Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 20



Begitu mobil memasuki sebuah halaman yang cukup besar dan luas, Selena tak hentinya terbengong-bengong. Gadis itu tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


Di depan matanya kini berdiri kokoh sebuah rumah bernuansa eropa. Megah dan memiliki banyak penjaga. Tak hanya itu, di halaman yang luas itu, mata Selena melihat hamparan bunga sejauh mata memandang.


"Ya Tuhan! Apakah ini mimpi? Ini benar-benar seperti di negeri dongeng saja!" Selena tanpa sadar tiada berhenti menatap.


"Hei, turun!" Eliot menegur Selena.


Namun, laki-laki itu mengernyit begitu melihat Selena masih terus melihat ke arah hamparan bunga yang indah itu. Seulas senyuman tipis terbit di bibir Eliot.


"Selena apa kau mendengarku?" Lagi, Eliot menegur Selena.


"I-iya, Tuan!" Selena turun dari mobil.


Mata gadis itu berbinar. Membuat Eliot enggan untuk mengalihkan pandangan. Eliot senang karena Selena menyukai rumahnya.


"Itu artinya dia tidak mungkin akan meninggalkan tempat ini, bukan?" tanya Eliot dalam hati.


"I-ini rumah Anda, Tuan?" tanya Selena.


"Kau pikir aku berani membawamu pergi ke tempat orang? Ayo, masuk. Kau bisa masuk angin bila terus di sini." Eliot menjawab dengan datar.


Kemudian Selena mengikuti langkah kaki Eliot memasuki rumah megah itu. Lagi-lagi Selena dibuat takjub dengan dekorasi rumah Eliot.


"Selamat datang, Tuan!"


Begitu pintu rumah dibuka, ada banyak pelayan yang menyambut kedatangan Eliot. Selena menebak bila yang ada di sana berjumlah sedikitnya 30 pelayan! Mata Selena terpesona melihat para pelayan itu membungkuk.


"Dengar, semuanya. Hari ini ada pelayan baru. Dia akan melayaniku secara pribadi. Bibi Greta, tolong berikan seragam untuknya bekerja. Juga kamarnya. Kau ingat aku tadi mengatakan apa? Itu artinya dia memiliki kamar berbeda. Apa kau mengerti, Bibi Greta?" Eliot menjelaskan posisi Selena di rumahnya.


"Begini cukup bukan? Aku tidak ingin dia merasa tidak betah saat tinggal di rumah ini." Eliot menggumam dalam hati. Ia ingin membuat Selena nyaman ketika berada di rumahnya.


"Baik, Tuan!" Seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan itu menjawab. Selena terus mengawasi gerak-gerik orang yang bernama Bibi Greta itu.


"Dia memiliki seragam yang berbeda. Mungkin dia memiliki posisi yang kuat juga. Terus, Tuan Eliot mengenali namanya. Sepertinya ke depannya aku harus bersikap baik kepada Bibi Greta itu." Selena membatin.


"Selena, kau ikutlah Bibi Greta. Jangan lupa kalau aku memanggilmu, kau harus mendahulukan aku! Apa kau mengerti?" Kali ini Eliot berpindah memperhatikan Selena.


Namun, kedua mata Eliot melebar. Begitu ia melihat Selena tiba-tiba membungkukkan setengah badannya.


"Ya, Tuan. Saya mengerti," jawab Selena.


"Hebat! Dia bisa memahami situasi saat Bibi Greta menjawab kata-kataku. Otak kecilnya itu rupanya paham tata krama ini. Apa dia pernah bekerja pada orang kaya? Sehingga dia bisa memahami attitude ini. Yah, apapun ini aku tidak peduli. Selagi dia bersedia untuk bekerja di rumah ini. Sebab tidak menutup kemungkinan kalau Zack dan Kay akan berebut memberinya pekerjaan," batin Eliot dalam hati.


Kemudian Eliot segera pergi meninggalkan tempat itu. Semua pelayan pun membungkukkan setengah badannya. Begitu Eliot menaiki tangga, tatapan mata para pelayan itu berpindah memperhatikan Selena.


"Tatapan mereka ini sangat mengerikan. Mengapa seperti itu? Bukankah ini sama saja dengan mengintimidasi seseorang yang tidak berdaya?" Selena membatin dalam hati.


"Halo, apa kau bisa memperkenalkan namamu?" Bibi Greta mendekati Selena.


Meski terlihat ramah, tapi Selena tahu bagaimana Bibi Greta itu. Wanita tua itu cukup mengintimidasi Selena. Terlihat ramah namun, sangat tidak bersahabat.


"Nama saya Selena, Bibi Greta," sahut Selena.


Hening melenggang. Tatapan Bibi Greta cukup tajam menyorot Selena. Tentu saja membuat Selena meneguk ludahnya sendiri. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih, bukan hanya Bibi Greta saja yang terlihat memusuhinya.


"Oh, baik!" Selena berjalan di belakang Bibi Greta.


Gadis itu mengabaikan semua tatapan mata yang membuatnya merinding. Bahkan beberapa dari pelayan itu ada yang berbisik.


"Ini kamarmu. Sebenarnya kamar pelayan ada di belakang. Seragam kerjamu akan di antar oleh pelayan lain. Ngomong-ngomong, selama bekerja di sini kau jangan melanggar perintah Tuan Eliot! Masih baik Tuan Eliot memberimu kamar ini. Setelah selesai dengan seragam kerjamu, datanglah ke dapur. Jangan membuatku kesal. Datang tepat waktu!" Bibi Greta lalu pergi meninggalkan Selena.


Gadis itu cukup terkejut dengan kata-kata Bibi Greta yang tidak ramah itu. Selena sedikit bimbang. Mungkinkah keputusannya ini sudah benar? Di tempat ini sepertinya banyak yang tidak menyukainya.


"Huft! Sepertinya aku harus bekerja keras di tempat ini. Tapi, apakah ini semua benar? Belum apa-apa Bibi Greta sudah memusuhiku. Bagaimana dengan pelayan lain?" Selena membatin bimbang.


"Hei! Ini seragam kerjamu!" Seorang pelayan datang tergopoh-gopoh sambil membawa setumpuk baju.


Selena menerimanya dengan gugup. Mungkin ini ada sekitar 4 baju kerja yang baru. Setelah Selena mengucapkan terima kasih, pelayan itu sudah berbalik dengan cepat dan pergi.


"Ya Tuhan! Apa aku bisa bertahan lama di sini?" Selena mengeluh dalam hati.


Sekitar 30 menit, Selena sudah berganti seragam pelayan di rumah ini. Gadis itu mendesah. Mungkin setelah ini akan menjadi hari yang berat untuknya. Kemudian Selena pergi keluar kamar. Ia hanya meletakkan tas besarnya di kamarnya yang baru. Selena belum sempat untuk menata semua barangnya.


"Bibi Greta?" Selena memanggil nama Bibi Greta dengan perasaan takut. Saat ini Selena sudah berada di dapur sesuai permintaan Bibi Greta.


"Kemarilah. Kau harus menghafal menu kesukaan Tuan Eliot. Setelah itu kau harus belajar untuk bisa membuatnya. Sebagai pelayan pribadi Tuan Eliot, apa kau paham posisimu? Aku tidak mungkin memberikan pekerjaan yang ringan untukmu. Karena di sini kau sebagai pelayan pribadi Tuan Eliot." Bibi Greta terus mengawasi gerak-gerik Selena.


Akan tetapi Bibi Greta tahu jika Selena memperhatikan dengan seksama apa yang ia jelaskan. Selena hanya berekspresi datar. Gadis itu tidak mudah ditebak.


"Dia adalah koki handal di rumah ini. Kau bisa belajar darinya. Jangan pernah mengecewakan Tuan Eliot. Kau harus belajar sungguh-sungguh," tandas Bibi Greta.


"Baik. Saya akan melakukannya sebaik mungkin." Selena menjawab dengan tegas. Hal itu cukup mengejutkan Bibi Greta.


"Kalau begitu mulailah!" Bibi Greta menyeringai. Kemudian ia pergi meninggalkan dapur.


"Hei, di mana pelayan baru itu? Aduh, Tuan Eliot memanggilnya!" Seorang pelayan datang dengan napas terengah-engah.


"Ada apa denganmu? Pelan-pelan saja bicaranya!" Bibi Greta membentak pelayan itu.


"Bibi Greta, Tuan Eliot memanggil pelayan baru itu." Pelayan lainnya pun menimpali.


"Kau dengar itu, Selena? Pergilah! Tuan Eliot memanggilmu. Itu artinya kau harus segera datang! Cepat! Jangan sampai membuat Tuan Eliot kecewa dan marah!" bentak Bibi Greta.


"Ba-baik!" Selena yang terkejut itu pun langsung berlari dengan cepat. Ia tidak menyangka kalau Bibi Greta akan membentaknya.


"Mereka memusuhiku. Hanya karena aku orang baru, atau posisi yang aku miliki sedikit berbeda dengan mereka?" Selena membatin bingung. Sungguh ia merasa risih sebab banyak yang memusuhinya.


"Anda memanggil saya, Tuan Eliot?" Selena segera bertanya begitu ia menjejakkan kakinya di ruang keluarga. Tepatnya di mana Eliot sedang merenung.


"Hmm. Apa kau tidak yang memberitahumu kalau aku memanggilmu? Kemarilah. Aku sudah menyelamatkan nyawamu. Tanganku sakit. Bisakah kau memijat bahuku? Waktu aku menggendongmu, kau sangat berat tahu!" Eliot berbicara sesuka hatinya.


"Uhh!" Selena menahan kesal. Tapi, bukankah dia tidak bisa menolak perintah Eliot?


"Kau mendengarku tidak?" Eliot mulai meninggikan suaranya.


"I-iya, Tuan!" Dengan tergagap Selena memijat bahu lebar Eliot. Selena yang kesal mengutuk dalam hati sikap Eliot. Namun, kekesalan Selena berbanding terbalik dengan Eliot yang terlihat senang.


"Yah, ini ternyata tidak buruk juga." Eliot membatin seraya tersenyum.