Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 32



"Huft." Selena menarik napas panjang kemudian dia menghembuskannya secara perlahan.


Gadis itu membawa sapu lidi sambil menerawang jauh ke atas awan. Saat ini ia sedang berdiri di bawah pohon besar dan sedang membersihkan halaman. Ia berada di sana seorang diri.


"Hei! Kenapa kau terlihat gelisah, Selena?" Anita datang dengan membawa sapu juga.


"Aku disuruh Bibi Greta. Aku lihat ekspresi Bibi Greta aneh. Dia bilang aku harus bersamamu. Apakah di sini banyak sampah?" Perhatian Anita teralihkan. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekitar.


Yah, situasi itu adalah kondisi yang setiap hari ia temui. Daun-daun yang rontok tetap sama saja seperti biasanya. Anita bingung. Mengapa tiba-tiba ia disuruh menempel pada Selena? Anita pun mencoba untuk memahami keadaan. Hanya saja ia juga penasaran mengapa Selena terlihat sangat gelisah.


"Kau kenapa? Apa sakit?" tanya Anita.


Selena tersentak. Ia baru menyadari kehadiran Anita. Walau begitu, Selena tersenyum tipis. Tangannya kembali bergerak menyapu halaman. Namun Anita tahu kalau pikiran Selena sedang melayang jauh.


"Tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan karena semalam mimpi buruk. Hehe, apa kau khawatir padaku?" Selena terkekeh pelan. Sekuat tenaga Selena menutupi hatinya yang resah. Sayangnya tatapan mata tidak pernah bisa berbohong.


Bagaimana tidak? Pikiran Selena tertuju pada rentenir yang secara mengejutkan bisa menemukan keberadaannya. Bukankah dunia ini lebar? Mengapa di tengah luasnya dunia ini Selena masih harus bertemu dengan para rentenir itu? Hati Selena berdenyut nyeri.


"Tentu saja aku khawatir! Memangnya aku tidak bisa khawatir? Kau bahkan terlihat lesu dan pucat. Kalau bukan sakit, jangan-jangan kau memiliki masalah ya?" Tebakan Anita tepat sasaran. Menghujam hati Selena.


Mendengar kata-kata Anita, Selena reflek menundukkan kepala. Gadis itu tidak bisa membalas pertanyaan Anita. Benar. Dia memiliki masalah yang sudah ia pikul beberapa waktu belakangan ini.


"Selena? Selena? Selena!" Anita berteriak. Ia sudah menggoyang-goyangkan tubuh Selena berulang kali. Namun, Selena hanya terdiam dan tidak bergerak.


"Ah! Ma-maafkan aku! Ayo, kita lanjut bekerja, Anita." Selena yang canggung dan malu, ia langsung membalikkan tubuhnya.


Kemudian Selena kembali menyapu halaman. Sedangkan Anita terdiam. Akan tetapi, kedua mata Anita melebar begitu ia melihat sosok Eliot berjalan mendekati mereka.


"Tuan, maafkan saya tidak menyambut anda. Saya tidak tahu kalau anda-"


Selena bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Eliot langsung membalik tubuh Selena dengan kasar. Membuat Selena tersentak kaget bukan main. Anita reflek menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya. Wanita itu juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Sungguh pemandangan di depannya itu termasuk mustahil. Bagaimana bisa laki-laki seperti seperti Eliot kini malah berpandangan dengan pelayannya sendiri? Anita meneguk ludahnya sendiri.


"Kau! Bisakah kau pergi dari sini sekarang? Aku ada hal yang harus dibicarakan bersama Selena. Pergilah atau aku akan memecatmu!" Eliot mengancam Anita. Dia tahu kalau kini kedua mata Anita tidak lagi berkedip memandang mereka berdua.


"Baik, Tuan." Seketika membuat Anita berlari. Anita takut sekali dengan Eliot. Walaupun ia sendiri juga takut kalau mendapatkan masalah.


"Tuan Eliot tidak bekerja? Bukankah ini belum sore?" Selena mencoba untuk tenang. Ia berfirasat bahwa Eliot kali ini akan melakukan tindakan yang diluar nalar.


"Ke-kenapa ekspresinya begitu? Tuan Eliot terlihat sangat marah sekali. Ada apa?" Selena membatin takut.


"Aku tanya, apa yang kau lakukan?" Eliot menggenggam tangan Selena dengan kuat. Laki-laki itu takut apabila Selena pergi berlari meninggalkan dirinya.


Selena meringis kesakitan. Gadis itu merasa nyeri karena cekalan tangan Eliot. "Tu-Tuan, ini sakit."


"Sakit? Bagaimana dengan hatiku? Hatiku juga sakit, Selena! Argh, si*l! Aku tanya padamu, apa yang kau lakukan dengan Zack? Jawab!" Eliot murka.


Selena tak habis pikir. Bagaimana bisa Eliot tahu pertemuannya dengan Zack yang secara tidak terduga itu? Jantung Selena berdegup kencang.


"Selena! Jawab! Apa kau bisu?"