Boss, I Love You

Boss, I Love You
Bab. 26



"Karena masalah dengan dua penjaga itu sudah selesai, kenapa kau tidak mengatakannya sekarang, Eliot?" desak Kay.


"Sudah kubilang, ke rumahku saja kalau ingin berbicara. Aku tidak ingin membuat keributan!" Eliot beranjak pergi sambil menarik tangan Selena. Laki-laki itu tidak ingin jika Selena tertinggal.


Kay dan Zack saling berpandangan sejenak. Keduanya memutuskan untuk ikut dengan Eliot. Bedanya, mereka berdua masuk ke dalam mobilnya masing-masing.


Selama di perjalanan, Selena tidak bisa berpikir. Ia sendiri tidak suka terjebak dalam situasi ini. Gadis itu terdiam. Bahkan mulutnya terkunci rapat-rapat. Sampai tangan Eliot menyentuh tangan Selena yang berada di pangkuannya.


"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja," ucap Eliot menenangkan.


"Mereka terlihat marah, Tuan. Saya tidak nyaman." Selena memasang ekspresi tidak nyaman.


Eliot melirik ke arah Selena yang kepalanya tertunduk. Lalu kedua tangan Eliot memegangi tangan Selena. Membuat perhatian Selena tertuju padanya.


"Kalau mereka membuatmu tidak nyaman, katakan saja pada mereka. Kau harus berani. Jangan terus diam saja. Atau mereka akan bersikap sesuka hati mereka. Ada aku. Kenapa kau sangat khawatir?" Eliot melepaskan kembali tangannya dari genggaman tangan Selena. Kemudian ia menatap keluar jendela lagi.


"Jadi, saya boleh bilang tidak nyaman dengan sikap mereka? Kalau mereka marah bagaimana?" Selena sadar jika ia hanyalah orang miskin. Apabila dua laki-laki tadi marah, siapa yang tahu mereka tidak akan berbuat nekat.


"Kau berada di rumahku. Kau punya hak atas perlindunganku. Tidak lihat di rumah ada banyak penjaga?" Eliot berbicara tanpa menoleh ke arah Selena.


Senyum Selena mengembang. Ia sudah cukup tenang. "Kalau begitu nanti saya akan minta supaya mereka tidak mengganggu saya lagi!"


"Baguslah." Seulas senyuman tipis terbit di bibir Eliot. Ia menyukai jawaban Selena. Apalagi Selena mengatakannya atas kesadaran dirinya sendiri.


"Yah, lumayan bagus. Supaya mereka berdua tidak merengek padaku lagi," batin Eliot.


Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah Eliot. Semakin ke sini, jantung Selena berdegup kencang. Tapi, gadis itu berusaha tenang. Sebab, Eliot bilang dia akan menjaga Selena.


Empat orang itu keluar dari mobil. Eliot berjalan mendahului. Di belakangnya, Selena mengekor. Gadis itu mengikuti langkah kaki Eliot yang berjalan cepat. Walaupun terkadang Selena sedikit tertinggal, Selena segera berlari kecil.


"Duduklah, Zack, Kay. Kau juga, Selena. Bibi Greta. Ambilkan 4 minuman untuk kami." Eliot beralih kepada Bibi Greta.


"Baik, Tuan." Bibi Greta menundukkan kepala. Memberikan hormat untuk Eliot. Kemudian ia melirik Selena yang duduk di sofa dengan kepala yang menunduk. Walaupun bingung, tapi Bibi Greta memilih untuk bungkam.


"Tuan Kay, kenapa Anda terus menyalahkan Tuan Eliot sejak tadi?" Selena memberanikan diri.


Kay melunak ketika ia mendengar suara Selena. Mendadak ia salah tingkah karena Selena langsung mengungkit tindakannya pada Eliot. Kay pun akhirnya duduk di sofa. Pun juga dengan Zack yang duduk di samping Kay.


"Saya sendiri yang memaksa Tuan Eliot untuk diberikan pekerjaan. Tuan Eliot juga baru tahu identitas saya. Jadi, kenapa Anda malah menyalahkan Tuan Eliot tanpa tahu keadaannya terlebih dahulu?" Selena memandang Kay. Membuat Kay semakin terpojok.


"Nona, mungkin sikap Kay memang berlebihan. Tapi, itu semua karena Kay kecewa dengan sahabat kami sendiri. Saat itu, Kay juga sudah bertanya keberadaanmu tapi Eliot bilang kau pulang ke desa." Zack ikut menjelaskan. Ia tidak ingin Kay terpojok.


"Oh, begitu. Lalu bagaimana dengan Tuan Eliot yang baru mengetahui identitas asli saya? Tuan Eliot bahkan tidak marah sama sekali ketika dua sahabatnya tidak mengatakan apapun tentang saya." Jawaban Selena membuat Zack dan Kay tersentak kaget.


Kedua laki-laki itu seketika menundukkan kepala lantaran malu. Apa yang dikatakan oleh Selena ada benarnya juga. Mengapa mereka berdua terus menyalahkan Eliot? Yang mana bahkan Eliot sendiri baru mengetahui fakta bahwa Berto merupakan seorang gadis.


"Ho, hebat juga dia memutar keadaan. Aku tidak menyangka kalau Selena akan membelaku. Meski awalnya dia sedikit takut. Tapi, ternyata boleh juga." Eliot memuji sikap yang diambil Selena dalam hati. Karena Selena terlihat sangat tenang saat ini.


"Benar juga. Maafkan kami, Eliot. Kami tidak sadar kalau justru kami yang egois." Zack meminta maaf.


"Aku juga minta maaf, Eliot. Maafkan aku atas sikapku yang egois, Eliot. Aku tidak sadar," sesal Kay.


"Ya Tuhan, situasi ini membuatku tidak nyaman. Aku juga baru sadar kalau sudah membuat Tuan Eliot menjadi dibohongi oleh dua sahabatnya sendiri." Selena membatin penuh sesal.


Seorang pelayan datang membawa minuman. Ia adalah gadis pelayan yang kemarin sempat mendorong Selena. Gadis pelayan itu sedikit terkejut karena Selena bisa duduk bersama Eliot dan dua sahabat Eliot yang lain. Meski begitu, setelah ia menaruh minuman itu ia langsung pergi ke dalam untuk kembali membuat gosip heboh.


"Saya tidak tahu apakah Anda berdua tulus meminta maaf atau tidak. Tapi, lain kali jangan diulangi lagi. Itu semua membuat saya terbebani dan saya tidak nyaman. Bisakah Anda berdua berpura-pura tidak mengenal saya? Saya hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang di sini. Bekerja dengan nyaman dan mendapatkan uang untuk membayar utang. Apakah bisa, Tuan Kay? Tuan Zack?" Selena memasang wajah memelasnya. Ia harus bisa membuat dua orang itu tidak lagi mengganggunya.


"Jangan mau dibodohi oleh Eliot. Walaupun itu benar. Jika harga vas bunga waktu itu sangat mahal. Tapi, kau bisa bekerja di rumahku." Zack menimpali. Lucunya ia meminta Selena untuk bekerja di rumahnya.


"Aku bisa menggajimu dengan gaji yang besar. Bahkan lebih besar dari gaji yang diberikan oleh Eliot. Kau bisa mencicilnya setelah aku memberikan gajimu." Kay ikut menimpali. Membuat Eliot memicingkan matanya.


"Apa-apaan kalian berdua? Dia sendiri sudah memilih untuk ikut denganku. Tidak dengar apa yang Selena katakan tadi? Kenapa kalian berdua masih saja mengganggunya?" Eliot pun marah. Kedua matanya melotot. Laki-laki itu bahkan mengeratkan rahangnya. Ia kesal lantaran dua sahabatnya itu terus merengek kepada Selena.