
"Argh!" Selena menjerit.
Gadis itu bermimpi buruk. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Firasatnya tidak enak. Deru napas Selena memburu. Mata Selena beralih kepada gelas yang ada di nakas.
Tangan Selena gemetar ketika ia meraih gelas itu. Begitu didapat, Selena segera meneguknya sampai habis. Pikiran Selena menjadi kalut. Bayangan-bayangan Eliot terluka begitu nyata di mimpinya.
Padahal Selena tahu kalau bisa saja Eliot dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, mengapa justru pikiran dan mimpi buruk terasa membayangi Selena? Gadis itu mendesah. Hingga Selena harus terkejut karena ketukan di daun pintunya. Bahkan Selena yang kaget, melebarkan mata.
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Leo.
"Ya! Sa-saya baik-baik saja, Tuan Leo. Anda jangan khawatir. Tapi, bagaimana Anda bisa mendengar saya bicara?" Selena bingung.
Sebab Leo dapat mendengarkan suaranya padahal kamar Eliot ini kedap suara. Jadi mustahil apabila Leo dapat mendengarkan suara Selena yang kecil.
"Tenang saja, Nona. Saya hanya memberikan gelang yang sudah terdapat penyadap. Jadi saya bisa mendengarkan suara Anda. Kalau begitu, apakah ada yang Anda butuhkan, Nona?" tanya Leo.
"Alat penyadap? Seperti apa itu? Maaf, Tuan Leo. Saya baik-baik saja dan terima kasih sudah khawatir pada saya. Sepertinya saya sudah merasa lebih baik sekarang." Selena menaruh kembali gelas kosong itu ke nakas.
Kemudian Selena bersiap untuk tidur lagi. Leo yang berdiri di depan pintu ikut bernapas lega ketika Selena menghela napas panjang. Namun, Selena membuka kedua mata lagi. Gadis itu menarik napas. Ada yang mengganjal di hatinya.
"Tuan Leo. Apa Anda mendengarku?" Selena bertanya. Ia tidak bisa menunggu lagi.
"Ya, Nona. Saya masih bisa mendengarkan Anda. Apa Anda berubah pikiran?" jawab Leo.
"Anu. Apakah Anda tahu bagaimana keadaan Tuan Eliot?" Selena benar-benar berharap bahwa Leo bisa menjawab pertanyaannya. Setidaknya untuk meringankan rasa gelisah dalam hatinya.
"Anda khawatir pada Tuan Eliot? Bagaimana jika Anda berdo'a supaya Tuan Eliot baik-baik saja?" Leo tidak tahu bagaimana kabar dari Eliot. Hanya saja, Leo juga tidak ingin semakin membuat Selena khawatir.
"Oke." Selena merenung. Gadis itu kembali menaruh kepalanya di atas bantal. Bersiap untuk tidur lagi.
"Tuan Leo tidak mau menjawab ya? Sekarang, aku harus bagaimana supaya hatiku tenang? Tuan Eliot, Anda baik-baik saja bukan?" Selena berbicara dalam hati. Ia tidak ingin Leo mendengarnya.
Kepanikan luar biasa terjadi di arena medan peperangan. Eliot harus cepat dilarikan ke rumah sakit karena keadaannya yang parah. Joanne mulai panik dan ia terus mendampingi Eliot. Sebelum membawa Eliot ke rumah sakit, Joanne berganti pakaian terlebih dahulu.
"Kenapa kita harus pergi ke rumah sakit? Kau tahu kalau Mike bisa mengobatiku?" Eliot yang masih tersadar itu berbicara dengan napas yang terengah-engah. Eliot tahu bahwa dokter di rumah sakit bisa mencurigai semua luka yang didapatnya.
"Saya bisa mengatakan bahwa ada orang yang ingin merampok Anda, Tuan. Jadi, Anda jangan khawatir. Sekarang ayo kita ke rumah sakit. Saya sudah selesai bersiap, Tuan!" Joanne hendak meminta tolong pada Marthin untuk memapah Eliot. Namun, Mike datang mendekat.
"Saya bisa merawat Tuan Eliot, Nona Joanne. Jadi tidak perlu ke rumah sakit. Anda jangan lupa kemampuan saya, Nona," kata Mike.
"Maafkan aku, Mike. Tapi aku tidak bisa bertaruh untuk nyawa Tuan Eliot! Kalau begitu kita harus bergegas ke rumah sakit dan jangan membuang waktu! Tolong bantu aku!" desak Joanne.
Mike menghentikan ulah Joanne. Laki-laki itu kembali membawa Eliot tidur di tanah. Kemudian Mike memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengambil semua barang medisnya.
"Anda lupa kalau saya merupakan seorang dokter bedah? Saya sudah bersiap dengan alat-alat medis untuk berjaga apabila ada yang terluka, Nona Joanne. Jadi, mohon maaf. Permisi. Bisakah Anda pergi? Beberapa orang akan membantu mendirikan kemah darurat agar saya bisa melakukan operasi." Mike mengusir Joanne yang tak bisa menyembunyikan rasa panik dan khawatirnya.
"Pergilah! Biarkan Mike yang mengurusnya!" Eliot mengusir Joanne. Namun, Joanne masih tidak ingin pergi dari tempat itu.
"Tidak, Tuan! Di sini alat-alat Mike terbatas! Saya takut Anda semakin tidak bisa tertolong kalau hanya mengandalkan Mike! Alat-alat medis di rumah sakit jauh lebih baik, Tuan!" tolak Joanne
"Jangan membuatku marah!" Eliot membentak.
Eliot mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat Joanne pergi. Mike sudah menyuntikkan anestesi dan juga suntikan mencegah tetanus. Supaya luka-luka yang ada di tubuh Eliot dapat sembuh dengan baik.
"Operasi akan saya lakukan, Tuan Eliot. Nona Joanne ingin berada di sini?" Mike sudah menggunakan sarung tangan. Operasi dadakan itu sudah siap untuk dilakukan.
"Baiklah." Joanne berlalu pergi.
Secara mendadak tenda kemah sudah menjadi ruangan operasi. Mike sudah menyiapkan alat medisnya. Setelah beberapa lama waktu berlalu, kesadaran Eliot menghilang. Barulah Mike beraksi.
Mike harus bergerak cepat mengeluarkan peluru-peluru yang bersarang di tubuh Eliot. Kemudian Mike dibantu anak buahnya yang memiliki kemampuan sama supaya operasi itu segera lekas selesai.
"Percayalah, Nona Joanne. Operasi Tuan Eliot pasti berhasil. Kita harus mempercayai teman kita bukan?" Seseorang berusaha menghibur Joanne.
"Semoga saja." Joanne menerawang sendu.
"Mike memang memiliki kemampuan yang hebat. Aku yakin Tuan Eliot pasti sembuh. Tapi, entah mengapa aku merasa tidak berguna. Apa karena aku selama ini tidak pernah menjadi berguna untuk Tuan Eliot? Benar-benar menyebalkan ketika menjadi orang yang tidak berguna." Joanne membatin sendu.
Hati Joanne terasa sakit ketika mengingat Eliot mengusirnya dengan kasar. Semua pasukan yang selamat dan tidak mendapatkan luka pun bersiap untuk mengumpulkan senjata amunisi perang milik musuh.
Wilayah ini sudah resmi menjadi milik Eliot. Marthin cukup senang akan hal ini. Itu artinya Eliot tidak lama lagi akan membangun tempat ini. Pandangan mata Marthin terhenti ketika melihat Joanne duduk termenung sendirian. Mungkin saja Joanne sedang mengkhawatirkan Eliot. Begitulah pikiran Marthin saat ini.
Tanpa disadari, operasi sudah berlangsung lama. Menyadari hal ini Joanne kembali panik. Wanita itu berdiri dan menunggu Mike keluar bersama anak buahnya.
"Mengapa mereka belum keluar juga?" tanya Joanne.
"Sedikit lagi, Nona. Mungkin Tuan Mike akan keluar. Mengapa Anda tidak mengisi perut terlebih dahulu? Saya sudah membawakan roti untuk Anda," jawab Marthin.
"Bagaimana bisa aku diam saja ketika Tuan Eliot dalam bahaya? Tuan Mike memang ahli bedah. Tapi, itu tidak menjamin Tuan Eliot akan selamat juga," tandas Joanne.
Marthin menghela napas panjang. Ia tidak menduga bahwa Joanne bisa sampai berpikir seperti itu. Padahal Mike juga bekerja sebagai dokter. Namun, selain itu Mike juga memiliki rumah sakitnya sendiri. Apalagi yang perlu dikhawatirkan?
"Aku ingin masuk, Mike! Apa kau mendengarku?" Joanne berteriak. Wanita itu sangat khawatir dengan keadaan Eliot.
"Mike? Bagaimana? Kenapa kamu diam?" tanya Joanne.
"Tuan Eliot kehilangan banyak darah. Operasinya berhasil. Tapi, di antara kita adakah yang memiliki golongan darah AB? Tolong siapapun itu kita harus segera mendapatkannya!" Jawaban Mike tidak terduga. Membutuhkan transfusi darah dalam kondisi seperti ini?