Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 55



Selena berlari menuju ke taman belakang. Meskipun dia sudah tahu kalau pria di kamar bukan Eliot. Tetapi entah kenapa hatinya tetap saja terasa sakit. Wanita itu terus saja berlari tanpa peduli dengan beberapa penjaga yang memandangnya dengan bingung.


Hingga akhirnya wanita itu tiba di tengah taman. Dia duduk di kursi besok warna putih dan melanjutkan tangisnya. Lokasi yang sunyi membuat Selena lebih leluasa untuk menangis. Ia tidak perlu takut ada yang dengar karena bisa dipastikan kalau sekarang ini semua orang sudah tidur di kamar masing-masing.


"Tuan, apa anda sengaja melakukan permainan konyol ini untuk membuat saya sakit hati? Apa anda puas sekarang? Dari semua sikap yang pernah anda lakukan. Baru kali ini saya merasa kecewa dengan anda." Selena benar-benar marah. Sekarang dia tahu kalau ternyata Eliot hanya pura-pura mabuk saja.


"Selena?"


"Pergi Tuan. Biarkan saya sendiri."


"Selena, apa kau baik-baik saja?"


Selena mengangkat kepalanya. Suara itu bukan milik Eliot. Itu suara Zack. Tetapi untuk apa Zack malam-malam datang ke rumah Eliot? Selena segera memiringkan tubuhnya ke samping.


"Tuan Zack?"


Zack tersenyum. Pria itu melangkah mendekat sebelum duduk di samping Selena. Dia memandang ke langit yang memang malam ini terlihat sangat cerah. Taburan bintang menghiasi angkasa.


"Selena, di sini sangat dingin. Kenapa kau ada di luar. Tadi aku tidak sengaja melihatmu berlari. Lalu aku mengikutimu."


"Tuan, ini sudah malam. Kenapa anda bertamu malam-malam seperti ini?" tanya Selena penasaran tanpa mau menjawab pertanyaan Zack


"Ada urusan penting yang ingin aku sampaikan kepada Eliot. Tetapi sebelum berhasil menemuinya, aku sudah melihatmu berlari." Zack memandang ke arah Selena. "Kau menangis? Siapa yang membuatmu sedih Selena?"


Zack menghapus air mata di pipi Selena. Bersama itu, Eliot muncul di sana. Dia sangat kesulitan untuk menemui Selena karena Tadinya dia berpikir kalau Selena masuk ke kamar.


Namun setelah ke kamar Selena, justru tidak ada orang di sana. Beruntung pengawal yang berjaga mau memberi tahunya kalau Selena berlari ke taman belakang. Tetapi sayangnya pemandangan yang dia lihat justru menyakitkan hati. Eliot ingin sekali memukul Zack malam itu. Tetapi, untuk apa? Dia juga belum tahu pasti apakah Selena mencintainya atau bukan.


"Sepertinya kau lebih nyaman dengannya Selena." Eliot memutuskan pergi dari sana.


Di saat yang sama, Selena segera menyingkirkan tangan Zack dari wajahnya. "Tuan, saya mau tidur. Ini sudah malam." Selena berusaha kabur. Namun dengan cepat Zack menggenggam tangan Selena dan memaksanya duduk. "Tuan, apa yang anda lakukan?"


"Selena, apa kau mencintai Eliot?"


Selena mematung mendengar pertanyaan itu. Jelas saja Selena memang mencintai Eliot. Tetapi dia tidak mau mengakuinya.


"Apa maksud anda? Kenapa anda bertanya seperti itu?"


Selena diam sejenak mendengarnya. Wanita itu mengukir senyum sebelum mengangguk. "Ya. Saya mencintai Tuan Eliot, Tuan. Tapi ... saya tidak tahu dengan apa yang dirasakan Tuan Eliot. Saya pikir dia hanya memandang saya seperti sebuah mainan. Dia senang saya ada di dekatnya karena saya bisa menghiburnya. Tidak lebih dari itu." Wajah Selena berubah kecewa.


"Sudah ku duga. Kau pasti akan jatuh cinta pada Eliot. Entah apa yang ada pada diri Eliot sampai-sampai kau bisa menyukainya. Bukankah dia pria yang kasar? Selena, katakan padaku. Kenapa kau bisa mencintai Eliot." Zack menatap Selena dengan serius.


"Tuan, saya juga tidak tahu kenapa." Selena memandang ke arah Zack lagi. "Tolong izinkan saya masuk. Saya ingin istirahat."


Kali ini Zack tidak bisa menahan Selena lebih lama lagi. Wanita itu segera beranjak dari kursi besi yang ia duduki setelah Zack tidak mencegahnya pergi lagi.


Zack menatap punggung Selena sambil tersenyum pahit. Pria itu juga segera beranjak dari kursi besi itu dan pergi menemui Eliot.


...***...


Zack meneguk minuman beralkohol yang ada di hadapannya. Kini pria itu duduk di kursi bar yang ada di rumah Eliot. Eliot sendiri ada dihadapannya. Dua pria itu baru saja membicarakan masalah yang serius sebelum akhirnya memutuskan untuk minum minuman beralkohol.


"Zack, aku senang karena kau bisa menjaga Kay dengan baik. Setelah ini biar aku yang menjaganya," ucap Eliot sebelum meneguk minumannya lagi.


"Jangan! Kau tetap di sini untuk menjaga Selena. Biar aku saja yang menjaga Kay sampai dia benar-benar sembuh," tolak Zack.


"Selena?" Eliot mendesah mendengar namanya. "Bukankah kau menyukainya? Ambil saja sana!" ketus Eliot kesal. Dia sebenarnya cemburu dan tidak sanggup menerima rasa cemburu itu. Ia ingin agar rasa cemburu itu segera hilang dari hatinya.


"Eliot, bukankah kau juga mencintainya? Kenapa harus menyerahkannya kepada sainganmu?" ledek Zack.


"Aku akan pergi. Aku ingin fokus dengan geng mafiaku. Aku akan memperluas kekuasaan dan menjadi pemimpin paling disegani di dunia gelap."


"Eliot, itu bukan ide yang bagus. Aku tidak setuju. Kau akan mempertaruhkan nyawamu? No! Aku tidak setuju!" ketus Zack kesal.


"Setelah bertemu dengan Selena, aku akui hidupku memiliki banyak warna. Aku menemukan sesuatu yang berbeda. Hidupku terasa tidak membosankan lagi. Selena telah berhasil membuat aku menjadi pria paling bahagia di dunia ini."


"Lalu, kau ingin meninggalkannya begitu saja setelah memberinya harapan? Eliot, bagaimana kalau Selena juga mencintaimu? Kau tega meninggalkannya seperti ini?"


"Zack, mulai sekarang aku serahkan Selena padamu. Jaga dia. Secepatnya aku akan pergi meninggalkan kota ini."


"Eliot, kau gila!"