
Selena kaget bukan main ketika gelas yang ada digenggamannya terlepas dan jatuh ke lantai. Di tengah malam yang sunyi, tentu saja suara gelas pecah itu menimbulkan suara yang nyaring. Selena cepat-cepat membereskan kekacauan di sana. Dia takut sampai ada yang melihatnya.
"Apa yang aku pikirkan! Kenapa gelas ini sampai pecah? Bagaimana kalau gelas ini harganya mahal?" Selena membatin gelisah. Padahal masalah vas bunga saja belum menemukan solusinya tetapi kini Selena harus berhadapan dengan masalah baru.
"Selena, apa itu kau?" Bibi Greta berdiri di dekat pintu dapur. Wanita itu sudah memakai baju tidur. Dia keluar karena mendengar keributan di dapur yang memang letaknya tidak jauh dari kamar Bibi Greta berada.
"Bibi , maafkan aku." Selena merasa bersalah. Wanita itu sampai harus terkena pecahan kaca karena terlalu takut.
"Selena." Bibi Greta segera berlari dan berjongkok di hadapan Selena. "Kenapa kau ceroboh sekali! Tuan Eliot pasti akan memarahiku!" protes Bibi Greta.
Wanita itu segera menarik tangan Selena dan memaksanya berdiri. Dia menatapnya dengan begitu tajam. "Kenapa malam-malam begini kau ke dapur? Jika ingin minum, bukankah sudah ada air minum di kamarmu Selena?"
"Aku memikirkan Tuan Eliot, Bibi . Dia menghilang begitu saja. Bagaimana kalau mereka melukainya?"
"Mereka? Mereka siapa Selena?" Bibi Greta memegang tangan Selena untuk menagih penjelasan.
Selena menggeleng kepalanya. "Aku juga tidak tahu siapa mereka. Mereka bersenjata dan ingin mencelakai Tuan Eliot. Kami bertemu saat sedang menjenguk Tuan Kay di rumah sakit," jelas Selena tanpa mau memberi tahu Bibi Greta kalau Eliot juga memiliki senjata api.
"Selena, kenapa kau baru katakan sekarang? Tadinya aku pikir Tuan Eliot pergi untuk urusan bisnis. Awalnya aku memang sudah curiga melihat penjagaan di rumah ini di perketat." Bibi Greta mulai panik dan khawatir.
"Bibi, apa yang harus kita lakukan? Aku bingung."
"Selena, tenanglah. Jangan membuatku pusing."
"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" Selena memandang ke arah Leo yang tiba-tiba saja muncul di dapur. "Anda tidak tidur di kamar anda?"
"Tuan-"
"Nona, panggil saya Leo." Leo membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk hormatnya terhadap Selena.
Karena Leo orang dari geng mafia, Bibi Greta sendiri tidak mengenalnya. Dia juga sangat penasaran kenapa Selena bisa kenal dengan Leo dan terlihat jelas Leo sangat menghormati Selena.
"Leo, dimana Tuan Eliot?"
"Tuan sedang melakukan tugas penting, Nona. Anda pasti tahu." Ada penekanan di sana. Leo berharap Selena tidak ikut campur dalam masalah Eliot.
"Kemana?" tanya Selena ingin tahu.
"Nona, sudah malam. Tidurlah. Anda butuh istirahat yang cukup."
Leo memandang ke arah Bibi Greta sejenak sebelum memandang Selena lagi. "Mari saya antar, Nona."
Bibi Greta hanya mengangguk saja. Dia memandang punggung Selena dan Leo yang terus menjau meninggalkan dapur. "Selena, sebenarnya sehebat apa kau di mata Tuan Eliot sampai Tuan Eliot memperlakukanmu seistimewa ini?"
...***...
Jonathan dan Eliot sama-sama berbaring di rumput. Mereka memandang embun pagi yang terasa sangat dingin. Pertarungan memang belum selesai. Tetapi mereka butuh jeda untuk menarik napas.
"Kau ingat saat kita duduk di bangku SMA dulu Eliot? Kau lebih unggul dariku. Bahkan sebenarnya aku yang terbaik saat itu!" Tiba-tiba saja di momen genting seperti itu, Jonathan mengajak Eliot bernostalgia ke masa SMA mereka dulu.
"Kau tahu Jonathan. Bahkan aku tidak pernah memiliki niat jahat sedikitpun padamu. Tetapi kau justru selalu memandangku sebagai musuh!" jelas Eliot.
Dia memandang ke samping. Eliot melihat Marthin yang masih belum selesai bertarung dengan anak buah Jonathan.
"Semua kau rebut! Kau selalu mengambil semua yang aku inginkan Eliot!" Jonathan kembali bangkit. Kali ini pria itu tiba-tiba saja memegang belatih yang entah dari mana dia dapatkan lalu berniat untuk menusuk Eliot.
Dengan cepat Eliot menghindar. Dia memegang tangan Jonathan dengan sekuat tenaga. "Gawat. Aku kehabisan banyak darah dan tangan kananku mulai tidak bisa berfungsi. Rasanya tanganku lemah sekali!" umpat Eliot di dalam hati.
Karena memang Jonathan sudah latihan secara rutin, tenaga pria itu memang bukan main hebatnya. Dia berhasil merebut kembali belatih yang sempat di tahan oleh Eliot.
"Mati kau Eliot!" Jonathan melayangkan belatih itu di udara. Dia sudah tidak sabar membunuh Eliot. Namun tiba-tiba sebuah serangga kecil mengigit leher Jonatan hingga membuat seluruh tubuh pria itu mati rasa.
Bersamaan dengan itu, Joanne merebut belatih Jonathan. Dia juga menendang Jonathan hingga menyingkir dari tubuh Eliot.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Joanne merasa ngeri melihat luka di lengan Eliot.
Eliot tidak langsung menjawab. Dia melihat Jonathan yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri. "Apa yang sudah kau berikan padanya?"
"Serangga beracun. Dia akan mati secara perlaha. Bukankah itu sangat menyiksa?" Joanne segera membantu Eliot duduk. Mereka sama-sama melihat Marthin yang sudah berhasil menang mengalahkan anak buah Jonathan. Ada senyum bahagia di sana.
"Bagaimana dengan Kay dan Zack?" Eliot memandang ke arah Joanne. "Kau berhasil menghubungi mereka?"
Joanne terlihat sedih. Dia seperti tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa? Cepat katakan!" teriak Eliot marah.
"Rumah sakit terbakar hebat dan sudah rata dengan tanah. Saya gagal menghubungi mereka Tuan. Sekarang saya tidak tahu bagaimana nasip Tuan Laz dan Tuan Zack."
"JOANNE! Kau tidak berguna!"