
"Ta-tanganku gemetar, Eliot!" Selena tak mampu memegang pistol yang diberikan oleh Eliot. Rasanya itu benda yang sangat menakutkan hingga membuat napasnya terasa sesak.
Bahkan pistol itu hampir terjatuh ke kolong kursi joknya. Untungnya Eliot dengan cepat menangkapnya meski hanya menggunakan 1 tangannya. Pria itu tidak langsung marah.
"Tenang saja, Sayang! Kau pasti bisa. Aku tidak bisa menyetir dengan fokus kalau harus menembak juga. Kita sekarang ada di jalanan yang sepi. Mustahil ada yang melihat kita dalam bahaya begini. Ayo, Sayang. Kau pegang lagi pistol ini." Eliot sekali lagi memberikan semangat untuk Selena. Supaya Selena berani menembak musuh tak dikenal itu. Meskipun sebenarnya Eliot sendiri tidak yakin dengan kemampuan calon istrinya itu.
Namun, Selena tak juga segera mengambil pistol itu dari tangan Eliot. Gadis itu terus gemetar ketakutan. Pikirannya berkata bahwa pistol itu bisa membunuh manusia. Selena tidak ingin melukai orang lain. Terlebih orang itu bisa mati jika Selena menembak.
"Selena!" Eliot berteriak karena Selena tidak juga menembak. Bahkan memegang pistol saja tidak mau. "Sayang, cepat bantu aku. Jika kau tidak menembak kita yang akan di tembak," bujuk Eliot dengan sejuta kesabaran.
Dengan susah payah Eliot terus mengendalikan kemudinya supaya ia dan Selena bisa terus melarikan diri. Tiba-tiba Eliot mengerem mendadak ketika ada truk yang melintas.
Mobil pun oleng seketika. Namun, mobil Eliot tetap saja mendapatkan tembakan. Meskipun pistol milik musuh memiliki peredam suara, tetap saja mobil Eliot masih mampu merasakan bahwa tembakan itu mengenai mobilnya.
"Argh!" Selena menjerit ketakutan. Karena saat mobil Eliot oleng, musuh masih tetap menyerang.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini, Eliot? Mereka terus menembak kita. Sebenarnya kita salah apa? Mengapa mereka jahat sekali?" Selena hendak menangis.
Ia sangat ketakutan karena ini merupakan momen keduanya ditembak orang tak dikenal. Sebelumnya kejadian ini pertama kali Selena alami saat ia baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk Kay.
"Di saat seperti ini tidak ada pilihan, Selena. Kau ingin mati atau mereka yang mati. Kita tidak berdosa karena mereka sendiri yang sudah memiliki niat jahat kepada kita. Bukankah begitu? Mereka tiba-tiba menyerang kita di saat kita tidak berbuat kesalahan. Kita juga tidak mengenal mereka. Tembak, Selena. Aku akan melajukan mobil ini supaya kita bisa terbebas dari mereka." Eliot kembali melajukan mobil. Sedangkan pistol miliknya kini sudah berada di telapak tangan Selena. Namun, gadis itu masih belum ingin menarik pelatuknya.
"Apalagi yang kau pikirkan, Selena? Tembak mereka atau kita yang mati!" teriak Eliot.
Eliot sangat kesal karena Selena tidak mendengarkannya. Akan tetapi, perlahan tangan Selena bergerak. Terlihat dengan jelas tangan gadis itu gemetar. Ini untuk pertama kalinya Selena memegang senjata api.
"A-aku sudah memegangnya, Eliot. La-lu aku harus bagaimana?" Selena bertanya dengan tubuh yang kaku. Ia tidak berani bergerak karena takut tak sengaja menarik pelatuk dan melukai dirinya atau Eliot.
Melihat Selena yang mulai memegang senjata api itu, Eliot mulai menerangkan bagaimana cara menggunakannya. Tentu saja Eliot masih terus melajukan mobilnya dan sesekali menghindari tembakan musuh. Setelah itu Eliot membuka jendela kaca yang ada di samping tubuh Selena.
"Sekarang!" Eliot memberikan aba-aba sambil matanya terus menatap ke arah jalanan beraspal.
Mendengar perintah dari Eliot, Selena pun mulai menembak. Gadis itu sangat panik karena sudah menarik pelatuk. Eliot melirik dari kaca spion. Tembakan Selena tidak tepat sasaran.
"Meleset. Tapi, itu tadi tembakan yang bagus, Selena. Kau bisa mengulangi sampai mereka tidak mengejar kita lagi. Terus tembak!" Eliot semakin bersemangat saat mengetahui Selena berhasil menembak.
Meskipun gagal, tapi setidaknya Selena bisa menggerakkan tangannya untuk menembak tamu tak dikenal itu. Akan tetapi, berbeda dengan Eliot, Selena semakin ketakutan. Karena musuh bertambah cepat dalam menembak.
"Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka menembak kita? Masih ada musuh yang tersisa? Si*l! Marthin! Kau jangan diam saja!" Leo mengumpat ketika melihat Marthin tidak mengambil tindakan apapun.
"Kalau kita seperti ini, bagaimana dengan Tuan Eliot dan Nona Selena? Mungkinkah mereka juga ada yang mengincar nyawa mereka?" Marthin malah bertanya lagi pada Leo yang sedang menyetir.
"Kalau itu aku juga tahu! Mungkin mereka juga mengalami hal yang sama dengan kita! Cepat, Marthin! Kau harus menembak mereka! Jika kau tidak menembak, maka ganti posisi! Biar aku saja yang menembak!" Leo marah karena Marthin sama sekali tidak mendengarkan kata-katanya.
Dua orang itu berdebat sejenak. Sebelum akhirnya Marthin mulai membalas serangan musuh. Marthin terus menembak. Meskipun terkadang meleset karena mereka saat ini sedang berada di dalam mobil yang bergerak.
"Si*l! Bagaimana dengan Tuan Eliot? Tidak ada yang menjaga mereka berdua. Bahkan pasukan bayangan sudah kembali ke identitas asli mereka. Aku tidak menduga bahwa kita akan mengalami kejadian ini." Leo merutuk dalam hati. Ia melajukan mobilnya dengan cepat. Leo berusaha mengejar mobil Eliot dan Selena yang ada di depan.
"Aku takut dengan Nona Selena. Dia bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Berbeda dengan Nona Joanne. Nona Selena sangat lemah lembut," kata Marthin.
Namun, siapa yang menduga Selena bisa menembak. Walaupun masih belum tepat sasaran dan sembarangan, tapi tindakan itu lumayan untuk menghambat orang-orang yang berniat jahat.
"Selena, kau harus fokus!" teriak Eliot penuh semangat.
Selena menghentikan aksinya. Ia menutup jendela dan kemudian ia menoleh ke arah Eliot. Tatapan mata Selena berubah kesal. Gadis itu mulai mengisi peluru yang sudah habis. Bibirnya mengerucut karena Eliot masih terus saja mengejeknya. Padahal Selena sudah berusaha semaksimal mungkin supaya tembakannya tepat sasaran.
"Kenapa kau melihatku begitu? Ayo, cepat bersiap untuk menembak lagi!" ucap Eliot.
"Dia semakin tenang saat menembak. Ini awal yang bagus. Walaupun dia menembak ke segala arah dan brutal karena terlalu serampangan. Tapi, itu lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali. Ternyata kemampuannya lumayan juga," gumam Eliot dalam hati.
"Mengapa kau tersenyum? Kau mau mengejekku ya?" Mata Selena melotot. Ia tidak terima karena Eliot meliriknya sambil tersenyum.
"Astaga! Siapa yang sedang mengejekmu, Sayang? Aku kan hanya melihatmu saja. Ternyata kau sudah bisa mengisi pistol itu dengan peluru. Padahal tadinya kau sangat takut sekali. Joanne dulu juga sangat takut pertama kali menyentuh pistol. Tapi dia akhirnya menjadi pemegang senjata yang hebat! Ayo, Sayang! Kau pasti bisa!" Eliot memberikan semangat kepada Selena.
Akan tetapi bukannya semakin bersemangat, Selena malah justru bertambah kesal. Lantaran Eliot tiba-tiba membahas Joanne yang sangat pintar menembak.
"Dasar si*lan! Padahal aku sudah bersusah payah. Tapi dia malah membandingkan aku dengan Joanne wanita itu? Ah! Kenapa aku sangat marah? Mengapa aku ingin bisa menembak lebih hebat lagi? Ya, aku harus bisa!" Selena membatin kesal dalam hati.
Gadis itu kembali membuka jendela kaca mobil. Selena mulai memfokuskan diri dalam menembak. Ia harus bisa membuktikan bahwa dia juga mampu menggunakan senjata api itu.
"Wah! Hebat! Tepat sasaran!" jerit Selena.