Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 40



"Tuan, itu Tom!" kata Leo.


"Bagus! Ambil jalan lain dan serahkan bagian ini pada Tom!" titah Eliot.


"Baik, Tuan!" Leo menurut. Laki-laki itu memutar balik secara tiba-tiba. Kemudian mobil melaju dengan kecepatan penuh. Mereka terlihat jauh lebih tenang sekarang.


Selena melihat ke arah belakang. Dua mobil tadi tidak terlihat lagi. Kemudian Selena melirik ke arah Eliot. Ternyata laki-laki yang duduk di sampingnya itu sedang terdiam. Hal itu membuat Selena bingung lagi. Dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku tidak tahu lagi dengan semua ini. Apakah Tuan Eliot orang baik? Mengapa ia memiliki banyak orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya? Ya Tuhan, bagaimana ini?" batin Selena dalam hati.


"Tinggal menunggu kedatangan Joanne. Sebagai ahli IT terbaik yang aku miliki, bukankah Joanne seharusnya dapat mencari tahu keberadaan Jonathan bukan? Dia dalang dari kebakaran club! Aku juga tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jonathan sudah secara terang-terangan ingin melawanku!" gumam Eliot dalam hati.


Keheningan menyergap mobil yang mereka tumpangi. Eliot terlihat tidak akan menjelaskan keadaan ini kepada Selena. Sedangkan Selena sendiri yang sudah merinding ketakutan, ia tidak ingin bertanya apapun pada Eliot.


Hingga tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhasil tiba di mansion dengan selamat. Sesampainya di mansion, Selena memilih turun dan berpamitan kepada Eliot untuk bekerja. Mau tidak mau Eliot membiarkan Selena pergi. Akan tetapi, Eliot memerintahkan setidaknya 15 orang pasukannya untuk terus mengawasi Selena.


Saat ini selain memastikan keselamatan Selena, Eliot perlu mencari tahu dalang yang ingin menghabisinya secara terang-terangan tadi. Mungkinkah hanya ada 1 musuh yang sama dengan pelaku sebelumnya? Atau mungkin Eliot memiliki beberapa musuh yang sedang bergerak menghimpun kekuatan untuk menghancurkan geng mafia miliknya.


"Leo, sudah mendapat kabar dari pusat? Jika Joanne sudah datang antar dia ke ruang bawah tanah. Di tempat rahasia di mana aku biasa bekerja menyelesaikan urusan geng mafia-ku." Setelah mengatakan hal itu, Eliot pergi. Ia berjalan menuju ke kamarnya.


Di kamarnya memang terdapat jalan rahasia menuju ke satu ruang rahasia. Di mana Eliot selalu menyimpan persenjataan amunisi perang. Tidak mungkin menyembunyikannya di mansion begitu saja. Bisa jadi malah Eliot yang dipenjara.


"Tuan, Nona Joanne ada di sini," ucap Leo.


"Tuan, Anda belum membuka pesan email yang saya kirim?" Seorang wanita berusia 30 tahunan itu berjalan mendekati Eliot yang duduk di kursi kebesarannya. Joanne Catalina.


"Email?" Eliot mengerutkan keningnya. Kemudian dia membuka laptop miliknya.


"Aku sangat sibuk dengan Selena. Hampir lupa dengan kondisi saat ini. Padahal aku sudah tidak bisa bersantai lagi," kata Eliot dalam hati.


Pria itu menatap layar laptopnya dengan serius. Pesan yang dikirimkan oleh Joanne dia baca dengan begitu teliti. "Si*l! Benar Jonathan! Argh! Dari dulu kau selalu mencari cara untuk menyamai kesuksesanku. Tapi hari ini kau mencoba untuk membun*hku? Kalau begitu, aku akan menunjukkan cara bagaimana orang menggunakan kekuasaannya sebagai ketua mafia! Leo, kirim kabar kepada semua pasukan yang kita miliki. Kita akan melakukan penyerangan malam ini juga! Lalu, Joanne. Pastikan kau mengetahui di mana lokasi markas musuh berada!" Eliot memerintahkan Leo dan juga Joanne dalam waktu yang bersamaan.


"Tunggu, Tuan Eliot. Bagaimana dengan Tom?" tanya Leo.


"Jangan khawatir. Tom memiliki tugas untuk menjaga orang-orang yang sangat penting untukku. Jangan sampai saat aku lengah dan sedang berada di medan perang, musuh malah mengancamku dengan orang-orang yang penting bagiku. Kita tidak memiliki banyak waktu. Segera siapkan pasukan dan amunisi perang untuk menyerang!" Eliot sudah memutuskan untuk mengambil langkah yang mengerikan.


Satu-satunya jalan untuk menunjukkan kebaikan hati terakhir kalinya yang Eliot miliki. Eliot sendiri juga sibuk mempersiapkan senjata-senjata yang akan Eliot bawa dalam perang.


"Sudah saatnya untuk mengakhiri ini semua, Jonathan. Aku tidak memiliki kesabaran yang lebih dari ini. Salahkan dirimu yang tidak mampu mengurung rasa iri-mu. Sepertinya ini waktu yang tepat mengakhiri dendam lama kita, Jonathan."