Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 51



Hari ini akhirnya Selena pergi bersama Eliot. Akan tetapi Selena tidak tahu kalau Eliot mengajaknya untuk pergi ke festival jajanan. Tentu saja Selena kaget karena tidak berpikir Eliot akan mengajaknya pergi ke tempat itu. Bukankah selama ini Eliot selalu mengajaknya ke lingkungan yang mewah dan bersih.


"Kita ke festival jajanan Tuan?" tanya Selena begitu mobil sudah sampai di lokasi tempat acara itu diadakan. "Anda yakin? Maksud saya anda tidak salah berhenti kan?" Ada penekanan di sana. Selena masih belum yakin kalau Eliot akan mengajaknya ke festival jajanan.


"Benar. Turunlah. Kita akan pergi jalan kaki melihat-lihat seperti orang-orang itu. Bukankah kau menyukai tempat ini? Sekarang kau bisa pergi dan memilih makanan apa yang kau suka." Eliot turun dari mobil lebih dulu.


Laki-laki itu kemudian berlari memutari mobil. setelah itu Eliot membukakan pintu mobil untuk Selena. Melihat Eliot yang membukakan pintu untuknya, Selena membeku.


Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang. Rona di pipinya semakin memerah seperti tomat rebus. Eliot yang melihat reaksi malu-malu dari Selena tersenyum. Padahal ini merupakan hal sederhana. Akan tetapi Selena terlihat sangat senang.


"Terima kasih Tuan." Selena menjawab dengan gugup. Sebelumnya Selena dan Eliot tidak pernah bepergian bebas seperti ini.


"Jangan memanggilku Tuan. Sekarang kau bisa memanggilku dengan namaku saja. Itu setidaknya akan membuatku nyaman karena kita saat ini bukan berada di rumah." Eliot meminta Selena supaya tidak memanggilnya Tuan. Sebagaimana itu merupakan panggilan dari pelayan ke majikannya. Eliot ingin mereka terlihat seperti sepasang kekasih.


"Jangan! Kenapa saya tidak boleh memanggil Anda, Tuan? Itu rasanya tidak sopan karena anda yang sudah memberikan gaji kepada saya." Selena langsung menolak untuk memanggil Eliot dengan nama saja. "Saya juga tidak mau jadi kurang ajar. Selama ini anda terlalu baik sama saya. Saya juga harus bisa menjaga batasan saya."


"Kalau kau tidak memanggilku dengan nama, aku bisa memecatmu saat ini juga," ancam Eliot. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar membuat Selena menuruti perkataannya.


"Kenapa Anda selalu mengancam saya? Itu tidak adil, Tuan Eliot!" protes Selena. "Anda ini curang sekali."


"Selain itu kau juga harus berbicara dengan santai kepadaku. Jangan memanggil anda atau saya. Hari ini kita lupakan saja status sosial diantara kita. Anggap saja kalau hari ini kita pergi seperti seorang teman. Aku akan mentraktirmu hari ini." Eliot seolah ingin menghapus jarak sosial diantara Selena dan dirinya. "Kau tidak boleh pulang sebelum kenyang!"


"Apa ini sejenis hukuman, Tuan? Eh, Hemm ... maksudku Eliot." Selena memejamkan mata untuk memastikan ini bukan sekedar jebakan yang sengaja dibuat Eliot.


"Bagus. Tapi ini bukan hukuman. Aku hanya ingin tahu seberapa banyak makanmu sampai kenyang," sahut Eliot asal saja.


Laki-laki itu ingin Selena merasa nyaman bersamanya. Eliot akan merasa senang kalau Selena bisa bersikap biasa saja. Itu akan membuat hubungan mereka berdua selayaknya teman dan tidak memiliki jarak strata sosial.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan memanggilmu seperti teman. hari ini mohon bantuannya." Selena tersenyum. Cantik sekali. Ia tidak lagi protes karena Eliot memberikan aturan yang berbeda dari biasanya.


"Ini pertama kalinya aku memanggilnya nama. Sebelumnya, kami selalu memiliki jarak seperti majikan dan pelayan. Tapi, hari ini berbeda. Ya Tuhan, bagaimana ini? Perasaanku aneh sekali. Bolehkah seperti ini? Eliot." Selena membatin dalam hati. Gadis itu sangat gugup karena untuk pertama kalinya ia akan memanggil bosnya itu dengan panggilan nama saja.


"Coba kau panggil lagi namaku sekarang. Jangan sampai pas di depan orang-orang kau memanggilku Tuan lagi. Itu memalukan Selena!" kata Eliot.


"Em, El-Eliot?" Selena langsung mengalihkan pandangan lantaran malu.


"Nah, ayo! Kita hari ini akan bersenang-senang, Selena." Eliot semakin bersemangat. Membuat Selena tertegun.


"Padahal biasanya dia paling tidak suka kalau aku memanggilnya dengan nama. Tapi sekarang dia memintaku untuk memanggil namanya. Ah, mengapa jantungku berdebar kencang. Rasanya jadi deg-degan." Selena membatin dalam hati.


Mesti begitu ia senang karena bisa menghabiskan waktu dengan Eliot. Setelah mengatakam hal itu Eliot pun menarik tangan Selena dan akhirnya keduanya pergi untuk melihat jajanan.


"Tuan! Bukankah anda ingin mentraktir saya? Kalau begitu saya ingin makan sate itu." Selena tiba-tiba saja menunjuk salah seorang penjual sate. Namun ekspresi wajah Eliot terlihat tidak suka.


"Eh! Maafkan saya, Tuan! Saya akan beli pakai uang saya sendiri." Selena justru berusaha mengeluarkan dompet. Seketika Eliot langsung menahan tangan Selena supaya tidak mengeluarkan dompet dari tasnya.


"Kenapa kau lupa lagi? Padahal aku sudah memintamu supaya memanggilku dengan nama saja. Apa itu susah untukmu? Kalau kau tidak bisa memanggilku dengan nama, aku tidak akan mau membelikanmu makanan!" Eliot tiba-tiba saja merajuk. Laki-laki itu kesal karena Selena tidak mendengarkan kata-katanya.


Padahal sebelumnya Selena bisa memanggil nama Eliot. Namun, begitu bersama di keramaian, Selena malah melakukan kesalahan yang sama. Melihat Eliot yang bertingkah seketika Selena menjadi salah tingkah.


"Kau kan bisa memanggil namaku," imbuh Eliot.


"Dia merajuk?" tanya Selena dalam hati.


Mendengar Selena memanggil namanya, Eliot langsung tersenyum cerah. Laki-laki itu pun tanpa menunggu lagi langsung memesan sate kepada sang penjual.


Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sate yang diinginkan oleh Selena pun sudah matang. Eliot lalu memberikannya kepada Selena. Laki-laki itu senang ketika Selena menikmati sate yang ia belikan.


"Dia rupanya sangat menyukai tempat ini. Sepertinya aku bisa mengajaknya lain kali. Situasi seperti ini sebenarnya tidak buruk juga. Karena Bukankah ini sama saja dengan kencan?" Eliot membatin dalam hati.


Raut wajah Eliot juga terlihat senang ketika ia berpikir bahwa ini merupakan kencan pertamanya bersama Selena. Selama Selena makan, Eliot terus memandangi wajah Selena.


"Kenapa kau diam saja, Eliot? Apa kau tidak ingin mencicipi sate ini?" Selena memberikan sate kepada Eliot.


Tentu saja dengan senang hati Eliot menerima sate yang diberikan oleh Selena. Eliot bahkan menikmatinya dengan santai. Karena ini membuatnya dekat dengan Selena. Eliot tidak ingin cepat-cepat berakhir saat Selena terus menyuapinya dengan sate.


"Kenapa malah kau habiskan? Seharusnya kau menyisakannya sedikit untukku!" Tiba-tiba saja Selena mengomel ketika sate miliknya sudah habis.


"Kita tinggal membeli lagi bukan?" Eliot tidak merasa bersalah saat ia sudah menghabiskan makanan Selena.


"Tidak! Aku ingin mencicipi makanan lainnya," jawab Selena dengan senyuman penuh arti. Sepertinya sudah banyak sekali daftar makanan yang akan ia makan kali ini.


Mendengar kata-kata Eliot ini Selena menjadi semakin bersemangat. Entah sadar atau tidak Selena langsung menarik tangan Eliot. Gadis itu memegang tangan Eliot dengan erat.


Sikap Selena seperti ini membuat Eliot tersenyum lebar. Tentu saja Eliot sangat sabar ketika Selena terus mengajaknya berjalan dan melihat jajanan apa saja yang ada di sana. Bahkan sepanjang perjalanan Selena tidak melepaskan genggaman tangan itu sampai menemukan salah satu jajanan yang enak.


"Makanan ini enak sekali. Kalau begitu kita memesan dua porsi saja! Aku tidak mau kau menghabiskan makananku!" Selena menemukan makanan yang menurutnya enak.


"Kalau kau menyukainya, kau bisa memesan lebih dari dua porsi." Bagi Eliot terserah apabila Selena membeli bahkan beberapa porsi sekaligus.


Sebab Eliot lebih menyukai situasi di mana Selena terus merengek kepadanya. Setidaknya Selena bisa terus dekat dengannya. Kapan lagi Eliot memiliki kesempatan ini?


"Jangan terlalu banyak memesan makanan. Kita masih bisa melihat dan menikmati makanan yang lainnya, Eliot. karena makanan di sini semuanya sangat enak." Selena tersenyum lebar saat ia menjelaskan bahwa di sini harus mencicipi sedikit demi sedikit dan kemudian mencari menu yang lainnya.


"Begitulah aku dan Anita saat pergi ke tempat ini. Jadi kita pesan makan sedikit lalu makan dan kemudian pergi lagi cari jajanan lain yang enak juga!" Selena tersenyum sambil menunjuk salah satu gerai jajanan lainnya.


"Baiklah. Kau boleh melakukan apapun yang kau suka." Eliot pun terus mengikuti ke mana Selena ingin pergi ataupun membeli jajanan.


Bahkan Eliot harus pasrah saat Selena membelikan pakaian yang menurutnya bukan dari barang branded. Meski begitu Eliot tampak menyukainya. Jadi Eliot tidak protes ketika Selena memilihkan beberapa potong pakaian untuknya.


"Bukankah ini pakaian yang dipilih oleh Selena? Biar saja dia memilihnya. Yang penting semua barang yang Selena pilih, Selena berikan padaku. Ini termasuk hadiah pertama yang diberikan Selena! Walaupun beli pakai uangku, tapi tetap saja ini hadiah dari Selena?" Eliot membatin senang.


"Wah! Saking senangnya berbelanja. Ternyata hari sudah sore. Sepertinya kita harus pulang sekarang, Eliot." Selena teringat bahwa hari sudah sore. Saat ia tanpa sengaja melihat senja yang sudah menyinari tempat itu.


"Eliot, senja di sore hari sangat cantik ya? Apalagi dengan pemandangan yang seperti ini. Sangat cantik! Sepertinya aku harus memotretnya!" Selena mengeluarkan handphone miliknya dan memotret pemandangan itu.


Begitu pula dengan Eliot. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan berbeda dari Selena.


"Eliot, bukankah ini cantik?" Selena menoleh ke arah Eliot yang tepat saat bersamaan sedang memotretnya. Mata Eliot melebar dan akhirnya laki-laki itu tersenyum.


"Benar. Sangat cantik!" Eliot benar-benar senang melihat foto pertama Selena yang sangat berkilau. Di mana ia memfotonya sendiri dan bukan menyuruh anak buah untuk melakukannya.


"Cantik."