
"Jadi, sudah membahas kapan tanggal pernikahan kalian?" Joanne mengusap pipinya berulang kali setelah Selena melepaskannya.
"Iya. Kami sudah membahasnya sejak sebelum pertunangan ini. Karena aku tidak punya keluarga jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Ngomong-ngomong, ini sungguh hadiah untukku, Kak Jo?" Kedua mata Selena berbinar ketika melihat sebuah gelang emas yang cantik. Gelang tersebut pemberian dari Joanne sebagai hadiah pertunangan.
"Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Kau bisa memberikannya pada temanmu itu." Joanne tidak ingin terbawa perasaan. Sampai pada matanya menangkap Mike datang mendekat.
"Nona Selena, aku ingin undur diri bersama kekasihku. Ini sudah malam. Besok pagi saya harus bekerja. Karena ada jadwal saya. Bisa saya membawanya pergi?" pamit Mike.
"Oh, silahkan." Selena lalu memeluk Joanne untuk terakhir kalinya. Kemudian Mike dan Joanne pergi meninggalkan Selena. Untungnya Anita ada di sampingnya. Sebab Eliot masih menerima tamu.
"Akhirnya kau bahagia juga bersama orang yang kau cintai, Selena. Aku ikut senang. Ini hadiah untukmu. Maaf. Hanya gelang emas yang murah. Walaupun tidak seperti pemberian dari Nona Jo, tapi, tolong lihat bagaimana ketulusan hatiku." Anita memberikan sebuah kotak untuk Selena.
Tentu saja Selena tersentuh. Baru kali ini ia memiliki teman dan orang-orang yang peduli padanya. Tanpa berpikir lagi, Selena pun memeluk Anita.
"Terima kasih, Anita. Apapun yang kau berikan, aku akan menerimanya dengan senang hati. Karena kau teman pertamaku di sini. Bagiku itu sudah cukup. Aku akan memakainya juga!" Dengan penuh semangat Selena akhirnya memakai gelang pemberian Anita juga.
Anita tersenyum. Selena bisa menghargai pemberiannya. Keduanya pun saling berbincang dan tertawa satu sama lain. Tanpa sadar hari sudah sangat malam.
Eliot datang dan mengajak Selena pulang. Pesta pertunangan mereka sudah usai. Tamu-tamu undangan pun sudah pulang lebih dulu. Tadi Eliot membicarakan pekerjaan yang masih terencanakan.
"Bagaimana hari ini? Apa kau senang, Selena?" tanya Eliot.
"Ya, aku sangat senang. Tadinya aku sangat takut karena mereka terlihat sangat berkelas dan berbeda denganku. Tetapi lama-kelamaan aku tahu bahwa aku seharusnya merasa nyaman karena aku memiliki kau di sisiku. Tapi Hari ini juga senang karena mendapat hadiah dari Anita, Nona Jo dan Tuan Mike. Baru kali ini aku mendapatkan banyak hadiah dari orang-orang yang peduli padaku. Sebelumnya Aku bahkan tidak pernah memiliki siapapun di dunia ini. Ini karena keberuntungan aku bertemu denganmu. Karena tanpa aku bertemu denganmu mungkin aku tidak akan menemukan orang-orang yang menyayangiku. Terima kasih Eliot." Jawaban dari Selena terasa sangat menyentuh di hati Eliot. Laki-laki itu merasa bangga pada dirinya sendiri lantaran Selena sangat bergantung padanya.
Kekhawatiran yang sebelumnya Eliot pikirkan bahwa Selena memiliki hubungan atau perasaan dengan teman-temannya itu ternyata hanyalah pikiran buruknya. Seharusnya dirinya terus mempercayai Selena seperti Selena yang percaya pada dirinya.
Tak terasa Setelah perjalanan yang begitu lama itu akhirnya Eliot dan Selena sampai di rumah pesta pertunangan mereka yang dilakukan di sebuah hotel ternama akhirnya selesai sudah.
Sesampainya di mansion besar itu Selena dan Eliot disambut oleh para nelayan maupun penjaga mereka semua mengucapkan ucapan selamat atas pertunangan antara Selena dan Eliot.
"Kau Istirahatlah dulu. Nanti aku juga akan istirahat. Besok aku akan membawamu pergi." Eliot meminta pada Selena untuk segera beristirahat. Sebab Eliot memiliki rencana untuk membawa Selena pergi. Eliot memiliki kejutan untuk Selena.
"Besok kita akan pergi ke mana?" tanya Selena.
"Jangan banyak bertanya, Sayang. Aku memiliki kejutan untukmu." Eliot tidak ingin menjawab.
Keesokan harinya, Selena bangun dengan penuh semangat. Ia masih menggunakan perhiasan yang kemarin diberi oleh teman-temannya. Kini tidak ada Selena yang lusuh. Hanya tersisa Selena sebagai wanita yang elegan. Eliot sukses membuat Selena menjadi wanita paling bahagia.
"Kau tidak memiliki niat buruk bukan?" tanya Selena saat mereka berdua sudah menyelesaikan sarapannya.
"Kau jangan banyak bertanya, Sayang. Yang jelas, ikutlah denganku. Aku yakin kau akan menyukainya," kata Eliot.
Akhirnya Selena memilih untuk diam. Eliot menarik tangan Selena untuk berjalan bersama. Kini Selena tidak malu lagi apabila berjalan sambil bergandengan tangan dengan Eliot.
Jika dulu Selena akan malu apabila berjalan beriringan dengan Eliot, sekarang tidak lagi. Setelah keduanya naik mobil, Eliot segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang sudah ia pilih untuk kejutan Selena.
Dalam hati Selena terus bertanya-tanya mereka akan pergi ke mana. Sebab Eliot jarang sekali mengajak Selena pergi keluar. Di sisi lain Eliot memiliki alasan tersendiri mengapa ia tidak mengajak Selena sering bepergian.
Selain karena musuh Eliot masih ada banyak, pekerjaan Eliot juga semakin bertambah. Sehingga mau tidak mau Eliot dan Selena harus bersabar kalau ingin berkencan.
"Tutup matamu dengan kain hitam ini." Eliot memberikan perintah kepada Selena supaya menggunakan kain hitam.
"Kenapa aku harus menggunakan ini?" tanya Selena.
"Sudah kubilang kalau aku memiliki kejutan untukmu," jawab Eliot.
Akhirnya Selena mengikuti permintaan Eliot untuk menutup kedua matanya menggunakan kain hitam itu. Walaupun Selena juga kebingungan karena takut jika terjatuh ketika berjalan nanti. Tapi wanita itu tetap diam dan tidak protes.
Hingga kemudian Eliot memberhentikan mobilnya tepat di satu tempat. Menurut Selena jika perkiraannya benar perjalanan ini sudah berlangsung sekitar 2 jam. Selena menebak tempat ini sedikit jauh dari tempat tinggal mereka.
"Aku akan menuntunmu pelan-pelan. Kau jangan khawatir akan terjatuh." Eliot menggenggam tangan Selena dan membantu wanita itu turun dari mobil.
Dengan sabar Eliot membimbing Selena untuk terus berjalan ke tempat tujuannya. Selena yang tadinya dia mulai tidak sabar.
"Apakah masih jauh?" Selena bertanya karena dirasa sudah cukup lelah.
" Nah sekarang buka kedua matamu,"