
Selena terus melirik jam yang menempel di dinding. Sesekali ekor matanya melirik pada Eliot yang sedang berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya.
Kedua kaki Selena terasa pegal. Ia ingin sekali duduk di sofa. Namun, Eliot saat ini sedang menghukum Selena. Sebab Selena berani membentaknya dan juga memanggilnya bodoh. Selena menghela napas panjang. Masih ada 3 jam lagi supaya dia bisa pulang ke rumah.
"Astaga! Kakiku sakit! Bahkan tanganku sedikit kaku. Benar-benar menyebalkan Tuan Eliot itu. Aku hanya protes supaya dia tidak lagi memanggilku si bod*h. Tapi lihatlah keadaanku sekarang. Aku hanya berdiri dan sambil membawa papan tulisan bertulis aku si bod*h. Sebenarnya ini cukup membuatku tersinggung." Selena membatin kesal.
Hingga tak lama kemudian Kay datang masuk ke dalam ruangan Elliot. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia lalu duduk di kursi tepat di depan meja Eliot. Menyadari ada orang kepercayaan dari Eliot membuat salah satu laki-laki yang ada di sana berdiri dan berpamitan. Setelah tamu tadi menghilang, Eliot pun kembali duduk di tempatnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Eliot bertanya kepada Kay yang terus menatapnya lekat.
"Kenapa kau malah menghukum Berto?" Kay membalas pertanyaan dari Eliot. Mendengar pertanyaan dari Kay membuat Elliot tertawa keras.
"Dia sudah berlaku kurang ajar kepadaku. Kenapa kau malah membelanya? Bukankah di sini aku merupakan sahabatmu?" Eliot merasa tidak terima lantaran Kay membela Selena. Bahkan Elliot memasang wajah kesalnya dengan jelas. Membuat Kay menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu karena kau sudah keterlaluan. Seharusnya kau mengatakan pada awal kalau pel-pelan yang sedang dicari oleh Berto ada di sana. Tapi alih-alih kau memberikan instruksi. Kau justru membuat Berto kesulitan. Kata Romi kau sudah membuat laki-laki itu kehilangan satu pelayannya." Kay berusaha untuk membeberkan keadaan.
Ekor mata Kay pun melirik ke arah Selena. Yang mana Selena memasang wajah menyedihkan. Ingin sekali Kay membantu Selena. Hanya saja laki-laki itu tidak mau berurusan dengan Eliot. Pun dirinya dan Eliot sudah berteman sejak lama bersama. Namun juga tidak ingin membuat masalah dengan sahabatnya itu.
"Ini caraku untuk mendisiplinkan orang-orang yang bekerja bersamaku. Jangan sampai melakukan kesalahan!" Eliot tidak ingin kalah dari Kay.
Laki-laki itu akan terus menghalangi niat seorang anak sekolah. Terlebih sikap mereka untuk bertindak seenaknya setelah ia menganiaya temannya.
"Iya aku tahu. Tapi ini sudah lewat satu hari tapi jam yang lalu. Apa kau ingin membuat Berto kehilangan banyak tenaga? Sudahlah. Lepaskan saja Berto. Biarkan mirto mencari tahu sendiri." Kay terus merajuk.
Dia tidak tega jika harus melihat keluarganya terus mendapat masalah. Padahal jelas-jelas dia hanya orang yang memiliki uang. Juga ingin hidup yang lebih baik.
"Hei! Dasar tidak sopan! Jangan cuma bisanya menuduh orang tanpa bukti begitu," elak Kay.
Tentu saja Kay memilih diam. Laki-laki itu sesekali melirik Selena yang masih kesal dengan Eliot. Sebab Selena harus berdiri dan membawa sesuatu yang bertulis bahwa dirinya bod*h.
"Aku tidak menuduh. Kau sejak tadi berkeliaran di ruanganku. Tapi tidak ada laporan yang kau laporkan padaku. Apa kau sedang main-main, Kay?" Kedua mata Eliot menatap tajam pada Kay. Laki-laki itu berusaha mengintimidasi Kay yang dirasanya mengganggu.
"Nah! Benar! Kau membuatku terpojok, Eliot. Sudahlah. Biarkan Berto bekerja seperti biasa. Kau sudah menyiksanya," kata Kay.
"Apa kau bilang? Siapa yang sedang menyiksa siapa? Aku curiga padamu, Kay. Kenapa kau bersikeras untuk mengamankan sosok Berto? Jangan-jangan kau suka pada sesama jenis, Kay?" Lagi-lagi Eliot berbisik di telinga Kay.
"Si*al! Apa maksudmu? Bagaimana bisa kau menuduhku menjadi tidak waras begitu? Aku ini masih waras tahu! Benar kok! Aku ini sedang mencuri perhatian gadis! Ini namanya usaha, Eliot!" Kay berteriak tidak terima.
Tentu saja Kay tidak akan tinggal diam. Jelas-jelas Berto itu seorang gadis yang memiliki wajah cantik. Mendengar penuturan dari Kay, membuat Selena melebarkan mata.
"Jangan-jangan Tuan Kay akan mengatakan kebenarannya?" Selena bergumam lirih. Ia harus memikirkan cara supaya tidak ada yang mengetahui identitas aslinya.
"Ya Tuhan! Jangan sampai itu terjadi! Aku bisa saja kehilangan pekerjaan!" batin Selena dari hati.
"Ayo, jujurlah, Kay. Katakan padaku kalau Berto seorang gadis yang sempurna." Eliot membatin seraya menyaksikan Selena yang terus cemberut.
Bagaimana akhirnya? Apakah Kay akan mengatakan identitas asli Berto?