Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 50



"Bagaimana keadaan rumah, Bibi Greta? Apakah semuanya aman?" Begitu sampai di rumah Eliot langsung bertanya kepada Bibi Greta. Laki-laki itu padahal baru saja duduk di sofa panjang.


"Semuanya aman Tuan. Terlebih Tuan Leo sudah menjaga Selena dengan baik. Sebenarnya saya sedikit bingung waktu itu. Saya takutnya Tuan Leo orang jahat yang ingin melukai Selena. Tapi ternyata Tuan Leo juga tidak bertindak apapun. Jadi saya pikir benar jika Tuan Leo merupakan orang Anda. Sama seperti saya." Bibi Greta menyampaikan bagaimana ia sebelumnya curiga kepada Leo.


Bahkan merasa takut ketika melihat senjata yang di bawa Leo. Di mana Leo yang tiba-tiba datang dan menjaga Selena. Bibi Greta lalu melirik Tuan Eliot. Di saat itulah Eliot memandang ke arah Selena.


Pandangan Bibi Greta lalu mengarah pada Selena. Terlihat kalau Selena sudah bisa tersenyum. Padahal sebelumnya Selena sama sekali tidak tersenyum semenjak kepergian Eliot.


"Baiklah. Bibi Greta. Bisakah kau menyiapkan kamar baru untuk Selena? Setidaknya kamar yang sama besarnya dengan milikku sekarang." Permintaan Eliot seketika membuat Bibi Greta dan juga pelayan lainnya terkejut Bukan main. Mereka semua lalu menatap ke arah Selena yang berdiri diam di tempatnya. Bahkan wanita itu sampai menunduk.


"Melihat reaksi kalian sepertinya kalian ingin dipecat ya?" Ancaman Eliot seketika membuat para pelayan lain menundukkan kepalanya lagi.


Mereka tidak berani melirik ke arah Selena ataupun Eliot. mendengar permintaan Eliot kepada Bibi Greta membuat Selena melenyapkan senyumannya.


"Kamar saya yang sebelumnya juga sudah bagus, Tuan. Jadi saya tidak perlu kamar baru," ucap Selena.


"Apa kau berani mengaturku?" tegas Eliot.


Mata Eliot menatap tajam kepada Selena. Tentu saja Selena takut dengan tatapan tajam itu. Gadis itu menundukkan kepalanya lagi. Ia juga tidak berani membantah kata-kata Eliot.


"Baik, Tuan Eliot. Saya akan segera menyiapkan kamar untuk Selena. Apakah ada lagi yang Anda perlukan Tuan?" Hebatnya Bibi Greta pun bisa menangani keterkejutannya. Wanita berusia paruh baya itu mulai tenang lagi. Walaupun sebelumnya ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Tidak ada. Selebihnya kalian bisa istirahat. Selena dan aku juga sudah makan." Eliot berdiri dari duduknya.


Laki-laki itu kemudian berjalan menuju ke tempat Selena dan menarik tangan Selena. membawa Selena pergi dari ruang tamu. Tentu saja sikap Eliot ini membuat desas-desus semakin menyebar di antara para pelayan.


Dibandingkan itu semua Anita tersenyum lega ketika melihat Selena tersenyum. Bagaimanapun Anita sebelumnya sangat khawatir dengan Selena.


"Syukurlah dia baik-baik saja. Sepertinya memang Tuan Eliot dan Selena saling memiliki rasa. Selena, aku ikut senang denganmu. Setidaknya kau jujur dengan perasaanmu sendiri." Anita membatin senang karena tidak lagi melihat Selena sedih.


"Tuan Eliot. Kita mau ke mana?" Selena bertanya ketika Eliot membawanya pergi. Padahal Selena sedang lelah karena perjalanan tadi.


"Karena aku terluka, setidaknya kau harus mengurusku. Jadi, mulai besok kau harus menjagaku. Ngomong-ngomong besok kau ada acara ke mana?" Eliot sangat paham dengan jadwal Selena.


Besok adalah hari libur Selena walaupun bukan hari Minggu. Sudah lama ia mengamati Selena walaupun terkadang ia kesal karena Selena lebih memilih pergi bersama teman-temannya. Padahal Eliot juga ingin pergi bersama Selena.


"Saya dan Anita ingin pergi ke festival jajanan. Rasanya sudah lama sekali tidak pergi dengannya. Pasti di sana ada banyak jajanan khas kota kita." Selena menjawab dengan ekspresi yang senang. Gadis itu sepertinya sangat menyukai festival Jajanan itu. Membuat Eliot berpikir.


"Kalau kau menyukai jajanan bukankah kita bisa pergi ke restoran?" Eliot heran dengan sikap Selena yang memilih untuk pergi ke festival jajanan. Padahal banyak restoran yang juga menjual banyak makanan yang enak-enak.


Sikap Selena ini seketika membuat Eliot tersenyum. Gadis sederhana itulah yang nyatanya mampu mematahkan sikap dinginnya. Perlahan sikap Eliot memang menghangat.


Jika sebelumnya Eliot pasti akan lebih sering marah ataupun membentak maka saat ini Eliot lebih banyak tersenyum. Seperti saat ini di mana Eliot sedang tersenyum setelah mendengarkan penjelasan dari Selena. Tentu saja hal itu membuat Selena bingung.


"Mengapa Anda tersenyum, Tuan Eliot?" tanya Selena.


"Tidak. Aku senang kau sekarang terlihat lebih nyaman ketika bersamaku. Apakah terjadi sesuatu selama aku tidak ada di mension ini?" Eliot sangat penasaran dengan perubahan mimik wajah Selena.


Jika sebelumnya Selena selalu takut atau marah terhadapnya. Kini Selena malah tersenyum manis untuknya. Bukankah Eliot juga berhak untuk curiga terhadap Selena? Apalagi sekarang Selena lebih banyak tersenyum ketika bersama dirinya.


Meskipun Eliot senang dengan sikap Selena yang lebih lembut dari sebelumnya. Tapi tetap saja Eliot curiga kalau Selena memiliki rencana lain. Termasuk ingin pergi meninggalkannya setelah hari ini pulang dari tempat Kay dirawat.


Terlebih ada Zack yang juga menyukai Selena. Dengan memiliki banyak saingan seperti itu membuat Eliot tidak bisa tenang sebelum dirinya benar-benar mendapatkan Selena.


"Sepertinya aku akan terus dibayangi oleh dua orang itu. Apakah aku harus menyatakan perasaanku kepada Selena terlebih dahulu? Tapi bagaimana kalau Selena tidak suka dengan pernyataan cintaku? Bisa jadi dia pergi ke tempat Kay atau Zack." Eliot membatin bimbang. Kalau Selena pergi setelah ia menyatakan perasaannya.


"Kenapa Anda terdiam seperti itu, Tuan? Saya pikir mungkin karena Anda sudah kembali. Sebelumnya saya sangat gelisah karena tiba-tiba ada orang jahat yang ingin membuat Anda terluka. Tapi di saat saya bingung dan takut Anda malah tidak memberikan kabar apapun ke rumah ini. Jujur saya sangat takut kalau orang-orang itu berhasil melukai Anda. Jadi tidak heran bukan kalau saya senang Anda sudah kembali ke rumah?" Selena tersenyum tipis. Sebenarnya Selena sangat lega karena Eliot sudah kembali ke rumah dengan selamat.


"Selena mengkhawatirkan aku? Luar biasa! Jadi kalau Selena khawatir dan takut aku terluka apakah dia memiliki perasaan padaku? Sungguh! Hatiku sangat senang sekali mendengar dia takut kehilanganku. Kalau begitu apakah ini saatnya bagiku untuk mendekatinya secara terang-terangan?" tanya Eliot dalam hati.


"Tuan Eliot, kenapa diam lagi? Apakah Anda memiliki masalah?" Selena bertanya lagi kepada Eliot karena Eliot sudah lama terdiam.


"Tuan Eliot, saya sudah menyiapkan kamar untuk Selena." Tiba-tiba saja Bibi Greta datang.


Wanita paruh baya itu sedikit bingung dengan keadaan di mana Selena dan Eliot sama-sama diam. Walaupun Bibi Greta penasaran mengapa Eliot dan Selena diam tapi Bibi Greta tidak berani untuk bertanya.


"Selena, kalau begitu ikutlah Bibi Greta ke kamar barumu. Aku juga akan istirahat dulu. Besok adalah hari liburmu. Tunggu aku dan jangan pergi dengan temanmu!" Setelah mengatakan hal itu Eliot pergi meninggalkan Bibi Greta dan Selena. Tingkah Eliot membuat bingung Selena maupun Bibi Greta.


"Kalau aku tidak pergi bersama Anita Kenapa dia minta aku menunggunya? Padahal besok hari liburku. Aku juga ingin pergi bersama Anita ke festival itu. Kenapa Tuan Eliot menjadi aneh?" Selena mendadak kesal karena perintah ambigu.


Sedangkan di samping Selena Bibi Greta menahan tawa karena Selena salah sangka terhadap perintah Eliot. Bibi Greta tidak ingin memberitahukan maksud Eliot.


"Padahal Tuan Eliot ingin mengajaknya pergi berdua. Ternyata kau sangat polos, Selena. Pantas saja kalau Tuan Eliot menyukaimu." Batin Bibi Greta dalam hati.


"Tuan Eliot memintamu untuk menunggunya besok. Mungkin Tuan Eliot ingin mengajakmu pergi, Selena. Maka dari itu kau juga harus berdandan yang cantik. Supaya Tuan Eliot tidak marah dan mengajakmu pergi. Sekarang lebih baik kau istirahat di kamar. Ayo, Bibi akan memperlihatkan kamar barumu!" Bibi Greta berjalan lebih dulu dari Selena. Ia akan memperlihatkan kamar baru untuk Selena. Mendengar Bibi Greta akan memperlihatkan kamar baru membuat Selena semakin bersemangat.


"Terima kasih Bi! Ternyata memang benar ya, Tuan Eliot sangat baik!"