
"Apa yang akan kau lakukan Eliot? Anak buahmu sudah pergi satu persatu. Apa kau akan tetap pada keputusanmu ini? Kau yakin ingin keluar dari zona yang selama ini tidak pernah kau ungkapkan?" Zack menikmati salad buah sambil terus mengamati proposal kerjasama yang diajukan oleh salah satu perusahaan.
Dua hari ini Eliot sudah bekerja kembali. Zack datang ke perusahaan Eliot karena ingin membahas kerjasama. Akan tetapi, Eliot sudah mendapatkan proposal kerjasama dari perusahaan lain.
"Hmm. Memangnya kenapa? Apa itu menurutmu mustahil? Kupikir aku harus melakukannya karena keselamatan Selena. Aku tidak bisa mengambil keputusan seenaknya. Ini sudah kupikirkan selama aku sakit waktu itu. Dari pertanyaanmu kupikir kau ingin mengatakan itu mustahil," ungkap Eliot. Dia menatap Zack dengan tatapan penuh curiga.
"Benar. Seperti mustahil saja. Bukankah musuh sudah terlalu banyak melihat wajahmu? Bagaimana kalau mereka tiba-tiba ingin membun*uhmu? Mudah kan mencari tahu tentang wajahmu dan menyebarkannya lalu membuat sayembara?" Zack sangat penasaran bagaimana kehidupan Eliot selama ini. Kehidupan gelap yang tidak pernah Zack tahu.
"Kalau kau selesai makan, silahkan pulang, Zack. Kau membuatku kesal! Marthin, ambilkan dokumen yang urgent. Sepertinya besok kau bisa atur jadwal meeting," titah Eliot.
"Baik, Tuan." Marthin yang sedang mengurus dokumen-dokumen penting itu pun beranjak pergi. Ia mencari ke ruangan di sebelahnya tepatnya itu merupakan ruang kerja miliknya.
"Aku terkejut kau tiba-tiba memboyong anak buahmu untuk bekerja. Kenapa kau membawa mereka bekerja di perusahaanmu? Padahal ada yang lebih memiliki kemampuan dibandingkan mereka. Jangan-jangan saat bekerja mereka bisa melenyapkan nyawa orang lain." Zack menatap takut pada Marthin. Lebih tepatnya pada otot-otot tubuhnya yang terlihat kekar.
"Mungkin saja dalam waktu 30 menit lagi kau yang akan mati, Zack. Segeralah pergi dari kantorku! Kau membuatku pusing sejak tadi!" Eliot memijat pelipisnya. "Kenapa sejak dulu sikapmu tidak pernah berubah!"
Semenjak Eliot pergi perang, semua pekerjaannya semakin menumpuk. Eliot frustasi karena dua hari sebelumnya ia sudah lembur dan pulang malam. Eliot mendesah kesal. Mungkinkah hari ini dia harus begadang lagi? Padahal Eliot ingin sekali pergi berkencan dengan Selena.
"Zack, kau pernah pergi berkencan? Apa yang wanita sukai?" Tiba-tiba Eliot bertanya pada Zack.
Laki-laki itu bingung karena selama ia berpacaran dengan Selena belum pernah sekalipun pergi berkencan. Hanya sewaktu ada festival jajanan Eliot dan Selena dapat berkencan. Tapi, itu terjadi ketika mereka berdua belum berkencan. Sekarang tentunya berbeda. Karena Eliot dan Selena sudah menjalin hubungan.
"Kau mengejekku?" Zack marah.
Sebab Zack menyangka kalau Eliot pasti sedang mengejeknya karena pada akhirnya Eliot yang dapat memenangkan hati Selena. Zack menyipitkan kedua mata. Ia kesal bukan main karena Eliot bertanya tentang kencan kepadanya.
"Kau tahu ini hubungan pertamaku, Zack! Siapa yang sedang mengejekmu? Kau terlalu buruk menilaiku," kesal Eliot. "Kau sudah berulang kali pacaran. Kenapa kau tidak mau memberi tahuku?"
Zack tersenyum malu. Ia mengambil minuman dan meneguknya. "Maaf. Aku sebenarnya masih kesal padamu. Tapi, aku sampai lupa kalau kau tidak pernah berpacaran. Padahal selama ini kau memiliki bisnis club malam. Pasti ada banyak gadis-gadis cantik di sekitarmu. Tetapi kalau boleh jujur, aku juga tidak pernah serius dalam berkencan. Kenapa kau justru meminta tips dariku Eliot? Kau yakin ingin menggunakan ideku ini?"
"Berhentilah berbicara omong kosong, Zack! Aku ingin minta solusi darimu. Bukan malah jawaban yang semakin membuatku kesal begini. Katakan saja. Biasanya apa yang kau lakukan saat berkencan? Walau sekali pasti kau pernah melakukannya!" Eliot tidak ingin bercanda. Pasalnya Eliot sangat buta dengan perihal hubungan bersama seorang wanita.
"Kau cukup mengajaknya berbelanja. Pergi ke salon. Membelikan perhiasan. Kau punya banyak uang. Apalagi yang kau takutkan? Wanita suka dengan hal-hal seperti itu. Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana persiapan pertunanganmu?" tanya Zack.
Eliot melebarkan kedua mata. Laki-laki itu membeku di tempatnya. Seketika Zack menyipitkan mata. Ia mengamati gerak-gerik Eliot yang aneh. Diletakkannya wadah salad buah yang sejak tadi dipegangnya.
"Wah? Jangan bilang kau bahkan belum memikirkannya, Eliot. Kupikir waktu yang kau miliki tinggal 5 hari lagi bukan?" Zack mengingatkan Eliot jika hari tunangannya tinggal 5 hari lagi. "Kau sendiri yang bilang. Aku hanya mengingatkan saja!" Zack sengaja mengatakan kalimat seperti itu agar kesannya dia tidak sedang meledek Eliot.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini? Zack, kau harus membantuku! Si*l! Kenapa kau tidak mengingatkan aku?" Eliot menggebrak meja. Membuat Zack dan Marthin tersentak kaget.
"Bagaimana aku mengingatkanmu? Kau mengusirku selama 2 hari kemarin. Lalu hari ini aku nekat masuk ke dalam ruanganmu ini. Kenapa kau malah menyalahkan aku?" protes Zack. "Kau saja yang menjauhkan diri dariku. Padahal kau sendiri tahu kalau menjauh dariku hanya akan membuat dirimu sendiri rugi!" Zack merasa puas bisa mengatakan kalimat itu di depan Eliot.
Eliot lemas seketika. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Pekerjaan yang menumpuk itu membuatnya frustasi dan melupakan hal penting.
"Ck! Kasihan sekali Selena. Padahal dia ingin bertunangan denganmu. Selena pasti akan kecewa kalau tahu kau bahkan melupakan hari tunangan kalian!" Zack mendadak menggoda Eliot. Bahkan laki-laki itu berbicara penuh drama.
Marthin terlihat kesal. Belum pernah sebelumnya ada orang yang berani meledek Eliot hingga separah itu. Kelakuan Zack sungguh berani. Tetapi dia tidak berani melakukan apapun tanpa perintah dari Eliot.
"Zack! Tunggu, sepertinya kau sedang senggang ya, Zack? Kita kan sahabat. Bagaimana kalau kau membantuku?" Eliot tersenyum menyeringai. Menakutkan sekali di mata Zack dan Marthin.
"Aku tidak sesenggang itu, Eliot. Ehem. Kau tahu kalau aku harus menemukan orang yang berinvestasi pada perusahaanku. Belakangan ini perusahaanku semakin menurun saja. Karena mungkin aku juga terlalu banyak pikiran sehingga melalaikan pekerjaanku. Ah, kenapa papa tidak ingin membantuku. Betapa menyedihkannya aku." Di sini tiba-tiba Zack berbicara seolah hidupnya sangat menyedihkan.
"Si*l! Hebat sekali dia. Sepertinya dia ingin memanfaatkan kesempatan ini supaya aku membantunya. Dasar sahabat kurang ajar!" Eliot memejamkan kedua matanya. Ia membatin dalam hati sambil menahan kekesalannya.
"Baiklah. Kemarikan proposalmu. Aku lihat dulu. Kalau cukup meyakinkan aku akan mempertimbangkannya." Akhirnya Eliot pasrah.
"Dengan senang hati, Eliot! Ini proposalku. Dan besok aku akan bekerja untukmu haha! Tenang-tenang. Kau tahu aku sangat ahli dalam membahagiakan kekasihku bukan? Besok aku yang akan mengatur semuanya!" Zack mengedipkan mata.
Membuat Eliot ingin muntah karena perbuatannya. Di saat itu pula datang Leo memasuki ruangan Eliot. Tentu saja kedatangan Leo membuat Eliot, Zack dan Marthin menoleh ke arah pintu utama.
"Maafkan saya karena sudah mengganggu Anda, Tuan Eliot. Tetapi, Nona Selena ingin datang menjemput Anda." Leo membungkukkan setengah badannya.
Kemudian tak lama setelah itu, terlihat sepatu high heel memasuki ruangan. Gadis dengan dress selutut itu terlihat cantik. Pun juga dengan rambutnya yang ditata rapi itu membuat Selena semakin menawan. Zack tanpa sengaja terbatuk melihat penampilan Selena yang baru.
"Halo, Tuan Eliot. Maaf, apa aku tepat waktu menjemputmu? Kau memintaku untuk datang ke sini bukan?" Selena mengembangkan senyumannya. Sepertinya Selena sadar kalau Eliot sedikit lupa dengan janjinya tadi pagi.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar lupa!" Eliot terus meminta maaf pada Selena.
Kini Eliot san Selena susah berada di dalam mobil. Eliot yang merasa bersalah itu sedang menyetir mobil. Sedangkan Selena berada di sampingnya. Eliot ingin pergi berdua dengan Selena. Untuk itu dia meminta Marthin dan Leo supaya pulang dalam satu mobil.
"Tidak apa-apa, Eliot. Aku tahu jika kau sangat sibuk belakangan ini. Yang penting saat ini kita sudah bisa pergi bersama. Ini lebih menyenangkan daripada mengingat kau melupakan janjimu," ucap Selena.
"Haha, kenapa aku merasa kata-katamu terlalu tajam, Sayang?" Eliot menggoda Selena.
Namun, tanpa diduga sebuah mobil tanpa plat nomor datang memepet mobil milik Eliot. Tentu saja Eliot terkejut seketika. Di sampingnya, Selena mulai panik.
"Argh! Kenapa mereka menembak kita?" tanya Selena dengan takut.
"Sayang, kau tenang saja. Mobil ini anti peluru. Kita akan selamat. Kau tenang saja, Sayang! Tapi, melihat mereka tidak menyerah, kita harus memberikan serangan balasan!" Eliot mulai tegang. Ia tidak ingin terus berdiam karena ditembaki beruntun.
"Membalas bagaimana?" tanya Selena.
Satu tangan Eliot membuka laci. Kemudian terlihatlah satu pistol di sana. Selena melebarkan mata. Tidak menyangka kalau Eliot masih menyimpan senjata api.
"Tolong tarik pelatuk itu. Dan tembaklah pada musuh!" perintah Eliot.
"Hah? Kau menyuruhku menembak? Kau gila?" Selena melotot.
"Kau bisa menyetir mobil?" tanya Eliot.
"Tidak."
"Kalau begitu satu-satunya cara supaya kita bisa lolos yaitu dengan kau menembaknya, Selena. Kau pasti bisa! Yakinlah dengan kemampuanmu! Aku tidak bisa menembaknya karena sedang menyetir, Selena!"
"Tapi, Eliot! Aku takut!" Selena menciut.
"Wanitaku tidak boleh takut!"