
Pagi yang indah. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai pelayan pribadi Eliot, Selena pergi ke halaman untuk menemui Anita dan membantu pelayan yang lain. Akan tetapi wanita itu tidak langsung bekerja. Dia justru duduk sambil melamun.
"Selena. Kenapa kau terlihat senang sekali?" Anita yang sedang menyapu halaman belakang Mansion itu menegur Selena. Dia penasaran karena sejak tadi Selena terlihat sangat bahagia. Seperti orang yang baru saja menang undian.
"Tidak ada. Kenapa rupanya?" Selena memasang ekspresi wajah biasa saja.
"Kau yakin?" Padahal Anita tidak mengajak Selena bercanda sejak tadi. Jelas saja sahabatnya itu curiga ketika Selena tersenyum sendiri seperti itu.
Sebenarnya Anita sendiri terlalu fokus pada halaman yang banyak terdapat daun-daun kering. Akan tetapi Anita tidak sengaja melihat Selena tersenyum sendirian. Dan pada akhirnya dia penasaran.
"Bukankah kemarin kau dan Tuan Eliot pergi keluar? Kalian berdua pergi kemana? Sepertinya hari ini kau senang karena sudah berkencan dengan Tuan Eliot ya?" Anita menggoda Selena.
Benar saja. Wajah Selena mendadak merona jingga saat Anita mengatakan bahwa Selena kemarin pergi bersama Eliot untuk kencan. Anita terkejut ketika melihat perubahan ekspresi Selena. Rupanya benar. Kemarin Eliot pergi dengan Selena untuk berkencan.
"Selena, wajahmu terlihat sangat merah." Anita tidak berhenti untuk menggoda Selena. Hal itu semakin membuat Selena frustrasi.
"Anita! Kenapa dari tadi kau terus menggodaku sih? Wajahku jadi begini karenamu!" Selena memegangi kedua pipinya yang memerah. Alhasil menciptakan tawa dari Anita. "Apa aku terlihat lucu?"
Tawa Anita yang terdengar keras itu membuat Selena semakin salah tingkah. Gadis itu mendadak menjauh pergi dari Anita yang masih tertawa tidak jelas.
"Hei! Kenapa kau malah pergi? Bagian sini masih banyak daun! Hei! Teganya kau, Selena!" Anita berseru lantang ketika melihat Selena beranjak pergi. Meskipun sebenarnya dia tidak mengharapkan bantuan Selena untuk membersihkan halaman. Hanya ditemani seperti itu saja sudah senang.
Selena pun berhenti dan memunggungi Anita. Sepertinya Anita harus menyapu bagian tempat itu seorang diri. Sebab Selena pergi dan bergabung dengan pelayan lainnya.
"Tumben kau mau bergabung dengan kami?" Salah seorang pelayan menegur Selena.
Mendengar seseorang berbicara Selena segera mengangkat wajahnya. Selena yang tidak fokus saat ia pergi meninggalkan Anita pun hanya bisa tersenyum tipis.
"Habisnya Anita selalu menggodaku." Mau tidak mau Selena pun menjawab pertanyaan itu.
Saat pelayan itu akan berbicara lagi tangan Selena ditarik seseorang. Selena awalnya kaget. Ternyata yang menarik tangannya Anita.
"Sekarang lebih baik kau menyapu denganku! Aku tidak mau menyapu seorang diri di sini!" Anita berbicara sambil menyentuh kedua lengan Selena.
Mata Anita melirik ke arah para pelayan yang tadi berbicara dengan Selena. Melihat Anita melirik tajam, kelima pelayan itu tidak lagi memperhatikan Selena.
"Aku tahu kalau ada banyak pelayan yang tidak suka dengan Selena. Terlebih kedekatan Selena dan Tuan Eliot. Takutnya mereka sakit hati karena kata-kata Selena yang kelewat jujur. Mau tidak mau aku harus memaksa Selena menemaniku menyapu di sini," kata Anita dalam hati.
"Sudah. Aku akan membantumu menyapu di sini. Tapi berjanjilah kau tidak akan mengganggu atau menggodaku lagi. Itu tidak seru tahu!" Protes Selena.
"Baiklah. Aku berjanji tidak akan menggodamu lagi. Tapi temani Aku menyapu di sini. Masa kau harus menyapu dengan banyak pelayan di sana. Sedangkan aku menyapu sendirian di sini. Teganya kau!" Kali ini Anita yang protes.
Sebab memang di ujung lain ada beberapa pelayan yang menyapu bersama. Sedangkan di bagian itu hanya ada Anita dan Selena. Jika Selena pergi, bukankah Anita harus mengerjakan seorang diri? Meskipun itu bukan alasan Anita yang sebenarnya. Anita hanya tidak ingin pelayan yang tidak menyukai Selena tidak lancang bertanya tentang hubungan Selena dan Eliot.
"Aku baru sadar kalau kita selalu bekerja berdua. Sedangkan di sana saja ada lima pelayan. Apakah ini karena aku dekat dengan Tuan Eliot? Makanya pelayan lain tidak suka? Maafkan aku, Anita. Gara-gara aku kau harus mendapatkan Jatah yang lebih besar daripada yang lainnya." Selena meminta maaf kepada Anita karena dirinya harus ikut menyapu bagian yang banyak.
"Tidak masalah. Kalau kau pergi lagi dari sini awas! Aku bisa mematahkan kakimu!" Ancam Anita.
Mendengarkan ancaman dari Anita bukannya malah marah Selena justru tertawa. Pada akhirnya Anita dan Selena sama-sama tertawa karena sejak tadi mereka meributkan hal yang sepele. Sampai akhirnya Bibi Greta datang tergopoh-gopoh mendekat ke arah Selena dan Anita berada.
"Selena! Tuan Eliot memiliki tamu hari ini. Apakah kau sudah mendengarnya?" Bibi Greta terengah-engah setelah ia berlari sepanjang halaman yang luas itu.
"Tenang dulu Bibi. Atur napas dulu. Siapa tamunya? Kenapa Bibi sampai harus berlari seperti ini?" Selena ikut penasaran karena Bibi Greta terlihat tidak sabar untuk menemuinya.
"Kalau Tuan Eliot menerima tamu ya biarkan saja. Memangnya kenapa Bibi Greta sampai harus datang ke sini?" Selena kembali menyapu. Ia mengabaikan ekspresi terkejut dari Bibi Greta.
"Masalahnya tamu Tuan Eliot itu seorang wanita." Pernyataan dari Bibi Greta membuat Selena menghentikan kegiatan menyapunya.
Kedua mata Selena pun melebar. Membuktikan bahwa gadis itu terkejut bukan main. Jantung Selena tiba-tiba saja berdebar lebih kuat. Tamu wanita? Perasaan Selena semakin berkecamuk.
Selena takut kalau kamu tersebut merupakan kekasih Eliot. Tapi selama ini Eliot tidak pernah membicarakan apapun tentang kekasihnya. Pikiran Selena menjadi rumit seketika. Akan tetapi Selena juga penasaran bagaimana sosok wanita itu.
"Aku selesaikan pekerjaan di sini Bibi Greta. Nanti setelah itu aku akan datang ke dalam rumah. Sebenarnya ini bukan urusanku. Aneh. Mengapa Bibi Greta tiba-tiba datang ke sini karena tamu perempuan saja?" Walaupun hati Selena terasa sakit, gadis itu tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak ingin terlalu memperlihatkan bahwa Selena kesal karena Eliot kedatangan seorang tamu perempuan.
Setelah kepergian Bibi Greta, sepanjang perjalanan Selena hanya memikirkan hubungan apa yang terjadi antara Eliot dan wanita itu. Walaupun Selena sangat penasaran tapi Selena harus segera menyelesaikan pekerjaan yaitu menyapu halaman.
Waktu pun berlalu. Selena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Gadis itu pergi masuk ke dalam mansion ditemani oleh Anita. Seperti sebelumnya hati Selena sangat takut. Selena takut jika wanita itu merupakan kekasih Eliot.
Semua pelayan berbisik ketika melihat Selena masuk ke dalam rumah. Begitu sampai di ruang keluarga Selena langsung membeku di tempatnya. Dengan kedua matanya sendiri Selena melihat bagaimana Eliot dan wanita itu terlihat akrab.
Jantung Selena berdegup kencang. Ada banyak hal yang terpikirkan oleh Selena. Siapa wanita itu? Mengapa Eliot dekat dengannya? Apakah Eliot dan wanita itu berpacaran? Selena terus berpikir banyak hal.
Gadis itu menjadi urung untuk menyapa Eliot yang baru saja pulang dari bekerja. Sialnya, Leo melihat kedatangan Selena.
"Halo, Nona Selena!" Leo tiba-tiba menyapa Selena.
Membuat Selena urung pergi meninggalkan tempat itu. Mau tidak mau alhasil Selena pun membungkukkan tubuhnya dan menyapa Eliot.
"Selamat sore, Tuan Eliot," sapa Selena.
"Oh, Selena! Akhirnya kau muncul juga! Aku akan memperkenalkanmu dengan Joanne." Eliot yang sebelumnya duduk di kursi segera berdiri dan menarik tangan Selena untuk mendekat ke tempatnya berada. Namun Selena dengan cepat menarik tangannya kembali.
"Maafkan saya, Tuan Eliot. Saya masih memiliki pekerjaan yang harus saya selesaikan. Kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu," pamit Selena.
"Ada apa dengannya?" Eliot bertanya bingung.
"Siapa dia, Tuan Eliot?" Joanne bertanya meskipun dia sendiri tahu kalau wanita itu adalah Selena.
Deg.
Selena cukup menantikan jawaban dari Eliot. Gadis itu belum lama pergi meninggalkan ruang keluarga di mana Joanne ada di sana. Namun, Selena tidak melihat ada beberapa anak buah Eliot juga. Selena hanya terfokus pada Eliot dan Joanne.
"Kenapa aku berharap kalau Tuan Eliot menjawab bahwa aku ini orang yang disukainya? Memangnya, siapa kau, Selena?" Selena membatin sedih.
Kemudian Selena memilih pergi meninggalkan tempat itu. Melihat Selena yang buru-buru pergi, dahi Eliot mengernyit. Eliot bingung karena Selena seolah menghindarinya.
"Sebenarnya siapa gadis itu? Mengapa Tuan Eliot sampai harus datang mendekat kepadanya? Tadi dia memakai seragam pelayan. Tapi, masa iya Tuan Eliot menyukai seorang pelayan?" batin Joanne curiga.