 juta?" Selena berseru lantang. Ia sangat senang karena gajinya besar. Gadis itu membayangkan ia bisa membayar utang kepada rentenir.
Setelah menyelesaikan aktivitas pribadinya, Selena pun bergegas keluar dari kamarnya. Terlihat Eliot sudah duduk di kursi. Sepertinya Eliot bersiap untuk sarapan.
"Tuan, tumben Anda jam segini sudah bersiap-siap. Apakah ada urusan?" Selena berjalan mendekati Eliot. Ia tidak sadar jika di sana masih ada banyak pelayan yang berdiri sedikit jauh dari meja makan.
"Kau ganti baju dulu, Selena. Aku hari ini akan mengajakmu pergi. Ingat gedung club malam milikku yang terbakar? Pelakunya sudah tertangkap. Sebagai saksi mata, bukankah kau harus ikut?" Eliot memandang ke arah Selena yang berdiri tidak jauh darinya.
"Jadi, pelakunya sudah tertangkap, Tuan? Dua penjaga yang waktu itu? Kalau begitu tunggu saya sebentar, Tuan. Saya ikut dengan Anda. Saya juga ingin membuat perhitungan! Bisa-bisanya mereka memukul saya sampai pingsan!" Selena sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan oleh dua orang penjaga club malam. Jelas Selena mengenal mereka. Lantaran Selena sendiri setiap hari juga berinteraksi dengan mereka.
"Memangnya kau mau apa? Kau dipukul sedikit saja juga sudah pingsan!" ejek Eliot.
"Ya ampun, Tuan. Kan mereka mukul saya dari belakang. Di kepala saya bagian belakang memangnya ada mata?" Selena membalas Eliot.
"Dalam waktu sepuluh menit, kalau kau tidak cepat ganti baju, maka aku akan berangkat sendiri," ancam Eliot.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Selena berlari menuju ke kamarnya. Gadis itu bergerak cepat agar tidak ditinggal oleh Eliot.
Selang 1 jam 15 menit kemudian, Selena dan Eliot sudah sampai di kantor polisi. Lalu mereka berdua berjalan memasuki kantor polisi.
"Eliot!" Seseorang memanggil nama Eliot.
Panggilan itu membuat Eliot dan Selena menoleh secara bersamaan. Kedua mata Selena melebar ketika ia melihat dua laki-laki berjalan mendekat.
"Tuan Kay? Tuan Zack?" Selena menyebut dua nama itu dalam hati.
"Si*l! Kenapa mereka berdua ada di sini? Selena? Brengs*k! Semuanya jadi berantakan!" Eliot membatin dalam hati.
"Kau? Bukankah kau gadis yang waktu itu? Bagaimana bisa kau bersama dengan Eliot?" Zack menunjuk Eliot. Ia juga tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Eliot, bukannya kau tahu kalau dia pernah bersamaku? Lalu mengapa sekarang kau malah bersamanya? Apa kau menyembunyikan dia, Eliot?" Kali ini Kay menginterupsi. Ia menatap penuh amarah pada Eliot.
Hening melenggang. Eliot maupun Selena tidak ada yang berbicara. Dua orang itu sibuk menyiapkan jawabannya. Terlebih Eliot. Jelas-jelas ia sudah berbohong pada Kay dan Zack.
"Eliot, jawab!" Kay membentak Eliot. Kedua matanya memerah menahan amarah.