
Selena pergi bersama Anita setelah menyelesaikan makan siangnya. Sudah saatnya bagi Selena untuk mencuci pakaian Eliot. Bibi Greta sudah memberikan tugas itu kepada Selena. Sebab Selena merupakan pelayan pribadi Eliot.
"Sebenarnya, aku tidak mengerti. Mengapa Tuan Eliot terkadang baik hati, tapi di saat yang bersamaan Tuan Eliot juga menyebalkan?" Selena menggumam lirih.
Gadis itu menghela napas panjang. Sambil mencuci baju Eliot, Selena terus memikirkan sikap Eliot. Sebab memang terkadang perintah Eliot terlalu menyiksa Selena.
Satu jam berlalu. Selena sudah menyelesaikan mencuci baju Eliot dan menjemurnya. Hati sudah sore. Sudah waktunya Selena untuk bersiap menyambut kedatangan Eliot.
Selena merenggangkan tubuhnya. Punggungnya cukup sakit habis mencuci baju. Gadis itu juga mencuci bedcover sehingga bisa dipastikan tubuhnya sangat pegal.
"Kau sudah menyelesaikan tugasmu, Selena? Tolong sapu halaman depan. Bantu Anita. Lagipula sebentar lagi Tuan Eliot pulang. Cepat ke sana, Selena," perintah Bibi Greta.
"Eh? Oke." Selena terkejut lantaran Bibi Greta tiba-tiba memberinya tugas baru.
"Padahal aku baru saja selesai mencuci. Punggungku, uh." Selena membatin lelah.
Namun, Selena tetap mengambil sapu lidi untuk digunakan menyapu halaman. Benar kata Bibi Greta. Di halaman depan sudah ada Anita dan beberapa pelayan lain menyapu halaman luas itu.
"Selena? Kau membawa sapu? Kau membantuku?" Anita menyambut kedatangan Selena dengan suka cita.
Selena menganggukkan kepala. "Lebih tepatnya aku membantu kalian semua. Hampir selesai rupanya. Yah halamannya saja memang seluas ini. Perlu waktu untuk membersihkannya."
"Seperti yang kau lihat. Kau baru selesai mencuci?" Anita tetap menyapu halaman meski ia mengobrol dengan Selena.
"Iya. Sudah selesai. Kalau belum apa mungkin aku berada di sini?" Selena tersenyum.
Kemudian keduanya pun menyapu halaman dengan sesekali bercanda. Akan tetapi, lama kelamaan Selena menjadi tidak nyaman. Karena pelayan lainnya banyak yang menghindari kedekatannya dengan Selena. Bahkan Selena bisa merasakan tatapan mata penuh intimidasi dari beberapa pelayan.
"Ah, mau kubantu?" Selena berusaha membantu salah satu pelayan yang hendak mengangkat tempat sampah.
"Minggir! Kau jangan terlalu banyak pekerjaan. Kau sudah terlalu banyak perhatian untuk menggoda Tuan Eliot." Pelayan itu membantu temannya dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Terjadi lagi," keluh Selena dalam hati.
"Selena, kemarikan sapumu. Mobil Tuan Eliot sudah datang!" Buru-buru Anita meraih sapu Selena. Gadis itu seolah tahu apa yang harus dia lakukan.
"A-apa yang kau lakukan, Anita?" Selena bertanya dengan bingung.
Mobil Eliot berhenti tepat di depan Selena. Membuat Selena maupun Anita menoleh. Namun, saat Selena menoleh ke belakang, di waktu itu juga Anita pergi dengan cepat.
"Aku sudah diperingatkan oleh Bibi Greta," batin Anita dalam hati.
"Ah, Tuan Eliot." Selena membungkukkan setengah badannya. Ia menyambut kedatangan Eliot dengan sopan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Eliot.
"Saya? Menyapu halaman bersama yang lain. Eh? Kemana perginya Anita? Jahat sekali aku ditinggalkan," kesal Selena.
"Ayo, kita pergi. Kau akan kedinginan nanti. Menurutmu, bagaimana kalau kita membicarakan tentang club malam yang terbakar itu?" Eliot tahu jika Selena masih khawatir tentang club malam yang terbakar.
Walaupun Eliot juga paham terkadang Selena takut ketika bekerja di sana. Eliot sendiri pernah melihat tubuh Selena bergetar karena takut saat berhadapan dengan orang-orang yang mabuk.
"Aku sudah menyelidikinya. Melalui info yang diberikan padaku, dia tidak memiliki orangtua atau siapapun sebagai keluarganya. Mirisnya, dia memiliki utang yang ditinggalkan oleh keluarganya. Pantas saja. Dia begitu ingin bekerja. Selena, seburuk apa nasib sudah mempermainkanmu?" Eliot membatin. Ia teringat dengan file yang baru saja diperoleh dari orang kepercayaannya.
"Eh? Apa pelakunya sudah ketemu?" tanya Selena.
"Begitulah." Eliot terus berjalan menuju ke ruang kerjanya. Laki-laki itu banyak diam.
Membuat Selena heran. Karena Selena tidak pernah melihat Eliot dengan ekspresi wajah yang seperti itu. Akan tetapi, Selena tidak bertanya. Ia tidak ingin melanggar batasan antara majikan dan bawahan.
Selena ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumah. Saat Eliot sudah membuka pintu ruang kerjanya. Laki-laki itu membalikkan badannya karena merasa Selena tak mengikuti langkah kakinya.
"Kenapa kau masih di depan pintu begitu?" tanya Eliot.
"Apakah tidak apa-apa jika saya masuk ke dalam, Tuan?" balas Selena.
"Tidak ada yang melarang. Bukankah aku yang mengajakmu masuk ke sini?" Eliot menjawab penuh dengan tekanan.
"Baik." Selena pun akhirnya masuk ke dalam ruang kerja Eliot.
Mata Selena melebar ketika gadis itu menemukan ruang kerja Eliot sangat menarik perhatiannya. Ini surga bagi Selena yang sangat menyukai lukisan. Di sana, ada satu lukisan begitu aestetic.
Eliot terlihat mengerutkan keningnya saat mengetahui raut wajah Selena yang sangat cerah. Bahkan kedua mata gadis itu berbinar indah. Eliot pun mengamati ke arah mana mata Selena memandang.
"Kau sepertinya sangat menyukai lukisan ya?" Eliot memicingkan mata. Ia hampir tidak percaya jika Selena menganggukkan kepala tanpa ragu.
"Sa-saya sangat menyukainya, Tuan! I-itu, bukankah lukisan zaman mitologi kuno?" Selena berjalan mendekati lukisan yang terpampang di tembok. Gadis itu bahkan melewati Eliot begitu saja.
"Ya, ini dibuat oleh penulis terkenal di Yunani. Kau rupanya sangat paham dengan seni lukisan ya?" Eliot tidak mempercayai ketertarikan Selena pada lukisan.
"Bukankah sangat janggal seseorang dari keluarga miskin tahu menahu soal lukisan. Bahkan dalam hitungan detik saja dia sudah bisa menebak makna lukisan itu. Anehnya lagi, kedua matanya tampak bersinar terang ketika ia melihat lukisan yang sangat berharga. Selena, mengapa kau sangat misterius?" Eliot membatin sambil kedua matanya tidak luput dari Selena yang sedang mengagumi lukisan itu. Entah mengapa Eliot merasa, ada yang salah dengan informasi yang baru saja dia dapatkan.