
Mike tiba-tiba saja menarik tangan Joanne ketika Eliot sedang menerima telepon. Pria itu membawa Joanne ke tempat yang letaknya lumayan jauh dari posisi Eliot berada. Sebelum bicara, Mike memandang sekali lagi ke arah Eliot sebelum memandang Joanne.
"Joanne, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Sejak kemarin aku perhatikan kelakuanmu sangat aneh." Mike mulai menyelidiki tujuan Joanne bersikap sok cantik seperti itu.
"Apa ada yang salah? Aku lelah bersembunyi di balik topeng. Bukankah wajahku ini memang cantik? Mike, sebenarnya apa urusannya samamu? Kenapa kau begitu peduli dengan sikapku terhadap Tuan Eliot. Sudah bertahun-tahun lamanya kita bekerja dengan Tuan Eliot. Kau pasti tahu kalau Tuan Eliot belum memiliki kekasih."
"Tunggu! Kekasih kau bilang? Joanne, apa maksudmu? Kau mencintai Tuan Eliot?" Mike terlihat cemburu. Namun pria itu berusaha menyembunyikan kekecewaannya karena wanita yang ia cintai justru tertarik pada atasan mereka sendiri.
"Apa ada yang salah? Aku wanita dia pria," sahut Joanne dengan santai.
"Joanne!" Mike mengusap wajahnya sendiri dengan tangan. "Kau tidak salah? Kita semua tahu kalau wanita yang disukai Tuan Eliot adalah Nona Selena. Kenapa kau masih bersih keras untuk menjadi kekasih Tuan Eliot?" Mike berusaha keras untuk menyadarkan Joanne.
"Mike, jangan campuri urusan pribadiku. Aku tidak suka. Yang pasti selama Tuan Eliot belum menikah, dia masih bisa menjadi milik siapapun!" Joanne yang tidak mau terlalu lama meninggalkan Eliot segera pergi dari sana. Mike berdiri sendiri dengan wajah kecewa. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam sakunya. Bibirnya tersenyum pahit melihat cincin berlian yang ada di dalam kotak cincin tersebut. "Sampai kapanpun cincin ini tidak akan pernah menemui pemiliknya," gumam Mike sedih.
Eliot memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menatap dingin ke arah Joanne yang kini berjalan menghampirinya. "Ada apa? Aku lihat kau dan Mike membicarakan sesuatu yang serius. Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" Eliot tahu kalau selama ini anak buahnya itu selalu membahas masalah geng mafia mereka jika sudah bertemu. Tidak pernah sekalipun membahas masalah pribadi.
"Hanya membahas masalah senjata baru saja Tuan." Joanne memandang ke depan. "Siapa Selena, Tuan? Dia memang wanita yang cantik. Apa anda menyukainya?"
Eliot tertegun mendengarnya. Tetapi di mata Eliot, Joanne ini sudah seperti sosok kakak kandung baginya. Selain usia Joanne yang lebih tua, wanita itu juga selalu saja memberinya solusi atas masalah yang ia hadapi selama ini. Kali ini Eliot ingin meminta bantuan Joanne dalam urusan asmaranya.
"Menurutmu, apa dia cocok untuk menjadi istriku?"
Deg. Joanne membeku. Dia tidak menyangka kalau Eliot akan menanyakan kalimat semenyakitkan itu.
"Anda sudah menyelidiki latar belakangnya, Tuan? Apa kau saya bantu? Menikah bukan sebentar. Seumur hidup anda akan bersama dengannya. Jadi, saya tidak mau sampai anda salah pilih dan menyesal." Joanne berusaha membuat Eliot berpikir dua kali untuk menjadikan Selena istrinya.
"Di dunia ini aku tidak pernah takut dengan siapapun. Tetapi setelah bertemu dengannya, aku selalu merasa takut. Aku takut dia pergi dariku Joanne. Apa ini yang dinamakan cinta? Apa aku telah berubah bodoh sejak jatuh cinta padanya? Tapi, aku bisa gila jika sampai dia tidak mencintaiku.
Aku akan kecewa jika dia sampai menolakku. Mungkin aku bisa mengancamnya agar mau mencintaiku. Tapi, bukan seperti itu yang aku inginkan. Joanne, apa kau bisa membantuku? Bantu aku untuk mengetahui apakah Selena mencintaiku atau tidak. Bukankah kau serba bisa?"
Joanne mengukir senyum manis di bibirnya. Dia juga merasa tidak tega jika Eliot sampai gila hanya karena cintanya di tolak. Joanne juga tidak mau jika Eliot salah pilih wanita. "Baiklah, Tuan. Serahkan semuanya sama saya."
Mike yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka hanya diam saja di sana. Pria itu mulai bingung dengan jalan pikiran Joanne yang sama sekali tidak bisa di tebak. "Joanne, kau benar-benar wanita yang misterius. Tidak mudah menebak apa yang sekarang kau pikirkan," batin Mike.
***
Selena menyambut kepulangan Eliot dengan pakaian tidur. Wanita itu memang sudah mau tidur tadinya. Tapi tiba-tiba saja Bibi Greta memintanya untuk menyambut kepulangan Eliot.
Ketika pintu dibuka, justru pemandangan yang menyakitkan mata yang dilihat oleh Selena. Bagaimana tidak. Kini Eliot yang dalam keadaan mabuk harus di papah oleh Joanne. Satu hal yang membuat Selena semakin sakit hati. Pakaian Joanne dan Eliot sudah berganti. Entah apa yang sudah mereka lakukan di luar sana. Bahkan Mike juga sudah tidak bersama dengan mereka lagi. Padahal jelas-jelas tadi mereka pergi bertiga.
"Apa Tuan Eliot mabuk, Nona?" tanya Selena berusaha ramah.
"Seperti yang kau lihat. Buatkan minuman hangat," ketus Joanne. Wanita itu membawa Eliot ke kamar tidurnya. Selena termenung beberapa saat sebelum akhirnya ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.
Eliot melirik ke arah Joanne. Pria itu terlihat tidak suka dengan cara Joanne bicara dengan Selena. "Turunkan nada bicaramu atau aku akan menyiksamu Joanne!" ancam Eliot sembari berjalan.
"Tuan, anda mau berhasil atau tidak?" ancam Joanne gantian. Hal itu membuat Eliot kembali diam sebelum akhirnya dia lebih memilih untuk menuruti perkataan Joanne lagi.
"Apa semua orang sudah tidur?" batinnya. "Setelah ini aku juga mau tidur. Tubuhku terasa lelah sekali. Aku ingin istirahat."
Selena menahan langkah kakinya melihat pintu kamar Eliot yang terbuka sedikit. Kini wanita itu tidak perlu repot-repot untuk mengetuknya lagi sebelum masuk.
"Apa Nona Joanne sengaja membukanya?"
Selena melanjutkan langkah kakinya. Wanita itu sebenarnya ragu jika masuk tanpa mengetuk pintu dan permisi. Tetapi mau bagaimana lagi. Kedua tangannya digunakan untuk memegang nampan.
"Nona, ini minuman hangat untuk-"
Selena mematung melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Bagaimana tidak. Kini Joanne berdiri dan bersandar di dinding sedangkan seorang pria berada dihadapannya. Mereka berdua seperti sedang berciuman mesra. Sama seperti yang dilakukan oleh Selena dan Eliot waktu itu.
Posisinya Eliot membelakangi Selena hingga tidak menyadari kehadirannya. Sedangkan Joanne yang jelas-jelas tahu kalau Selena sudah tiba hanya tersenyum tipis. Wanita itu seperti sengaja melakukan perbuatan itu untuk menunjukkan kepada Selena kalau sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih.
"Sial! Aku tidak boleh menangis." Selena memalingkan wajahnya ketika buliran bening itu menetes dan membasahi pipinya. "Nona, ini minumnya. Saya letak di sini ya. Permisi."
Cepat-cepat Selena pergi meninggalkan kamar Eliot. Saat tiba di depan pintu, lagi-lagi Selena dibuat kaget dengan kemunculan Eliot yang saat itu berdiri dengan tatapan penuh arti.
"Selena, kenapa kau menangis?" Eliot menghapus air mata di pipi Selena. Ia sama sekali tidak menyangka kalau rencana Joanne hanya akan membuat Selena menangis.
"Tuan, bukankah anda?" Selena memandang ke dalam kamar lagi. Dia melihat Joanne menatapnya sinis. Di samping wanita itu ada Mike yang berdiri dengan tatapan bodoh. Dua orang itu seperti sedang menertawai Selena karena berhasil mengerjainya.
"Selena, apa yang kau lihat?"
Selena menatap ke arah Eliot. Dia menghapus air matanya yang menetes semakin deras sebelum berlari pergi meninggalkan Eliot sendiri di sana.
Eliot menghela napas kasar. Dia berpikir kalau rencana yang dibuat Joanne sangat buruk.
"Joanne!" ketus Eliot hingga Joanne keluar dari kamar. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dia mencintai anda, Tuan," ucap Joanne sebelum Eliot marah. "Anda tidak salah memilihnya. Dia wanita yang baik," jelas Joanne lagi.
Mike melirik Joanne sebelum tersenyum tipis. Meskipun awalnya kesal karena harus terlihat di dalam rencana bodoh Joanne. Tetapi pada akhirnya pria itu bisa kembali bersemangat untuk mendapatkan balasan cinta dari Joanne.
"Kau yakin? Tapi, dari mana kau tahu?" tanya Eliot tidak percaya. Dia bahkan mengurungkan niatnya untuk menghukum Joanne karena sudah membuat Selena menangis.
"Dia cemburu. Dia pikir yang di dalam tadi kita berdua. Tuan, jika dia tidak cemburu dia tidak akan menangis. Sekarang kejarlah dia. Katakan padanya yang sebenarnya anda rasakan." Joanne mengukir senyum palsu. Sebenarnya hatinya sangat sakit mengatakan semua kalimat itu.
"Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu Joanne." Eliot segera pergi untuk menemui Selena.
Mike segera menggenggam tangan Joanne. "Kau benar-benar aneh. Baru saja tadi siang kau bilang menyukai Tuan Eliot. Tapi malamnya kau mendukung Tuan Eliot agar bersatu dengan wanita lain."
"Satu hal yang harus kau tahu, Mike. Selain tidak bisa menunda kematian, manusia juga tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintainya."